Cinta itu tak selamanya manis seperti madu. Cinta juga dapat membuat seseorang gelap mata. Lupa kepada anak istri, dan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Karena sang madu, Rizal rela untuk kehilangan segalanya bahkan jika harus nyawa yang menjadi taruhannya.
Mempunyai hati yang lembut membuat Anita harus selalu mengalah dan tak pernah memiliki dendam. Perjalanan hidup yang begitu banyak menguras air mata dan kesabaran.Seorang wanita bergelar tulang rusuk yang merangkap sebagai tulang punggung. Ia harus menjadi Ayah, Ibu dan seorang teman untuk sang buah hati.
Apakah perjalanan cintanya akan berjalan mulus di suatu hari?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wida Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
Aku harap Kang Ilham tidak seperti senja. Mamberikan keindahan sesaat, kemudian menghilang. Menatap sendu pada netraku yang sayu. Perasaan ini mulai terbuka, siap menerima setiap serpihan cinta yang bertaburan.
Sejak pertemuan itu, aku lebih waspada terhadap Sari. Bukan tak mungkin. Meski sudah mendapat karmanya, wanita licik seperti dia bisa saja nekad.
Melihat tatapannya, aku merasa risih sehingga memutuskan untuk pulang lebih cepat. Untuk urusan masalahnya, biarlah aku tak mau tahu lagi. Do'aku, semoga anaknya lekas sembuh seperti sedia kala.
Aku tak akan pernah memberikannya celah lagi untuk menikungku dari belakang. Sekali saja bertingkah, akan langsung ku tindak biar kapok.
Sang Surya sudah tenggelam. Mobil yang dikemudikan Kang Ilham telah terparkir di halaman rumahku.
"Akang pulang dulu ya, Nit," ucap Kang Ilham seusai mengantarku pulang dari restorannya.
"loh! mengapa buru-buru, Kang?" tanyaku.
"Sudah sore, gak enak kalau Akang berlama-lama disini. Meskipun sebentar lagi kita akan menikah, tetap saja belum halal." Aku hanya menggeleng pelan dan memahami maksud ucapannya. Lalu, memersilakannya untuk undur diri.
Kang Ilham pun segera pulang setelah aku sampai rumah. Aku segera memburu kedua buah hatiku yang sejak tadi ditinggalkan. Ternyata, mereka sudah mulai mandiri dan tidak manja.
Dila dan Rifki pulang sekolah Diniyah, dan mereka bersiap untuk menantikan shalat magrib. Setelah itu, akan pergi mengaji ke surau.
"Mama baru pulang, ya?" tanya Rifki yang memburu kedatanganku.
"Iya, sayang, Rifki udah makan belum?" aku mengelus dan mencium pucuk kepala si bungsu.
"Sudah, Mah, mana Om Ganteng 'ko tidak ikut masuk?"
"Om Ganteng pulang dulu, ini 'kan udah sore, jadi harus pulang," sahutku menjelaskan kepada anak yang masih polos ini.
"Ya … Rifki mau main sama Om Ganteng, gagal deh." Anak itu merajuk.
"Ya sudah, Rifki berangkat gih! 'kan mau mengaji?"
"Baiklah, Mah." Akhirnya, ia berangkat bersama Kakaknya, disusul beberapa teman yang sama-sama mau mengaji. Mereka berjalan beriringan layaknya para santri di pondok pesantren di kampung sebelah.
Aku harap, kedua buah hatiku itu dapat menerima Kang Ilham sebagai Ayah baru mereka. Selama ini, mereka berdua tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.
Sejak Kang Ilham hadir dalam kehidupan kami, dia sangat dekat dengan Dila dan juga Rifki. Lelaki itu suka sama anak kecil. Ia penyayang, sehingga tidak terlalu sulit untuk meluluhkan kedua buah hatiku.
***
Undangan sudah tersebar. Padahal, aku hanya ingin acara yang sakral itu diadakan secara sederhana. Malu rasanya mengingat usia yang sudah tidak muda lagi, kalau harus menjadi 'Ratu sehari'.
Aku melemparkan diri ke pembaringan dengan posisi telungkup. Perlahan kubuka lembaran kertas undangan berwarna maroon itu. Tertulis namaku bersanding dengan nama yang mempunyai gelar di belakangnya.
Aku juga sudah membuat design baju pengantin khusus untuk acara kami. Selain kostum pengantin, aku juga memersiapkan kostum yang senada untuk satu keluarga.
Perlahan, ku usap gaun berwarna putih yang dihiasi beberapa manik-manik itu. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah mengenakan gaun seperti ini. Bedanya, dulu aku memakai gaun pengantin dari butik yang di pesan Almarhum Bang Rizal.
Kini, aku akan mengenakan gaun yang ku design sendiri.
lirihku sambil mengembangkan sedikit senyuman pada sudut bibir yang masih berbalut lipstik berwarna pink ini.
Tak terbayang nanti, wajahku berbalut make up nan tebal. Kepala berhijab, berhiaskan mahkota yang pasti terasa berat. Meskipun dulu pernah merasakan menjadi 'Ratu sehari' tetap saja akan ada rasa deg-degan saat acaranya tiba kelak.
Malam pertama yang penuh ketegangan, dengan pria yang telah lama ku kenal sejak masa sekolah dulu.
Dulu, Kang Ilham selalu mencibirku. Ia mematahkan penggaris dan mencuri balpointku dengan sengaja. Tak pernah sehari saja tanpa menjadi pengganggu di dalam kelas kami.
Kini, malam ini aku masih tak percaya. Lelaki itu akan menjadi pasangan hidupku. Dia sudah berubah menjadi lelaki dewasa dan bertanggung jawab. Sungguh indah skenariomu Tuhan.
Penantian panjangku akan segera berakhir.
Ya ampun, sadar Anita! batinku.
Masih seminggu lagi acara yang sakral itu dilaksanakan. Aku sudah berkhayal terlalu jauh. Kalau saja ada yang melihat, malu aku senyum-senyum sendiri.
Rasa lelah seharian menemani Kang Ilham, aku pun tertidur pulas tanpa mengganti pakaian mau pun mandi.
Sehingga saat anak-anak pulang aku tak mengetahui mereka sudah pulang mengaji.
Saat ku terbangun dari buaian mimpi yang sekejap saja, aku melihat kedua buah hatiku sudah terlelap di kasurnya masing-masing. Segera ku balut mereka dengan selimutnya.
"Selamat bobo anak-anak Mama sayang." Ku cium kening mereka secara bergiliran, lalu ku matikan lampu kamarnya.
Rasa kantuk masih menyelimuti pandanganku. Setelah meneguk segelas air putih yang ku ambil di dapur, segera bergegas ke kamar mandi karena tadi lupa shalat Isya.
segera ku ambil air wudhu untuk melaksanakan shalat Isya. Setelah kewajibanku selesai, aku melanjutkan untuk shalat malam. Berdo'a dan memohon yang terbaik dalam pilihanku.
Ya Allah … semoga saja pilihanku ini yang terbaik untukku
Seperti biasa, Ibu dan beberapa saudara membuat beberapa kue kering untuk acara nanti. Beberapa toples berisi aneka kue kering sudah berbaris rapi di dalam lemari kristal.
Mereka nampak pandai sekali dalan membuat kue. Bi Tini adalah adik dari Ibu. Beliau pernah bekerja di kota sebagai pembuat kue. Alhamdulillah dengan berbekal ilmu yang ia punya akhirnya dapat mengembangkan usahanya di kampung.
Setiap ada warga yang mau mengadakan acara besar, pasti Bi Tini yang membuat kue untuk mereka. Kue kering maupun kue basah dapat ia sajikan dengan sempurna. Kue pengantin yang ia buat pun terlihat sangat indah di pandang.
"Tin, nanti kue untuk Nita di buat dua tingkat saja ya. sederhana namun terlihat mewah," tutur Ibu yang sangat antusias memersiapkan segalanya untukku.
"Iya, tenang saja, Mbak. Nanti aku hias hingga tampak mewah. Aku juga sudah menersiapkan dua buah patung perempuan dan laki-laki sebagai pasangan pengantinnya." Bi Tini menjelaskan secara rinci mengenai kue pengantin itu. Mulai dari bagan-bahan yang harus di beli, sampai pernak-pernik pelengkapnya.
"Sudahlah, Bu, jangan terlalu berlebihan. Nita malu harus buat kue seperti itu segala, bukan pernikahan gadis ini,'' protesku kepada para wanita berdaster yang tengah sibuk menguleni kue itu.
Semua tertawa ringan mendengar penuturanku. Mereka tak memedulikan apa permintaanku.
"Biar saja Nit, Ibumu ingin yang terbaik buat anaknya. Saking senangnya kamu mendapatkan jodoh dan akan segera menikah," balas Bi Tini sambil tersenyum dan memegang pundakku.
"Terserah deh." Aku mengangguk lemah tak berdaya. Mana mungkin bisa menentang keputusan wanita-wanita hebat itu.
Ceo, mobil mewah, rumah bak istana..
Semangat tuk karya2 lainnya..
pelakor cmn bs ngabis2in duit aja. lagunya pakek skin care tpi akhlak minus