Emilio Jingga Wesley. Mendedikasikan hidupnya hanya untuk seorang wanita, bahkan mengabaikan hatinya. Sehingga berujung kekecewaan untuk para wanita yang mendekatinya karena tidak bisa berkomitmen.
Floransia Calla. Gadis ceria, namun itu semua hanyalah kamusflase untuk menutupi ketakutan akibat trauma masa lalu. Introvert dan hanya mempercayai sahabatnya, Gaga.
Nathaniel Parker. Pria dingin dan sombong, playboy dan suka bergonta-ganti pasangan tidur tapi dalam hatinya hanya ada satu orang wanita.
Xeraina Agatha. Punya masa lalu kelam dalam hal percintaan, sehingga membuatnya tidak percaya cinta dan ikatan pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariesgurlll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Kenangan Pahit Itu Berasal
“Kau pasti mengetahui mereka ada di mana sekarang,” ujar Nathan dengan nada menuduh.
Xeraina menatap tajam pada pria di depannya itu. “Jangan menyalahkan aku, kalau bukan karena kebodohanmu, semua masalah ini tidak akan terjadi!”
Emosi Xeraina juga ikut tersulut, seharian ini dia sudah beberapa kali mencoba menghubungi ponsel Flora, maupun Jingga. Bahkan ia datang menyambangi apartemen mereka namun tak ada tanda-tanda keberadaan mereka di sana. Mereka benar-benar menghilang tanpa kabar bak ditelan bumi. Dan Xeraina pun sama frustrasinya seperti Nathan atas kepergian keduanya yang begitu tiba-tiba.
“Katakan saja, ke mana mereka pergi?”
“Aku tidak tahu, Nathan!” ucapnya dengan napas yang berubah menjadi ngos-ngosan karena rasa kesalnya pada Nathan yang malah menyalahkan dirinya.
“Flora adalah asistenmu, bagaimana mungkin kau tidak mengetahuinya?”
Nathan begitu frustrasi, dia bahkan belum sempat mengucapkan permintaan maaf pada Flora dan gadis itu telah pergi. Sungguh, Nathan tidak akan pernah merasa tenang, dia terus dihantui atas rasa bersalahnya mengingat bagaimana kebejatannya malam itu yang malah melukai gadis tersebut. Oleh karena itu, dia harus bertemu dengan Flora, dan berusaha mendapatkan maaf darinya.
“Demi Tuhan, Nathan! Kalau aku tahu ada di mana mereka, aku bersumpah akan menyeretmu ke sana untuk bertemu dengan keduanya,” bentak Xeraina sudah kehabisan kesabaran meladeni pria bodoh di depannya itu.
Mendadak Nathan terduduk di sofa dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia tampak begitu lelah dan tertekan. “Aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk meminta maaf pada gadis itu, Xera,” bisiknya dengan suara mencicit, tak sanggup menyebutkan nama Flora. Seakan bibirnya begitu tidak pantas untuk melontarkan nama tersebut.
Xeraina ikut diam, perlahan-lahan kemarahannya pada Nathan pun berangsur-angsur menghilang. Dia kemudian menatap lelah pada profil Nathan yang tampak menyedihkan. Selama mereka saling mengenal, menjadi adik kakak, tak pernah dilihatnya Nathan dalam posisi lelah seperti ini. Dengan gerakan perlahan, Xeraina duduk di samping Nathan dan menepuk punggung pria itu bermaksud untuk menenangkannya.
“Maafkan aku! Maaf ... karena aku, hubunganmu dengan Jingga menjadi kacau,” bisik Nathan perlahan.
Xeraina menggeleng dan menyandarkan kepalanya pada bahu Nathan. “Kalau hubungan kami memang berarti, dia pasti tidak akan meninggalkanku tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, atau paling tidak dia menghubungiku,” cicitnya dengan nada sarat akan luka.
Keheningan di antara mereka seakan mempertegas kebenaran akan kata-kata Xeraina. Sejak awal mereka hanya berhubungan untuk bersenang-senang saja, tidak ada keseriusan di dalamnya. Dan seharusnya ia sadar sejak Jingga terus memprioritaskan Flora dari lainnya, bahkan dari dirinya sendiri. Hal itu yang membuat hatinya begitu sakit, menyadari kalau dia memang tidak pantas untuk menemukan cintanya kembali.
Ketika merasakan bahu Xeraina bergetar, Nathan segera merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Berusaha untuk menghiburnya melalu usapan-usapan lembut dan pelan.
****
Setelah beberapa hari menempuh perjalanan yang cukup melelahkan karena mengharuskan mereka menempuh jalur darat, akhirnya Jingga dan Flora sampai di tempat tujuan. Kota kelahiran keduanya yang sangat mereka rindukan, namun secara bersamaan menyimpan banyak kenangan pahit dan luka untuk mereka berdua. Kota ini ternyata masih sama, tidak jauh berbeda seperti ketika mereka tinggalkan. Tidak terlalau banyak kemacetan, atau suara klakson yang bersahut-sahutan seperti yang selalu mereka dapati di kota Metropolitan, di Jakarta.
“Selamat datang di kota kelahiran kita, Makassar!” bisik Jingga pada Flora.
Flora menoleh dan menatap Jingga dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. “Ya ... selamat datang kembali, Ga!” balas Flora balas berbisik.
Jingga kemudian memesan taxi karena dia tidak ingin memberitahukan kepulangannya kepada siapa pun. Sembari menunggu, mereka saling berdiam diri menatap jalanan yang masih gelap karena memang mereka tiba dini hari. Jingga melihat tangan Flora yang terkepal di pangkuannya. Perlahan diraihnya tangan dingin itu yang sontak membuat Flora menoleh padanya. Jingga segera memaksakan sebuah senyuman untuk Flora, dan gadis itu membalasnya dengan tatapannya yang sendu. Bagi mereka berdua, kepulangan ini terasa sama beratnya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jingga sedikit khawatir, pasalnya setelah lima tahun kejadian nahas itu. Untuk pertama kalinya, mereka baru kembali melangkahkan kakinya di kota indah ini.
Flora mengangguk. “Aku baik-baik saja, Ga,” cicitnya terdengar tidak yakin.
Jingga tidak banyak bertanya, karena taxi pesanan mereka sudah tiba. Mereka lalu melanjutkan perjalanan dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kendaraan itu lalu berhenti di sebuah penginapan dan Jingga membayar ongkos mereka. Setelah melakukan reservasi, mereka berjalan beriringan menuju kamar.
“Tidak apa-apa bukan, jika aku hanya memesan satu kamar. Karena aku harus selalu menjaga dan mengawasimu. Maaf kalau—“
Flora segera menggeleng. “Tidak apa-apa, Ga. Justru aku merasa terlindungi kalau ada kamu di sekitarku.”
Jingga kemudian tersenyum tulus, lalu membuka pintu dan mempersilakan Flora masuk terlebih dahulu.
Setelah menyimpan barang bawaan mereka yang tidak banyak, Jingga kembali mendekat pada Flora yang sedang duduk di pinggiran ranjang dan terlihat tengah melamun.
“Kau bersihkan diri terlebih dahulu lalu beristirahat, Flo. Aku tahu kau pasti kelelahan,” ujar Jingga yang tengah mengeluarkan piyama tidur untuknya dan Flora dari dalam koper.
Flora sekali lagi menggeleng. “Kau saja dulu, Ga. Aku akan menikmati udara malam sebentar.”
Jingga mengernyitkan keningnya. “Di mana? Ini sudah malam, Flo.”
“Di balkon,” tunjuknya pada pintu penghubung menuju balkon.
Meskipun tidak setuju, tetapi mau tidak mau Jingga tetap membiarkan Flora melakukan niatannya tersebut. Dengan langkah ragu, Jingga kemudian meninggalkan Flora dan bergerak untuk memasuki kamar mandi.
Wanita itu lalu bergerak membuka balkon, udara dingin langsung menusuk kulitnya yang hanya tertutup dengan sweter rajut. Tetapi cuaca dingin itu sama sekali tidak membuatnya menyerah, ia kemudian merapatkan sweternya lalu melangkah pelan menuju pinggiran balkon. Flora menatap jalanan dengan pandangan kosong. Di depan sana, di seberang jalan, berdiri sebuah rumah megah dengan pemandangan yang sangat indah. Di sanalah Gara tinggal, orang yang sudah merampas masa depannya.
Jingga yang baru saja keluar dari kamar mandi mencari keberadaan Flora yang tidak ada dalam kamar, hingga ucapan gadis itu terbayang dalam pikirannya. Segera ia melangkah ke balkon dan ikut berdiri di samping Flora yang tampak melamun dan sama sekali belum menyadari kehadirannya, tatapannya terus tertuju pada satu titik, rumah masa kecilnya.
Di rumah megah itu, Jingga pernah hidup bahagia. Di sanalah sekarang orang tuanya berada bersama dengan Gara, kakak kandungnya. Jingga bersyukur karena tidak ada pegawai penginapan ini yang mengenalinya sebagai anak dari Westley, pemilik perusahaan besar di kota ini yang cukup terkenal saat melakukan reservasi tadi.
Jingga melirik Flora yang diam dengan wajah kaku dan ekspresi kosong di matanya. Jingga tahu, gadis itu sedang berjuang untuk melawan ketakutannya akan masa lalu. Perlahan disentuhnya kedua pundak Flora dan dipaksanya agar wanita itu menatapnya.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Flora. Dan kamu harus percaya itu,” ucapnya tegas.
Sorot mata Flora masih terlihat liar dan ketakutan. Jingga menghela napas dan mengguncang bahu gadis itu.
“Flora ... aku berjanji!”
Perlahan Flora mengerjap dan ekspresinya kembali tenang meski masih ada ketakutan di matanya.
“Aku juga akan mandi,” ucapnya setelah menepis kedua tangan Jingga. Meninggalkan pria itu seorang diri sambil menatap tangannya yang baru saja ditepis oleh Flora.
Jingga lalu menatap punggung Flora yang tampak bergetar dengan sedih, wanita itu pasti akan kembali menangis di dalam kamar mandi. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Jingga.
soalnya ini alur cerita nya unik ga seperti kebanyakan novel2 romansa yg lain...
entah apa ending nya author akan memasang kan Silang antara flo vs Nathan Dan jingga vs flo... atau jingga tetep sm flo.. krna pd dasarnya persahabatan laki2 Dan perempuan yg bgtu dlm seperti itu ga mungkin klo gada apa2/ gada cinta ... terlalu ambigu gtu ga sh...
oia ka Thor jujur setiap Hari yg lagi paling aku tunggu up nya tuh novel ini loh ka,,, JD mohon bgt pliss klo bs up nya lebih Dr 2 bab dong kk 🤭😁✌️ semangaattt teruuss 💪
gatau knp justru aku lebih suka hub yg terikat kuat antara flo Dan Gaga drpd Nathan Dan xera...
Gaga memang berengsek tp dia ga rusak flo. klo pun Gaga tidur am xera krna sm2 mau bukan pemaksaan /pemerkoxxxx... tp Nathan berengsek wlopun dia jaga xera tp d tidurin selain itu dia jg perkoxx flo ....
hidup Gaga Dan flo ,aku restuin kalian 🤭....
setiap Hari ini salah satu novel yg paling aku tunggu2 up nyaaa💪🥰
padahal jelas sekali sikap jingga sebagai laki2 bukan hanya krna kasian Dan sekedar tanggung jwb atas kesalahan kk nya dlu smpe 5 thn bgtu ... duduuhhhh ku harap kalian akhirnya segera menyadari nya yah drpd akhirnya melukai perasaan yg lainnya lg ....
ga sabaaarrrr bgt ka nunggu lanjutannya...
suka cerita ini soalnya cerita nya ga biasa Dan ga kebanyakan dlm cerita novel yg sm kaya yg lainnya....
semangaattt Terus ya kk up nya klo bs tambahin up nya💪😅
suka bgt sm hubungan mereka apa lg klo akhir nya mereka JD bersama.... ohh Thor pliiissss JD in flo cantik Dan modis smpe akhirnya jingga bener2 sadar klo dia tuh cinta sm flo.... satuin mereka thorrr pliiissss😂
klo aku liat selama Gaga jagain flo smpe dia bs nangis ,peduli Dan ingin jagain flo smpe mau nikahin sudah jelas itu perasaan kasih sayang atau cinta yg tulus sesungguh nya... sedangkan Gaga dngn xera kayanya krna ketertarikan penampilan Dan sex aja dh....
maaf yah Thor kecewa klo Gaga JD nya sm xera