Indonesia
NovelToon NovelToon
PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.

Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".

Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah

"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Uji Nyali di Perbatasan Kota, Aroma Rempah yang Menembus Beton dan Keju

Matahari sore mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga kemerahan di atas hamparan aspal jalan raya perbatasan Sidoarjo–Surabaya. Arus lalu lintas padat merayap dipadati lautan kendaraan para pekerja kantoran yang pulang beraktivitas. Di tengah keramaian itu, motor bebek tua yang dikendarai Dika Pratama berhenti mulus di tepi kawasan ruko yang disepakati sebagai titik pengantaran pesanan daring Dapoer Srikandi.

Dika mematikan mesin, melepas helm, lalu menyeka keringat di pelipisnya. Sarung tenun bermotif kotak-kotak klasik yang ia kenakan sedikit tersingkap ditiup angin. Ia membuka kotak penyimpanan di belakang motor, dan seketika aroma mangut ikan nila kuah kuning berpadu kemangi segar menguar ke udara, menarik perhatian siapa saja yang melintas.

"Wih, bau apa nih? Harum banget sedap rasanya!" celetuk seorang pemuda berjaket ojek daring yang kebetulan mangkal di dekat situ.

Dika tersenyum ramah, lalu mengeluarkan kemasan kardus berlabel logo buatan Dinda. "Mangut ikan nila khas Sidoarjo, Mas! Masih hangat, dijamin kuahnya pedas gurih bikin ketagihan. Mau pesan tambahan?" tawar Dika sigap.

Satu per satu pelanggan yang sudah memesan lewat WhatsApp dan Instagram mulai datang. Sebagian besar adalah karyawan muda kantoran yang penasaran setelah melihat unggahan Dinda Ayu Lestari. Saat mereka mencicipi suapan pertama mangut dan tahu isi buatan Emak Sarni Sari, pujian mengalir tanpa henti.

"Wah, gila! Ini beneran masakan rumahan terenak yang pernah aku makan di pinggir jalan! Kuahnya sedap banget, ikannya segar nggak bau amis sama sekali," puji seorang wanita muda berpakaian rapi sambil menutup kotak makannya, matanya berbinar kagum.

"Mantap jiwa! Tolong sampaikan ke yang masak, besok aku mau pesan tiga porsi buat makan siang kantor!" sahut pelanggan lainnya antusias.

Dika melayani semua pembeli dengan cekatan, senyum tulus tak pernah lepas. Kurang dari satu jam, seluruh pesanan ludes tak tersisa. Sambil menghitung uang hasil penjualan di dompet usangnya, Dika merasakan kepuasan batin yang luar biasa. Ia bukan lagi sekadar pemuda yang melamun di beranda; kini ia berdiri di atas kakinya sendiri, membangun masa depan bersama wanita yang dicintainya.

Sebelum pulang, Dika memotret suasana tempat itu, lalu mengirimkannya kepada Vanesha lewat pesan singkat. "Misi sukses besar, Bos Vanesha! Dagangan ludes sekejap. Prajuritmu siap pulang membawa kemenangan," tulis Dika.

Tak lama, balasan Vanesha datang disertai deretan emoji tepuk tangan, membuat dada Dika terasa hangat sekali.

Sementara itu di rumah panggung, suasana sore terasa damai. Vanesha membantu Emak merapikan peralatan dapur, Dinda sibuk menyunting video pendek untuk media sosial, dan Bapak Joko Pratama duduk menikmati kopi sambil menatap hamparan sawah. Namun kedamaian itu mendadak pecah oleh decitan ban mobil yang mengerem tajam tepat di depan halaman.

Sebuah sedan hitam mewah berhenti melintang di jalan sempit itu. Pintu terbuka, dan yang turun bukan lain adalah Papa Vanesha sendiri. Wajahnya kaku, rahang mengeras, tatapannya tajam menembus halaman.

Emak Sarni Sari berhenti bergerak, cemas. Dinda menahan napas dan berdiri tegak. Vanesha yang baru keluar dari dapur terpaku di tempatnya — sosok ayahnya yang dulu membuangnya kini berdiri tepat di hadapannya.

"Vanesha!" panggil Papa Vanesha, suaranya menggelegar memecah kesunyian sore.

Vanesha menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian. Ia tidak lagi menunduk seperti dulu. Dengan kepala terangkat tegap, ia melangkah ke depan, berdiri di samping Emak dan Bapak yang sigap melindunginya.

"Ada perlu apa Papa datang ke kediaman keluarga kami?" tanya Vanesha tenang namun tegas, membuat ayahnya tertegun sejenak.

Papa Vanesha menatap putrinya dari ujung rambut hingga kaki — kaos sederhana, celana training hitam, tubuhnya mewangi bumbu dapur. Wajahnya bercampur amarah dan ketidakpercayaan.

"Kamu sudah benar-benar gila, Vanesha!" bentak Papa Vanesha keras. "Hidup berkalang lumpur di gubuk reot ini, bergaul dengan orang-orang kampungan, dan merendahkan martabat keluarga besar Vanesha Group demi pemuda miskin tukang bungkus gorengan?! Apa kamu tidak punya harga diri lagi?!"

Darah Vanesha mendidih mendengar hinaan itu. Sebelum ia menjawab, suara Bapak Joko Pratama terdengar tenang namun menggetarkan. Bapak maju satu langkah, menyedot sisa lintingan kreteknya, lalu menatap tajam mata sang konglomerat tanpa gentar sedikit pun.

"Maaf, Tuan Besar dari Surabaya," ucap Bapak Joko Pratama rendah namun penuh wibawa. "Di rumah panggung rakyat jelata ini, harga diri tidak diukur dari tebalnya dompet atau mewahnya mobil. Yang ada di sini cuma kejujuran, kerja keras, dan kasih sayang tulus antarsesama manusia."

Papa Vanesha membelalakkan mata, terkejut luar biasa. "Diam kamu! Kamu tidak berhak ikut campur urusan keluarga saya!" bentaknya geram.

"Ini rumah saya, dan Vanesha sekarang bagian dari keluarga saya," jawab Bapak Joko Pratama teguh. "Kalau Anda datang cuma menghina kami, silakan pulang dan bawa mobil Anda pergi jauh. Tapi kalau Anda datang sebagai ayah yang ingin melihat putrinya bahagia... silakan duduk, kami buatkan kopi hitam buatan Emak."

Suasana mendadak hening dan tegang. Vanesha menatap Bapak dengan mata berkaca-kaca penuh haru dan hormat. Sosok sederhana ini memiliki keberanian yang melebihi para direktur top kota besar. Papa Vanesha terdiam seribu bahasa, terjebak antara ego korporat dan kenyataan bahwa putrinya kini dicintai dan dilindungi dengan tulus.

1
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!