Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Zuraida merasa lega namun ia merasa hukuman itu kurang untuk pelaku penyekapan putranya di toilet beberapa hari lalu. Para pelaku hanya dilarang masuk sekolah selama satu minggu saja dengan alasan kelas enam tak boleh ketinggalan pelajaran. Sebab mau menghadapi ujian.
Ada permohonan maaf juga dari para orang tua pelaku. Sampai-sampai Arfan mengetahuinya sebab beberapa orang tua mereka merupakan rekanan bisnis Arfan. Di sini Arfan tak marah apalagi sampai menyalahkan Zuraida yang menyembunyikan masalah cukup besar ini darinya.
Justru pria itu merasa sangat bersalah sudah abai pada istri dan kedua putranya. Pekerjaan menjauhkannya dari mereka yang berjuang menghadapi masalah tanpanya. Arfan sangat berterima kasih pada istrinya, menjadi orang terdepan untuk Sean.
Pelukan itu tak lepas dari Zuraida. Padahal sudah waktunya Arfan meeting bersama klien-klien besar. Berulang kali Zuraida mengingatkan untuk segera melepaskannya akhirnya Arfan bersedia. Pamit sama istrinya setelah mencium kening Zuraida.
Zuraida ke kamar Sean. Sudah perlahan huruf-huruf vokal itu diingatnya. Zuraida menambahkan hirup lain pada huruf-huruf vocal tersebut sehingga menjadi satu kalimat pendek yang sangat sederhana. Sedikit terbata namun demi sedikit Sean bisa membacanya.
"Kamu nggak lelah ngajarin aku kan Zuraida?." Sean menatap perempuan itu. Ada rasa takut ditinggalkan yang tak dimengerti olehnya.
"Nggak, Se. Saya mau kamu bisa dan seperti yang lain. Berbaur di sekolah dan mempunyai banyak teman."
"Kamu nggak akan pergi kan?."
Zuraida tersenyum.
"Nggak, saya akan di sini menemanimu. Sekarang kita lanjut lagi belajarnya."
"Iya." Sahut Sean semangat. Sekarang ia harus bisa baca tulis dan seperti Sena. Kalau tidak bisa sejajar paling tidak ia bisa untuk dirinya sendiri.
Di tempat lain tepatnya di sekolah. Kakak kelas yang selalu memalaknya sudah tak ada karena hukuman. Kini berganti teman-teman kelasnya. Lagi-lagi Sena tak dapat mengelak, ia memberikan uang dan bekalnya kepada teman kelasnya.
Walau dongkol tapi Sena tak bisa berbuat banyak. Hanya menjadi penonton untuk uang yang dijajankan dan bekalnya sendiri.
"Kamu nggak marah makanan dan uang jajanmu diambil mereka terus?. Kamu nggak mau lapor sama Ibu Guru?." Tanya Sheren, teman duduk Sean siang ini.
"Tahu apa kamu?," tanyanya balik.
"Aku tahu, aku sering melihatnya." Sahut Sheren santai.
"Salah lihat kamu." Sena masih mengelak.
"Kalau aku jadi kamu aku laporkan mereka pada mamaku. Biar mamaku yang turun tangan, mama itu orangnya pemberani, tegas dan galak."
"Pantas saja kamu galak," kata Sena diakhir tawa.
"Aku galak juga buat membela diri. Aku tidak lemah sepertimu." Ejeknya.
"Aku nggak lemah," sangkal Sena.
"Lemah lah kalau nggak bisa ngelawan mereka." Semakin mengejeknya.
"Makan bekalku," Kemudian menyodorkan kotak bekal miliknya.
"Aku nggak lapar," Sena menolaknya lalu pergi meninggalkan Sheren. Ia tak mau terlihat lemah di depan siapa pun.
Sena sudah dijemput Zuraida. Mobil yang dikendarai Zuraida langsung meninggalkan area sekolah.
"Langsung pulang apa mau makan dulu di tempat kemarin?."
"Makan dulu," ketusnya.
"Oke."
Ini kali kedua Sena makan seperti orang kesetanan. Zuraida hanya menonton saja. Ada tanya yang melintas. Apa bekal dan uang jajan yang diberikannya kurang?. Kok Sena sangat kelaparan.
"Aku mau nambah," kata Sena sembari memanggil pelayan. Meminta dibawakan lagi menu yang sama.
"Kamu lapar banget, Sen?." Tanya Zuraida pelan.
"Pake nanya lagi," responnya masih ketus.
"Bekal dari rumah dan uang jajan kurang?." Akhirnya tanya itu keluar juga dari mulut Zuraida.
"Kurang," jawabnya singkat.
"Besok bawa bekal yang banyak dan uang jajan saya tambah."
"Nggak usah," Sena menolaknya.
"Supaya kamu nggak kelaparan gini Sena."
"Nggak apa-apa, kan bisa langsung makan kalau udah pulang sekolah."
Zuraida tak lagi merespon. Tak akan ada habisnya. Mereka meninggalkan restoran itu. Sena tidur pulas di kursi belakang. Sesekali Zuraida menatapnya melalui kaca spion.
Karena tak kuat menggendong, Zuraida membangunkan Sena. Anak itu langsung berlari ke kamarnya dan lanjut tidur.
Sean memungut tas Sena yang tergeletak. Membuka resleting tas lalu mengeluarkan buku Sena. Melihat tulisan Sena yang sangat rapi. Ada beberapa materi penjumlahan dan pengurangan yang terdiri dari satu hingga empat angka. Sean belum memahaminya. Membaca kalimat yang Sena tulis saja belum mampu dibacanya.
"Kenapa aku tidak seperti Sena?," gumamnya. Merapikan tas Sena ke tempatnya.
*
Murid-murid yang dihukum sudah kembali masuk. Mereka langsung mencari Sena ke kelas. Mengajak anak itu istirahat di kantin.
"Aku dengar kamu mencari minuman yang kemarin?."
"Kamu punya?."
"Ada tapi sangat mahal."
"Berapa?."
"10 jt."
"Uang jajanku tak sebanyak itu."
"Minta daddymu."
"Pasti ditanya buat beli apa?."
"Pandai lah sedikit, Sen, bilang saja buat beli mainan. Banyak kan harga mainan yang segitu bahkan lebih."
"Oh iya, bener juga ya. Oke."
"Sekarang habisan ini aja dulu, gratis." Menyodorkan botol kecil dan hanya sekali tenggak saja bagi Sena.
"Kabari kalau uangnya sudah ada."
"Iya."
Semua murid yang di kantin bubar. Bel tanda masuk kelas sudah terdengar.
"Kamu kumpul lagi sama kakak kelas?," bisik Sheren yang sekarang menjadi taman duduk Sena.
"Bukan urusanmu, Sheren." Ketus Sena.
"Mau aku adukan ke Ibu Guru?."
"Jangan!," bentak Sena yang otomatis menarik perhatian murid yang lain.
"Awas aja kamu laporkan," ancam Sena pelan.
Sheren diam. Bukan karena takut, Ibu Guru memasuki kelas bersiap memulai pelajaran baru.
Beberapa jam kemudian.
Sena baru keluar dari kamar daddynya dengan wajar berbinar bahagia. Ia segera berlari keluar rumah. Menemui kakak kelas yang menungguinya di depan gerbang. Mereka sama-sama pergi ke suatu tempat. Bukan lagi rumah temannya yang dekat rumah.
Sena menarik uang lalu diserahkan pada kakak kelas saat mereka tiba di tempat berkumpul mereka. Satu botol minuman yang tak diketahuinya pun sudah berada di tangannya. Yang Sena tahu hanya minuman seperti air putih tanpa rasa dan aroma.
Di sana Sena meneguknya beberapa kali saja. Bersama dengan yang lain juga. Pukul sepuluh Sena sampai di rumah. Zuraida menunggu di depan teras.
"Saya seneng kamu pulang dengan selamat."
Sena tak menghiraukan. Berlalu berjalan melewati Zuraida.
"Mainannya mana, Sen?." Zuraida tak melihat Sena membawa apa pun di tangannya.
"Kepo aja," responnya tetap lanjut melangkah ke kamar. Untung saja botol minumannya tak di bawa pulang. Zuraida sangat menyebalkan. Sena meminta kakak kelas membawanya besok ke sekolah. Supaya lebih aman tanpa Zuraida dan daddynya tahu.
Zuraida juga tak ambil pusing. Ia ke kamarnya.
"Kamu dari mana sayang?," Arfan langsung memeluknya. Mencium pucuk kepala Zuraida.
"Menunggu Sena di depan," mengambil sedikit jarak saat Arfan melepas pelukannya.
"Belum pulang juga anak itu?," tanya Arfan.
"Udah, udah ke kamarnya."
"Masih jam sepuluh sayang, biar aja. Yang penting besok bisa bangun pagi buat ke sekolah."
Zuraida hanya mengangguk pelan.