Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai Jumpa Bali
Pagi terakhir di Bali datang terlalu cepat.
Alina terbangun ketika cahaya matahari mulai menerobos celah tirai kamar hotel. Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit.
Kemudian ia teringat sesuatu.
Hari ini mereka harus pulang.
Alina langsung menghela napas panjang.
“Tidak mau.”
Di sebelahnya, Devan yang masih memejamkan mata tiba-tiba berkata,“Aku juga.”
Alina menoleh.“Kamu sudah bangun?”
“Sejak kamu mengeluh.”
“Aku tidak mengeluh.”
“Kamu bilang tidak mau pulang.”
“Itu bukan mengeluh.”
“Lalu?”
“Pernyataan.”
Devan tertawa kecil tanpa membuka mata.“Baiklah. Pernyataan.”
Alina kembali memandang langit-langit.
“Aku merasa baru kemarin kita datang.”
“Memang baru kemarin.”
“Tidak.”
Alina menghitung dengan jari.“Kita sudah beberapa hari di sini.”
“Dan kamu berhasil membuat jadwal penuh setiap hari.”
“Kalau tidak begitu, kamu akan kembali mengajakku tinggal di kamar.”
Devan membuka mata.“Masih belum lupa?”
“Tidak akan.”
Devan tersenyum.“Baiklah.”
Ia bangun dari tempat tidur.“Hari ini kamu mau ke mana?”
Alina berpikir.Kemudian mengambil ponselnya.“Hari ini tidak ada jadwal.”
Devan langsung berhenti.“Tidak ada?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin santai.”
Devan tersenyum lega.“Akhirnya.”
Alina meliriknya.“Tapi aku punya satu permintaan.”
“Apa?”
“Aku ingin kembali ke pantai tempat kita kemarin.”
Devan mengangguk.“Boleh.”
Mereka bersiap tanpa terburu-buru.
Setelah sarapan, mereka berjalan menuju pantai.
Tidak ada kendaraan.
Tidak ada agenda.
Mereka hanya berjalan kaki menyusuri kawasan sekitar hotel.
Alina sesekali berhenti melihat toko kecil.
Devan tidak keberatan.
Bahkan ketika Alina membeli beberapa suvenir, pria itu hanya berdiri menunggu sambil tersenyum.
“Kamu tidak bosan?”
“Tidak.”
“Padahal aku lama.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku suka melihatmu memilih sesuatu.”
Alina menatapnya.“Kamu akhir-akhir ini banyak gombal.”
“Aku sedang menikmati liburan.”
“Alasan.”
Mereka kembali berjalan.
Sesampainya di pantai, Alina langsung melepas sandal.
Ia membiarkan kakinya menyentuh pasir.
Devan melakukan hal yang sama.
Mereka berjalan menyusuri garis pantai.
Tidak banyak bicara.
Hanya menikmati suara ombak.
Setelah beberapa saat, Alina berhenti.“Devan.”
“Hm?”
“Aku punya sesuatu untukmu.”
Devan terlihat heran.“Apa?”
Alina mengambil sebuah benda kecil dari tasnya.Sebuah gelang sederhana dari tali.“Ini.”
Devan menerimanya.“Untukku?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Anggap saja kenang-kenangan.”
Devan memperhatikan gelang tersebut.
Tidak mahal.
Tidak mewah.Namun justru itu yang membuatnya tersenyum.“Aku suka.”
“Benarkah?”
“Benar.”Devan langsung mengenakannya.
Alina tersenyum.
“Cocok.”
“Terima kasih.”
Kemudian Devan memasukkan tangannya ke dalam saku.“Aku juga punya sesuatu.”
Alina mengerutkan kening“Apa?”
Devan mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Alina membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana dengan liontin berbentuk kecil seperti ombak.
Mata Alina langsung membesar.“Devan …”
“Tidak mahal.”
Alina menatapnya.“Aku tidak peduli soal harga.”
“Bagus.”
Devan mengambil kalung itu.“Boleh?”
Alina mengangguk.
Devan memasangkan kalung tersebut di lehernya.
Liontin kecil itu jatuh tepat di atas dadanya.
Alina menyentuhnya.“Cantik.”
“Cocok untukmu.”
“Kenapa bentuk ombak?”
“Karena kita mendapat kenangan ini di sini.”
Alina tersenyum.
“Kalau nanti kita kembali ke Jakarta?”
“Kita masih punya kenangannya.”
Ia kemudian menatap Devan.“Terima kasih.”
Devan menggenggam tangannya.
Mereka kembali berjalan.
Menjelang siang, mereka membeli makanan ringan dan duduk di bawah pohon yang rindang.
Alina membuka kamera.
Ia melihat semua foto yang mereka ambil selama liburan.
Ada ratusan foto.Sebagian bagus.Sebagian buram.Sebagian bahkan tidak sengaja mengambil kaki Devan.
Alina tertawa.“Lihat ini.”
Devan melihat layar.“Kenapa kamu memotret kakiku?”
“Itu tidak sengaja.”
“Kamu punya banyak foto kakiku.”
“Tidak sengaja.”
Devan menggeleng.“Berarti kakiku menarik.”
“Jangan percaya diri.”
Mereka tertawa.
Setelah makan siang, mereka kembali ke hotel untuk berkemas.
Koper yang sebelumnya kosong kini penuh dengan pakaian dan oleh-oleh.
Alina duduk di lantai sambil mencoba menutup salah satu koper.
“Kenapa tidak bisa?”
Devan datang.“Biar aku.”
“Tidak bisa juga.”
Devan menekan koper itu.
Alina menarik resleting.
Berhasil.
Mereka saling memandang.
Kemudian tertawa.
“Berat,” kata Devan.
“Karena oleh-oleh.”
“Bukan.”
Devan mengangkat koper.“Karena kamu membeli terlalu banyak.”
“Untuk keluarga.”
“Setengahnya untuk dirimu sendiri.”
“Itu juga benar.”
Sebelum meninggalkan hotel, Alina berdiri sebentar di balkon.
Ia memandang laut untuk terakhir kalinya.
Devan berdiri di sampingnya.“Sedih?”
“Sedikit.”
“Kita akan kembali.”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Kapan?”
Devan berpikir.
“Kalau jadwal memungkinkan.”
Alina menatapnya.
“Jawaban CEO.”
Devan tertawa.
“Baik. Kalau kamu ingin kembali, kita kembali.”
Alina tersenyum.“Deal.”
Mereka kemudian turun.
Saat mobil mulai meninggalkan hotel, Alina masih melihat ke belakang.
Sampai bangunan itu menghilang dari pandangan.
Perjalanan menuju bandara berlangsung tenang.
Alina membuka galeri foto.
Ia memilih beberapa foto terbaik.
Satu foto ketika mereka berdiri di pantai.
Satu foto saat matahari terbenam.
Satu foto ketika Devan terkena cipratan air.
Satu lagi ketika mereka makan bersama.
“Yang ini bagus.”
Devan melirik.“Yang mana?”
“Ini.”Alina menunjukkan foto mereka berdua.
Devan tersenyumn“Kirim ke aku.”
“Untuk apa?”
“Mau kusimpan.”
Alina langsung mengirimkannya.
Beberapa detik kemudian, ponsel Devan berbunyi.
Ia membuka foto tersebut.
“Bagus.”
“Karena aku cantik.”
“Memang.”
Alina tersenyum.“Kalau kamu?”
“Lumayan.”
Alina tertawa.
“Belajar dari siapa?”
“Dari kamu.”
Setibanya di bandara, suasana langsung berubah.
Dari suasana santai menjadi ramai.
Mereka melakukan proses keberangkatan dengan tenang.
Sambil menunggu, Alina membeli satu minuman.
Devan duduk di sampingnya.“Sudah siap kembali?”
“Belum.”
“Aku juga.”
“Besok kerja.”
“Sayangnya.”
“Bukan sayangnya. Memang harus.”
Devan menghela napas.“Benar.”
Ketika akhirnya pesawat lepas landas, Alina melihat keluar jendela.
Bali semakin jauh.
Ia merasakan sedikit sesak di dada.
Bukan karena sedih berlebihan.
Hanya karena perjalanan yang menyenangkan memang selalu terasa terlalu singkat.
Devan menggenggam tangannya.“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kangen Bali?”
“Iya.”
“Kita kembali.”
Alina tersenyum.
“Janji?”
“Janji.”
Beberapa jam kemudian, mereka tiba di Jakarta.
Begitu keluar dari bandara, udara kota langsung terasa berbeda.
Alina menarik napas panjang.“Panas.”
Devan tertawa.“Selamat datang kembali.”
“Tidak mau.”
“Kita tetap harus pulang.”
Alina mengangguk.
Mereka memasukkan koper ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, Alina lebih banyak diam sambil melihat pemandangan kota.
Gedung-gedung tinggi.
Jalanan ramai.
Kendaraan yang padat.
Semuanya terasa jauh berbeda dari Bali.
Namun tangan Devan masih menggenggam tangannya.
Dan entah kenapa, itu membuatnya merasa tenang.
Sesampainya di rumah, mereka membawa koper masuk.
Alina meletakkan tas di sofa.
Kemudian berdiri di tengah ruang keluarga.“Rasanya aneh.”
“Apa?”
“Kita baru pulang, tapi aku sudah ingin pergi lagi.”
Devan tertawa.“Kalau begitu jangan terlalu cepat membongkar koper.”
Alina menatapnya.“Kenapa?”
“Supaya kalau besok berubah pikiran, kita tinggal pergi.”
Alina tertawa.
“Kamu serius?”“Tidak.”
“Dasar.”
Mereka kemudian duduk di sofa.
Alina membuka ponselnya lagi.
Ia melihat foto-foto Bali.Wajahnya perlahan tersenyum.
Devan memperhatikannya.
“Senang?”
“Senang.”
“Berarti liburannya berhasil?”
Alina mengangguk.
“Berhasil.”
“Walaupun tiga hari pertama?”
Alina menatapnya tajam.
“Jangan bahas.”
Devan tertawa.
“Baik.”Alina kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Devan.
“Terima kasih.”
Devan mengusap rambutnya.“Untuk apa?”
“Untuk mau mengubah rencana.”
Devan diam sejenak.“Seharusnya aku dari awal mendengarkanmu.”
“Tidak apa-apa.”
Alina menggenggam tangannya.“Yang penting akhirnya kita punya kenangan.”
Devan tersenyum.“Kita akan membuat lebih banyak.”
“Jangan cuma janji.”
“Tidak.”
Devan mengangkat tangan mereka yang masih saling menggenggam.“Aku akan membuktikannya.”
Alina tersenyum.
Di pergelangan tangan Devan masih terpasang gelang sederhana pemberiannya.
Sementara kalung kecil berbentuk ombak masih menghiasi leher Alina.
Dua benda sederhana.
Namun keduanya menyimpan cerita tentang perjalanan singkat mereka.
Tentang tiga hari pertama yang sempat
membuat Alina kesal.
Tentang pantai.
Tentang tawa.
Tentang makanan.
Tentang matahari terbenam.
Tentang foto-foto yang tidak sempurna.
Dan tentang dua orang yang belajar menikmati waktu bersama.
Malam semakin larut.
Alina berdiri hendak masuk kamar.
Namun sebelum pergi, ia menoleh.
“Devan.”
“Hm?”
“Liburan berikutnya aku yang pilih tempat.”
Devan mengangguk.“Silakan.”
“Dan kamu tidak boleh protes.”
“Baik.”
“Tidak boleh membatalkan.”
“Baik.”
“Tidak boleh mengubah jadwal.”
Devan tersenyum.“Baik, Nyonya.”
Alina tersenyum puas.“Bagus.”
Ia kemudian berjalan menuju kamar.
Devan memandang punggung istrinya sambil tersenyum.
Bali telah selesai.
Namun perjalanan mereka sebagai pasangan baru saja dimulai.
Mereka mungkin akan kembali menghadapi kesibukan Jakarta, pekerjaan yang menumpuk, rapat yang tidak ada habisnya, dan berbagai persoalan yang menunggu.
Tetapi sekarang mereka memiliki satu pelajaran penting.
Sesibuk apa pun kehidupan mereka, mereka harus tetap menyisihkan waktu untuk berhenti.
Untuk tertawa.
Untuk berbicara.
Untuk berjalan tanpa tujuan.
Dan untuk mengingat alasan mengapa mereka memilih berjalan bersama sejak awal.
Karena pada akhirnya, bukan tempat yang membuat sebuah perjalanan menjadi indah.
Melainkan orang yang berdiri di samping kita ketika perjalanan itu berlangsung.
Dan bagi Alina, orang itu adalah Devan.
Sementara bagi Devan, tidak ada tempat yang benar-benar ingin ia tuju jika Alina tidak berada di sisinya.
Malam itu, ketika mereka akhirnya beristirahat di rumah sendiri, suara ombak memang sudah tidak terdengar lagi.
Namun kenangan tentang Bali masih tersimpan hangat di antara mereka.
Dan mereka tahu satu hal.
Suatu hari nanti, mereka akan kembali.
Bukan karena ingin mengulang masa lalu.
Melainkan untuk menciptakan kenangan baru.