Sebagai gadis yang tidak terlalu gemar bersosialisasi, Luna Cassiopeia memiliki tujuan utama untuk masa abu-putihnya. Belajar, bermain bersama sahabat-sahabatnya, Gea Therresia Lucille, Alicia Anastasia serta Jennyta Bella Maharani, kemudian lulus.
Namun nampaknya keinginannya yang sederhana tidak dapat berjalan dengan mulus saat takdir terus menerus mempertemukan dan melibatkannya dengan tetangga barunya yang diberi predikat Pangeran Galatia yang baru karena paras pun karena kecerdasannya, Astra Binantara Putra. Pun yang dikenal sebagai Kulkas Berjalan karena sikap acuh tak acuh dan kepribadian dinginnya, namun punya pesona yang membuatnya memiliki ribuan pengagum.
Menghadapi Astra dan hubungannya bersama sahabat-sahabatnya, Luna merasa bahwa masa abu-putihnya tidak akan sesederhana itu hanya untuk belajar dan lulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilleMoone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATOTFS 34: Foto Bertiga
"Ares, Ivana. Sudah mulai gelap, ayo pulang."
Dari tempat duduknya, Ardila tersenyum dan memanggil Ivana juga Ares yang masih bersenang-senang bermain air pantai, selepas ia menenangkan emosinya.
Merasa dipanggil, kedua remaja itu menoleh dan menghentikan kegiatan mereka, tepat setelah mereka juga benar-benar basah kuyup.
"Ayo Res!" ajak Ivana sebelum berlari kecil menuju Ardila.
Dibelakangnya, Ares berjalan dengan tenang. Wajahnya kembali tenang dan nyaris tanpa ekspresi, namun sepasang maniknya tidak bisa menyembunyikan suasana hatinya yang tengah baik. Melihat keduanya basah kuyup, Ardila tertawa pelan dan tak bisa menahan gelengan kepalanya. "Astaga, kalian seperti anak kecil saja. Sekarang kalian ke pemandian dan mandi sebelum kita pulang."
Ivana tertawa malu dan berkata, "Soalnya asik tante."
Ia mengambil tasnya dan berkata, "Kalau gitu Vana bersih-bersih dulu ya, tante. Maaf harus buat tante nunggu."
Ardila mengangguk. "Nggak papa, Vana. Yang penting sekarang kamu mandi. Lagipula, tante juga sekalian lihat pemandangan pantai."
Merasa bahwa Ardila benar-benar merasa tidak keberatan, Ivana mengangguk dan kemudian mengambil perlengkapan mandinya dan baju gantinya yang ia pisahkan di totebag, sebelum melangkah menuju pemandian bersama dengan Ares yang membawa ransel ditangannya.
"Kalau kamu nanti mandinya selesai duluan, kamu langsung balik ke tempat tante Ardila aja. Nanti aku nyusul, soalnya aku agak lama kalau mandi." Pesan Ivana kepada Ares.
Ares bergumam mengiyakan sebelum keduanya berpisah memasuki pemandian di pantai berdasarkan jenis kelamin mereka. Ada beberapa perempuan yang tengah berdandan didepan cermin besar di ruang pemandian perempuan. Nampaknya sama seperti Ivana, mereka juga pengunjung pantai yang selesai membersihkan diri. Ivana tidak memandang mereka setelah dua detik menatap, dan dengan tenang memasuki salah satu bilik didalam kamar mandi itu.
Ivana meneliti sekilas bagian dalam bilik itu dan melihat fasilitas yang cukup standar untuk mandi. Sebuah shower diletakkan di tepi, melengkung diatas Ivana. Ada kotak sabun yang diletakkan di letakkan di samping shower. Gantungan baju, rak yang berisi handuk mandi yang nampaknya masih baru, pasta gigi dan sebagainya.
Ivana menggantung totebagnya dan mulai mandi.
Meski berkata bahwa dia akan cukup lama, namun sebenarnya Ivana tidak berani untuk mandi terlalu lama. Ivana membasuh dirinya dan membersihkan dirinya secepat yang dia bisa. Dua puluh menit kemudian, Ivana sudah selesai mandi dan keluar dengan balutan sweeter navy panjang dan roh hitam selutut. Rambutnya basah, namun Ivana merasa segar karena tubuhnya tak lagi lengket karena air garam tersebut.
Ivana melangkah keluar dari pemandian khusus perempuan itu dan berjalan menjauh dengan langkah tenang.
"Permisi."
Suara itu bersamaan dengan munculnya dua pria digaris pandang Ivana. Dua pria bule dengan kulit putih yang sedikit kemerahan dan sama-sama berambut pirang yang membuat Ivana tanpa sadar berhenti dan memandang mereka dengan sedikit kebingungan diwajahnya.
"Ya ?" balas Ivana tanpa sadar.
Dua pria itu tersenyum, dan yang memiliki lesung pipit berucap, "Kami sedang bermain game dengan teman kami. Karena kami berdua kalah, mereka menyuruh kami meminta foto dengan gadis yang tidak kami kenal. Apakah kamu keberatan jika kami meminta selfie bersama?"
Ivana memang tidak fasih berbahasa Inggris, namun Ivana masih bisa mengerti beberapa kalimat sederhana dan kata-kata sederhana. Ivana memahami maksud pria didepannya dan hendak mengangguk ketika sebuah suara terdengar lebih dahulu di telinganya.
"Ivana."
Ivana menoleh dan melihat sosok Ares berhenti dibelakangnya.
Ares melirik dua pria bule itu dengan dingin dan berkata kembali, "Mama sudah menunggu."
Mengingat bahwa Ardila memang sudah menunggu sejak tadi, Ivana merasa tidak enak. Ivana menoleh ke dua pria itu dan berkata, "Maaf, tapi aku tidak bisa membantu, kami harus pergi sekarang. Kamu bisa mencari orang lain."
Setelahnya, Ivana dan Ares melangkah pergi meninggalkan dua bule yang sedikit terpana tersebut, apalagi ketika Ares perlahan dengan tenang menolehkan wajahnya dan menatap mereka dengan tatapan mengancam sembari menggeser dirinya menutupi Ivana dari garis pandang keduanya.
Begitu sampai di tempat Ardila, wanita itu segera menarik Ivana dan Ares kesisinya dan berkata, "Ayo foto bertiga!"
"Oke, tante~"
Ivana mau-mau saja karena dia menganggap semua moment adalah kenangan yang pantas diabadikan. Karena dia datang bertiga dengan Ares dan Ardila ke pantai, maka harus ada foto bertiga. Sama halnya Ivana saat pergi bersama dengan sahabat-sahabatnya. Selalu harus ada foto bersama meskipun itu hanya ke cafe atau ke tempat tongkrongan baru yang belum pernah mereka datangi sebelumnya.
Ares tidak merespon, namun dengan tenang menurut untuk berdiri disamping Ardila.
"Tunggu sebentar, mama minta tolong seseorang buat fotoin."
Setelah berkata demikian, Ardila segera menghentikan dua gadis dari arah lain dan mengatakan beberapa patah kata. Kedua gadis itu mengangguk dan kemudian menerima ponsel Ardila. Ardila kembali dan mendorong Ares ketengah yang membuat Ares berada diantara Ivana dan Ardila.
Melihat itu, Ivana berkedip bingung selama beberapa waktu sebelum mengalihkan tatapannya kembali ke arah ponsel Ardila yang sudah dipersiapkan untuk segera menangkap foto mereka. Ivana hendak berpose ketika Ardila mencondongkan tubuh kearahnya dan berbisik ditelinganya yang membuat manik Ivana sedikit melebar sebelum menatap Ardila dan mengangguk.
"Saya hitung satu sampai tiga, ya?"
Gadis yang dihentikan Ardila berucap dan Ardila merespon dengan memberi acungan jempol. "Ya."
"Satu,"
Satu hitungan dan ketiganya mulai berpose. Ares masih dengan tenang menatap lurus kedepan, sementara Ivana dan Ardila mengangkat jarinya atau hanya tersenyum.
"Dua."
"Cheers!"
Tepat sebelum gadis itu menekan tombol shooter, Ivana dan Ardila mengubah pose mereka secara bersama-sama. Tangan keduanya meraih lengan Ares, melingkarinya sementara tangan lain digunakan untuk menarik sudut bibir Ares keatas sehingga bersamaan dengan suara klik yang terdengar, pada saat itu, berlatar belakang pantai sore hari, dihasilkan foto baru Ares yang tersenyum.
Tepatnya dipaksa untuk tersenyum.
...***...
"Kerja bagus hari ini, Joanna."
Wanita itu melangkah beriringan dengan Joanna. Gadis yang pada saat itu tengah mengenakan kemeja biru muda dan celana panjang berwarna putih, menggendong ransel kecil dipunggungnya yang ia gunakan untuk menyimpan buku catatan, Ipad dan beberapa perlengkapan menulis yang ia butuhkan untuk kelas lesnya.
"Jangan lupa untuk menyelesaikan pertanyaan yang saya berikan kepadamu, dan jika ada yang tidak dimengerti, bisa ditanyakan kepada saya dan saya akan menjelaskannya pada pertemuan berikutnya." Kata wanita berambut sebahu itu lagi.
Joanna tersenyum sopan dan mengangguk. "Baik, Bu Risa. Kalau begitu saya permisi dulu."
Risa selaku guru privat pengampu mata pelajaran wajib itu menganggukkan kepalanya dan mempersilakan Joanna untuk keluar dari rumahnya. Melangkah keluar, Joanna mendapati mobil mewah hitam itu sudah terparkir didepan rumah Risa. Memasuki bangku penumpang belakang, Joanna meletakkan tas kecilnya disampingnya dan bersandar di sandaran kursi mobil sembari menyaksikan pemandangan diluar perlahan kabur saat mobil mulai bergerak.
Selama beberapa waktu, hanya ada keheningan yang bisa Joanna rasakan.
Baik dirinya dan sang supir juga tidak ada yang berniat membuka suara. Joanna yang entah sedang memikirkan apa, dan sang supir yang tidak memiliki keberanian untuk mengobrol dengan santai kepada sang majikan.
Joanna memejamkan matanya, mencoba merilekskan otaknya yang telah ia gunakan seharian penuh untuk menampung materi pembelajaran dari saat sekolah disiang hari, hingga kini hampir petang.
"Nona, kita sudah hampir sampai ke tempat les berikutnya."
Membuka matanya setelah beberapa waktu, Joanna melirik kesamping dan memandang jalanan yang dipadati oleh kendaraan yang sibuk berlalu-lalang. Cahaya lampu jalan samar menyoroti wajahnya, sebelum tenggelam ketika terlewati.
Joanna menurunkan tatapannya dan membatin, "Aku pingin tidur."