Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34 : Arga Palsu
Jeritan boneka Maira masih menggema di ilalang.
Aakkkhhh..
Suaranya persis suara Maira, tapi cempreng, kayak speaker pecah.
Lima belas boneka tinggi yang ngelilingin mereka, yang tadinya maju 1 meter tiap mereka lengah, sekarang diam. Kepala batok kelapa mereka noleh barengan ke arah boneka Maira yang tangannya patah.
Krek krek krek.. leher kayu mereka bunyi barengan.
Kesempatan.
Bima langsung komando, suaranya pelan tapi napasnya ngos-ngosan, matanya merah darah, air matanya udah gak keluar lagi, kering, jadi matanya perih kayak disayat.
"Gendong Arga! Cepet! Pas mereka diem!"
Arga asli masih pingsan di ilalang, 4 meter dari lingkaran mereka. Sepatu gunungnya lepas satu, kaos kakinya kotor lumpur hitam. Di lehernya ada bekas cekikan ilalang, merah.
Gilang yang punggungnya berat karena boneka kecil nempel di balik carrier, dia maksain berdiri. Boneka kecil di punggungnya itu beratnya bukan main, kayak gendong karung beras 10kg. Tiap Gilang gerak, boneka kecil itu ketawa pelan di kuping Gilang.
Gilang jalan ke arah Arga asli, tapi jalannya bongkok, carrier-nya miring. Dia harus nahan kedip, jadi jalannya pelan, mata melotot ke depan, ngawasin boneka-boneka yang diem.
Maira yang rambut kuncir belakangnya lepas setengah, rambutnya berantakan kena keringet, dia masih megang telapak tangan yang ada bekas getah hitam bentuk 5 jari. Getahnya panas, kayak habis megang balsem.
Elina rambut pendek sebahunya basah, nempel ke jidat, dia jagain belakang. Dia liat Arga palsu yang lari tadi.
Arga palsu larinya gak normal. Kakinya panjang, lututnya nekuk ke belakang kayak kaki belalang, larinya loncat-loncat di atas ilalang, bukan nginjak tanah. Dia lari ke tengah ladang, ke arah lingkaran tanah kosong yang samar keliatan di balik ilalang.
Lingkaran tanah kosong itu diameter 5 meter, tanahnya gak ada ilalang, botak, hitam. Di tengahnya ada sesuatu tapi sekarang samar-samar cuma keliatan gundukan.
Arga palsu sampai di lingkaran itu, dia berhenti di pinggir lingkaran, noleh ke belakang, ke arah mereka berlima. Senyum kayu runcingnya keliatan dari jauh, putih di kegelapan, karena gigi kayunya mantulin cahaya bulan.
Terus dia jongkok di pinggir lingkaran, tangannya ngorek-ngorek tanah hitam lingkaran itu.
Gilang udah sampai di Arga asli. Dia jongkok, susah, karena boneka di punggungnya berat.
"Arga... Ga... bangun Ga..."
Gilang tepuk pipi Arga asli pelan. Arga asli gak bangun. Napasnya pelan, tapi masih napas.
Bima dateng, bantuin angkat Arga asli. Bima gendong Arga asli model gendong belakang, kayak gendong anak kecil. Arga asli enteng, tapi lemas.
"Elina, Maira, jalan! Jangan lari! Kalau lari kita otomatis kedip! Jalan pelan tapi melek!"
Mereka bikin formasi baru. Bima di depan gendong Arga asli, matanya melek lebar, gak boleh kedip. Elina di samping Bima, rambut pendeknya goyang-goyang, dia jadi pengawas kedip, dia yang ngitung.
Maira di tengah, tangan kanannya masih perih bekas getah. Gilang di belakang, paling menderita, karena harus gendong boneka kecil di punggung sambil jalan bongkok.
Mereka jalan pelan ke arah lingkaran tengah, ngejar Arga palsu.
Tiap langkah bunyi srek srek ilalang kegeser kaki mereka.
Aturan kedip masih berlaku.
Elina ngatur,"Maira kedip cepet sekarang!"
Maira kedip. Cepat.
Aman, 4 orang lain melek.
"Gilang kedip!"
Gilang kedip, tapi lama, karena matanya berat. 2 detik.
Pas Gilang kedip 2 detik itu...
SREKKK!!
Boneka-boneka 15 yang diem tadi, maju barengan 1 meter.
Sekarang jarak mereka sama boneka cuma 1 meter. Deket banget. Sampai bau ilalang busuk dari badan boneka kecium, bau lumpur sama getah.
Maira bisa liat detail muka boneka di depan dia. Batok kelapanya retak, di dalam retakan ada semut hitam jalan.
Gilang panik, "Sori sori! Mata gue perih banget tadi."
Bima yang gendong Arga asli, dia juga udah gak kuat. Matanya merah darah, uratnya keluar. Dia belum kedip 4 menit.
"Gue harus kedip... El, awasin!"
Bima kedip. Lama. 3 detik.
Tiga detik itu lama banget di Ladang Boneka.
Pas Bima kedip 3 detik...
Arga palsu yang di lingkaran tengah, dia berdiri lagi. Dari tanah hitam lingkaran yang dia korek-korek tadi, dia ngangkat sesuatu.
Boneka kecil. Lima boneka kecil, sebotol Aqua, duduk melingkar di tengah lingkaran tanah.
Boneka-boneka kecil itu...
Mukanya udah jadi muka mereka berlima. Persis. Boneka kecil muka Bima, muka Elina rambut pendek sebahu, muka Maira kuncir belakang, muka Gilang, muka Arga.
Arga palsu ngangkat boneka kecil muka Arga, terus dia patahin kepalanya.
KREK!
Pas kepala boneka kecil Arga dipatahin Arga palsu...
Arga asli yang digendong Bima... kejang.
Hek!
Napas Arga asli berhenti sepersekian detik, badannya kejang di punggung Bima.
"ARGA!" Maira teriak, tapi teriaknya pelan, karena kalau teriak keras matanya otomatis merem.
Arga palsu ketawa dari lingkaran tengah, suaranya keras, pakai suara Arga tapi gema kayu.
Dia teriak,"Satu kedip \= satu patah! Kedip lagi dong!"
Bima sadar, mereka gak bisa lama-lama di ilalang. Harus sampai lingkaran tengah, rebut 5 boneka kecil itu sebelum dipatahin semua.
Elina ambil keputusan gila.
"Gantian melek! 2 orang melek full, 3 orang boleh kedip gantian! Kayak tentara!"
Elina sama Bima di depan, melek full, mata melotot, gak boleh kedip sama sekali, air mata darah udah netes dari sudut mata Bima karena nahan kedip kelamaan.
Maira, Gilang, dan Arga asli yang masih setengah sadar di gendongan, boleh kedip gantian.
Mereka jalan lagi, pelan, ke lingkaran.
Jarak ke lingkaran tinggal 10 meter.
Arga palsu di lingkaran, dia udah ngangkat boneka kedua, boneka muka Gilang.
Dia siap patahin.
Gilang yang di belakang, yang boneka kecil di punggungnya masih nempel, dia ngerasa punggungnya makin berat, kayak boneka di punggungnya juga mau dipatahin.
Gilang teriak,"Jangan! Itu gue!"
Arga palsu senyum, tangannya siap nekan kepala boneka Gilang.
Krek...
**
**