Indonesia
NovelToon NovelToon
The Thirteen Fault

The Thirteen Fault

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona

Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Price of a Double Tap

Vahan menghela napas berat, melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan perasaan campur aduk. Ruangan kamarnya terasa begitu sunyi, berbanding terbalik dengan isi kepalanya yang riuh akibat serangan netizen.

Rasa lelah mental mulai menjalar, membuat kepalanya terasa berdenyut-denyut. Iseng namun penasaran, Vahan kembali memungut ponselnya. Alih-alih membaca komentar baru, pandangannya justru tertuju pada video Billby yang masih bertengger di layar.

Ibu jarinya mengetuk tombol play. Video bernuansa full pink itu kembali berputar. Alunan suara bening Billby yang menyanyikan lagu "You'll Be in My Heart" menggema pelan dari speaker ponselnya.

Vahan memperhatikan setiap detailnya dengan saksama. Bagaimana gadis itu memetik gitar merah mudanya, bagaimana lembaran uang seratus ribuan melayang estetis di sekitarnya, hingga ekspresi wajah Billby yang tampak sangat menghayati setiap lirik.

Tanpa sadar, Vahan terpaku. Ia menonton video berdurasi singkat itu berulang-ulang. Entah sudah berapa belas kali video itu berputar kembali otomatis (looping), Vahan seolah terhipnotis oleh visual kontras si gadis pengadu yang di sekolah selalu menyebalkan, namun di layar kaca terlihat begitu bersinar layaknya idola sungguhan.

"Bisa-bisanya suara kayak gini dibilang candu sama netizen," gumam Vahan lirih, mencoba menyangkal hatinya sendiri yang diam-diam juga mengakui bakat gadis itu. Padahal tangannya nge tap tap layar dua kali.

Ck, kontradiksi

Setelah puas menonton, Vahan kembali menggulir ke bawah, menelusuri barisan komentar para penggemar yang jumlahnya sudah tidak masuk akal. Hingga akhirnya, mata elangnya menangkap sebuah utas komentar yang sempat terlewat dari perhatiannya tadi. Itu adalah interaksi antara akun @cece_ dan akun milik Billby sendiri.

@cece_: "selalu cantik. Cantik. Cantik. Btw, dah lama ya gak ketemu.. aunty kangen deh.."

@billby_IZX: "@cece_: kapan ke indo aunty? Kita makan nasi Padang."

@cece_: "@billby_IZX: Deket Deket ini. Nanti kamu sama om Jeje yang jemput ya.."

Mata Vahan terpaku pada dua kata terakhir: Om Jeje.

Detak jantung Vahan mendadak berhenti sesaat. Nama "Jeje" yang sejak tadi disebut-sebut oleh akun @xexe_ dan @rerex_ dengan kalimat ancaman 'beresin bang', ternyata bukan sekadar akun bodong atau ketua fanbase militan. Sosok itu nyata, dan dia adalah paman dari Billby.

Seketika itu juga, ingatan Vahan terlempar kembali pada momen beberapa waktu lalu di sekolah. Saat di mana ia berniat memberikan sesuatu kepada Billby sebagai imbalan atas kotak bekal yang pernah gadis itu berikan padanya.

Vahan mengingat dengan jelas bagaimana Billby mengerutkan keningnya hari itu. "Serius buat gue? Tiba-tiba banget. Lo bukan lagi PDKTin gue kan? Hati-hati loh, om gue ganasnya melebihi serigala kelaparan. Lo bisa lenyap kalau berani coba-coba ngedeketin gue," ujar Billby heran sekalian menakut-nakuti cowok itu.

Saat itu Vahan langsung membantah dengan ketus,  "Heh, bukan! Gue ngasih itu karena kemaren lo ngasih bekal lo di waktu yang tepat—"

Namun Billby dengan cepat menyela, "Iya.. gue ngasih lo bekal di waktu lo emang kelaparan. Gitu kan maksud lo? Jelas aja orang gue ngasih bekal gue karena denger suara perut lo yang bahkan kedengeran dari langit ketujuh."

Vahan tersentak dari lamunannya.

"Ganas melebihi serigala kelaparan... bisa lenyap..." bisik Vahan menirukan ucapan Billby tempo hari.

Kini potongan-potongan teka-teki itu menyatu sempurna di kepalanya. Akun-akun yang menyerangnya di kolom komentar bukanlah netizen sembarangan, melainkan keluarga besar Billby yang sedang memantau dari balik akun samaran.

Dan "Om Jeje" alias pemilik akun @jeje_ adalah sosok protektif yang dimaksud Billby sebagai 'serigala kelaparan' yang siap melenyapkannya kapan saja. Mana keluarganya bukan tidak memiliki apa apa. Mereka hanya pendatang dari luar negeri. Bahkan Bahan sekolah di paradise mengandalkan beasiswa.

Vahan menelan ludah dengan susah payah.

Gengsinya yang tadi sempat membumbung tinggi untuk tidak menghapus komentar tiba-tiba runtuh digantikan oleh rasa ngeri yang nyata. Jempol ceroboh Afghan benar-benar telah menyeretnya ke dalam kandang singa, dan Vahan hanya bisa pasrah meratapi nasibnya yang kini berada di ujung tanduk.

•••

Sore itu, angin segar berembus di balkon kamar. Jack bersandar pada pagar pembatas, masih mengenakan setelan kemeja formal yang ia pakai mengajar siang tadi.

Di sampingnya, sang Papi—Austen—berdiri menikmati ketenangan malam, sebelum percakapan serius itu dimulai.

"Jadi, anak itu tetap mau dikeluarkan?" tanya Austen membuka obrolan.

"Iyalah," balas Jack tanpa ragu, nadanya dingin dan tegas. "Memang kalau menurut Papi, harusnya gimana?"

Austen menghela napas pendek, menatap jauh ke depan "Sebenarnya bukan salah anak itu sepenuhnya, Jack. Kita tidak pernah tahu sekeras apa tekanan dari keluarganya selama ini. Kita juga tidak bisa mengatur bagaimana respons seorang anak untuk menghadapi tekanan sebesar itu. Semua orang punya cara masing-masing untuk bertahan hidup, termasuk melakukan kesalahan."

Jack terdiam sesaat, mencerna kalimat ayahnya. "Terus keputusan apa yang tepat menurut Papi?"

"Carikan dia sekolah baru."

Mendengar itu, alis Jack menukik tajam. Ia menoleh cepat ke arah sang Papi. "Loh, ngapain kita repot-repot nyariin sekolah baru buat anak itu?"

"Tapi tidak secara terang-terangan," sela Austen tenang. "Kita cuma membuka peluang dan akses saja di belakang layar. Karena kalau kita tidak bantu, dia tidak akan bisa melanjutkan masa depannya. Coba kamu pikir, sekolah mana yang mau menerima siswa yang dikeluarkan dari Paradise High School dengan rekam jejak masalah seperti itu?"

"Ya itu urusan dia," ucap Jack ketus, tampak acuh tak acuh dengan masa depan muridnya tersebut. Baginya, aturan adalah aturan.

Austen terkekeh pelan. Gelengan kepalanya mengisyaratkan bahwa Jack masih terlalu berfikir pendek. "Kamu belum paham sepenuhnya definisi menjadi seorang guru, Jack. Lagian, coba kamu bayangkan... bagaimana kalau anak yang bermasalah itu adalah anakmu sendiri?"

"Enak aja!" potong Jack cepat, tidak terima dengan perumpamaan itu. "Aku gak akan pernah menjadi orang tua gila yang menekan anaknya sendiri untuk berprestasi segila itu. Sampai-sampai anaknya harus memilih jalan pintas buat menjalin hubungan terlarang sama gurunya sendiri demi mendapat nilai bagus. Itu konyol."

"Belum tentu. Kamu kan belum jadi orang tua," sahut Austen misterius, mengulum senyum.

"Makanya, cepetan nikah!"Suara itu memotong perdebatan mereka. Bolivia, sang Mami, baru saja melangkah masuk ke balkon dengan senyuman cerah. Tangannya membawa nampan berisi dua gelas kopi hangat yang asapnya masih tampak menari-nari di atas cangkir.

Saat meletakkan kopi tersebut, Austen menatap Jack dengan tatapan jenaka lalu menyambung kalimat istrinya, "Oh iya Jack, Mami sudah dapat calon istri yang cocok buat kamu. Lima minggu lagi kalian bakal nikah."

Jack yang baru saja menyeruput kopinya seketika tersedak hebat. Dadanya terasa panas, matanya mendelik tajam menatap Austen dengan rasa tidak percaya sekaligus tidak suka. "Papi bercanda?"

Bolivia hanya terkekeh melihat reaksi putranya, lalu menimpali, "kata Papi, kamu itu sebenarnya sudah suka sama seseorang. Memangnya benar?"

Pertanyaan Maminya membuat ekspresi Jack seketika berubah tegang. Ada kilatan kepanikan di matanya selama satu detik, sebelum ia buru-buru menetralkan raut wajahnya agar tidak terbaca."Papi kata siapa? Sotoy banget," sinis Jack, berusaha keras mengelak dari kenyataan yang sebenarnya menyentil hatinya.

Melihat keras kepalanya sang anak, Bolivia menaruh kedua tangannya di pinggang, menantang Jack dengan aturan baru. "Ya sudah, kalau kamu tidak mau dijodohkan, kita main cepat-cepatan saja. Waktumu hanya lima minggu ke depan. Mami akan tetap melanjutkan proses perjodohan ini. Tapi, kalau kamu mau cari calonmu sendiri, boleh. Syaratnya, waktunya tidak lebih dari lima minggu. Pokoknya siapa cepat, dia dapat!"

1
chill
tinggalin jejak dong 😍
chill
jangan lupa di like ya..🙏
chill
komentar ya say.. buat motivasi penulis baru💪🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!