DILARANG BOOM LIKE!!!
JIKA SUKA SILAKAN DI BACA
JIKA TIDAK BERKENAN TINGGALKAN!
Katanya bukan cinta jika belum berkorban. Termasuk mengorbankan hal paling berharga yang dimiliki, "keperawanan".
Tapi bagaimana jadinya jika Elma Authafunnisa yang telah menyerahkan keperawanannya pada laki-laki yang sangat ia cinta secara suka rela, malah ditinggal begitu saja?
Dianggap sampah.
Apakah Elma MENYESAL?
Bagaimana kehidupan Elma setelahnya?
Masih bisakah ia berpijak di bumi yang sama, dengan diri yang tak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siall
"Mau dipesankan makan siang, atau gimana pak?" Rama bertanya sopan pada Satrio yang memejamkan mata, sambil bersandar di kursi kebesarannya.
Sejak keluar dari ruang rapat, Satrio diam seribu bahasa, juga tidak melakukan apa pun kecuali memutar-mutar kursi dengan mata yang terpejam malas.
Satrio membuka mata, ada Rama di hadapannya.
"Saya mau keluar sebentar, jika ada yang mencari, bilang saja saya lagi makan siang!"
"Baik pak" Rama sedikit menggeser tubuh, memberi jalan untuk sang bos lewat.
Satrio membuka lebar langkah kakinya. Belum tau tujuan ingin kemana. Karena seluruh isi kepala di penuhi Elma.
"Sial.....!!!"
Lagi-lagi umpatan itu yang keluar dari bibir Satrio.
"Ma--maaf pak" salah satu karyawan bukan main takutnya. Mengira umpatan itu di layangkan Satrio untuknya. Sebab, hanya dia yang sedang berpapasan dengan Satrio. Karyawan itu baru saja keluar dari lift, dan Satrio tampak buru-buru ingin memasuki lift.
Tanpa menghiraukan ucapan karyawan yang berpapasan dengannya, Satrio melenggang masuk ke dalam lift.
Sampai di lobby, lewat kaca transparan Satrio bisa melihat di arah sebrang, ada Elma yang sedang makan di sebuah restoran masakan Padang. Senyum licik terbit di bibirnya.
"Boleh ....saya ikut bergabung?" Satrio sudah berdiri di hadapan meja Elma, Tamara dan Kevin.
Ketiganya mendongak pada sosok tinggi yang berdiri di hadapan mereka.
"Si-silakan pak!" Tamara yang lebih dulu menjawab. Wajahnya sumringah.
Jujur saja, Kevin sebenarnya kurang menyukai sosok Satrio. Namun demi menjaga etika ia pun mempersilakan Satrio untuk duduk.
Hal itu tidak terjadi di kamus Elma. Seluruh jiwa raga sudah membenci. Jangankan berbasa-basi, memandang Satrio saja dia tak sudi.
Elma fokus pada makanan di piring, makan secepatnya, agar bisa pergi dari sana.
"Sepertinya nona Elma benar-benar lapar" Satrio buka suara, matanya tidak lepas menyorot Elma.
Kevin melirik pada Satrio, rasa tak suka semakin menjadi. Bagaimana tidak, Satrio menatap penuh minat pada Elma.
"Bapak nggak pesan makan?" hanya Tamara yang bersikap ramah.
"Saya sudah kenyang, silakan dinikmati hidangannya!" jawab Satrio, tatapannya masih tak lepas pada Elma.
Selesai menyantap makan siang, Elma buru-buru ingin bangkit.
"Sudah selesai?" Satrio melempar tanya pada Elma yang sudah bangkit dari duduknya.
Tak ada sahutan, Elma lebih memilih berpamitan dengan Kevin juga Tamara.
"Pak Kevin, Tam....., saya duluan!"
Kevin yang masih menyantap makan siangnya, gegas berhenti dan ingin mengejar Elma yang telah lebih duluan pergi.
"Pak Kevin selesaikan makan siangnya, jangan suka membuang makanan, soal staf anda biar saya yang urus!" Satrio menahan pergerakan Kevin. Setelahnya sedikit berlarian mengejar Elma yang sudah keluar dari restoran berdiri di pinggiran jalan.
Kevin dibuat terdiam, bingung mau menyikapi apa. Apa maksud ucapan Satrio yang dinilai sangat aneh. Atas dasar apa Satrio begitu nekad ingin mengejar Elma? Bukannya Satrio sudah punya tunangan. Atau memang dia tipe laki-laki yang tidak cukup hanya dengan satu pasangan?
Kevin dibuat terduduk lesu, makanan dimeja sudah tak lagi membuat dirinya berselera. Diliriknya Tamara yang ada disebelah dirinya. Ternyata Tamara juga tidak kalah shock. Bahkan nasi di mulut tak mampu di telan. Masih menatap lurus pintu restoran yang baru saja tertutup rapat.
Elma harus cepat pergi, jika tidak si bang-sat itu akan kembali mengintimidasi.
Berusaha memesan ojek online lewat aplikasi yang ada di hape, namun tiba-tiba geraknya terhenti saat Satrio merampas paksa hape yang ada di tangan Elma.
Elma melotot, memandang tak suka pada manusia yang ada di hadapannya. Yang di tatap hanya tertawa sinis.
Elma masih diam, namun tatapannya menyiratkan amarah yang berkobar-kobar.
Menyodorkan tangan, dengan niat meminta hape pada Satrio.
Bukannya mengembalikan, yang ada Satrio malah mengantongi hape Elma di saku celananya.
"Ikut gue, baru hape ini kembali!" Satrio mulai mengintimidasi.
Elma yang benar-benar kesal, ingin rasanya mencakar-cakar wajah Satrio yang sok kegantengan.
"Jangan terlalu dalam natap gue, entar jatuh cinta lagi. Tapi sayangnya, wanita sampah nggak level untuk gue" Satrio tertawa kecil penuh hinaan, kembali ucapan tajam Satrio ucapkan. Dua tangan disembunyikan di saku celana.
Semakin menumpuk kebencian Elma pada si bang-sat. Benci yang telah lama bercokol di hati, semakin tertanam kuat mengakar dan sulit untuk di lepas.
Elma masih diam, namun tatapannya seakan ingin menguliti Satrio. Perlahan Elma menurunkan tangan yang sejak tadi disodorkan pada Satrio. Dengan gerakan tak terduga Elma pergi begitu saja. Tidak lagi bertanya, langsung naik kedalam mobil yang berhenti tepat di hadapannya. Mengira jika yang berhenti itu adalah taxi online.
"Jalan pak!" perintah Elma tanpa melihat wajah sopir yang ada di depan.
Mobil bergerak, menjauh dari sosok bang-sat.
Satrio terpaku, diam memperhatikan kepergian Elma. Tak menyangka jika Elma akan pergi begitu saja tanpa menghiraukan hape yang masih tertinggal.
Satrio meninju Angin, lalu mengusap kasar wajah dengan satu tangan. Tangan yang satunya berkacak di pinggang.
"Siallll......!!!" Satrio berteriak marah.
"Sesuai aplikasi ya pak!" perintah Elma lagi. Belum terlalu memperhatikan seisi mobil beserta sopir yang sibuk memainkan setir mobil. Pikirannya saat ini terlalu kacau.
"Aplikasi yang mana ya mbak?"
Deg....
Elma merasa tidak asing dengan suara ini, pernah mendengar, tapi siapa? Di mana?
Tatapan Elma terbuka lebar, melihat seisi interior mobil yang ia naiki. Mobil mewah. Mana ada mobil semewah ini dijadikan taxi online.
Arga tertawa cekikikan melihat Elma dari mirror yang terpasang di atas kepala.
"Kak Arga???" Elma setengah berteriak. Merasa belum mempercayai apa yang terjadi.
Arga menoleh kebelakang, senyum masih terkembang dibibirnya.
"Kenapa, kaget???"
"Kok bisa?" Elma masih belum percaya.
"Ya bisalah, habisnya kamu main masuk-masuk aja ke mobil orang. Untuk mobil kakak, kalau mobil orang jahat gimana?"
Elma terdiam. Ceroboh sekali dirinya. Padahal di ingat-ingat dirinya belum sempat memesan taxi karena hapenya di rebut Satrio. Kelakuan impulsif Elma tentu ada sebabnya.
"Dia masih gangguin kamu?"
Elma mengangguk, padahal Arga tidak melihatnya.
"Mau apa lagi si bang-sat?"
Elma menggeleng. Lagi-lagi Arga tidak melihat tingkahnya.
Ujung-ujungnya Arga menghentikan mobil, mengira Elma di serang panik seperti sebelum-sebelumnya.
Menarik tuas rem tangan, dan membuka safety belt, lalu turun dari mobil. Elma hanya memperhatikan tingkah Arga. Ternyata Arga mendekat ke pintu penumpang, membuka pintu dan menyuruh Elma untuk duduk di depan.
Elma menurut, duduk manis di samping kemudi.
"Mau diantar kemana?" tanya Arga memastikan.
"Bank BXA aja kak" Elma melihat jam di pergelangan tangan, ternyata sudah setengah dua siang.
"Ok" ucap Arga singkat lalu memacu mobil ke arah jalan tempat Elma bekerja.
Bersambung......
Kakak ku emang terkerennnnnnn bikin novel 👍🏻👍🏻👍🏻🤗🤗😘😘😘
lanjut ektra partnya ya 😁😁