Kecelakaan pesawat yang menewaskan lebih dari dua ratus orang, menyisakan duka mendalam bagi keluarga Henderson.
Bagaimana tidak? Salah satu dari penumpang pesawat tersebut adalah nona muda keluarga Henderson itu sendiri.
Kayvira, anak dari pasangan Raffa dan Prita mengalami kecelakaan pesawat tersebut.
Bagaimana nasibnya? Berhasilkah mereka menemukan Kayvira. Sementara mereka kehilangan petunjuk dan tidak menemukan jasad gadis itu. Mereka tidak tahu sama ada Kayvira masih hidup atau sudah mati?
Sementara Kayvira sendiri diselamatkan oleh nelayan yang bernama Dylan. Dari pertemuan mereka itu, timbul bibit cinta diantara keduanya. apakah mereka bisa bersama? sementara Kayvira sendiri dalam keadaan amnesia. dan bagaimana kelanjutan hubungan mereka jika Kayvira sudah ingat siapa dirinya?
Penasaran? baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Akhirnya merekapun tiba di negara yang mereka tuju, setelah menempuh perjalanan jauh hingga berjam-jam lamanya. Mereka terlihat sangat lelah.
Violet yang baru turun dari pesawat pun kebingungan. Ia tidak tahu arah yang akan ia tuju. Violet menyeret kopernya keluar dari bandara.
Ia berjalan kaki kejalan raya, sesekali ia menarik nafas dalam-dalam. Ia pasrah berada di negara asing ini.
"Kemana Neng?" tanya supir taksi.
"Saya mau ke hotel Pak," jawab Violet.
"Mari Neng naik saya akan antar ke hotel," ucap supir taksi tersebut.
Violet pun masuk kedalam mobil taksi, sedangkan supir menyimpan koper milik Violet di bagasi mobil. Kemudian mobil pun mulai bergerak.
Supir taksi membawa Violet ke hotel berbintang. Sesampainya di hotel, Violet hendak membayar ongkos. Namun uang yang ia bawa berbeda dengan uang negara ini.
"Maaf Neng, saya tidak mengerti dengan uang yang Eneng berikan," ucap supir taksi.
"Maaf Pak, dimana saya bisa mendapatkan uang negara ini, Pak?" tanya Violet.
Supir taksi pun membawa Violet ke Bank, sesampainya di Bank, Violet pun masuk dan meminta supir taksi untuk menunggu.
Beruntung Violet membawa uang banyak, jadi ia bisa menukar uang. Violet pun dilayani dengan baik oleh pegawai Bank tersebut.
Violet tersenyum karena sudah mendapatkan uang tersebut.
Kemudian Violet meminta untuk diantar kembali ke hotel. Violet membayar lebih ongkos taksi tersebut.
"Terima kasih Pak," ucap Violet.
"Sama-sama Neng," jawab supir taksi.
Violet pun memesan kamar yang paling murah, karena ia tidak tahu akan berapa lama di negara ini. Jadi ia harus menghemat uang. Beruntung Violet menabung setiap kali diberi uang oleh sang Mommy.
Sementara Daddy-nya lebih menyayangi adiknya, karena menganggap adiknya jauh lebih baik dari Violet. Padahal sang adik lah yang jahat.
Sementara sang Mommy tidak membedakan keduanya. Sang Mommy menyayangi keduanya, namun karena takut dengan suaminya, Mommy nya pura-pura tidak sayang.
Sebenarnya mommy nya lah yang menyuruh Violet kabur. Namun karena Violet kurang pengalaman, jadi ia ketahuan. Hingga terjadilah seperti di dekat bandara.
Violet diantar oleh pelayan hotel ke kamarnya, Violet juga menanyakan restoran disini. Dengan ramah pelayan menjawab ada di lantai tiga hotel ini.
"Kalau mau pesan juga bisa nanti bisa langsung diantar ke kamar," kata pelayan.
Violet pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Saat ingin memberikan tips kepada pelayan. Pelayan menolak dan mengatakan tidak menerima tips dari tamu.
Violet merebahkan tubuhnya diatas ranjang, ia merasa bebas sekarang, namun ia juga bingung apa yang akan ia lakukan selanjutnya?
Sedangkan dirinya hanya orang asing yang baru pertama kali ke negara ini. Violet bangkit dan berjalan ke kamar mandi, ia akan membersihkan diri terlebih dahulu.
Sementara disisi lain...
Kayden sudah tiba dirumah bersama Kayvira. Kayvira memasuki kamar abang nya itu. Kayden mengerti, pasti ada sesuatu yang ia katakan.
"Katakan saja tidak usah sungkan," ucap Kayden.
"Bagaimana dengan gadis kemarin?" tanya Kayvira. Karena sejak tadi perasaan ingin tahunya begitu besar.
"Untuk apa kita ngurusin urusan orang? Lagipula ia yang kabur dari rumah, ya itu resikonya lah. Sudah sana ke kamarmu, aku ingin istirahat," jawab Kayden.
"Tumben banget tidak peduli dengan kesusahan orang lain," ujar Kayvira.
"Dia tidak susah, kamu tidak lihat waktu didalam pesawat? Dia senyum-senyum, aku yakin dia merasa terbebas dari pernikahan paksa itu."
"Berarti Abang memperhatikan dia dong?"
"Siapa juga yang memperhatikan dia? Aku tidak sengaja melihatnya."
Kayvira yang merasa tidak puas dengan jawaban sang abang pun segera keluar. Entah mengapa Kayvira merasa jika gadis itu belum berpengalaman ke luar negeri?
Keesokan harinya, Kayvira sudah mulai bekerja seperti biasa. Kini ia sudah berada di parkiran hotel. Ternyata sudah ada Dylan menunggunya di sana.
"Sudah lama?" tanya Kayvira.
"Belum lama sih, baru beberapa menit," jawab Dylan.
Dylan sudah bertekad untuk belajar bisnis, dan orang yang paling tepat adalah Kayvira dan Kayden itu menurut Dylan.
Dylan sengaja memilih disini, agar dia bisa selalu dekat dengan Kayvira. Dan juga buku-buku tentang bisnis juga ada diruang kerja Kayvira.
Saat hendak memasuki hotel, Kayvira melihat Violet sedang duduk di lobby hotel seperti orang kebingungan.
"Bukankah itu cewek kemarin?" tanya Kayvira. Dylan menoleh ke arah yang dimaksud oleh Kayvira.
"Iya, sepertinya dia kebingungan," jawab Dylan.
Kayvira dan Dylan pun menghampiri Violet. Kayvira yang memang peka terhadap kesulitan orang pun bertanya.
"Kakak yang kemarin, kan?" tanya Kayvira. Violet mengangkat wajahnya dan menatap Kayvira dan Dylan secara bergantian.
"Iya, aku bingung harus kemana? Tidak mungkin aku menginap di hotel ini terus. Bisa-bisa uangku akan habis," jawab Violet.
"Kakak baru pertama kali ke negara ini?" tanya Kayvira lagi. Violet mengangguk.
"Aku baru pertama kali keluar negeri, sebenarnya aku kabur," jawabnya sambil menunduk.
"Mari kak ikut saya keruangan saya!"
Violet menoleh lagi kearah Kayvira, ia terharu di negara asing ternyata masih ada orang baik. Violet pun membawa kopernya dan mengikuti Kayvira dan Dylan.
Tadinya Violet ingin mencari penginapan murah dan mencari kerja. Namun ia lupa jika ini bukan negaranya.
Tiba diruangan Kayvira, Kayvira pun mempersilahkan Violet untuk masuk. Kayvira meminta menceritakan kesulitan yang ia alami.
Violet pun menceritakan tentang kisah hidupnya yang dibedakan oleh ayahnya, dan dipaksa menikah hanya karena bisnis. Hingga Violet memilih kabur.
Kayvira mengangguk mengerti, "Kakak bisa melakukan pekerjaan kasar?"
"Saya diam-diam sering membantu pelayan membersihkan rumah dan juga memasak. Semua itu saya lakukan hanya untuk hidup mandiri."
"Saya mengerti Kak, saya akan memperkerjakan Kakak, tapi sebagai cleaning service. Tempat tinggal sudah disediakan dibelakang hotel ini. Karena Kakak dari negara lain, saya akan urus visa sebagai izin kakak bekerja di negara ini."
"Terima kasih Nona, terima kasih banyak. Disaat saya dalam kesulitan ternyata diberi jalan kemudahan. Saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Oya, jangan panggil kakak, sepertinya kita seumuran."
"Baiklah, kita bisa menjadi teman sekarang."
Dylan tidak bisa berkomentar apa-apa, dia merasa bahagia ternyata pilihannya tidak salah. Kebaikan hati Kayvira lah yang semakin membuatnya jatuh cinta.
Kayvira turun tangan langsung memperkenalkan Violet pada pegawai yang lain. Agar tidak ada yang berani membully nya ditempat kerja.
Kayvira juga membawa Violet ke kos tempat para pegawai tinggal. Bagi pegawai yang jauh dari tempat tinggalnya, maka akan tinggal disini secara gratis.
Satu pintu hanya ada satu kamar, dapur, kamar mandi dan ruang tamu. Meskipun tempatnya kecil, namun cukup nyaman untuk ditinggali.
Apalagi bagi mereka yang ingin mengirit biaya pengeluaran. Soal makan bisa masak sendiri dan tidak ditanggung. Namun untuk makan siang ditanggung.