Indonesia
NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34 - It's a...

Akhir pekan di pertengahan musim semi itu tiba dengan membawa pesona yang luar biasa memanjakan mata. Langit di atas perbukitan Glenville Hill bersih tanpa sehelai awan pun, membiarkan cahaya matahari pagi yang sehangat pelukan jatuh menyirami hamparan halaman belakang mansion keluarga Giovano yang dirawat dengan presisi tingkat tinggi.

Di salah satu sudut taman yang rindang, jauh dari hiruk-pikuk dan dering telepon bisnis, Ashley dan Kevin tengah menggelar sebuah momen pelarian kecil.

Mereka berdua sedang bersantai menikmati piknik privat di atas sebuah karpet anyaman tebal bermotif klasik yang digelar tepat di bawah naungan dahan pohon oak raksasa. Di tengah karpet tersebut, sebuah keranjang rotan yang sebelumnya disiapkan dengan apik oleh para pelayan dapur kini terlihat berantakan; isinya yang berupa sandwich daging kalkun panggang, buah-buahan segar, dan sebotol jus perasan jeruk murni sudah tampak setengah kosong akibat serangan rasa lapar sang ibu hamil.

Ashley Giovano duduk dengan kedua kaki yang diluruskan, menyandarkan punggungnya dengan hati-hati pada batang pohon oak yang kokoh.

Usia kehamilannya kini telah resmi menginjak akhir bulan kelima. Perut wanita yang biasanya selalu tertutupi oleh setelan blazer bergaris tajam itu kini sudah membulat sempurna, menonjol dengan bangga di balik gaun katun putih longgar yang ia kenakan. Namun, di balik rona keibuan yang mulai memancar melembutkan wajah pualamnya, bulan keenam ini nyatanya membawa serangkaian siksaan fisik baru yang sukses menguji batas kesabaran sang CEO perfeksionis.

Belakangan ini, Ashley sering kali mengeluhkan rasa sakit dan nyeri yang menusuk di area pinggang bawahnya akibat pergeseran titik berat tubuh. Ia juga mulai lebih sering mengambil napas pendek dan merasa sesak karena rahimnya yang membesar mulai menekan diafragmanya. Dan yang paling parah, jam tidurnya menjadi hancur lebur berantakan; setiap malam ia terpaksa terjaga menatap langit-langit kamar karena bayi di dalam perutnya tampaknya lebih suka berlatih senam akrobatik dan menendang-nendang dengan aktif tepat saat ibunya ingin beristirahat.

Tepat di sisi kanan Ashley, Kevin sedang berbaring tengkurap dengan santai di atas karpet. Siku pria bertubuh tegap itu menopang dadanya, sementara kedua tangannya memegang sebuah buku kumpulan cerita dongeng anak-anak dengan sampul berwarna-warni yang sangat kontras dengan aura kediaman konglomerat itu.

Wajah Kevin berada sangat dekat dengan perut buncit istrinya. Pria itu sedang membacakan bait-bait dongeng dengan suara baritonnya yang diatur senyaman dan selembut mungkin. Ini bukan tanpa alasan; pada jadwal pemeriksaan terakhir, dr. Irene Faughan telah memberikan edukasi medis bahwa indra pendengaran sang janin di usia dua puluh empat minggu ini sudah mulai berfungsi secara optimal, dan bayi itu sudah bisa merekam frekuensi suara dari luar rahim.

Setelah menyelesaikan satu bab cerita tentang petualangan kancil yang cerdik, Kevin menutup buku dongeng itu dan meletakkannya di atas rumput. Ia memiringkan kepalanya, menempelkan telinganya ke sisi perut Ashley, lalu mendongak menatap wajah istrinya dari bawah.

"Kev," panggil Ashley pelan, memecah suara desiran angin musim semi yang menyapu dedaunan. Jari-jemarinya yang lentik bergerak refleks menyisir dan mengelus rambut ikal suaminya. "Menurut instingmu... anak kita ini laki-laki atau perempuan?"

Mendengar pertanyaan itu, senyum lebar yang sangat tulus langsung merekah di wajah Kevin. Ia memutar tubuhnya sedikit agar bisa menatap mata cokelat istrinya dengan lebih jelas.

"Jujur saja, aku sama sekali tidak masalah entah dia lahir sebagai anak laki-laki atau perempuan. Keduanya adalah anugerah yang luar biasa," jawab Kevin santai, lalu nada suaranya berubah menjadi sedikit berkhayal. "Tapi... kalau boleh egois memilih, aku sebenarnya sangat berharap anak pertama kita ini perempuan."

Ashley menaikkan sebelah alisnya, sedikit heran dengan jawaban cepat itu. Ia berhenti memainkan rambut suaminya. "Hm? Apa alasan utamamu? Kebanyakan pria dengan ego tinggi biasanya selalu menuntut anak laki-laki pertama untuk dijadikan penerus marga kebanggaan mereka."

Kevin terkekeh pelan. Ia mengangkat tangannya dan mengusap pipi Ashley dengan penuh afeksi. "Karena kalau dia lahir sebagai seorang anak perempuan, probabilitasnya sangat besar bahwa dia pasti akan tumbuh memiliki wajah cantik dan mata yang sangat mirip denganmu, Ash. Aku ingin memiliki versi miniatur dari wanita yang paling kucintai di rumah ini."

Mendengar alasan yang dipenuhi gombalan manis itu, alih-alih merona tersipu malu, wajah Ashley justru berubah pias. Ia mendengus ngeri, membayangkan sesuatu yang sepertinya sangat mengancam ketenangan jiwanya.

"Ugh, tolong tarik kembali ucapanmu itu, Kevin. Membayangkannya saja sudah sukses membuatku terkena sindrom baby blues duluan saat ini juga," keluh Ashley, memijat pelipisnya seolah ia baru saja mendengar prediksi harga saham anjlok. "Bayangkan saja kengeriannya jika gadis kecil itu tidak hanya mewarisi wajahku, tapi juga mewarisi karakter asliku seratus persen. Punya anak perempuan yang bersikap sedingin es, super kaku, arogan, tukang mendebat, dan gila kerja sepertiku sejak dia kecil? Rumah ini akan benar-benar berubah menjadi arena perang dingin setiap harinya."

Melihat istrinya secara sadar membedah dan mengkritik karakter 'buruk'-nya sendiri dengan begitu jujur, Kevin seketika tertawa terbahak-bahak. Tawa renyah pemuda itu bergema hangat memenuhi penjuru taman belakang, menghidupkan suasana.

Di tengah tawanya, tangan besar Kevin merayap naik dan mengelus lembut permukaan perut Ashley yang menegang. Tepat sepersekian detik setelah telapak tangan Kevin menempel di sana...

Duk.

Sebuah tonjolan kecil muncul mendadak dari balik kain gaun Ashley, menendang keras tepat di bagian telapak tangan Kevin dari dalam sana.

Mata Kevin membulat takjub. Sensasi tendangan itu selalu saja berhasil membuat dadanya berdesir dipenuhi rasa magis setiap kali ia merasakannya.

"Wow! Kau merasakannya tadi, Ash?" seru Kevin antusias, menepuk-nepuk pelan area yang baru saja ditendang. "Tapi sayangnya, berdasarkan kekuatan fisik barusan, aku sangat yakin anak di dalam sini sepertinya berjenis kelamin laki-laki. Lihat saja tendangan brutal barusan, tenaganya luar biasa besar. Anak ini pasti akan menjadi seorang pemain sepak bola legendaris di masa depan!"

Mendengar konklusi konyol suaminya yang membayangkan anak seorang konglomerat Giotech Corp berlari-lari mengejar bola di lapangan hijau lumpur, Ashley hanya bisa terkekeh pelan. Ia menumpukkan punggung tangan kanannya di atas punggung tangan Kevin yang masih bertengger di perutnya, mengusapnya perlahan untuk berbagi kehangatan ikatan keluarga yang baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya.

"Sangat imajinatif. Tapi lupakan soal sepak bola sejenak," ujar Ashley dengan nada yang jauh lebih rileks dari biasanya. Matanya menatap lurus ke dalam bola mata Kevin. "Ngomong-ngomong, usia kandunganku sudah masuk akhir trimester kedua. Apakah di sela-sela kesibukanmu dengan tugas kampus, kau sudah mulai memikirkan beberapa kandidat nama yang bagus untuk calon bayi kita?"

Ditanya soal nama, Kevin sedikit mengernyitkan dahinya. Ia mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas karpet piknik, berhadapan langsung dengan istrinya.

"Sejujurnya belum terlalu serius kupikirkan sih..." gumam Kevin, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tampak berpikir sejenak, menimbang-nimbang beberapa kata di kepalanya. "Tapi setelah kupikirkan barusan... jika kebetulan prediksi tendanganku benar dan dia lahir sebagai seorang bayi laki-laki, aku ingin menamainya David. Dan jika pada akhirnya doaku terkabul dan dia terlahir sebagai bayi perempuan yang cantik, aku akan memberinya nama Luna."

"David dan Luna?" Ashley mengulang dua nama tersebut secara vokal, mengecap pelafalannya di lidah.

Bagi keluarga Giovano yang selalu memberikan nama-nama aristokrat, megah, dan berbau Eropa untuk memancarkan aura superioritas, dua nama pasaran yang disodorkan Kevin barusan terdengar luar biasa sederhana.

"Terdengar... sangat manusiawi dan membumi," komentar Ashley pada akhirnya, mengangguk-angguk kecil menyetujui. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Ia menyukai kesederhanaan itu; itu adalah jangkar pengingat bahwa anak ini juga memiliki separuh darah keluarga Hamilton yang merakyat.

Namun, belum sempat Kevin membalas persetujuan istrinya, suasana damai dan intim di bawah pohon oak itu mendadak diinterupsi secara paksa.

Dari arah pintu kaca ganda di balkon belakang mansion, terdengar derap langkah kaki terburu-buru yang membelah rumput. Salah seorang pelayan senior wanita berseragam hitam putih menghampiri mereka dengan napas yang sedikit terengah-engah. Pelayan itu menunduk hormat dengan sangat dalam.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena mengganggu waktu istirahat Anda, Nyonya, Tuan," ucap pelayan itu dengan nada gugup sekaligus mendesak. "T-Tuan Besar Giovano baru saja tiba. Mobil beliau mendadak masuk ke pekarangan depan. Beliau ada di lobi utama sekarang dan langsung mencari Anda berdua."

Mendengar nama ayahnya disebut, sisa-sisa senyum rileks di wajah Ashley seketika menguap, digantikan oleh kerutan kebingungan.

"Ayah? Di akhir pekan?" gumam Ashley heran. Ia menatap Kevin. "Tumben sekali pria tua itu repot-repot berkunjung ke sini tanpa instruksi asistennya. Ayo kita masuk."

Dengan sigap, Kevin langsung bangkit berdiri terlebih dahulu. Ia kemudian mengulurkan kedua tangannya, menarik dan menopang berat badan istrinya dengan sangat berhati-hati hingga Ashley berhasil berdiri dengan stabil. Kevin membiarkan sisa piknik mereka dibereskan oleh pelayan, sementara ia merangkul pinggang Ashley dan menuntun langkah wanita itu melewati pintu kaca belakang menuju ruang tengah mansion yang megah.

Begitu mereka berdua baru saja menginjakkan kaki di atas lantai marmer ruang tengah, pintu kayu mahogany raksasa di ruang depan terbuka lebar dengan bantingan yang cukup keras.

Sosok Andrew Giovano, sang patriark Wall Street yang biasanya selalu dikelilingi oleh aura kelam dan mematikan, melangkah masuk menembus lorong. Namun, ada yang sangat ganjil dengan penampilannya hari ini. Pria paruh baya berusia lima puluh dua tahun itu sama sekali tidak memancarkan aura intimidasi. Sebaliknya, wajahnya yang biasanya kaku dan dipenuhi garis-garis stres itu kini dihiasi oleh sebuah senyum lebar yang memamerkan deretan giginya. Sebuah tawa kebahagiaan murni yang nyaris membuatnya terlihat asing.

Jas abu-abu yang ia kenakan dibiarkan tak dikancingkan. Dan di tangan kanannya, Andrew tampak memegang selembar kertas putih hasil cetak medis. Kertas dokumen rumah sakit itu tampak agak kusut di bagian pinggirnya, bukti fisik bahwa pria tua itu telah menggenggamnya terlampau kuat saking diliputi euforia yang tak terbendung.

"Ayah?" tegur Ashley dari ambang ruang tengah. Ia melipat kedua lengannya di dada, atau setidaknya mencoba melipatnya di atas perut buncitnya. "Kenapa kau datang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan sama sekali? Aku sedang tidak menyuruh staf dapur menyiapkan jamuan makan siang apa pun untuk menyam-"

"Irene baru saja menelepon dan memberitahuku secara rahasia pagi ini, Ash!" potong Andrew dengan suara bariton yang menggelegar lantang, sama sekali tidak memedulikan protes protokoler putri sulungnya.

Pria itu melangkah panjang dengan kecepatan yang luar biasa gesit untuk pria seusianya, memangkas jarak di antara mereka. Ia mengangkat kertas hasil cek laboratorium medis di tangannya tinggi-tinggi layaknya piala kejuaraan dunia.

"Dia laki-laki, Ash! Cucuku berjenis kelamin laki-laki!" seru Andrew.

Tawa kebahagiaan meledak dari dada sang miliarder. Tanpa memedulikan etiket, Andrew langsung menerjang maju, mencengkeram kedua bahu Kevin dengan kekuatan yang cukup membuat pemuda itu sedikit terhuyung, lalu mengguncang tubuh menantunya itu dengan penuh kebanggaan.

"Laki-laki, Kevin! Demi Tuhan, anak itu laki-laki!" seru Andrew lagi, menatap mata Kevin dengan sorot kekaguman yang mutlak. Pria tua itu menepuk-nepuk keras lengan Kevin. "Kau berhasil melakukannya, Nak! Kau baru saja memberikan dan mengamankan seorang penerus murni berdarah emas untuk takhta keluarga ini! Kerja yang luar biasa bagus, Kevin Givano!"

Mendengar rentetan proklamasi gender yang dibocorkan secara serampangan itu, tubuh Kevin dan Ashley membeku serempak. Rahang Kevin nyaris jatuh ke lantai karena shock, sementara reaksi Ashley jauh lebih mematikan.

Menyadari apa yang baru saja terjadi, Ashley menutup matanya rapat-rapat, meremas pangkal hidungnya, dan mulai memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.

"Ayah," panggil Ashley dengan nada suara luar biasa rendah dan berbahaya. Ia menatap tajam pria paruh baya yang masih tersenyum kegirangan itu. "Kau sadar tidak dengan apa yang baru saja kau lakukan? Kami berdua dengan susah payah sengaja meminta pihak laboratorium untuk menyegel hasil tes itu. Kami baru berencana membukanya bersama malam ini. Dan kau... kau baru saja secara brutal menghancurkan dan merusak momen gender reveal kami."

"Menghancurkannya? Aku?" Andrew mengedipkan matanya, seolah-olah konsep merusak kejutan orang lain sama sekali tidak terdaftar di dalam kamus logikanya. "Hahaha! Benar, salahkan saja aku! Aku benar-benar tidak peduli! Ayahmu ini hanya terlalu bersemangat dan gembira saat mendengar Irene mengonfirmasi bahwa cucuku laki-laki, sampai-sampai aku tidak bisa menahan diri dan ingin segera mengendarai mobilku sendiri menembus kemacetan untuk menemui kalian langsung di sini."

Melihat kekeraskepalaan sang tiran Wall Street yang sedang mabuk kepayang oleh status 'kakek' itu, Ashley hanya bisa membuang napas panjang melalui sela-sela bibirnya, menyerah kalah pada takdir. Menghadapi Andrew Giovano yang sedang murka adalah hal biasa, namun menghadapi Andrew Giovano yang sedang kelebihan hormon kebahagiaan rupanya jauh lebih menguras energi mentalnya.

Andrew melepaskan cengkeramannya dari bahu Kevin dan mulai mondar-mandir di ruang tengah dengan tangan berkacak pinggang. Otak bisnis kalkulatifnya kembali bekerja dengan kecepatan cahaya, namun kali ini bukan untuk urusan akuisisi saham.

"Baiklah, tidak ada waktu untuk bersantai! Aku harus segera memerintahkan asistenku untuk menyiapkan hadiah penyambutan pertama yang paling layak untuk kedatangan Kent nanti!" gumam Andrew dengan cepat, berbicara pada dirinya sendiri sambil menatap langit-langit. "Apa yang pantas? Sebuah miniatur mobil supercar berlapis karbon? Atau... mungkin jam tangan Rolex pesanan khusus berlapis emas murni untuk ukuran bayi? Astaga, terlalu biasa! Bagaimana jika aku membelikannya seekor kuda ras Arab asli dari peternakan Eropa sebagai peliharaannya saat ia belajar berjalan nanti?"

Di samping Ashley, Kevin menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya membulat ngeri mendengar daftar hadiah absurd tersebut. Ia membayangkan seorang bayi yang masih meminum ASI duduk di atas punggung seekor kuda pacu ras Arab sungguhan.

"Tunggu, tunggu sebentar, Ayah," potong Kevin dengan nada canggung, berusaha menginterupsi kereta pikiran liar mertuanya. "Kedatangan... siapa tadi yang Ayah sebutkan?"

Ashley menoleh menatap ayahnya dengan dahi berkerut, menangkap hal yang sama. "Jangan bilang padaku kalau kau sudah dengan seenaknya memberinya nama tanpa persetujuanku sebagai ibunya?"

Mendengar pertanyaan bernada protes itu, Andrew menghentikan langkah mondar-mandirnya. Pria tua itu memutar tubuhnya, menegakkan dadanya dengan postur luar biasa angkuh, dan menatap putri serta menantunya dengan pandangan superioritas mutlak, seolah ia baru saja menemukan benua baru.

"Tentu saja aku sudah memberinya nama! Menyiapkan nama untuk penerus takhta adalah hak prerogatif seorang kakek!" deklarasi Andrew tanpa rasa bersalah sedikit pun. Matanya berkilat penuh kemenangan saat ia mengucapkan setiap suku kata dengan artikulasi berat nan mengintimidasi.

"Kent Evans Giovano."

Nama itu menggema membentur pilar-pilar marmer mansion. Andrew menyunggingkan senyum puas, seolah ia baru saja menciptakan nama untuk seorang kaisar Roma.

"Bukankah nama itu terdengar sangat luar biasa cocok, mendominasi, dan sangat sangar?" lanjut Andrew, membanggakan hasil pemikirannya. "Dengar pelafalannya. 'Kent Evans Giovano'. Nama itu memancarkan kekuasaan. Mengintimidasi musuh hanya dari mendengarnya saja. Dia tidak akan menjadi sekadar anak biasa. Bayi itu... kelak akan duduk di kursi utamaku dan menjadi penguasa absolut serta pemilik sah Giotech Corp selanjutnya di masa depan."

Keheningan yang luar biasa canggung melanda ruang tengah itu selama tiga detik penuh. Di kepala Kevin, nama impiannya yang sangat sederhana dan merakyat, 'David', langsung hancur berkeping-keping, lenyap ditelan eksistensi sangar dari 'Kent Evans Giovano'.

Sementara itu, Ashley hanya menatap wajah ayahnya dengan ekspresi wajah datar tanpa emosi yang luar biasa menyindir. Sang CEO wanita itu menyilangkan kedua lengannya di atas perut buncitnya, menahan hasrat untuk tidak melemparkan vas bunga antik ke arah sang patriark.

"Ayah," desis Ashley, nadanya meneteskan sarkasme tajam yang berhasil menembus euforia Andrew. "Sebelum kau membayangkannya duduk di kursi kebesaran direktur utama dan memecat para staf dengan nama sangarmu itu... tolong ingat satu hal biologis yang paling mendasar."

Ashley mengangkat jari telunjuknya. "Bayi kecil itu, Kent Evans atau siapa pun kau mau memanggilnya, masih harus melewati masa-masa di mana ia menangis di tengah malam, memakai popok kain, buang air sembarangan, dan merengek meminum botol susu hangat dari tanganku, bertahun-tahun sebelum ia bisa membaca satu pun huruf di draf kontrak pengambilalihan perusahaanmu."

Mendengar pukulan realitas dari putrinya, mulut Andrew sedikit terbuka, tak bisa membantah. Sementara di samping mereka, Kevin tidak bisa lagi menahannya. Tawa lepas pemuda itu akhirnya meledak, menggema ke seluruh ruangan, merayakan sekelumit kehangatan keluarga konyol yang kini benar-benar menjadi miliknya seutuhnya.

1
Bunga
cerita yang indah thor🙏
Seira J.: Terima kasih sudah membaca♡❤️
total 1 replies
Bunga
😍
Bunga
wow😍
Bunga
iistrimu hamil kev😍
Bunga
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!