Anya yang merupakan seorang gadis cerdas dan merupakan alpha girl tiba-tiba rela menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karirnya demi mengurus suami dan anaknya di rumah. Namun seiring berjalannya waktu, ia merasa bahwa sikap suaminya mulai berubah tak semanis dulu. Awalnya ia tetap berusaha untuk menjalani kehidupan rumah tangganya seperti pasangan normal pada umumnya. Namun, semakin ia mengalah, semakin semena-mena pula perlakuan suaminya terhadapnya. Ia mulai merasakan pahitnya kehidupan berumah tangga. Ia mulai sadar bahwa cintanya seolah telah layu. Namun, demi anak yang sedang tumbuh besar bersamanya, ia berusaha untuk terus mempertahankan keutuhan rumah tangganya meskipun saat itu cintanya pada sang suami telah mulai sirna. Di saat yang tak terduga, ia bertemu seorang laki-laki yang mampu membalut luka di hatinya. Akankah ia mempertahankan rumah tangganya yang tanpa cinta? Ataukah ia harus memilih si lelaki baru dan mengorbankan rumah tangga yang dibangunnya betahun-tahun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivin Febry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Anya duduk di sofa di ruang tamu Haris. Tangannya masih gemetar. Ia masih ketakutan dengan apa yang dikatakan Davin tadi. Apa maksud Davin mengancamnya dan mengatakan bahwa anak yang di kandungnya adalah anaknya. Padahal Anya yakin sekali bahwa dirinya tidak pernah tidur bersama Davin semenjak hubungan mereka memburuk. Haris menggosok punggungnya dan menenangkan dirinya. Anya mengangkat wajahnya dan menatap mata Haris. Ia mencari tanda-tanda keraguan di mata yang hangat itu namun tidak menemukan keraguan sedikitpun.
"Kau percaya padaku kan?" Tanya Anya meyakinkan dirinya.
"Tentu saja. Kau tak perlu bertanya lagi." Haris tertawa sambil mencubit hidung Anya.
Mendengarnya, Anya merasa lega. Setidaknya sisa hari itu bisa dilaluinya dengan damai.
...****************...
Keesokan harinya, Anya merasa tubuhnya telah kembali bugar. Ia masih tinggal di rumah Haris. Haris memutuskan hal itu jauh lebih aman bagi Anya untuk tinggal di rumahnya. Anya memutuskan untuk kembali bekerja. Pagi itu ia bersiap-siap. Haris mengantarnya bekerja, setelahnya ia menuju ke tempat kerjanya sendiri.
Sesampainya tempat kerja, Anya disambut oleh tawa riang Bella yang langsung berlari memeluknya ketika ia berjalan di lobi.
"Aku merindukanmu." Ujar Bella dengan tawa khasnya yang hangat dan riang. "Syukurlah kau sudah sehat." Tambahnya.
Anya membalasnya dengan senyuman. Mereka berbincang sambil berjalan menuju ke ruang kerjanya. Meeka berdua berpisah untuk memasuki ruang kerja masing-masing. Namun sebelum pergi, Bella menghampiri Anya.
"Nanti siang kita ke kantin bersama ya, aku ingin menceritakan sesuatu." Ujarnya sambil mengedipkan sebelah mata.
Anya mengangguk mengiyakan. Mereka berpisah menuju ruangan masing-masing.
Di ruangannya, Anya seperti biasa langsung mengerjakan tugas-tugasnya. Tak terasa jam istirahat pun tiba. Ia mengingat janjinya dengan Bella. Ia segera beranjak dari kursinya dan berjalan langsing menuju ke kantin. Ia akan menunggu Bella di sana.b
Sesampainya di kantin, ia melihat Bella telah memesankan kopi dan makan siang untuknya. Anya menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Ujarnya sambil mengerling.
Anya mengangkat sebelah alisnya.
"Kalau pria yang di rumah sakit adalah suamimu. Artinya pria tampan yang aku lihat di lobi waktu itu siapa?" Tanyanya dengan mata bulat penasaran.
"Dia Haris." Jawab Anya singkat.
"Temanmu?" Lanjut Bella penasaran.
Anya terdiam beberapa saat. Bagaimana caraku menjelaskan padanya, pikirnya.
"Dengar," Bisik Anya, "Hidupku begitu rumit. Mungkin kau tidak akan mengerti." Jelas Anya.
"Percayalah, aku akan berusaha untuk mengerti." Bisiknya sambil memasang wajah serius dan tatapan memohon pada Anya agar ia menceritakan kisahnya pada Bella.
Anya menatap mata Bella dengan serius. Mereka berdua terlihat begitu serius. Anya menjelaskan panjang lebar tentang kehidupan pribadinya pada Bella. Bella mendengarkan tanpa mereka sedikitpun. Setelah 15 menit berlalu, Anya menghentikan bicaranya. Ia menatap wajah Bella dan mencari jawaban dari ekspresi wajah temannya itu. Bella masih tidak berkomentar apapun. Ia memajukan bibirnya seolah berpikir keras. Anya meminum kopinya sambil memikirkan kira-kira bagaimana pendapat Bella tentang hidupnya yang berantakan. ia mendengar Bella menghembuskan nafas dengan keras sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Ah, ternyata hidupmu penuh keseruan." Akhirnya Bella membuka mulut.
"Ya, kau sudah tahu sekarang bahwa hidupku tidak mudah." Jawab Anya datar.
"Hei." Ujar Bella kembali bersemangat. "Kau tahu bahwa aku akan berada di pihakmu, bukan?"
Mendengar perkataannya yang begitu tulus, mata Anya berkaca-kaca. Baru kali ini dia memiliki seorang teman yang selalu mendukungnya. Ia merasa tidak perlu menghadapi badai kehidupan sendirian lagi.
"Terimakasih." Jawab Anya dengan suara tercekat.
Bella kembali ke mode cerianya yang seperti biasa. Melihat temannya berceloteh riang seperti itu, Anya merasakan kehangatan di jiwanya. Ia tersenyum mendengar ocehan Bella.
...****************...
Sepulang kerja, Anya dijemput oleh Haris. Ia lega karena bukan Davin yang menjemputnya. Entah apa yang direncanakan Davin saat ini, ujarnya dalam hati. Apapun itu, Anya merasa jauh lebih berani karena ia tidak merasa harus melawan Davin sendirian. Ia kini memiliki orang-orang yang bersedia mendukungnya dan menerima keputusannya. Mereka berdua pulang ke rumah Haris.
Sesampainya di rumah Haris, Anya menerima telepon dari Davin. Davin mengajak Anya dan Haris untuk bertemu di rumah sakit besok untuk melakukan tes DNA. Anya dan Haris menyetujui permintaan itu.
...****************...
Keesokan harinya Anya dan Haris bersiap untuk ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, mereka melihat Davin sedang menunggunya di ruang tunggu. Mereka segera menuju ke sana untuk menemuinya. Melihat mereka, Davin berdiri dan menjelaskan bahwa dirinya sudah mengurus pendaftaran untuk melakukan tes DNA. Mereka bertiga duduk di sana menunggu jadwal untuk melakukan prosedur itu. Setengah jam kemudian, terlihat Dania berjalan menghampiri mereka bertiga. Ia menyapa Haris dan yang lainnya. Dania berbincang-bincang sebentar dengan Haris. Mereka terlihat masih akrab, pikir Anya dengan sedikit cemburu. Dania mengerti hubungan cinta segitiga di antara Anya, Haris dan Davin. Setelah berbincang-bincang sebentar, ia berpamitan pergi dan menyuruh mereka menunggu dokter untuk prosedur tes nya. Anya melihat kepergian Dania. Apa yang ada di pikirannya ketika mengetahui bahwa aku mengandung anak Haris, ujarnya dalam hati. Sementara selama ini, Dania mengetahui bahwa Haris begitu menginginkan seorang anak. Kini setelah Haris akan segera memiliki anak, apakah dia juga akan berbahagia untuknya? Pikiran itu terlintas di benaknya. Sepuluh menit kemudian, Anya dipanggil oleh seorang perawat untuk mengikutinya ke ruangan tempat prosedur tes DNA akan dilaksanakan. Anya berdiri dengan gugup. Ia menoleh ke arah Haris. Haria mengangguk memberinya dukungan. Anya berbalik dan berjalan mengikuti perawat itu menuju ke ruangan seperti yang dijelaskan perawat tapi padanya.
...****************...
Tiga puluh menit berlalu setelah Anya di bawa oleh perawat tadi. Haris tidak sabar untuk menunggunya kembali. Ia melirik ke arah Davin yang tampak duduk santai di seberangnya. Sejak tadi Haria sengaja duduk di kursi terjauh dengan Davin. Ia tak sudi duduk berdekatan dengan bajingan itu. Mereka berdua menoleh ke arah yang sama ketika melihat Anya telah kembali bersama perawat yang tadi bersamanya. Perawat itu menjelaskan bahwa hasil tesnya akan keluar keesokan harinya. Ia menyuruh mereka pulang dan kembali keesokan harinya untuk mengambil hasil tes. Haris berjalan menghampiri Anya seolah ia ingin melindunginya dari Davin. Melihat kedekatan mereka, Davin mendengus seolah itu hal yang menjijikkan baginya.
"Aku akan kembali besok. Jangan lupa bersiaplah untuk pulang bersamaku besok." Tatapannya ditujukan pada Anya.
Anya tidak menjawab ucapan Davin.
"Itu tidak akan pernah terjadi." Ujar Haria dingin.
Davin mendengus dan berbalik meninggalkan mereka. Haris meraih tangan Anya dan mengajaknya pulang.