Berliana Humayra Alexander gadis cantik yang memiliki sejuta impian dan pesona ini terlahir dari keluarga konglomerat nomor satu di Indonesia. Walaupun hidupnya sudah terjamin mapan sampai tujuh keturunan tetapi itu semua takkan membuat dia untuk membumikan impian nya yang sudah setinggi langit. Saat ia baru menginjak usia 20 tahun ia terpaksa harus menerima perjodohan yang telah di sepakati keluarga nya saat ia masih kecil.
Bryan Abritama Maxime putra tunggal dari keluarga konglomerat nomor satu di Cairo. Tampan dan mapan, membuat ia banyak di gilai para kaum hawa. Di usianya yang masih muda ia sudah menjabat CEO di perusahaan rintihan nya sendiri di Jepang. So PERFECT. Dengan gaya nya yang cool membuat ia banyak di segani oleh banyak orang. Tapi itu semua takkan menurunkan kadar ketampanan nya.
Ikuti kisah mereka di Girl of a Million Dream's 💞💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutya f., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kompak
Saat Berlian masuk ke dalam Mansion, ia tidak menemukan siapapun di ruang tengah. Lantas, ia langsung menunju ke lantai atas. Bryan yang sedang berkutat dengan laptop nya menoleh saat terdengar pintu kamar nya terbuka dari luar. Ternyata istri nya baru pulang.
Berlian tersenyum melihat Bryan yang duduk di sofa.
"lagi ngapain"; tanya Berlian basa basi,
"makan"; jawab Bryan ketus, ia kesal pada istrinya itu karena tidak membiarkan ia ikut tadi.
Berlian terkekeh mendengar jawaban suami nya.
"sejak kapan laptop bisa di makan?;"
"sejak kamu pergi";
"oiya, tadi aku gak liat siapa-siapa di bawah, pada kemana?;
" rumah sakit ";
"hah, ngapain? siapa yang sakit?;"
"Sepupu Mommy";
"kamu kenapa gak ikut?;"
"males"; jawab Bryan singkat sesingkat pertemuan mereka.
"kenapa?;" tanya Berlian bingung
"gak ada istri"; sahut Bryan tanpa melihat ke arah Berlian,
Berlian terkekeh melihat suaminya itu.
"kan kamu bisa ajak Sean";
" gak ";
"bisa gak sih kamu kalo ngomong jangan pelit banget,"; Berlian mulai kesal dengan Bryan, dari tadi pertanyaan yang dia jawab gak lebih dari satu kata, benar-benar kutub Utara.
Bryan melirik istrinya sekilas, setelah itu ia melanjutkan pekerjaan nya.
" au ah terserah kamu"; Berlian langsung bangun dari duduknya dan pergi ke kamar mandi. Ia ingin membersihkan tubuh nya yang terasa lengket.
Bryan tersenyum melihat Berlian kesal. Emang enak di cuekin. Salah sendiri, kenapa pergi gak sama Bryan tadi. Ngambek kan nih bocah.
BRAK
Suara pintu kamar mandi terdengar lumayan keras, Berlian benar-benar kesal saat ini.
"ah seger"; ucap Berlian saat air menyapa kepala nya,
"capek juga ya, ngomel sama pelakor. gak akan ku biarkan kau merusak rumah tangga mereka. dasar tai kebo";
Setelah selesai dengan ritual mandi nya, Berlian keluar dan tidak menemukan sosok suami nya.
"kemana dia, main ilang gitu aja?:" gerutu Berlian,
"kalo sampe rumah tangga gue ada pelakor, jangan salahin gue kalo hidung nya hilang setengah"; gerutu Berlian,
"siapa pelakor?;" suara Bryan tiba-tiba membuat Berlian tersentak kaget,
"astaghfirullah, kamu mau bikin aku mati?;" semprot Berlian. Untung dia sudah pakai baju, coba kalau tidak bisa berabe kan.
"hufh, untung aku gak punya riwayat jantung";
"gak apa-apa, senam jantung';
"dari mana kamu, tiba-tiba nongol kayak setan?;" bisa-bisanya Berlian mengatai suaminya setan. kualat nanti baru tahu rasa,
"banyak perempuan nikah sama setan, kalau setannya setampan aku"; kumat deh narsis nya,
Berlian memutar bola matanya malas, suaminya itu kalau sedang di samperin setan narsis ya seperti ini.
***
Saat makan malam, seluruh anggota keluarga Maxime sudah berkumpul di meja makan. Sean juga turut hadir malam ini. Mau numpang makan katanya.
Tidak ada satu pun yang bersuara, hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring.
Setelah selesai makan malam, mereka pun memutuskan untuk duduk di ruang keluarga. itu sudah menjadi kewajiban bagi keluarga Sultan itu.
"gimana keadaan Tante, Mom?;" tanya Bryan,
"Alhamdulillah udah baikan, tante cuma kecapean aja";
"Alhamdulillah kalo gitu";
"kapan kalian berangkat?;"tanya Grandy Maxime,
"besok lusa Grandy";
"Berlian jadi ikut?;" tanyakan Abi Tama,
"jadi dong Abi"; jawab Berlian antusias,
"semangat banget kamu sayang"; ujar Granny Gayatri,
"ya iyalah Ma, kan mereka mau daftar kita cucu"; goda Mommy Zoya,
Wajah Berlian merah seperti kepiting rebus mendengar perkataan Mommy mertua nya. Pengen hilang rasanya. Malu banget.
"woah, bakal jadi uncle tampan nih"; celutuk Sean,
"tampan dari mana coba"; ujar Granny Gayatri,
"dari atas rambut sampe mata kaki Granny"; sahut Sean dengan kepedean tingkat dewa,
"mati kaki juling yang ada"; ucap Bryan,
"sembarangan kalo ngomong, mata kaki gue masih sehat belum juling";
"iya tampan, kalau dilihat dari Monas"; Berlian ikut menimpali,
"oh tidak kakak ipar, di lihat dari dekat juga tampan. ya gak brother";
Bryan hanya melirik Sean dengan ekor matanya.
"buset sadis amat mata Lo";
***
Lain tempat, lain lagi ceritanya. Di kediaman Alexander, kini Mommy Raya sedang mengultimatum putra kebanggaan nya. Tanpa bertanya pun, ia sudah tau apa yang terjadi tadi di mall. Di karena kan mata Daddy Bian ada di mana-mana.
"Mommy gak mau tau ya Ar, pokoknya kamu harus batalin kerja sama dengan perusahaan perempuan itu"; kata Mommy Raya dengan Kenzo sedang minum susu dot di pangkuan nya,
"udah Mom, biarin aja. kita liat sampai mana perempuan itu mengejar papanya Kenzo"; ucap Clara yang seperti nya ingin bermain-main dengan ular itu.
"nanti kalau kamu di celakai sama dia gimana? Mommy gak setuju ya";
"Mommy tenang aja, aku bisa jaga diri kok"; ucap Clara tersenyum
"Apa kamu pernah punya hubungan sama dia Ar?;" tanya grandma Farra,
"enggak grandma, dia nya aja yang selalu kejar-kejar aku"; sahut Arkana
"beneran?;" tanya grandma dengan penuh selidik,
"iya grandma, beneran";
"resiko punya suami ganteng,CK!"; ucap Daddy Bian,
"kalian harus nya bersyukur punya suami setampan kita"; grandpa Alex juga tak kalah narsis seperti cucu mantu nya,
"iya gara-gara wajah jelek kalian, kita harus beradu otot sama ****** di luar"; semprot grandma Farra,
"untung istri kalian bukan perempuan menye-menye,"; sahut Mommy Raya melirik Daddy Bian,
"kan aku gak ngomong Mom"; Daddy Bian tidak mau kena sasaran istri nya,
"mulut kamu emang gak lagi ngomong, tapi papa udah mewakilkan kalian bertiga";
"papa sih, aku juga kena jadinya kan"; Daddy Bian menyalahkan grandpa Alex,.
"kamu pikir papa mau makan nangka sendirian, kalian berdua juga harus kena getahnya"; sahut Grandpa Alex santai,
"cuma istri aku yang gak tega marahin suaminya"; ucap Arkana,
Bug
Bantal sofa terbang ke arah Arkana, yang mengira Clara akan diam saja saat ada perempuan lain yang mencoba merebut suami nya.
"aduh sayang, kenapa di lempar sih?;"
"kamu pikir aku akan diam aja, saat kamu jadi rebutan perempuan di luar, hah"; ujar Clara ketus,
"ternyata istri kamu lebih parah, Ar"; kekeh Daddy Bian,
"di marahin enggak, di lempar iya"; grandpa Alex tertawa melihat cucunya,
"aku gak mungkin lirik wanita lain sayang";
"CK! laki-laki mulut nya manis banget, di hati mah gak ada yang tau"; Mommy Raya ikut mengompori menantu nya,
"Mommy bukan nya bantuin, malah semakin nyalain api";
"Mommy berada di pihak Clara, Ar";
"iya, grandma juga";
"kalian ini, kalau urusan beginian kompak bener"; celutuk grandpa Alex,
"HARUS"; jawab mereka serempak,
Para suami hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istri-istri mereka.
\*\*\*
Hari ini, Berlian akan mengajukan cuti kuliah sebelum berangkat ke Jepang. Angel dan Shinta dari tadi terus mengoceh karena mau di tinggal sama ibu negara.
Setelah selesai dengan perizinan, seperti biasa mereka akan nongkrong di kantin. Jam kuliah juga sudah usai, jadi mereka bisa santai. Tanpa harus kejar waktu belajar.
"Ber, pokoknya pulang Lo harus bawa gue ponakan"; ucap Angel,
"iya nanti gue beliin"; sahut Berlian santai,
"beliin di mana Ber?;" tanya Shinta menahan tawa,
"di toko mainan lha";
Tawa Shinta pun pecah, ia tau ponakan seperti apa yang di maksud Angel.
"ish, bukan ponakan jadi-jadian Ber";
"ya terus?;"
"ponakan beneran dari pabrik Lo";
"yaelah nih anak, Lo pikir punya bayi itu seperti dapat boneka Barbie";
"tau tuh, kebelet banget pengen gendong bayi";
"emangnya Lo enggak?;"
"enggak, cuma Lo doang"; Angle memcibik masam karena di tindas sama Shinta—menurutnya
Berlian geleng-geleng kepala melihat sahabatnya.
"guys, liat deh. itu pak Angga ngapain di mari?;" tanya Angle saat melihat dosen mereka masuk ke kantin,
"iya ya, ngapain coba";
"eh kayak nya, mau samperin meja kita deh";
"mau ngapain emang nya?;'
Benar saja, dosen itu memang samperin meja tiga sekawan itu. Ada gerangan apa coba?.
"hai, boleh gabung sama kalian?;"ucap pak Angga saat sudah berada di depan mereka,
"boleh pak, boleh duduk aja"; sahut Shinta,
"oke makasih"; Pak Angga pun duduk di kursi yang ada di sebelah Shinta,
" kalian sudah makan?;" tanya Pak Angga,
"sudah pak, baru aja"; jawab Angel,
"Berlian, kamu kenapa?;" tanya Pak Angga pada Berlian yang dari tadi hanya diam saja,
"tidak apa-apa pak"; Jawab Berlian ramah,
Dari ketiga gadis cantik di depannya, hanya Berlian lah yang di fokuskan sama dosen Angga.
Angga adalah guru paling populer di kampus itu, wajah nya yang tampan dan sifat nya yang ramah sangat di gilai sama para mahasiswi di kampus itu.
"hey kalian liat, ngapain pak Angga gabung sama mereka?;" tanya salah satu siswi di kantin itu,
"iya, ngapain ya. gak tau kalau aku cemburu apa"; sahut siswi yang mengidolakan Angga,
"pasti ada sesuatu";
"bener, kita harus cari tau ini";
"awas aja kalau mereka berani rebut pak Angga dari aku";
"emang nya pak Angga mau sama situ?;"
"pasti maulah, kan gue cantik";
"terbang sana Lo";
Begitulah mahasiswi yang memperebutkan Angga. Mereka tidak tau saja kalau dosen yang mereka incar sedang melirik salah satu siswi nya, yang tentu saja bukan dari golongan mereka.