Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Perjalanan Dika Pratama Bayang-Bayang Menara Vanesha Group
Keberhasilan gemilang Dapoer Srikandi menghabiskan seluruh stok gorengan dan mangut ikan nila hanya dalam waktu dua jam di hari pertama membuka lembaran optimisme baru di rumah panggung keluarga Dika Pratama. Namun bagi Vanesha, pencapaian tingkat desa hanyalah garis start. Insting bisnisnya tidak tinggal diam melihat potensi yang bisa dikembangkan lebih jauh.
Pagi itu, suasana di emperan rumah panggung mendadak berubah serius. Di atas amben bambu yang biasanya dipenuhi kardus kemasan, kini berserakan catatan keuangan, brosur rancangan Dinda Ayu Lestari, dan sebuah laptop tua milik Dika.
Vanesha duduk bersila, rambut dicepol rapi, menatap layar dengan tatapan teliti. Di sampingnya, Dika menyeruput kopi hitam sambil melinting kretek Gajah Barunya, sesekali melirik wanita di sebelah dengan rasa kagum yang sulit disembunyikan.
"Dika, kita tidak boleh cepat puas hanya dengan mangkal di depan gerbang kampung," ucap Vanesha tegas, memecah keheningan pagi. "Pasar kita sebenarnya ada di luar sana — di tengah kota Surabaya, di antara para pekerja kantoran, mahasiswa, dan eksekutif muda yang jenuh dengan makanan cepat saji."
"Betul juga sih, Mbak. Kemarin aja ada beberapa komentar tanya, 'Kapan buka cabang di Surabaya?' Tapi masalahnya, kalau kita nekat jualan langsung di kota, modal logistiknya gimana? Sewa tempat di Surabaya kan terkenal mahal," jawab Dika sambil menghembuskan asap rokoknya pelan.
Vanesha tersenyum simpul — senyuman percaya diri yang dulu sering membuat pesaingnya ciut.
"Siapa bilang kita harus sewa ruko mewah di pusat kota?" tanya Vanesha dengan anggun. "Kita pakai sistem pesan antar daring. Manfaatkan media sosial yang dikelola Dinda untuk promosi, lalu tetapkan titik pengantaran strategis di perbatasan Sidoarjo–Surabaya."
"Wah! Ide brilian, Mbak Vanesha! Berarti nanti aku bikin konten video dengan konsep 'Dari Dapur Kampung Menuju Lantai Sepuluh Surabaya'? Dijamin viral!" seru Dinda yang baru datang membawa sepiring pisang goreng, matanya berbinar-binar.
"Kamu ini ya, belum jalan kok udah mikirin viral duluan," keluh Dika sambil menggelengkan kepala.
"Biarin! Itu namanya pemasaran modern, Mas Dika yang kuper!" sahut Dinda sambil menjulurkan lidah.
Emak Sarni Sari yang kebetulan lewat membawa cucian hanya bisa tersenyum lebar melihat keharmonisan mereka. Sementara dari beranda seberang, Bapak Joko Pratama mengisap kreteknya pelan, lalu bergumam pelan, "Darah pemimpin itu memang tak bisa dibohongi. Baguslah, biar anak-anak muda ini yang bawa perubahan."
Menjelang sore, persiapan pengiriman perdana resmi dimulai. Dika memuat kotak berisi mangut ikan nila dan gorengan krispi ke dalam keranjang motor onthelnya. Sebelum berangkat, Vanesha merapikan kerah jaket hitam Dika, menepuk bahu pemuda itu lembut.
"Hati-hati di jalan ya, Dika. Pastikan makanannya sampai hangat dan kemasannya tetap rapi," pesan Vanesha dengan tatapan penuh perhatian.
"Siap, Bos Vanesha! Soal antar pesanan cepat dan selamat, prajurit sengklek ini jagoannya. Jujur saja, agak deg-degan juga kalau harus lewat depan gedung Vanesha Group," jawab Dika sambil menatap lekat-lekat manik mata itu.
Mendengar nama perusahaan lamanya, wajah Vanesha sedikit menegang, namun seketika kembali tenang.
"Biarkan mereka melihat kita, Dika," ucap Vanesha tegas. "Tunjukkan pada dunia bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi gedung tempat kita bekerja, tapi dari seberapa tulus kita membangun hidup dari nol."
Dika mengangguk mantap, menyalakan mesin motornya, lalu melaju membelah jalanan sore menuju perbatasan Surabaya — membawa serta asa, aroma rempah mangut, dan cinta tulus yang membara dari tanah Sidoarjo.
Laju motor bebek modifikasi tua yang dikendarai Dika Pratama membelah aspal jalan raya utama yang menghubungkan Sidoarjo dan Surabaya. Angin sore berhembus kencang, menerbangkan ujung sarung tenun yang ia kenakan di balik jaket hitam andalannya. Di bagian belakang motor, sebuah kotak penyimpanan khusus tertata rapi berisi puluhan porsi mangut ikan nila kuah kuning dan gorengan krispi pesanan pelanggan daring dari kawasan perkotaan.
Semakin jauh ia melaju memasuki wilayah perbatasan kota, deretan gedung-gedung pencakar langit mulai tampak mendominasi cakrawala. Lalu lintas sore itu mulai padat merayap, dipadati kendaraan roda empat dan lautan sepeda motor para pekerja kantoran yang baru saja beraktivitas.
Jantung Dika berdetak sedikit lebih kencang. Bukan karena takut macet, melainkan karena rute pengiriman pertama ini melintas tepat di depan jalan utama tempat berdirinya menara megah Vanesha Group — pusat imperium bisnis yang pernah dipimpin wanita yang kini menjadi belahan jiwanya.
Duh, mudah-mudahan nggak ketemu mantan kolega galaknya atau satpam rese yang dulu suka ngusir waktu aku nganter dokumen, batin Dika sambil melirik sekilas ke arah kaca spion motornya.
Dika memperlambat laju kendaraannya saat lampu lalu lintas di perempatan besar berubah menjadi merah. Di sebelah kanan jalan, berdiri megah gedung kaca bertingkat tinggi dengan logo huruf perak di puncaknya: Vanesha Group.
Dari balik helm bogo miliknya, Dika menengadah menatap lantai sepuluh gedung itu — tempat Vanesha dulu duduk memegang kendali ribuan karyawan, sebelum akhirnya memilih melepaskan semuanya demi hidup bersahaja di rumah panggung Sidoarjo bersama seorang pemuda bersarung.
Tiba-tiba, mata Dika menangkap sosok yang sangat familiar turun dari mobil sedan hitam mewah di depan lobi gedung. Seorang pria paruh baya berjas rapi — Papa Vanesha — tampak melangkah didampingi seorang eksekutif muda. Wajahnya kaku, dingin, dan menyiratkan kelelahan batin yang mendalam.
Dika merundukkan kepalanya di balik helm, berusaha tidak menarik perhatian. Ia tahu, jika orang tua Vanesha melihat mantan pegawai rendahan yang dianggap telah "merusak" masa depan putri mereka membawa keranjang gorengan di depan kantor, bisa dipastikan masalah besar akan meledak.
Namun di tengah rasa waswas itu, sebuah senyuman kecil terukir di bibir Dika. Ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari Vanesha:
"Kamu sudah sampai mana, Dika? Jangan ngebut-ngebut ya. Pesanannya dipastikan aman kan?" tulis Vanesha.
Dika membalas dengan cepat satu tangan di atas setang motor:
"Aman terkendali, Bos Vanesha! Ini lagi berhenti di lampu merah persis di depan gedung kantormu yang megah itu. Tenang aja, prajuritmu ini nggak bakal kabur," balas Dika.
Tidak butuh waktu lama, pesan balasan muncul disertai emoji tertawa:
"Hati-hati lho, nanti satpam di sana ngira kamu mau demo minta sumbangan gorengan. Cepat selesaikan tugasmu, ditunggu pulangnya di Sidoarjo ya," pesan Vanesha.
Pesan sederhana itu seketika melenyapkan segala rasa takut di dada Dika. Lampu berubah hijau. Dika menarik gas motornya dengan mantap, melesat melewati kemegahan gedung Vanesha Group tanpa sedikit pun rasa iri. Ia sadar, kemewahan beton bertingkat tinggi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kehangatan senyuman Emak, nasihat Bapak, keceriaan Dinda, dan cinta tulus dari seorang mantan CEO yang kini rela berjuang bersama dari nol.