Indonesia
NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Haruskah Aku mengungkapkannya

Hari demi hari berlalu, dan ikatan antara Yena dan Juvan kian erat. Mereka nyaris tak terpisahkan — setiap ada kesempatan, selalu dihabiskan berdua: belajar bersama di sudut toko kue, berjalan pagi menyusuri taman kota, sekadar berbelanja kebutuhan harian, atau duduk bercerita berjam-jam tentang mimpi, harapan, dan hal-hal kecil yang kini terasa begitu indah saat dibagi bersama. Namun kedekatan yang begitu tulus ini sama sekali tak diketahui oleh Mahendra, papa Yena. Pria paruh baya itu nyaris tak pernah pulang ke rumah besar mereka — ia lebih memilih tinggal di apartemen mewahnya, terlalu sibuk tenggelam dalam tumpukan pekerjaan dan urusan bisnis hingga lupa menyisakan waktu untuk kedua anaknya yang sebenarnya sangat merindukan kehadirannya.

Di sisi lain, Arga pun seolah lenyap ditelan bumi. Tak ada lagi pesan, tak ada lagi panggilan, tak ada lagi sosok mobil hitam yang menanti di depan rumah atau toko kue. Entah ia sudah benar-benar menyerah dan rela melepaskan Yena, atau diam-diam sedang menyusun rencana lain yang lebih berbahaya — tak ada yang tahu pasti. Keheningan ini justru memberi ruang bagi Yena untuk bernapas, untuk sembuh, dan untuk menikmati kebahagiaan yang selama ini dirampas darinya.

Malam itu, di kamarnya yang hangat dan tenang, Juvan duduk di meja belajarnya. Buku-buku pelajaran berserakan di hadapannya, namun matanya menatap kosong ke deretan kalimat di halaman buku tanpa benar-benar membacanya. Pikirannya melayang jauh, tertambat pada satu nama yang selalu memenuhi seluruh ruang di kepalanya — Kak Yena.

"Kak Yena dan aku sudah sedekat ini..." gumamnya pelan, jemarinya memainkan ujung pulpen dengan gelisah. "Haruskah aku mengungkapkan perasaanku padanya? Tapi... gimana ya caranya?"

Rasa bingung dan keraguan menyerang hatinya bertubi-tubi. Akhirnya ia menutup buku pelajarannya, membuka laptop, dan mengetikkan kalimat pencarian di Google: "Cara mengungkapkan perasaan cinta kepada wanita yang lebih tua dan kita sangat menyayanginya."

Jemari Juvan menari di atas keyboard, membaca setiap artikel, setiap saran, setiap kisah sukses yang muncul di layar. Berjam-jam ia mencari dan merenung, hingga perlahan secercah kejelasan mulai menyelimuti pikirannya. Ia mulai memahami — cinta tak perlu kata-kata yang rumit atau persiapan yang berlebihan. Cinta hanya perlu kejujuran dan keberanian untuk menyampaikannya apa adanya, dari hati.

"Aku sangat mencintai Kak Yena," ucapnya lirih namun penuh kesungguhan, matanya menatap pantulan dirinya di layar laptop yang gelap. "Dan aku harap... dia juga merasakan hal yang sama. Aku akan menunggu waktu yang tepat — waktu yang sempurna, tenang, dan indah — untuk mengatakan ini semua padanya."

Namun seketika keraguan kembali menyelinap di sudut hatinya. Juvan menunduk, tangannya refleks menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal.

"Tapi... kira-kira Kak Yena mau gak ya jadi pacarku?" gumamnya pelan, suaranya terdengar ragu. "Aku kan jauh lebih muda darinya... hanya anak SMA, sementara dia sudah kuliah, mandiri, dewasa. Apakah perbedaan usia ini akan menjadi penghalang bagi kami?"

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, namun perlahan ia menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki. Senyum kecil terukir di bibirnya saat ia menatap kembali foto Yena di layar ponselnya — foto yang ia ambil diam-diam saat gadis itu sedang tertawa lepas di taman.

"Aku coba dulu deh," bisiknya tegas, memantapkan hati. "Mau diterima atau tidak... yang penting aku sudah berusaha jujur pada perasaanku sendiri. Setidaknya Kak Yena akan tahu betapa besarnya cinta yang aku simpan untuknya."

Malam itu, Juvan akhirnya bisa tersenyum tenang. Ia menutup laptopnya, memejamkan mata, dan membiarkan mimpi-mimpi indah tentang pertemuan berikutnya dengan Yena membawanya terlelap — bersama tekad yang kian bulat: akan mengungkapkan segalanya saat waktu yang tiba.

Sementara itu di rumah Yena, di ruang tamu yang hangat, Yena duduk bersandar di sofa sambil menatap layar ponselnya tak lepas-lepas. Sudah berulang kali ia membuka galeri, menatap foto-foto kebersamaannya dengan Juvan — foto saat mereka makan es krim bersama, foto saat Juvan tertawa lepas,foto saat mereka berjalan beriringan di taman. Setiap kali melihat wajah itu, senyum tak sengaja merekah lebar di bibirnya, hingga pipinya terasa sedikit perih.

"Kakak gila ya, dari tadi senyum-senyum sendiri terus..."

Suara Kenzo tiba-tiba terdengar tepat di samping telinganya. Yena tersentak kaget, langsung membenamkan ponselnya ke bantal sofa. Ternyata Kenzo sudah duduk manis di sebelahnya, menatap kakaknya dengan tatapan curiga dan jahil sejak tadi.

"Apa sih, Dek! Bikin kaget aja..." elak Yena sambil memukul pelan bahu adiknya, meski senyumnya belum hilang sepenuhnya.

Kenzo malah semakin mendekat, menyipitkan mata menatap wajah kakaknya yang tampak jauh lebih cerah dari biasanya.

"Kakak akhir-akhir ini kok agak berubah ya... ada yang beda gitu lho," ucap Kenzo penuh selidik.

"Hah? Beda? Berubah apanya yang berubah?" tanya Yena gugup, tangannya refleks merapikan rambutnya.

"Kakak kayak lebih happy, matanya berbinar terus, jarang murung lagi..." Kenzo menyeringai lebar, lalu menunjuk hidung kakaknya pelan. "Ooh... apa jangan-jangan... Kakak lagi jatuh cinta ya?"

"Iiih dedek ngeselin banget sih!" seru Yena sambil mencubit pelan lengan Kenzo pipinya seketika memerah padam menahan malu yang meluap-luap.

Kenzo malah tertawa renyah, menghindar dari cubitan kakaknya sambil terkekeh puas.

"Iya deh iya, nggak usah malu-malu gitu lho Kak! Kenzo seneng kok lihat Kakak senyum lagi kayak gini," ucap Kenzo pelan, suaranya berubah tulus dan hangat. "Kakak emang paling cantik kalau lagi senang."

Yena berhenti bercanda, menatap adiknya itu lembut lalu mengacak rambutnya gemas. Hatinya terasa hangat sekali. Entah kenapa, kata-kata Kenzo tadi benar-benar menusuk tepat ke hatinya.

Jatuh cinta... ya ampun... apakah aku benar-benar jatuh cinta sama Juvan? batinnya dalam hati, jantungnya berdegup kencang tak karuan.

Yena tersenyum lembut mendengar ucapan tulus adiknya, Hatinya dipenuhi rasa hangat yang nyaman — rasa bahagia yang begitu lama tak ia rasakan, kini menetap dan tumbuh subur di dalam dadanya.

"Aku berharap kebahagiaan ini terus menerus seperti ini... dan tak ada lagi yang mengganggu," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar, lebih kepada batinnya sendiri.

Namun seketika bayang-bayang masa lalu melintas sekilas di benaknya — sosok Arga. Pria yang dulu sempat menjadi seluruh dunianya, kini seolah lenyap begitu saja dari kehidupannya.

"Hmm... Arga di mana ya?" gumamnya pelan, alisnya sedikit berkerut memikirkan keanehan itu. "Tumben sekali dia menghilang gitu... biasanya dia tak akan membiarkan aku tenang sedetik pun."

Rasa penasaran sempat menyelinap, namun dengan cepat Yena menggeleng pelan, membuang jauh-jauh pikiran itu. Tak penting lagi di mana Arga berada atau apa yang sedang ia lakukan. Yang penting saat ini hanyalah kebahagiaan yang sedang ia genggam erat — kebersamaan dengan Juvan, kehangatan bersama Kenzo, dan kedamaian hati yang akhirnya kembali ia temukan.

Biarlah Arga pergi. Biarlah masa lalu berlalu. Karena kini, Yena tahu persis apa dan siapa yang benar-benar berharga di hidupnya.

"Sudahlah, jangan pikirkan hal yang nggak penting lagi" bisiknya pada diri sendiri.

Tawa riang yang tadi memenuhi ruang tamu tiba-tiba lenyap seketika. Senyum Kenzo perlahan memudar, digantikan oleh tatapan sendu yang tak biasa di wajah remaja itu.

"Kak..." suaranya terdengar kecil dan bergetar, matanya menatap lantai seolah menahan rindu yang begitu berat. "Aku kangen Papa... Papa masih sayang gak sih sama kita? Kenapa Papa gak pernah nyempetin waktunya buat kita... walau sedikit aja?"

Hati Yena seketika terasa teriris mendengar pertanyaan polos namun penuh luka itu. Ia terdiam sejenak, menelan ludah yang terasa begitu pahit. Kenzo — adiknya yang ceria, yang selalu tampak kuat — ternyata menyimpan kerinduan yang sama persis dengannya. Kerinduan akan sosok ayah yang seolah semakin menjauh setiap harinya, terhapus oleh kesibukan dan ambisi yang tak berujung.

Yena menarik Kenzo agar ikut duduk di sebelahnya, lalu memeluk bahu adiknya dengan penuh kehangatan, mendekapnya erat seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki. Dielusnya punggung tangan Kenzo berulang kali, berusaha menenangkan gemetar yang merambat di tubuh remaja itu.

"Dedek..." ucap Yena lembut, suaranya sehalus mungkin agar tak semakin melukai hati adiknya. "Papa pasti sayang sama kita. Papa cuma... sangat sibuk dengan pekerjaannya. Papa sekarang lagi banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan. Papa pasti punya waktu buat kita... nanti, kalau semuanya sudah lebih tenang."

Kata-kata itu sebenarnya lebih ditujukan untuk meyakinkan dirinya sendiri juga, karena jauh di lubuk hatinya, Yena tahu betul — kesibukan hanyalah alasan yang dibuat-buat. Mahendra memang memilih untuk menjauh, memilih hidup di dunianya sendiri, dan melupakan dua anak yang seharusnya menjadi prioritas utamanya.

Kenzo mengangkat wajahnya, menatap kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca namun berusaha tegar.

"Tapi Kak... sudah berbulan-bulan. Ulang tahunku kemarin aja Papa cuma kirim kado lewat kurir, tanpa sempat menelepon sebentar pun," gumam Kenzo pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Aku gak butuh kado mahal atau uang jajan tambahan... aku cuma mau Papa pulang."

Hati Yena hancur seketika. Ditariknya napas panjang sekuat tenaga untuk menahan air matanya sendiri agar tak tumpah. Ia tak boleh lemah sekarang — ia harus menjadi sandaran bagi Kenzo, sama seperti Kenzo yang selalu menjadi penyemangatnya.

Yena mengusap pelan air mata yang mulai menetes di pipi adiknya, lalu tersenyum tipis — senyum yang penuh pengorbanan dan ketabahan.

"Kakak tahu, Dek... Kakak juga kangen Papa sama sepertimu," akunya pelan, jujur. "Tapi kita harus kuat, ya? Kita punya satu sama lain. Kakak di sini buat dedek. Kakak akan selalu ada, gak peduli apa pun yang terjadi. Kita adalah keluarga, dan keluarga sejati itu saling menguatkan, walau yang lain sedang jauh."

Kenzo menatap wajah kakaknya lama sekali, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Yena, membiarkan pelukan hangat kakaknya meresap ke dalam hatinya yang sepi.

"Makasih ya, Kak..." bisik Kenzo lirih. "Punya Kak Yena, aku jadi gak merasa sendirian lagi."

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!