Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 35 Jejak Darah di Tengah Hutan
“Jadi kalian ingin bermain seperti ini...”
Suara Adrian terdengar rendah ketika mobil akhirnya memasuki halaman rumah utama keluarga. Lampu-lampu di beberapa bagian rumah masih padam. Beberapa penjaga berlari mondar-mandir, sementara tim Charlie mulai menyebar untuk memeriksa keadaan.
Begitu mobil berhenti Adrian langsung turun, Raka menyusul di belakangnya.
“Tuan, tim kedua sudah mulai melakukan pemeriksaan.”
Adrian tidak menjawab Tatapannya langsung tertuju pada pintu utama.
“Richard ada di dalam?”
“Menurut laporan terakhir, iya.”
“Kalau begitu kita masuk.”
Adrian melangkah cepat menuju rumah Begitu pintu terbuka, dua orang tua Richard yang sejak tadi menunggu di ruang utama langsung berdiri. Wajah mereka terlihat cemas.
Ibu Adrian segera mendekat.
“Adrian...”
Namun Adrian berhenti beberapa langkah di hadapan mereka.
“Di mana Richard?”
Ayah Adrian menunjuk ke arah ruang kerja.
“Dia di sana. Sejak listrik mati, kami—”
Adrian menatap mereka satu per satu. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya begitu dingin.
“Bagaimana kalian bisa selengah ini?”
Tidak ada yang menjawab Adrian melanjutkan dengan suara yang semakin tegas.
“Rumah ini kehilangan listrik. Kamera mati. Penjaga kehilangan kontak dengan beberapa bagian rumah, dan kalian bahkan tidak tahu keberadaan Arunika.”
Ibu nya menundukkan wajah.
“Kami pikir dia berada di kamarnya...”
“Dan ibu tidak memeriksanya?”
Nada Adrian meninggi.
“Dia adalah seorang gadis yang ku bawa ke rumah ini dan ku percayakan untuk dijaga sebelum aku pergi!”
Pintu ruang kerja terbuka Richard muncul dengan wajah pucat.
“Adrian.”
Adrian langsung berbalik Mata keduanya bertemu, Beberapa detik tidak ada yang berbicara Kemudian Adrian berjalan mendekat.
“Di mana Arunika?”
Richard menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Rahang Adrian mengeras.
“Kau tidak tahu?”
“Ketika listrik mati, aku langsung mencarinya. Tapi—”
Adrian memotong.
“Dan kau Richard...”
Ia berhenti tepat di hadapan Richard.
“Ada kau sebagai ayahnya, tidak bisa menjaga dia? Kau tidak ingat saya menitipkan dia pada mu saat saya pergi!.'
Richard terdiam Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada bentakan.
“Aku sudah mencarinya.”
“Tidak cukup.”
Suara Adrian rendah.
“Bukan waktunya memberikan alasan.”
Ayah Adrian mencoba menengahi.
“Adrian, keadaan ini bukan sepenuhnya kesalahan Richard. Kami semua panik—”
“Justru itu masalahnya ayah.”
Adrian menoleh.
“Semua orang panik, tetapi tidak ada yang benar-benar bertindak.”
Raka tiba-tiba menerima pesan dari alat komunikasinya.
BIP!
Ia membaca layar Wajahnya berubah.
“Tuan.”
Adrian menoleh.
“Bicara.”
Raka menarik napas.
“Jejak nona Arunika berhenti di dekat jalur menuju hutan dalam.”
Richard langsung maju.
“Apa maksudmu?”
Namun sebelum Raka menjawab—
BIP!
Pesan kedua masuk Raka membacanya, Kali ini wajahnya benar-benar pucat.
“Tuan... mereka menemukan seseorang.”
Adrian membeku.
“Siapa?”
Raka menatapnya.
“Nona Arunika.”
Richard langsung berbalik.
“Di mana?”
“di luar hutan dalam, sekitar beberapa ratus meter.”
Adrian tidak menunggu lagi.
“Antar aku.”
Mereka semua bergegas keluar Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki terdengar di tengah jalur hutan Senter menyapu tanah yang gelap.
“Di sini!”
Salah satu anggota tim berteriak Adrian mempercepat langkah, Namun begitu melihat apa yang ada di depan mereka langkahnya berhenti. Arunika ditemukan dalam keadaan lemah di dekat sebuah pohon.
Pakaiannya kotor dan robek di beberapa bagian. Wajahnya pucat. Rambutnya berantakan, dan terdapat luka-luka yang membuat semua orang terdiam Darah terlihat di beberapa bagian tubuhnya.
“Arunika...”
Richard langsung berlari mendekat.
Namun Adrian lebih dulu berlutut di samping gadis itu.
“Arunika.”
Tidak ada jawaban Adrian menahan napas.
“Arunika, kamu dengar aku.”
Kelopak mata Arunika bergerak perlahan.
“A... Adrian...?”
Suara itu nyaris tidak terdengar Adrian segera memberi isyarat kepada tim.
“Panggil tenaga medis. Sekarang.”
“Siap!”
Raka langsung menghubungi tim medis Richard berdiri beberapa langkah dari mereka dengan wajah penuh keterkejutan.
“Arunika...”
Arunika mencoba membuka matanya lebih lebar.
“Ayah...”
Richard langsung mendekat.
“Ayah di sini.”
Namun Arunika justru menatapnya dengan tatapan lemah.
“Kenapa... Ayah tidak datang lebih cepat...?”
Pertanyaan itu membuat wajahnya berubah.
“Ayah mencarimu.”
Arunika tidak menjawab Tubuhnya semakin lemah, Adrian segera menatap Raka.
“Jangan biarkan dia banyak bicara.”
“Baik.”
Beberapa anggota tim membentuk perlindungan di sekitar mereka Adrian kembali menatap Arunika.
“Siapa yang melakukan ini hmm?”
Arunika berusaha mengingat Namun sebelum sempat menjawab, ia kehilangan kesadaran.
“Arunika!”
Richard panik Adrian langsung menahan bahunya.
“Tenang.”
“Tapi dia—”
“Tenang!”
Suara Adrian menggema di tengah hutan Tim medis akhirnya tiba dan segera memberikan pertolongan Adrian berdiri perlahan, Ia menatap darah yang tertinggal di tanah. Kemudian tatapannya beralih ke arah hutan yang gelap.
Wajahnya berubah Tidak ada lagi ketenangan, Tidak ada lagi kesabaran, Yang tersisa hanya kemarahan. Raka yang berdiri di sampingnya bahkan tidak berani berbicara Adrian mengepalkan tangan.
“Siapa pun yang melakukan ini...”
Suaranya rendah.
“Dia membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.”
Raka menelan ludah.
“Tuan, tim sedang mencari jejak pelaku.”
“lakukan”
Adrian menatap tajam ke dalam kegelapan.
“Periksa seluruh jalur, Setiap jejak, Setiap kendaraan, Setiap rekaman yang masih bisa dipulihkan.”
“Siap.”
Adrian kemudian menoleh kepada Richard, Tatapan keduanya bertemu Richard tampak terpukul melihat kondisi putrinya. Adrian berjalan mendekat.
“Mulai malam ini, jangan pernah mengatakan bahwa kau sudah melakukan yang terbaik.”
Richard terdiam.
“Karena kalau kau benar-benar melakukan yang terbaik...”
Adrian berhenti tepat di depannya.
“Arunika tidak akan ditemukan dalam keadaan seperti ini.”
Richard menundukkan kepala Adrian kemudian kembali melihat ke arah tim medis yang sedang menangani Arunika.
“Bawa dia ke rumah sakit.”
“Baik, Tuan.”
Adrian menatap Raka.
“Setelah dia aman...”
Ia berhenti Tatapannya kembali menuju hutan.
“Kita cari siapa yang melakukan ini.”
Raka mengangguk.
“Dan kalau kita menemukan pelakunya?”
Adrian diam beberapa detik Kemudian ia menjawab dengan suara dingin.
“Bawa dia kepadaku.”
Malam itu, rumah utama keluarga Adrian tidak lagi dipenuhi kepanikan Melainkan satu pertanyaan yang terus menggantung di udara
Siapa yang berani membawa Arunika keluar dari rumah... dan mengapa?