Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akankah Bersemi?
Di depan Televisi yang masih memancarkan cahaya, Jax dan Dania saling menatap satu sama lain. Malam yang seharusnya menjadi wadah untuk istirahat, malah menghembuskan kepedihan dan kemarahan yang menjalar di pikiran masing-masing.
Dania dengan tatapan lirihnya hampir menangis karena teringat masa lalu yang selalu ingin ia tutup rapat-rapat, kini menggelontorkannya begitu saja seperti pasrah dengan keadaan. Sementara Jax yang mengerutkan keningnya tak bisa lagi menahan amarah yang seketika membakar hatinya saat Dania mengatakan fakta mengerikan itu.
"Siapa? Siapa orangnya? Cepat bilang!!!" Jax menggertakkan giginya seperti anjing yang hampir lepas kendali.
Bukan nama Iblis yang meluncur, namun pertanyaan yang sebenarnya tak harus dikatakan, malah lulus sensor otak Dania.
"Apa aku tidak menjijikkan?"
Bagai ditusuk dengan jarum di mesin jahit, hati Jax terasa sakit bertubi-tubi.
"Bagaimana bisa kamu menanyakan itu, Dan?"
Mata hitam pekat itu menatap istrinya yang kecantikannya melebihi seorang dewi kayangan. Napas panas menderu keluar dari hidungnya seperti siap menyalakan api naga.
"Jawab aku," Dania menunduk memelankan suaranya. Kedua tangannya saling bertaut, ujung jari telunjuknya memutar satu sama lain, seolah ragu dengan kepantasan dirinya.
Dada Jax merosot, kata jijik tidak akan pernah ada dalam kamusnya mencintai Dania. Seperti apapun istrinya itu, baginya hanya dia satu-satunya. Bahkan jika Dania ternyata adalah elit global atau alien penghancur bumi sekalipun, ia tak peduli.
Dengan sangat perlahan Jax mulai mendekati wanitanya, berusaha tak mengusik traumanya, lalu memeluknya erat.
"Aku mencintaimu Dania, dan akan seperti itu selamanya."
Tangis Dania akhirnya pecah mendengar kata manis Jax, bocah kecil yang selalu mengikutinya seperti anak ayam.
"Lagi pula, itu bukan salahmu, berhenti merendahkan dirimu sendiri. Ingat! kamu adalah seorang Dosen killer yang ditakuti semua mahasiswamu."
Seketika tangis itu berubah menjadi senyuman setelah mendengar lelucon yang tak lucu dari suami mudanya.
"Eh sembarangan, aku nggak galak ya. Terus siapa yang takut? Mereka ramah kok, kamu aja yang selalu masang wajah jutek. Nyebelin!!"
Entah Dania sadar atau tidak, kini tubuhnya sangatlah rileks. Ia menerima pelukan Jax dengan sewajarnya tanpa ada rasa gemetar atau menahan ketakutan. Yang ada, ia semakin mengeratkan pelukannya dan menyenderkan kepalanya di bahu Jax. Matanya terpejam seolah menginginkan kehangatan itu lebih dalam.
"Tapi Dan... Aku masih serius bertanya siapa orangnya."
Dania tersenyum. Ternyata kini pembahasan tentang traumanya itu tak lagi men-triggernya. Atau mungkin yang berbicara sekarang adalah Jax yang sebenarnya selalu bersamanya di saat paling terpuruk.
"Sudahlah... Orangnya sudah mati, jadi kamu nggak perlu membunuhnya lagi."
Jax mengangkat bahunya.
"Kan aku bisa menggali kuburannya, terus aku cabik-cabik jasadnya."
"Hahaha, serem banget deh!"
Malam yang mengundang kepedihan itu berakhir dengan kehangatan yang berpadu dengan gelak tawa dark jokes tentang Si Iblis yang telah kehilangan kemampuannya menghantui mimpi Dania.
Tapi setelah dipikir lagi, Dania benar-benar tidak tahu dimana Iblis itu dikuburkan. Mungkin saja ingatannya mulai kabur atau memang tak ada hal yang seperti itu.
Apapun itu, Dania sudah tak peduli lagi. Karena sekarang dia punya seseorang yang bisa mendengarkan semua rintihan dan mimpi buruknya.
.
.
.
Matahari pagi perlahan muncul dari ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang hangat dan lembut ke seluruh penjuru. Langit tampak biru jernih dihiasi beberapa gumpalan awan putih yang bergerak perlahan, sementara udara sejuk menyapu kulit dengan menyegarkan.
Tubuhnya kini sudah lebih segar dari sebelumya. Tak disangka kekuatan cinta begitu nyata, wajahnya yang pucat dan selalu berkeringat karena menahan sakit, sekarang tampak ada warna merah bersemi di pipi. Lesung pipit yang jarang terlihat kini terukir sangat dalam membuat tampilannya lebih muda.
Dengan memakai apron warna putih tulang, Dania memasak beberapa menu sarapan sebelum Jax terbangun. Suasana yang cerah itu cukup membuatnya bertenaga menyediakan banyak sekali menu, sampai dirinya sendiri heran dengan apa yang dilakukannya.
"Kamu sedang masak apa?" Suara itu sekarang terdengar sangat manis bak madu yang menyiram telinganya.
"Ah... Hanya sedikit sup," ucap Dania tersenyum pada suaminya yang masih mengucek kelopak matanya.
Lalu Jax mendekati istrinya, tidak seperti biasanya yang langsung duduk menanti makanan datang.
Sentuhan tangan Jax yang merambat ke pinggang Dania, membuat bulu kuduknya seketika berdiri. Napas yang menyapu leher jenjang semakin membuat darah Dania menderu tak terkendali.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Kita bisa memesan makanan saja kalau kamu mau."
Bisikan itu membangunkan kupu-kupu yang bertebaran. Meski terdengar biasa, tapi sapuan bibir lembut yang menyentuh ujung telinga mampu membuyarkan fokus, hingga tangannya tak sadar membeku alih-alih mengaduk.
"Ehem, kamu tunggu saja di sana. Sebentar lagi makanannya matang."
Namun Jax malah memeluknya dari belakang, sangat lembut seperti sedang meraba.
"Mmm... Aku suka wangi sampo-mu, harum banget."
Udara terasa semakin tercekat, bahkan hanya untuk bernapas saja Dania harus berhati-hati.
Sementra di sisi lain, Jax sepertinya sangat menikmati ketegangan Dania. Ia semakin mengenyakkan hidungnya pada setiap helai rambut Dania yang terurai. Matanya terpejam seraya meresapi aroma tubuh Dania yang tercium sangat menawan.
"Kalau begini terus, kapan matangnya? Kalau kamu nggak ada kerjaan, lebih baik bantu aku buat teh."
"Hehehe... Siap Bos!" Layaknya mengakhiri permainan yang bisa membuat jantungan, Jax membebaskan belenggunya.
Membuat Dania kembali bisa bernapas dan mengatur debaran di dadanya.
"Lain kali, aku tidak akan melepaskan genggamanku." Jax mengatakannya dengan sangat santai sambil mengambil teh di atas rak. Sedangkan Dania yang mendengarkannya malah berdebar tak karuan.
'Sialan! Bisa-bisanya aku dipermainkan oleh anak yang kecilnya pernah aku mandikan itu.'
Umpatan dalam hati itu sungguh berbanding terbalik dengan ranum pipinya yang merekah merah padam. Tangannya tak berhenti mengaduk, tapi pikiran melayang kemana-mana. Kadang kembali ke masa lalu saat Jax masih mempunyai pipi bayi yang gembil, lalu meayang ke masa depan dimana dirinya akhirnya bisa memadu kasih yang panas membara di kamar.
"Ehem!" Tiba-tiba wajahnya merasakan panas yang bukan berasal dari kompor yang menyala. Telapak tangannya otomatis terkibas-kibas, berusaha mendinginkan wajahnya yang mendidih.
"Apa sudah matang?" Pertanyaan itu membuyarkan otaknya melakukan perjalanan waktu.
"Kayaknya sih udah."
Dania menyendok sedikit kuahnya dan menuangkannya ke telapak tangannya untuk dicicipi.
"Gimana? Sudah pas?" Tanya Jax.
"Mm... Kayaknya sih."
"Coba cicipi sekali lagi!"
Dania dengan polosnya menuruti permintaan Jax. Ia menyendok kuah sup lagi dan menuangkannya di telapak tangan. Namun kali ini yang mencicipi bukan dirinya sendiri, melainkan Jax yang langsung menarik tangan Dania.
Dengan gerakan pelan dan tatapan mata yang hanya terkunci padanya, Jax menyentuh telapak tangan dania dengan bibirnya. Dia melakukannya dengan sangat lambat, membuat kupu-kupu itu kembali menyerang perut Dania.
"Ini enak sekali," ucap Jax.