Zahra. wanita yang ditinggal oleh lelaki yang dicintainya dihari yang seharusnya menjadi hari bahagia untuk nya dan keluarga.
setelah mengetahui alasan lelaki itu meninggal kan nya entah membuat nya merasa dikhianati atau kembali bersimpati, rasanya dia sendiri tak bisa membaca isi hati nya lagi.
Belum usai rasanya mengobati hati, Zahra justru di hadapkan dengan pilihan menerima pinangan pak kiyai untuk anaknya dan harus rela dipoligami atau menerima mantan tunangan nya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trysa Azra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mana yang baik
Saat jam istirahat Zahra duduk di salah satu bangku dekat halaman pondok dan tak lama datang ustadzah Mila yang duduk di sebelah nya.
" Gak masuk ke kantor ustadzah?" tanya ustadzah Mila pada Zahra.
" eh ustadzah Mila, sebentar lagi ustadzah disini enak suasana nya."
Kata Zahra sambil melihat hilir mudik para santriwati yang berlalu lalang dan beraktivitas.
" kamu pasti menghindari perbincangan dengan dewan guru lain." tebak ustadzah Mila.
Zahra hanya tersenyum dan tidak menjawab.
" Pasti tidak mudah menghadapi mulut manusia, kadang hanya bisa berkomentar." kata ustadzah Mila lagi.
Beberapa hari belakangan gosip tentang Zahra dan hafidz memang masih jadi perbincangan, yang awal nya di gosipkan ada hubungan terlarang sekarang setelah sudah jelas dia adalah istri hafidz tetap saja jadi bahan perbincangan karena dia menjadi istri kedua dari sang anak kyai.
" Terima kasih ustadzah sudah sangat perhatian dengan Zahra, dari awal ustadzah Mila sudah banyak membantu Zahra dan menjadi teman pertama Zahra disini."
Ungkap Zahra berterima kasih karena masih ada yang peduli dengan nya, sebagai pendatang baru tentu itu sangat berharga bagi nya.
" Resiko memang kalau sudah berada di posisi saya seperti ini menjadi bahan omongan orang tapi saya tidak terbiasa dengan itu, apalagi yang di hadapi murid dan juga dewan guru pengajar." sambung Zahra lagi.
" Ustadzah itu wanita baik saya yakin menantu kyai pasti orang istimewa."
" Ah ustadzah bisa saja, saya justru semakin malu di sebut begitu. Menantu kyai kok seperti saya ini, wanita biasa sekali."
Zahra berusaha menepis pujian ustadzah Mila.
...----------------...
Hari ini Zahra dan Hafidz pulang bersama seperti biasa tapi Zahra terlihat sedikit berbeda seperti ada yang sedang dia pikirkan.
" Ra..." panggil hafidz.
" iya ustadz."
Zahra yang semula melamun terbangun.
" mau makan di luar dulu?" tanya hafidz.
" emm terserah ustadz, Zahra ngikut aja."
Seperti wanita pada umum nya itu lah jawaban Zahra yang pasti nya membuat hafidz bingung.
" Ya sudah kita makan dulu."
Hafidz mengambil kesimpulan sendiri, karena dia tau kalau dia bertanya lagi bisa jadi jawaban nya sama yaitu terserah. Beberapa saat suasana hening Zahra masih banyak diam dan melamun sebenarnya hafidz tau mungkin Zahra memikirkan gosip yang masih saja membicarakan mereka.
" Abi sudah bilang ke kamu soal resepsi?"
Tanya hafidz membuat Zahra langsung menoleh.
" Belum." jawab Zahra singkat.
" Abi bilang mau di percepat jadi Minggu depan agar tidak ada lagi omongan yang tidak-tidak, biar orang lain tau kalau kita itu sudah menjadi suami istri."
Hafidz menjelaskan.
" Abah sudah tau?" tanya Zahra mengenai orang tua nya.
" Mungkin Abah sudah di beri tau Abi lewat telpon atau mungkin Abi juga minta persetujuan Abah, nanti di rumah kamu tanyakan lagi ke Abah."
" semua keperluan dan persiapan umi yang akan mengurus."
Zahra hanya mengangguk.
" kamu sendiri bagaimana?" tanya hafidz.
" maksud ustadz..."
" kalau kamu punya pendapat silahkan utarakan, kamu tidak perlu selalu mengiyakan keinginan orang lain." ujar hafidz lagi.
" Zahra ikut apa kata ustadz saja, tugas ustadz memilihkan yang terbaik untuk Zahra dan jangan lupa yang terbaik buat mbak Aqila."
" Zahra jadi terpikir bagaimana perasaan mbak Aqila kalau harus melihat ustadz bersanding lagi di pelaminan tapi dengan wanita lain." Zahra mengutarakan apa yang dia pikirkan.
Kata Zahra singkat tapi penuh makna. Hafidz sendiri dibuat terdiam dengan ucapan Zahra barusan karena secara tidak langsung itu artinya Zahra meminta dia bertanggung jawab atas dirinya sepenuh sebagai seorang suami, hal yang tentu nya tidak mudah karena yang harus dia pikirkan bukan hanya mereka berdua tapi juga Aqila yang adalah bagian dari keluarga mereka.
" Kamu benar, harus nya aku juga memikirkan itu. Tapi bagaimana dengan kamu? Setiap wanita pasti ingin merayakan hari pernikahan nya tapi kamu justru harus terbebani dengan omongan yang mungkin tak seharus nya kamu dengar."
Kata hafidz juga memberi tanggapan.
" kamu harus mendengar gosip yang beredar tanpa dasar, menjadi pusat perhatian para santriwati karena aku."
Dan menjadi kepala rumah tangga bagi dua wanita tak akan semudah yang orang pikiran ada banyak pertimbangan yang harus di ambil dengan sebijak mungkin. Tanggung jawab itu lah yang di pikul hafidz sekarang.
" ustadz jangan berpikir demikian, insya Allah semua akan Zahra terima dengan ikhlas. Mungkin kalau tidak berada di posisi sekarang barang kali Zahra juga salah satu diantara mereka yang berpikir buruk tentang istri kedua.
Allah pasti ingin Zahra tau diri sehingga tak lagi berprasangka buruk terhadap orang lain karena kita tidak pernah akan tau alasan seseorang sama hal nya dengan posisi Zahra sekarang."
Mendengar ucapan Zahra barusan hafidz pun mulai tersenyum, entah bagaimana kata-kata itu bisa membuatnya merasa lebih tenang.
Walaupun mereka bisa dibilang baru saling mengenal bahkan sekarang mereka masih dalam tahap pendekatan dan saling mengenal satu sama lain tapi hafidz merasa ada kecocokan antara mereka karena pembicaraan mereka bisa nyambung sampai saat ini dan sikap Zahra yang lebih banyak mengikut dan menurut apa pun keputusan hafidz membuat mereka belum pernah terlibat perdebatan atau berselisih faham.
...----------------...
" Rama, Minggu depan ada job dadakan kamu bisa menghandle kan?"
Tanya sang teman yang baru saja mendapatkan job.
" Dimana? Terus yang di gedung Pramuka siapa?" tanya Rama yang semula memang harus nya meng-handle salah satu job di Minggu depan.
" Lokasi nya lebih deketan sama kamu soal nya ram jadi nanti biar Doni sama aku, kamu sama Faisal." kata sang teman lagi.
" Lokasi nya di pondok pesantren Nurul Ihsan itu dekat dengan kamu kan?" tanya sang teman lagi.
" oh disana, oke lah kalau begitu. Kirim alamat jelas nya sekalian nama pengantin dan yang lain nya."
Rama duduk di meja kerja nya dan membuka data yang di berikan oleh sang teman.
" Zahra? Tunggu apa iya Zahra yang itu." gumam Rama dalam hati.
Entah kenapa kalau mendengar nama Zahra yang dia ingat hanya satu orang padahal dia juga punya teman dengan nama Zahra waktu kuliah tapi bisa bisa nya dia hanya ingat dengan satu wanita itu yang bernama Zahra.
" Kalaupun iya aku bisa apa? Benteng di antara kami terlalu tinggi aku harus tau diri."
Rama menceramahi diri nya sendiri dalam hati dia menarik nafas panjang lalu melanjutkan pekerjaan nya.