Indonesia
NovelToon NovelToon
Happy In Sin - Dosa

Happy In Sin - Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Patahhati
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vienbluu

“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”

“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”

•••

Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.

Namun…

Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 (21+)

Warning!!!

Some parts of this story may contain adult content.

•••

Sudah sekitar satu jam yang lalu Jio menunggu, namun pintu ruangan kerja ayahnya itu masih tertutup rapat.

Duduk dengan kepala mendongak, ia sudah termakan bosan sejak tadi. Hingga suara pintu terbuka membuat Jio sontak berdiri menyambut kedatangan sang ayah.

Tanpa menatapnya, Keenan melewati Jio berjalan menuju belakang meja. Meletakan ponsel serta iPad di sana sebelum duduk.

"Duduk." Ucap Keenan.

Mendengar nada ucapannya, Jio yakin apa yang akan dikatakan Keenan bukanlah hal menyenangkan sehingga secara tiba-tiba dirinya dipanggil untuk datang ke kantor pusat PH Group segera.

Padahal Keenan bisa menemuinya di rumah.

Hening.

Keenan di sana masih terlihat sibuk menjawab beberapa panggilan pada ponsel dan telepon meja, serta membalas email.

Baru setelahnya, pria berkepala lima itu menatap sang putra.

"Bagaimana kuliahmu?" Tanya Keenan. Pertanyaan wajib yang ada dalam setiap kesempatan, selalu menjadi pembuka perbincangan mereka. 

Ayahnya itu bahkan tak pernah basa-basi sekedar menanyakan keadaannya sekarang atau bagaimana harinya berlalu.

"Semua berjalan lancar."

"Selancar apa?"

Jio menebak-nebak kemana agaknya arah pembicaraan Keenan, yang tentunya belum Jio pahami sepenuhnya.

"Nilai Jio stabil, Jio juga belajar membangun relasi dan koneksi dengan anak-anak rekan bisnis Ayah."

"Bagus."

Keenan menutup laptop yang tadi terbuka di atas meja, menautkan jemarinya. Menatap Jio dengan seksama.

"Kau memiliki kekasih?"

Jio meneguk ludah. Ia terkejut namun segera mengubah raut wajahnya, mengesampingkan kebingungan dari mana Keenan tahu hal tersebut.

Ia kemudian mengangguk, "Iya."

"Jadi dia, teman yang kau maksud sebagai alasan tak pulang ke rumah?

Jio bahkan belum selesai menyusun jawaban ketika Keenan kembali bicara.

"Untuk apa? Untuk apa, kau memiliki seorang kekasih?"

Jio terdiam.

Keenan mendengus, "Hidup anak sepertimu sudah diatur sejak kau lahir, yang harus kau lakukan hanya menjalaninya saja dan menghindari masalah. Apa sesulit itu untuk kau lakukan?"

"Jio tidak membuat masalah. Jio hanya menginginkan dia."

"Omong kosong." Keenan kembali bersandar pada kursinya,

"Jangan merusak masa depanmu hanya karena permainan perasaan yang lemah. Ayah tahu kau tidak benar-benar membutuhkannya."

Rasanya setiap kali mendengar ketentuan yang ayahnya ucapkan membuat Jio seperti terjerat tali tak kasat mata. Menyesakkan sekaligus menyakitkan, seakan hal itu bisa menghabisinya dalam sekali salah gerakan.

"Tinggalkan dia." Tukas Keenan.

Jio mengepalkan tangan kuat.

"Lagipula kau tak butuh seorang wanita." Lanjut Keenan.

Jio tak sengaja berdecak. Namun ia juga sudah tak tahan mendengar semua perkataan Keenan terhadapnya.

"Seperti Ayah tak butuh Ibu?"

"Jio!"

Keenan menatap tegas, bangkit dari sandaran kursi. Sorot matanya terlihat jelas akan amarah.

"Silahkan atur semua sesuai keinginan Ayah. Tapi maaf, Ayah tidak bisa melarang dengan siapa Jio berhubungan."

Jio lantas bangkit berdiri, menatap lurus pada Keenan yang memandangnya dengan sorot terkejut serta emosi.

"Apa yang kau katakan?!"

"Selama ini Jio selalu melakukan apa yang Ayah inginkan, bukan? Jadi jangan khawatir, ini bukan penolakan seperti sebelumnya. Semua akan berjalan sesuai rencana dan Jio akan melakukannya dengan tetap memiliki dia."

Jio melirik tangan Keenan yang mengepal di atas meja, rahangnya mengeras. Jio tak pernah tahu jika ayahnya akan semarah itu mengetahui dirinya memiliki kekasih.

Daripada Jio terus kehilangan kendali atas ucapannya, ia memilih menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan ruang kerja Keenan tersebut.

Ketika pintu tertutup, Keenan mendudukkan diri dengan lemah seraya memijat pelipisnya. Tangannya kemudian meraih telepon meja, menghubungi sekretarisnya untuk memanggil orang masuk ke ruangannya.

Tak selang berapa lama dua orang masuk dengan tergesa ke ruangan tersebut, membungkuk hormat pada Keenan dibalik kursinya.

"Tuan memanggil kami untuk mendengar laporan tentang Nona Gis–" Ucapan Juna terhenti saat ia melihat tangan Keenan di udara.

"Cari tahu siapa wanita yang berhubungan dengan Jio. Segera laporkan jika menemukan informasinya padaku." Titah Keenan.

Juna dan Kalvin melirik satu sama lain seolah tahu apa yang dipikirkan masing-masing.

"Baik kami akan segera menyelidikinya." Jawab Kalvin.

Jawaban Kalvin sepertinya mendapat sedikit tak persetujuan dari Juna, namun Juna tak bisa mengatakan apa-apa ia hanya ikut membungkuk hormat kala Kalvin berpamit undur diri.

Keduanya keluar dari ruangan tersebut dengan tenang.

"Tanpa mencari informasi kita sudah tahu jawabannya." Ungkap Kalvin.

Juna mengangguk, "Tapi apa kau akan benar-benar melaporkannya?"

"Ya, melaporkannya sama dengan memisahkan mereka. Tapi memang sudah seharusnya mereka tak boleh berhubungan."

"Benang takdir mereka sangat rumit. Aku kasihan pada Nona, selama ini dia butuh kasih sayang yang tak ia dapatkan dari orang tuanya.”

“Tapi setelah bertemu Tuan Muda… maksudku Nona terlihat bahagia saat bersamanya, aku jadi tak tega."

Kalvin menghela nafas, "Mau bagaimana lagi, kita hanya menjalankan tugas. Lambat laun mereka juga akan berpisah saat tahu faktanya."

•••

Giselle membuka pintu, menemukan sosok Jio berdiri di sana dengan senyum kecil di bibirnya.

"Jio."

"Sudah makan?"

"Belum, kenapa?"

Jio menarik tangan Giselle keluar, "Ayo ikut."

"Ehh... tunggu," Giselle menahan, "Biarkan aku berdandan dulu, kebiasaan sekali selalu tiba-tiba."

"Tidak perlu, Giselle-ku sudah sangat cantik."

Giselle mendongak seraya memanyunkan bibir, "Secantik apa?"

Jio menjawabnya dengan kecupan di bibir Giselle, membuatnya tersenyum puas.

Kembali ia tarik lengan Giselle lembut. Jio mengajaknya belanja bahan makanan, ia ingin memasak untuknya.

•••

Setelah mendapat semua bahan yang diperlukan, Jio langsung menuju dapur.

Giselle ingin membantu namun Jio melarangnya dan memintanya untuk tetap duduk saja. Alhasil, ia hanya bisa memperhatikan Jio yang terlihat lihai saat memasak.

Giselle bertanya-tanya apa hal yang tidak bisa Jio lakukan, pria itu terlihat pandai dalam setiap hal.

Aroma wangi masakan tercium, Jio menyajikannya di meja makan. Hanya masakan rumahan biasa tapi Giselle dibuat kagum karenanya. Sup ayam hangat yang terlihat menggiurkan bagi Giselle telah tersaji di hadapannya, membuatnya meneguk ludah.

Akhir-akhir ini hujan sering turun, suhu udara lebih dingin saat malam hari waktu yang pas untuk menikmati semangkuk sup hangat.

Apalagi Jio yang membuatnya.

Giselle berkali-kali berdecak kagum sembari menyuap sup ke dalam mulutnya, Jio tersenyum senang melihat Giselle makan dengan lahap.

"Kau menyukainya?"

Giselle mengangguk antusias, "Ini sup terenak yang pernah aku makan, Chef Jio yang terbaik." Mengacungkan kedua jempolnya.

Jio terkekeh.

Setelah selesai makan dan membersihkan peralatan yang kotor setelah digunakan untuk memasak, keduanya kini di kamar Giselle.

Jio duduk bersandar pada sandaran ranjang, dengan Giselle yang merebahkan kepalanya pada paha Jio sebagai bantal. Satu tangan Jio memainkan rambut panjang Giselle dan satunya lagi mengusap lembut pipinya.

Giselle tersenyum lebar, bahkan saat mendengar petir yang menyambar di langit terlihat dari jendela kamarnya karena gorden itu masih tebuka. Ia tak takut, sebab Jio bersamanya.

Jio teringat, lalu bangkit dan menutup gorden tersebut kemudian kembali ke posisinya semula.

"Boleh aku tahu kenapa kau takut hujan?" Ucap Jio memulai.

"Aku belum bercerita ya?" Giselle menatap Jio, "Ibu meninggal karena kecelakaan mobil, saat itu hujan lebat disertai petir yang menggelegar. Aku selalu menyalahkan diriku sendiri dulu karena hanya aku yang selamat."

Jio mendengarkan dengan seksama.

"Terkadang saat hujan seperti ini, aku berpikir bagaimana rasanya jika aku masih memiliki keluarga sekalipun itu hanya waliku saja." Lanjut Giselle.

"Kau tidak mencoba memintanya untuk bertemu?"

"Sudah, dari cara terhalus sampai cara terkasar aku memintanya tapi tetap tidak ada hasil.”

“Kau tahu aku bahkan sampai memaki-maki pengawalku itu, padahal mereka tidak bersalah." Giselle terkekeh mengingat semua makiannya terhadap Juna dan Kalvin.

"Apa ada sedikit informasi yang kau tahu tentangnya?"

Giselle berpikir keras, "Selain punya banyak pengawal, gedung apartemen ini juga miliknya. Tapi setelah aku cari tahu lagi kepemilikannya diatas namakan perusahaan dengan banyak penanam saham, jadi sulit mendapat informasi lebih rinci."

Jio tahu, gedung apartemen ini berada di bawah naungan PH Group.

'Apa salah satu kolega Ayah adalah wali Giselle? Jika iya, aku harus mencari tahu lebih banyak mengenai informasi wali Giselle.'

Jio terdiam cukup lama, Giselle yang bosan meraih ponsel Jio yang ada di sampingnya.

Mencoba membuka ponsel dengan sandi empat angka tersebut, percobaan pertama gagal lalu dengan iseng Giselle memasukan tanggal dan bulan kelahirannya.

Berhasil, ponsel Jio terbuka.

Jio mengerjap heran, "Bagaimana kau bisa membukanya?"

"Bukankah kau menggunakan tanggal lahirku sebagai password ponselmu?"

Jio menggeleng dengan ekspresi terkejut, "Tidak. Itu tanggal dimana semua kebencianku terhadap Ayah dimulai."

"Apa maksudmu?"

Menghela nafas panjang, Jio mulai bercerita pada Giselle yang beralih tempat ke dalam dekapannya.

"Kala itu usiaku menginjak sepuluh tahun, saat Yasmeen mengajakku bermain petak umpet.”

“Aku bersembunyi di ruang kerja Ayah, karena Yasmeen tak segera menemukanku aku mulai bosan dan tak sengaja menemukan buku catatan Ayah.”

“Karena penasaran aku mulai membacanya, pada saat itu aku mengetahui sebuah fakta. Ayah berselingkuh. Aku tidak ingin mempercayai itu tapi apa yang aku lihat tak bisa ku abaikan."

"Apa yang kau lihat?"

Jio tersenyum pahit memandang Giselle.

"Surat pernyataan kehamilan dari rumah sakit dan beberapa foto hasil USG juga tanggal perkiraan kelahiran bayinya.”

“Tanggal tiga puluh, bulan sepuluh, tahun dua ribu, bayi perempuan itu satu tahun lebih muda dariku.”

“Setelah itu aku membuat keributan di rumah, waktu itu aku berlari menghampiri Ibu dan Ayah yang tengah menonton televisi, lalu melempar buku catatan itu di depan Ayah dan mengatakan aku membencinya."

Jio kembali menghela nafas, "Mulai saat itu keluargaku yang kuanggap sempurna hancur dalam semalam. Dan aku masih membenci Ayah sampai detik ini."

Giselle memeluknya erat, "Tapi kenapa anak selingkuhan Ayahmu harus memiliki tanggal lahir sama seperti milikku, menyebalkan.”

Giselle mendongak, menatap Jio.

“Apa kau akan membenciku juga karena punya tanggal lahir yang sama dengannya?"

"Untuk apa aku harus membenci orang yang kucintai?"

Senyum Giselle mengembang, "Kalau begitu anggap saja password ponselmu adalah tanggal lahirku, orang yang kau cintai ini."

Jio tersenyum disaat Giselle mulai menempelkan bibirnya, gadisnya itu memangut lembut dengan mata terpejam sedang Jio menanggapi dengan memperdalam ciuman.

Tangannya mulai bergerak di balik punggung Giselle, mengusapnya, menghasilkan lenguhan kecil yang lolos dari bibir gadis itu. Menarik lepas baju tipis yang gadis itu kenakan menyisakan bra yang tak berselang lama segera tanggal dari tempatnya.

Ciuman Jio turun dari perpotongan leher Giselle ke dada atasnya, sedikit menghisapnya, membuat tanda kemerahan di sana.

Giselle sendiri membuka satu persatu kancing baju Jio seolah tak mau kalah, meraba dada dan perut prianya yang terasa keras karena otot-ototnya. Prianya terlihat gagah juga seksi disaat bersamaan.

Setelah saling melucuti, Jio kembali menginvasi mulut Giselle sedikit kasar kali ini, sebelah tangannya meremas dada Giselle gemas membuatnya memekik disela ciuman panasnya.

Tangan pria itu berpindah melebarkan kaki Giselle, gadisnya mengangguk memberi akses dengan bergerak mandiri. Sebelum Jio bergerak memasukinya ia kembali mencumbu bibir candu milik Giselle, gadis itu tentu tak menolak.

"Hm..."

Pria itu memenuhinya perlahan, Giselle menggigit bibir bawah Jio yang berada di mulutnya tanpa sadar.

"Ah... Ji..." Giselle menarik nafas kuat, tersentak setiap kali Jio keluar masuk dengan penuh erotika memasuki kenikmatan dalam dirinya.

Jio tersenyum mendengar lenguhan Giselle hal itu memacu dirinya, tiap hentakannya menusuk inti Giselle dalam.

"Kak Jio... Aku, mencintaimu..."

Jemari Giselle tenggelam disela rambut Jio. Pria itu menambah kecepatan, menarik Giselle dalam kenikmatan yang meledak-ledak. Semakin cepat, semakin kuat pusat tubuhnya berkedut di bawah sana.

"Aku... Lebih mencintaimu..."

Jio menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Giselle, frustasi melandanya kala bagian dirinya membesar dan meledakan hasratnya, mengisi Giselle setelah pencapaian klimaks itu menerpa.

Giselle terengah-engah, Jio membalik posisi hingga Giselle berada di atasnya kemudian memeluknya erat sembari mengusap rambut panjangnya.

Giselle menopang lengannya pada dada bidang Jio untuk memandang pria itu, mengecup lalu mengusap bibir Jio yang terluka karenanya.

"Bersandarlah padaku, kau bisa menceritakan semua keluh kesahmu padaku." Ucap Giselle.

Jio mengangguk

"Kau bahkan cantik saat berkeringat." Bisik Jio.

"Jangan lupakan eranganku, kau terlihat menikmatinya."

Giselle menaikkan alisnya menggoda.

Jio tergelak, "Astaga, jangan menggodaku atau aku akan kembali memakanmu."

Giselle tertawa, "Dengan senang hati."

Berbekal jawaban sebagai tanda sepakat itu, Jio kembali membawa Giselle dalam pusaran gairah yang seolah membawa keduanya ke atas angin. Melebur lagi dan lagi dalam sapuan kenikmatan gairah yang meledak.

•••Vienbluu (annavienbluu)

1
lkzxxvy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!