Apakah dunia begitu pehun misteri? Aku tidak tahu,tapi... Siapa sangka, dunia ini begitu penuh misteri untuk seorang gadis yang bernama Kim Viyosa
Siapa sangka hidupnya yang mungkin terlihat biasa-biasa saja bagi orang lain... Ternyata sangat penuh kejutan didalamnya... Seperti apakah itu?
Mari kita lihat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radisti Rahma Ntolagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 AAAKKKK!!!
POV VIYOSA & RAKA
"Oh jelas aku luar biasa!" Raka membusungkan dada sedikit, bangga dengan pilihannya. Matanya yang biasanya dingin, berbinar ringan menatapku.
"Iya iya, puji dikit langsung bengkak," godaku sambil geleng, tapi senyum tak bisa kutahan.
"Tapi serius, kenapa di sini sepi banget? Padahal tempatnya bagus banget loh." Aku memandang sekeliling pantai kecil itu. Pasir putih, air biru kehijauan yang tenang, bebatuan karang di kejauhan membentuk pemandangan yang sempurna. Tapi hampir tak ada orang. Hanya angin laut yang bertiup lembut dan debur ombak pelan yang menemani.
Raka mengangkat bahu. "Hmm? Entahlah. Dari dulu emang selalu sepi gini. Mungkin karena agak tersembunyi, jalannya lumyanan. Atau mungkin orang-orang lebih suka pantai yang rame."
Dia lalu duduk di atas pasir, kaki diluruskan. "Makanya aku suka. Sepi. Tenang. Kayak... dunianya sendiri."
Aku ikut duduk di sampingnya, merasakan butiran pasir yang masih hangat tersisa sinar matahari. "Hmm... gitu ya? Jadi, kamu sering ke sini sendirian?" tanyaku, penasaran.
Pertanyaanku membuat atmosfer berubah sedikit. Senyum kecil di wajah Raka memudar. Matanya, yang tadi berbinar, menerawang jauh ke garis horizon di mana langit mulai berubah warna. Ada selubung lain yang turun menutupi dirinya—sebuah kesendirian yang lebih dalam dari sekadar fisik.
"Kadang," jawabnya akhirnya, suaranya lebih rendah. "Kalo lagi pengen... mikir. Atau cuma pengen diem aja."
Aku langsung menyesal. Rasanya aku menyentuh sesuatu yang privat, sesuatu yang mungkin masih perih. "Eh, tentu aja dong!" aku coba selamatkan suasana dengan nada ceria yang dipaksakan.
"Kamu kan jomblo! Masa iya punya pacar terus diajak ke tempat sepian gini, nanti malah ditinggal sendiri! Hahaha!" Tawaku terdengar kencang dan agak palsu di telingaku sendiri.
Raka menoleh, alisnya naik. Ekspresi kesal yang familiar itu kembali. "Kamu juga jomblo, dasar bodoh! Siapa yang mau sama orang halu kayak kamu?"
"Sok tau kamu! Siapa bilang aku jomblo?!" aku bela, mencoba tampil percaya diri, padahal jantung berdebar karena topik yang aku sendiri buat.
"Apa?" Raka memiringkan kepalanya, matanya membesar sedikit. "Jadi kamu udah punya pacar? Siapa?" Ada nada lain di suaranya, bukan cuma penasaran. Sebuah kecewa kecil, mungkin, yang mampir sekejap sebelum dia berhasil menyembunyikannya dengan ekspresi datarnya.
"Iya! Aku punya pacar! Banyak malah!" jawabku dengan gagah, mengangkat dagu. "Namanya... IDOL KPOP! Semuanya!"
Raka terdiam sejenak, lalu memicingkan mata. "Cih! Idol K-Pop apaan coba? Itu kan bukan pacar beneran."
"Mereka para pria tampan, berbakat! Terutama berbakat dalam bikin fans jatuh cinta! Wajahnya, suaranya, tariannya! AAAAAA!!" teriakku histeris, melompat-lompat di tempat sambil menirukan gerakan dance acak, seolah sedang di konser. Semua beban tadi coba kubuang dengan kegilaan ini.
Raka cuma bisa melihatku dengan ekspresi campur aduk antara geli dan tidak habis pikir. Dia menggeleng pelan, tapi senyum tipis akhirnya muncul lagi di sudut bibirnya. "CK, berisik! Dasar halu kelas kakap! Sadar sana, di dunia nyata!" sindirnya, tapi nada suaranya ringan, bahkan ada nada sayang yang halus.
Tapi, melihat dia duduk tenang dan sedikit menyindirku, ide iseng muncul di kepalaku. Perlahan, aku mundur beberapa langkah di belakangnya saat dia kembali menatap laut. Mataku mencari, dan menemukan sebuah batu bulat licin berukuran sedang. Dengan langkah ninja (menurutku), aku mendekat lagi. Dengan hati-hati, aku selipkan batu itu ke dalam kerah bajunya dari belakang, membiarkannya jatuh ke punggungnya yang tertutup kain.
Lalu, dengan suara terpanik yang bisa kubuat, aku berteriak. "AAAHHH!! RAKA! ADA KEPITING! KEPITING BESAR MASUK KE DALAM BAJUMU!"
Efeknya instan. Raka yang tenang tadi langsung melompat seakan tersetrum listrik. "APA?! KEPITING?!" Wajahnya berubah pucat, matanya melotot penuh horor. Dia langsung jungkir balik, melompat-lompat di tempat sambil kibas-kibas bajunya dengan liar, berusaha mengusir 'kepiting' mengerikan yang dikiranya sedang merayap di punggungnya. "KELUAR! KELUAR SANA!"
Aku yang melihat tingkahnya yang super panik dan kocak itu nggak bisa menahan diri. Tertawaku meledak, keras dan lepas. Aku terguling-guling di pasir, perutku sakit karena tertawa. "HAHAHAHA! WAJAHMU! LO LIAT WAJAHMU!"
*Tuk!*
Suara itu cukup jelas. Batu itu jatuh dari dalam bajunya dan mendarat di pasir dengan bunyi kecil.
Raka berhenti melompat. Dia membeku. Aku berhenti tertawa.
Dia perlahan menoleh ke arah suara, melihat batu itu. Lalu, sangat pelan, dia menoleh kepadaku. Ekspresi paniknya berubah menjadi kebingungan, lalu pencerahan, dan akhirnya... kesal yang mendidih. Matanya menyipit.
Wajahku langsung memanas. *Uh oh. Ketahuan.*
"LARIIII!!" teriakku, memutar badan dan langsung berlari sekencang-kencangnya menyusuri pantai, menjauh dari Raka yang sekarang pasti sedang mengumpulkan amunisi untuk balas dendam.
"YAAAA!! VIYOSA! SIALAN! GAK BAKAL AKU LEPASIN KAU!" teriak Raka dari belakang, suaranya menggelegar penuh ancaman. "AKU BAKAL LEMPAR KAU KE LAUT TERDALAM BUAT MAKANAN HIAS!"
Aku tertawa sambil berlari, angin menerpa rambut dan wajahku. Tapi anehnya, meski teriakannya seram, aku bisa dengar langkahnya nggak terlalu cepat mendekat. Saat aku melirik ke belakang, dia memang mengejar, tapi ekspresi marahnya udah mulai pecah jadi senyuman yang ditahan-tahan. Dia kayak lagi menikmati permainan kejar-kejaran ini. "HAHAHAHA! GABISA NANGKEP!" teriakku menantang, menambah kecepatan.
Kami berlari ke sana kemari, melewati pasir yang kadang licin, hampir tersandung batu karang kecil. Suara tawa kami, teriakan ancaman palsu Raka, dan debur ombak menjadi soundtrack sore itu. Sungguh, di tengah semua drama di kampus, sore yang sederhana ini terasa luar biasa menyenangkan dan... membebaskan.
Beberapa saat kemudian, energi kami terkuras. "Cu-cukup! Huh-hah... huh-hah..." ucapku terengah-engah, berhenti dan menekuk badan, tangan di pinggang mencoba menarik napas. Raka juga berhenti di dekatku, napasnya sama beratnya, wajahnya merah.
"Raka, liat!" seruku, suaranya masih tersengal, tapi jari telunjukku menunjuk ke arah barat. "Sunset-nya... sekarang... sangat... indah!"
Matahari yang tadi masih setengah bola, kini hampir seluruhnya tenggelam. Hanya puncak kecil berwarna jingga menyala yang tersisa, seperti permata di ujung dunia. Langit di sekitarnya terbakar dalam warna-warna spektakuler: ungu tua, merah muda lembut, oranye, dan semburat emas. Cahayanya memantul di permukaan laut yang tenang, menciptakan jalur cahaya berkilauan langsung ke kaki kami.
Aku melompat-lompat kecil di tempat, kegirangan yang murni. "Wah! Luar biasa! Kayak di film!"
Raka nggak langsung menjawab. Dia memandangiku. Lalu menatap matahari terbenam yang megah. Lalu, perlahan, matanya kembali kepadaku. Dan di sana, di sudut bibirnya yang biasanya rata, muncul senyuman. Bukan senyum sinis, bukan senyum malu. Senyuman yang lembut, hangat, dan... polos. Seperti anak kecil yang melihat sesuatu yang membuatnya bahagia tanpa perlu alasan.
"Iya..." gumamnya, suaranya hampir seperti angin, namun terdengar jelas di antara debur ombak. "Sangat indah."
Aku yang mendengar gumamannya, perlahan berbalik menatapnya. Dan di saat itulah, tatapan kami bertemu. Terkunci.