Indonesia
NovelToon NovelToon
Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Roditya

Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.

Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.

Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.

Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?

Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34.

Suasana di aula utama Suku Serigala mendadak mencekam usai pengakuan dari Kepala Suku Beruang Hitam.

Uap hangat dari sup ikan yang tersaji di meja tak lagi mampu mengusir rasa dingin yang merayap menembus tulang.

Kabar tentang gua penelitian rahasia di wilayah Suku Rubah seolah menjadi awan hitam yang siap menggulung seluruh kehidupan di Hutan Hitam.

"Suku Rubah..." gumam Aron dengan nada benci yang membakar. "Mereka benar-benar sudah gila. Tidak cukup menjebak pemburu kita dan membawa monster, sekarang mereka bahkan meracuni tanah dan aliran air!"

"Mereka tidak sekadar ingin menguasai hutan ini, Ayah," potong Yana dingin. Matanya menatap tajam ke arah peta kulit binatang yang terbentang di atas meja kayu. "Mereka sedang mengorbankan seluruh alam demi sesuatu yang diciptakan di dalam gua itu."

Yana mengepalkan tangannya rapat-rapat.

Ia ingat betul pesan Dewa Binatang tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Jika racun dari wilayah Suku Rubah terus mengalir tanpa dihentikan, tidak hanya Suku Beruang Hitam yang binasa—Suku Serigala dan seluruh makhluk hidup di hutan ini tinggal menunggu waktu untuk musnah.

"Aku harus pergi menyelidiki tempat itu," ucap Yana tegas tanpa ragu sedikit pun.

Brak!

Paman Bimo memukul meja kayu hingga cangkir batu di atasnya berguncang.

"Tidak! itu terlalu berbahaya!" seru Paman Bimo. "Wilayah Suku Rubah sekarang dijaga ketat. Apalagi setelah kekalahan mereka kemarin, mereka pasti menebar banyak pengintai! Kamu adalah harapan suku ini, kami tidak boleh membiarkanmu mempertaruhkan nyawa!"

"Tapi jika kita diam saja di sini, racun itu akan sampai ke sungai suku kita dalam hitungan minggu, Paman!" balas Yana, tatapannya tak bergoyang sedikit pun. "Kita tidak bisa menyembuhkan tanah yang mati hanya dengan bertahan di dalam benteng."

"Yana benar," suara berat Aron bergema memotong perdebatan. Ia meraih kapak besi baru hadiah dari Suku Elang dan mengikatkan pisau batu di pinggangnya. "Aku yang akan pergi menemaninya," tegas Aron, menatap Paman Bimo penuh keyakinan. "Sebagai Kepala Suku, aku bertanggung jawab atas keselamatan tanah ini. Dan sebagai seorang ayah, aku tidak akan pernah membiarkan putriku berjalan sendirian menuju sarang musuh."

"Tapi Aron, siapa yang akan memimpin suku jika kalian berdua pergi?" tanya Boris khawatir.

"Bimo yang akan memegang kendali suku selama aku keluar," jawab Aron mantap. "Bimo tahu cara mengoperasikan panah otomatis dan parit jebakan jika ada serangan susulan."

Paman Bimo menghela napas panjang, menyadari tekad bulat sahabatnya itu tidak akan bisa digoyahkan lagi. "Baiklah... Tapi kalian harus berjanji untuk kembali dengan selamat.

.

Setengah jam kemudian, Yana dan Aron telah bersiap.

Mereka mengenakan mantel bulu tebal berwarna abu-abu yang menyatu sempurna dengan warna tanah dan salju di musim dingin. Yana membawa busur panah, belati besi, serta beberapa kantong kain berisi bubuk herbal penyembuh dan rempah penawar racun buatan sendiri.

Kriet...

Gerbang kayu ek raksasa dibuka sedikit, cukup untuk dilewati dua orang.

Tanpa membuang waktu, Yana dan Ayahnya melompati benteng dan menghilang cepat di balik rimbunnya pepohonan yang terselimuti es.

Satu jam perjalanan melintasi perbatasan selatan berjalan relatif lancar.

Namun, semakin mereka melangkah menjauhi wilayah Suku Serigala dan mendekati perbatasan barat tempat Suku Rubah berkuasa, pemandangan di sekitar mereka berubah secara mengerikan.

Srrrk...

Angin yang bertiup tidak lagi membawa aroma segar kayu atau dinginnya salju.

Bau busuk yang sangat menyengat—seperti perpaduan antara bangkai yang membusuk dan belerang yang terbakar—mulai menusuk hidung mereka.

"Ngh..." Yana segera menarik kain penutup wajahnya hingga menutupi hidung. "Bau racun ini semakin pekat."

Langkah Aron mendadak terhenti. Matanya membelalak menatap hamparan hutan di depan mereka.

"Dewa Binatang... tempat apa ini?!" bisik Aron dengan suara gemetar penuh horor.

Di hadapan mereka, batas hutan yang hijau dan berbunga es telah lenyap sepenuhnya.

Pohon-pohon raksasa berdiri kaku tanpa daun, batang-batangnya menghitam pekat seperti kayu yang habis dilalap api unggun.

Pohon-pohon itu tidak sekadar mati, tetapi terlihat melapuk dari dalam, mengucurkan lendir kental berwarna hitam berbau busuk dari celah kulit kayunya.

Salju putih di atas tanah telah berubah menjadi lumpur hitam yang mengeluarkan uap beracun tipis.

Krak!

Aron secara tidak sengaja menginjak sebuah ranting di tanah. Ranting itu langsung hancur menjadi debu hitam dalam sekejap, seolah-olah seluruh nutrisi dan kehidupannya telah dihisap habis tanpa sisa.

"Tanah ini benar-benar telah mati..." bisik Yana. "Bukan hanya tanamannya, bahkan mikroba dan akar di dalam tanah pun hancur total."

Guk! Guk...

Krroaaarrr ....

Tiba-tiba, suara erangan aneh terdengar dari balik semak-semak bambu yang mati tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Aron segera pasang kuda-kuda, menarik kapak besinya ke depan dada untuk melindungi Yana. "Awas! Ada sesuatu yang mendekat!"

Dari dalam semak-semak, muncul seekor rusa jantan berukuran besar.

Namun, bentuk hewan itu sungguh membuat bulu kuduk berdiri. Tanduk rusa itu patah dan menghitam. Matanya memutih tanpa bola mata yang jelas, dan sebagian kulit di punggungnya telah terkelupas membusuk, memperlihatkan tulang rusuknya yang menghitam.

Hewan yang menyedihkan itu bergerak sempoyongan, menggeram kelaparan seraya meneteskan darah hitam dari mulutnya yang memiliki bau bangkai.

"Dia... dia masih hidup meskipun tubuhnya sudah membusuk?" gumam Aron tak percaya.

"Bukan hidup, Ayah," sahut Yana dengan rasa iba yang mendalam. "Racun itu merusak otaknya dan mengendalikan tubuhnya menjadi monster. Dia hanya bertindak berdasarkan impuls."

Jash!

Dengan gerakan cepat dan cepat, Yana melepaskan satu anak panah tepat menembus kepala rusa malang tersebut.

Rusa itu ambruk ke atas salju hitam tanpa sempat menjerit, akhirnya dia mendapatkan kedamaian dari penderitaan yang telah menyiksanya.

Yana dan Ayahnya melangkah melewati bangkai rusa itu dengan hati yang semakin berat.

Kerusakan alam di depan mata mereka jauh lebih parah daripada apa yang diceritakan oleh Kepala Suku Boris.

Mereka berdua menyusuri pinggiran anak sungai yang mengalir di dasar lembah.

Air sungai yang seharusnya jernih dan berisikan ikan-ikan segar, kini berubah menjadi cairan kental berwarna hitam keabu-abuan.

Di tepi sungai, puluhan bangkai ikan, burung, dan binatang kecil bertumpukan membusuk, dikerubungi lalat-lalat hitam berukuran abnormal.

"Suku Rubah tidak hanya membunuh musuh-musuh mereka..." ucap Aron penuh amarah yang menahan letupan. "Mereka sedang membunuh tanah ini! Jika tempat penelitian itu tidak dihancurkan, seluruh lembah ini akan menjadi kuburan massal!"

"Gua tempat penelitian itu dilakukan pasti tidak jauh lagi dari sini," ujar Yana, menunjuk ke arah celah bukit batu berkabut tebal di kejauhan. Dari balik bukit itu, uap hitam pekat membumbung tinggi ke langit malam.

Hari semakin gelap. Suhu udara merosot tajam, dan angin dingin berhembus makin kencang membawa bau racun yang menekan dada.

"Kita tidak bisa mendekati bukit itu dalam kegelapan malam," kata Aron memegang bahu putrinya. "Penjagaan mereka pasti sangat ketat di sekitar gua. Kita buat kamp tersembunyi di dalam celah batu ini dulu, besok subuh baru kita mengintai."

Yana menatap uap hitam di balik bukit sejenak sebelum mengangguk pelan. "Baik, Ayah."

****

Malam harinya.

Di dalam sebuah celah gua batu yang sempit dan tersembunyi di balik tebing tinggi, Yana dan Ayahnya menyalakan api kecil tanpa asap menggunakan batu bara buatan Yana.

Aron sudah tertidur lelap akibat kelelahan usai menempuh perjalanan jauh di tanah beracun.

Yana bersandar pada dinding batu dingin, memeluk lututnya. Perlahan, kelopak matanya terasa sangat berat. Suara hembusan angin malam di luar gua perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian yang amat dalam.

Hummm...

Seketika, pandangan Yana berubah total.

Gua batu yang gelap dan dingin lenyap tanpa bekas.

Ia mendapati dirinya berdiri di tengah-tengah padang rumput keemasan yang sangat luas di bawah naungan pohon raksasa yang bercahaya terang.

Aroma wangi bunga hutan dan embun murni menyelimuti seluruh inderanya.

CRASH!

Tiba-tiba, langit keemasan di atasnya terbelah!

Awan hitam beracun mendadak menyambar dari langit, membakar pohon raksasa bercahaya itu hingga merintih kesakitan. Padang rumput indah di bawah kaki Yana seketika berubah menjadi tanah lumpur hitam yang pekat dan berbau busuk!

Dari dalam tanah hitam yang terbakar itu, sesosok bayangan putih raksasa berwujud serigala bersayap emas muncul membumbung tinggi ke udara.

Namun, tubuh makhluk agung itu kini dipenuhi rantai-rantai besi hitam berkarat yang menancap menembus dagingnya, memancarkan racun yang menggerogoti kekuatannya!

AWOOOOOOOO!

Raungan kesakitan sang Dewa Binatang menggetarkan seluruh jiwa Yana.

Dewa Binatang menundukkan kepalanya yang megah, menatap Yana dengan mata keemasannya yang memancarkan penderitaan amat dalam serta keputusasaan yang meremas dada.

"Anak manusia yang terpilih..." suara gaib sang Dewa Binatang bergema penuh rintihan di dalam kepala Yana.

"Jantungku sedang ditancapi jarum beracun... Kekuatanku dicuri dan dicemarkan oleh jiwa-jiwa jahat di dalam gua batu itu..."

Dewa Binatang merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajah raksasanya tepat di hadapan Yana. Darah hitam menetes dari rantai besi yang mengikat leher sang dewa.

"Hancurkan wadah racun itu sebelum bulan purnama merah tiba. Atau ... aku akan kehilangan kesadaranku sepenuhnya dan menjadi monster yang meratakan seluruh daratan ini..."

1
Asra
Menarik! semangat berkarya nya kak.🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!