Indonesia
NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Selamatkan Temanku!

Rio melangkah masuk ke dalam rumah dengan kaki yang terasa seperti diikat beban puluhan kilo. Tatapannya kosong, pikirannya masih tertinggal di depan gerbang bersama bayangan masa lalu yang mengerikan itu.

Ia bahkan tak menoleh atau membalas sapaan ibunya yang keheranan dari arah ruang tengah. Tanpa sepatah kata pun, Rio langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan kasar.

Brak!

Ibunya hanya bisa terdiam, menatap daun pintu yang tertutup rapat itu dengan kening berkerut, bertanya-tanya badai apa yang baru saja menghantam anak laki-lakinya hari ini.

Di dalam kamar, Rio langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ia berguling-guling gelisah, mencoba mengusir rasa sesak di dadanya, sebelum akhirnya berhenti dalam posisi telentang. Tangan kanannya terangkat ke udara, memegang ponsel yang layarnya menyala terang menyinari wajahnya yang lelah.

Ia membuka aplikasi WhatsApp, mencari grup chat sahabat-sahabatnya. Ini saatnya bergerak. Ia tidak bisa membiarkan Gavin menang lagi.

[Rio]: Guys.

[Zahra]: Ada apa, Yo?

[Rio]: Gini... kita begadang yuk malam ini. Demi teman kita.

[Nadia]: Boleh. Mau diskusi bareng buat nyusun rencana, atau lu udah punya rencana sendiri?

[Putri]: Aku... juga... ikut! Meski mungkin nggak membantu banget... hehe.

[Rio]: Terima kasih, kalian. 😁

[Rio]: Oke, karena kalian setuju, gue bagiin tugas sekarang. Reno, lu usahain cari hacker profesional. Kalau tetap nggak dibolehin sama bokap lu, kita cari cara lain. Zahra, lu cari info apa pun tentang Danu dan kejadian tadi lewat medsos. Putri, tugas lu jadi stalker akun medsos Gavin kalau ada. Nadia, coba lacak kemungkinan lokasi tongkrongan Gavin lewat Maps. Sementara gue... bakal nyusun semua kemungkinan dan petunjuk yang kita punya.

Hanya dalam hitungan detik, balasan beruntun masuk. Keempat temannya serempak mengetik, "Siap!"

Misi penyelidikan malam itu pun resmi dimulai. Kelimanya memelototi layar ponsel dan laptop di kamar masing-masing dengan tekad membara.

Namun, realita terkadang tak seindah rencana agen rahasia di film-film.

Reno, yang mendapat tugas paling berat, nyaris putus asa. Ia sudah merendahkan harga dirinya, memohon-mohon dan merengek di depan pintu ruang kerja ayahnya untuk menyewa hacker profesional. Sayangnya, sang ayah tetap berhati batu dan menolak mentah-mentah permintaan konyol itu.

Di tempat lain, Zahra yang awalnya sangat fokus mengetikkan nama Danu di kolom pencarian media sosial... entah bagaimana perlahan tapi pasti malah nyasar ke aplikasi lain, diam-diam asyik membaca update bab terbaru novel kesukaannya.

Sementara itu, Putri yang mendapat tugas stalking akun media sosial Gavin, menatap layar ponselnya dengan kening berkerut dalam. Untuk pertama kalinya dalam hidup, gadis yang selalu tampil lembut dan anggun itu menunjukkan ekspresi jijik yang luar biasa saat melihat isi postingan cringe dan angkuh dari cowok tersebut.

Dan Nadia? Gadis itu ditugaskan melacak lokasi lewat peta digital. Namun, bukannya fokus mencari markas rahasia Gavin, telunjuknya malah asyik menggeser layar Google Maps, matanya berbinar, dan ia cekikikan sendiri karena salah fokus menemukan nama-nama jalan serta warung yang kelewat lucu di pinggiran kota.

Penyelidikan yang awalnya dipenuhi distraksi itu tiba-tiba berubah tegang. Di tengah keputusasaan, Reno rupanya berhasil menggunakan kartu truf terakhirnya. Entah ancaman, bujukan, atau negosiasi macam apa yang ia pakai, seorang peretas (hacker) profesional yang diam-diam bekerja untuk jaringan perusahaan ayahnya akhirnya bersedia membantu.

Sebuah notifikasi berbunyi dari ponsel Reno. Berkas enkripsi masuk.

Saat mereka membuka dokumen hasil retasan itu secara bersamaan, sebuah kenyataan mengejutkan akhirnya terungkap. Target utama Gavin malam itu di museum ternyata adalah sebuah vas antik bermotif guci. Namun, benda itu bukan sekadar pajangan bersejarah biasa.

"Gila..." gumam Rio saat membaca rangkuman data di layar ponselnya.

Guci itu rupanya menyimpan sesuatu yang sangat penting. Bagi Gavin, mendapatkan vas tersebut bukan sekadar untuk memenuhi obsesi gilanya semata. Vas itu adalah kunci utama, alat tukar terpenting untuk membahas kesepakatan tingkat tinggi dengan mitra bisnis gelapnya. Dengan mengamankan vas tersebut, Gavin bermaksud mengambil alih kekuasaan mutlak dan membangun sebuah "kerajaan baru" di dunia bawah tanah.

Mengetahui betapa besar dan berbahayanya skala kasus ini, rasa lelah akhirnya benar-benar menghantam fisik mereka. Setelah memastikan seluruh bukti retasan itu diunduh dan diamankan, kelima sahabat itu sepakat untuk mematikan ponsel dan bergegas tidur.

Waktu berlalu cepat. Sinar matahari pagi menyapa dari sela-sela tirai kamar.

Hari ini adalah hari Sabtu, yang berarti mereka libur sekolah. Namun, tidak ada kata libur untuk misi penyelamatan Danu. Mereka telah menyusun rencana pamungkas dan sepakat untuk bertemu di area depan sekolah pada pukul sembilan pagi.

Setelah sarapan kilat dan bersiap-siap, mereka langsung meluncur ke titik kumpul. Setibanya di depan sekolah, mobil mewah Reno sudah terparkir menanti mereka. Begitu kelimanya masuk dan pintu ditutup, mobil pun melaju mulus membelah jalanan kota.

Di sepanjang perjalanan, Rio mulai membuka percakapan untuk memecah keheningan yang menegangkan.

"Haa... akhirnya. Berkas yang dikirim hacker semalam ini bener-bener bisa jadi bukti kuat kalau Danu sama sekali nggak bersalah," ujar Rio sambil menepuk map tebal berisi dokumen yang sudah ia cetak.

"Iya... nggak sia-sia ya kita begadang dan nyari info semalaman suntuk," sahut Zahra dengan senyum lega.

Putri tertawa kecil, mengangguk setuju. "Haha... iya, walau sempat banyak gangguannya."

Namun, Nadia yang duduk di kursi belakang menatap ke arah mereka dengan dahi berkerut waspada. "Tapi... kita jangan sampai lengah, guys. Bukti ini sangat krusial. Bisa saja ini cuma jebakan yang sengaja disiapkan Gavin buat narik kita lebih dalam."

Zahra manggut-manggut perlahan. "Hmm... bener juga kata lu, Nad. Kita harus tetap ekstra hati-hati."

Mobil akhirnya menepi di halaman parkir kantor polisi. Dengan langkah tegap dan napas memburu, kelimanya berjalan cepat menuju meja sentra pelayanan. Rio melangkah paling depan, memegang map tersebut erat-erat.

"Pak! Pak Polisi! Kami ada laporan, Pak!" seru Rio tergesa-gesa.

Petugas piket yang sedang mencatat sesuatu menoleh kaget. "Hah? Laporan? Laporan apa ini? Pelan-pelan."

"Ini, Pak," Rio langsung menyodorkan map berisi dokumen tebal itu ke atas meja. "Itu... bukti kuat kalau Danu, teman kami yang ditangkap kemarin, sebenarnya nggak salah. Dia cuma dijebak dan dijadikan kambing hitam oleh pelaku aslinya, Pak!"

"Benar, Pak! Bapak bisa cek semuanya di dalam sana. Jadi tolong, keluarkan dia sekarang juga!" timpal Zahra dengan nada memohon sekaligus mendesak.

Petugas itu mengerutkan kening. Ia menatap anak-anak SMA di hadapannya sebelum mengambil map tersebut. Saat ia membolak-balik halamannya, raut wajahnya yang semula santai perlahan berubah serius melihat validitas data dan bukti digital yang ada di sana.

"Hmm... oke, oke. Mengerti," gumam petugas itu. "Sebentar, ya. Kalian duduk aja dulu di ruang tunggu sana. Saya akan bawa berkas ini ke ruang penyidik."

Kelima sahabat itu duduk berjejer di kursi besi dengan perasaan campur aduk. Menit demi menit berlalu terasa begitu lama.

Hingga akhirnya, terdengar suara derit pintu besi dari arah lorong ruang tahanan. Petugas tadi berjalan kembali ke arah mereka, kali ini tidak sendirian. Di belakangnya, berjalan sosok pemuda dengan rambut agak berantakan, mengenakan pakaian semalam dengan wajah lelah, namun matanya berbinar tak percaya.

Itu Danu.

"Danu!" panggil Rio, refleks melompat dari kursinya.

Mata Danu berkaca-kaca. Tanpa peduli dengan suasana kantor polisi yang kaku, ia tersenyum lebar dan langsung berhambur, memeluk teman-temannya dengan erat. Air mata haru dan tawa kelegaan bercampur menjadi satu. Penyelidikan mereka berhasil; Danu akhirnya kembali ke pelukan mereka.

Langkah kaki keenam remaja itu terasa jauh lebih ringan saat meninggalkan pekarangan kantor polisi. Hawa gerah kota siang itu tak sedikit pun melunturkan senyum kelegaan di wajah mereka.

Untuk merayakan kemenangan kecil dan kebebasan Danu, mereka memutuskan mampir di deretan pedagang kaki lima tak jauh dari sana. Sebuah pesta perayaan yang sederhana namun sarat makna. Sambil berdiri di pinggir jalan raya yang dinaungi pohon rindang, mereka menikmati porsi besar batagor bumbu kacang dan bergelas-gelas es teh manis yang menyegarkan tenggorokan.

"Gila, sumpah, semalam gue hampir mati kedinginan di dalem sana," cerita Danu sambil mengunyah batagornya dengan rakus. Wajahnya masih terlihat sedikit kuyu, namun matanya sudah kembali memancarkan semangat hidup. "Makasih banyak, ya, guys. Kalau nggak ada kalian, gue nggak tahu lagi bakal gimana nasib gue."

"Makan yang banyak, Nu. Biar tenaga lu balik," kata Zahra sambil terkekeh, menyodorkan porsi tambahannya.

Reno menepuk keras punggung Danu. "Santai aja, Nu. Kita kan sahabat. Tapi serius deh, abis ini lu harus cepet-cepet mandi, bau selnya masih nempel tuh di baju lu!"

Gelak tawa langsung meledak memecah kebisingan lalu lintas jalan raya. Beban berat yang sempat menghimpit dada mereka semalaman seakan menguap terbawa angin siang itu.

Namun, kebahagiaan dan tawa itu perlahan mereda saat Rio meletakkan gelas plastik es tehnya ke atas gerobak. Pandangannya menajam, menatap satu per satu wajah sahabatnya yang kini kembali utuh.

"Pesta kecilnya cukup sampai di sini dulu," ucap Rio, suaranya berubah berat. Atmosfer di sekitar gerobak itu seketika ikut menegang.

"Ada apa, Yo?" tanya Danu bingung, berhenti mengunyah.

"Masalah kita belum usai, Nu," jawab Rio tegas. Ia lalu menoleh ke arah teman-temannya. "Gavin masih di luar sana bawa guci itu. Nad, lu udah berhasil ngelacak posisi pasti markas atau tempat nongkrong Gavin dari Maps semalam, kan?"

Nadia langsung merogoh saku roknya, mengeluarkan ponsel, dan menunjukkan sebuah titik merah yang berkedip stabil di pinggiran kota.

"Udah. Sesuai data dari dokumen retasan hacker semalam ditambah pelacakan titik lokasi... Gavin kemungkinan besar lagi ada di sebuah gudang tua dekat area pelabuhan."

Rio mengangguk mantap. Tangannya mengepal kuat. Bayangan trauma masa lalunya di panggung kelam itu kembali melintas, namun kali ini rasa takutnya telah hangus terbakar oleh kobaran keberanian.

"Gavin udah ngerusak masa lalu gue, dan dia hampir aja ngancurin masa depan lu, Nu," geram Rio dengan rahang mengeras. "Kita nggak bisa biarin dia nyusun 'kerajaan baru'-nya dengan mulus dan mengorbankan orang lain lagi."

Mereka berenam saling bertatapan. Tak ada lagi keraguan di mata Putri yang lembut, tak ada lagi kemalasan di wajah Reno, dan tak ada lagi ketakutan di wajah Danu. Semuanya mengangguk sepakat dalam satu frekuensi yang sama.

Kepingan puzzle sudah tersusun, kebenaran sudah terungkap, dan sahabat mereka sudah kembali. Kini, tiba saatnya untuk membalas dendam yang tertunda.

"Ayo," ajak Rio sembari berbalik menuju mobil Reno. "Kita samperin iblis itu sekarang."

1
mama Al
semoga Rio bisa jadi teman baik untuk Danu
Wednesday
biasa anak obesitas kebanyakan sensitif
Miu.Nuha
betulah ya... ketika keluarga gk bisa dirasa seperti keluarga, tpi dpt bestie baik gini rasany kek punya sodara ☺
aku juga penasaran sama karya kamu, Danu...
MF015
akhirnya ada juga yang mau temenan sama Danu seperti Rio
ginevra
tuh kan... ada kan yang punya hati baik
ginevra
tidak tidak... jangan berpikiran kayak gitu. banyak kok yang bakalan suka sama kamu. banyak orang yang pikirannya terbuka. cuma kamu belum nemuin aja
ginevra
aku tahu perasaanmu.... cobalah diet dan berolahraga... tapi bukan untuk menjadi lebih kurus tapi lebih sehat aja. karena kamu bersinar dengan caramu sendiri.... love yourself
Siti Aisyah
Danu kamu hebat gendut jangan jadikan masalah untukmu tetap semangat buat kurusin badan ya dan jangan makan mie mulu nu kasian perutmu😆
Maya 摩耶
Kayaknya gk mungkin kau bisa tak terlihat deh nu
Maya 摩耶
emang sebesar apa sih si danu ini?
Hamzah: yang gemuk
total 2 replies
Maya 摩耶
Kayaknya itu bukan karena badanmu deh nu
Hamzah: terus apa dong 😅
total 1 replies
Pencari Cerita
masih ada teman yang nerima kondisi kamu ko Danu, semangat
LUNEYA
🌹🌹☺️ Selalu seperti itu kalau anak laki-laki gemuk, dia akan diejek, Orang-orang sangat iri pada orang gemuk, tetapi mereka memiliki keuntungan. ☺️🌹😎
internona Nerrazurri
semoga Danu dan Rio bisa menjadi teman baik
Fairuz
yang semangat ya danu, semua pasti akan di lewati dengan baik 💪
Myz Pena
ya ampun danu.. please jangan suka merendahkan diri mu sendiri.. semua harus di syukuri dan tetap zmngat dalam menjalani hidup 🤧
Myz Pena
bayu anaknya agak berisi ya badannya ? apakah dia juga dari keluarga yang sederhana ?
Hamzah: iya agak berisi badannya
total 2 replies
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬
Danu kapan mau jadi kurus atuh😄
Hamzah: kapan-kapan 😂
total 1 replies
indah Mayaddah f
Ya Allah Danu 😭 dibuang sama keluarga sendiri dan harus bertahan hidup sendirian di kosan sempit, kebayang sepi dan sakitnya jadi Danu 🥺
Tio Buki
Semangat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!