Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Hari Kiamat / Zombie
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?

Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.

Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Dua minggu pascapemakaman Karl di bawah naungan pohon cemara, jejak-jejak pelarian dan era persembuniyan di Villa Suaka resmi berakhir. Di atas puing-puing bangunan tua yang terbakar, Hayden, Dion, dan Leo memulihkan fungsi dua kendaraan lapis baja *Sovereign* yang berhasil disita. Senjata, amunisi, serta sisa-sisa laboratorium portabel milik Dr. Helena dikemas rapi ke dalam kompartemen baja.

Tujuan mereka kini bukan lagi mencari tempat berlindung yang terisolasi, melainkan bergerak langsung menuju jantung kekuatan musuh: Reruntuhan Kota Pusat.

Perjalanan kembali ke wilayah perkotaan menempuh medan yang berat. Setelah melewati perbatasan bukit Sektor Utara, lanskap alam perlahan berganti menjadi reruntuhan megah dari peradaban lama. Gedung-gedung pencakar langit yang telah retak ditumbuhi tanaman liar, jalan tol melayang yang runtuh di beberapa bagian, dan bangkai-bangkai kendaraan yang telah berkarat menjadi pemandangan utama. Kota yang dulu menjadi pusat wabah kini telah bertransformasi menjadi wilayah kekuasaan *Sovereign Initiative*.

Di dalam kendaraan taktis terdepan, Hayden memegang kemudi. Fiora duduk di sampingnya seraya memeriksa peta navigasi taktis terenkripsi yang ditinggalkan oleh Karl. Di bangku belakang, Hayra dan Nico duduk berdampingan. Nico mengenakan sarung tangan taktis tebal yang menutupi gelang pemantau biologisnya, matanya yang berwarna kristal merah menatap dingin ke arah jendela. Pendaran mutasi di darahnya kini sepenuhnya dalam kendali emosionalnya pasca-tragedi yang menimpa ayahnya.

"Kota Pusat sudah berubah total," ujar Dion dari saluran radio komunikasi. "Mereka mendirikan tiga lapisan barikade perimeter dengan menara pemantau otomatis dan pemindai biometrik skala besar."

"Bagaimana dengan jalur bawah tanah?" tanya Hayden seraya mengoperasikan pelacak frekuensi.

Dr. Helena, yang duduk di kendaraan kedua bersama Mery, Maya, dan Leo, membuka layar proyeksi peta lama. "Jaringan terowongan kereta bawah tanah jalur sektor tiga masih utuh. Itu adalah satu-satunya jalur siluman yang tidak terjangkau oleh meriam gelombang mikro mereka. Dulu, tempat itu digunakan sebagai laboratorium karantina darurat sebelum peradaban runtuh."

"Misi kita bukan sekadar bertahan," potong Fiora dengan intonasi tegas dan tenang. "Kita harus menghancurkan fasilitas pemicu biologis utama *Sovereign* di menara pusat, menghapus seluruh data pelacakan genetik Hayra dan Nico, serta memastikan tidak ada lagi faksi yang bisa menciptakan senjata dari darah anak-anak kita."

Konvoi mereka berhenti di sebuah kompleks koridor parkir bawah tanah yang terbengkalai, beberapa kilometer dari perimeter luar Kota Pusat. Tempat itu dijadikan markas operasional sementara (*Forward Operating Base*).

Hayden melangkah keluar dari kendaraan, menyapukan pandangannya pada seluruh anggota tim. Leo berdiri di samping Dion seraya memeriksa teropong malam, sementara Maya membetulkan busur kompositnya. Mery menggandeng Nico yang mengangguk pelan pada Hayra. Meski duka atas kepergian Karl masih terasa, keberanian baru terpancar jelas dari mata mereka.

Hayden mengokang senapan serbunya, membiarkan pantulan cahaya dari kota tua menerpa wajahnya yang penuh garis ketegasan.

"Kota ini pernah menjadi saksi keruntuhan peradaban," kata Hayden, suaranya menggelegar tenang di dalam terowongan beton. "Malam ini, kita kembali bukan sebagai pengungsi yang melarikan diri, tapi sebagai pihak yang akan menghentikan ancaman ini untuk selamanya."

Dengan koordinat markas *Sovereign Initiative* yang sudah terkunci di dalam peta taktis, operasi penyusupan dan perlawanan balik keluarga Hayden di jantung Kota Pusat resmi dimulai.

Gelapnya terowongan bawah tanah Jalur Tiga Kota Pusat terasa menekan dada. Bau besi berkarat, genangan air rembesan tanah, dan debu karbon berusia belasan tahun menyeruak saat konvoi dua kendaraan lapis baja menelusuri rel kereta bawah tanah yang telah lama mati. Di atas mereka, beton setebal sepuluh meter memisahkan keheningan terowongan dari peradaban militeristik *Sovereign Initiative* yang kini menguasai permukaan kota.

Hayden memimpin pergerakan di garda depan. Lampu taktis di dadanya memotong kegelapan, memperlihatkan papan petunjuk jalan tua yang pudar bertuliskan *Sektor Pusat - Stasiun Sentral*. Di sampingnya, Fiora berjalan dengan senapan serbu terkokang. Gerakannya presisi, tidak ada lagi ketakutan atau keraguan dalam setiap pijakan kakinya. Sepuluh tahun pengasingan dan tragedi gugurnya Karl telah menempa jiwa Fiora menjadi seorang pejuang sejati.

"Sinyal pemindai perimeter di atas kita semakin padat," bisik Dr. Helena seraya mengamati konsol analisis biometrik portabel di tangannya. "Menara Utama *Sovereign* berada tepat tiga ratus meter di atas stasiun ini. Mereka menempatkan generator pemancar gelombang mikro di puncaknya. Jika generator itu diaktifkan dalam kapasitas penuh, radius radiasinya bisa memicu reaksi mutasi pada sel darah Hayra dan Nico dari jarak puluhan kilometer."

Dion yang berjalan di sisi kiri menghentikan langkahnya di dekat tangga darurat menuju permukaan. Ia memeriksa panel kontrol listrik kuno yang telah dipasangi pemotong arus otomatis.

"Karl meninggalkan backdoor enkripsi pada jaringan kontrol stasiun ini sebelum dia gugur," ujar Dion pelan, menatap layar komputer taktisnya. "Aku bisa mematikan daya listrik di dua lantai terbawah Menara Utama selama lima belas menit. Itu jendela waktu kita untuk masuk tanpa terdeteksi pemindai biometrik."

Mery merengkuh bahu Nico yang berdiri siaga. Remaja bermata kristal merah itu membetulkan pelindung siku dan sarung tangan taktisnya. Di pergelangan tangannya, gelang biologis pasif buatan Helena menyala hijau redup. Di sampingnya, Hayra menatap dinding beton stasiun dengan pandangan penuh fokus. Pendaran keemasan halus di bawah kulit lehernya tampak tenang, terkendali sempurna oleh tekad jiwanya.

"Nico, Hayra," panggilan Hayden membuat kedua anak itu menoleh. Hayden berlutut di hadapan mereka, menatap mata mereka satu per satu. "Misi malam ini bukan tentang balas dendam. Misi ini adalah untuk memutus rantai kutukan *Genesis-X* agar kalian bisa hidup bebas tanpa perlu bersembunyi lagi. Tetap di belakang Leo dan Maya sampai kita mencapai inti laboratorium."

"Aku paham, Pa," jawab Nico dengan suara yang kini terdengar lebih dalam dan dewasa. "Aku tidak akan biarkan amarah menguasaiku lagi."

Hayra menggandeng jemari Nico, menatap ayahnya dengan senyum tipis yang memancarkan keberanian. "Kami siap, Papa."

Hayden bangkit berdiri, menatap Leo dan Maya yang mengangguk mantap dari arah barikade tangga. Ia lalu berpaling pada Fiora, menggenggam erat jemari istrinya untuk sepersekian detik sebelum melepasnya demi memegang gagang senjata.

"Dion, matikan dayanya sekarang," perintah Hayden.

Jari Dion menekan pemicu pada konsol. Dalam hitungan detik, desung generator listrik atas tanah terdengar mati mendadak, diikuti oleh runtuhnya sistem pencahayaan dan kamera keamanan di lantai dasar Menara Utama.

"Bergerak!"

Pintu besi darurat stasiun runtuh dihantam ledakan muatan tempel kecil yang dipasang oleh Leo. Pasukan kecil itu menerobos masuk ke dalam koridor servis lantai dasar Menara Utama *Sovereign Initiative*.

Suasana di dalam bangunan megah itu sangat kontras dengan reruntuhan kota di luar. Dinding-dindingnya dilapisi baja komposit putih steril, dipenuhi saluran pipa pendingin nitrogen dan kabel transmisi data raksasa. Di tempat inilah konsorsium militer *Sovereign* merekayasa kembali sisa-sisa sampel *Virus Genesis-X* untuk dijadikan pemicu biologis global—sebuah senjata kendali massa yang sanggup melumpuhkan populasi bumi melalui transmisi frekuensi biologis khusus.

*RATATATATAT!*

Sirene darurat merah berputar liar saat sistem keamanan sekunder menyala. Pasukan penjaga *Sovereign* berzirah berat langsung merespons dari dua arah lorong utama.

"Barikade Sektor Timur!" teriak komandan penjaga musuh.

Dion dan Leo melompat ke balik pilar beton, membuka gelombang tembakan balasan yang sangat presisi. Tembakan Leo menembus kaca helm dua prajurit terdepan, sementara Dion melemparkan granat kilat yang membingungkan formasi pertahanan musuh.

"Maya, amankan garis atas!" seru Leo seraya mengisi ulang magazin senjatanya.

Dari atas balkon lantai dua, Maya yang memegang busur komposit beramunisi hulu ledak mikron melepas tembusan panahnya. Anak panah itu menancap tepat pada panel kontrol pintu otomatis musuh, meledak dan mengunci belasan prajurit bantuan di dalam ruang penyimpanan senjata.

Hayden dan Fiora bergerak bersamaan bagaikan satu unit tempur yang tak terpisahkan. Fiora melumpuhkan dua prajurit yang mencoba membidik Hayden dari balik barikade baja, sementara Hayden menerjang ke depan, menggunakan pisau taktis dan senapan serbunya untuk membersihkan jalur menuju lif utama laboratorium.

"Jalur bersih! Helena, Mery, bawa anak-anak ke lif!" seru Hayden seraya menyapu sisa-sisa musuh di koridor utama.

Dr. Helena berlari cepat memasukkan kartu akses enkripsi tertinggi yang telah diisi kode peretas buatan Karl. Pintu lif baja tebal terbuka, membawa seluruh tim naik menuju lantai puncak—lantai di mana pusat data utama dan generator pemancar pemicu biologis berada.

Lantai sembilan puluh sembilan Menara Utama adalah sebuah kubah kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan seluruh Reruntuhan Kota Pusat di bawah naungan langit malam. Di tengah ruangan berdiameter puluhan meter itu, berdiri sebuah tabung reaktor biologis raksasa berisi cairan luminesens kuning keemasan—pabrik pembuat patogen pemicu *Genesis-X* skala besar.

Di depan konsol utama reaktor, berdiri sosok pemimpin tertinggi *Sovereign Initiative*—Jenderal Vance, seorang mantan perwira tinggi taktis Aegis Corporation yang selamat dari kehancuran masa lalu. Setengah dari wajahnya telah diganti oleh implan siberinetik, dan matanya memancarkan kepicikan murni.

Di sekeliling Vance, sepuluh prajurit elite *Goliath* berzirah exoskeleton berdiri memegang peluncur gelombang mikro jarak pendek.

"Akhirnya... spesimen sempurna kita datang sendiri," ujar Vance dengan suara mekanis yang berdengung tajam. Ia tidak menunjukkan rasa terkejut saat pintu lif terbuka dan Hayden beserta pasukannya melangkah masuk dengan senjata teracung.

"Permaiananmu selesai, Vance," kata Hayden, suaranya dingin menembus dengung mesin reaktor. "Matikan pemancar itu dan serahkan seluruh drive data genetiknya."

Vance tertawa terkekeh, sebuah tawa kering yang tidak menyenangkan. Ia menggeser tuas pada konsol utama, membuat tabung reaktor bergetar hebat.

"Kalian tidak mengerti, Hayden," ujar Vance seraya menunjuk ke arah Hayra dan Nico. "Dunia di luar sana sudah busuk! Manusia tidak bisa lagi dipimpin oleh hukum tua yang lemah. Darah kedua anak itu adalah kunci evolusi sejati. Varian *Genesis-X* di dalam tubuh mereka bukan cuma mampu membunuh, tapi mampu menyelaraskan sistem saraf seluruh manusia di bumi di bawah satu komando biologis tunggal!"

Vance menekan tombol aktivasi manual.

*BZZZZZZT!*

Kubah kaca menara bergetar saat generator gelombang mikro puncak mulai memancarkan denyut frekuensi biologis penuh. Sinyal pemicu itu langsung menghantam seluruh ruangan.

"Aagghh!"

Nico dan Hayra terjatuh berlutut bersamaan. Efek dari frekuensi berdaya penuh itu berusaha membongkar paksa sistem kekebalan tubuh mereka. Garis-garis pembuluh darah keemasan menyala hebat di leher Hayra, sementara iris mata kristal merah Nico berkilat membara. Gelang biologis pasif di pergelangan tangan mereka retak dan hancur berkeping-keping.

"Hayra! Nico!" jerit Fiora dan Mery seraya berhamburan mencoba menutupi tubuh anak-anak mereka.

"Tahan mereka!" perintah Vance pada prajurit *Goliath*.

Sepuluh prajurit berzirah berat melangkah maju dengan perisai komposit, membuka tembakan ke arah Hayden, Dion, dan Leo. Tembakan bertubi-tubi memaksa Hayden dan Dion terdesak ke balik pilar-pilar kaca reaktor.

"Dion, Leo! Lindungi Helena dan Mery! Biarkan aku dan Fiora yang menghancurkan reaktornya!" seru Hayden.

"Diterima!" sahut Dion seraya menembakkan peluncur granat ke arah barisan prajurit *Goliath*, menciptakan ledakan asap dan serpihan baja yang menghambat laju musuh.

Di tengah rasa sakit yang mencabik sistem sarafnya, Nico menatap Hayra yang terengah-engah di atas lantai dingin. Pendaran keemasan dari tubuh Hayra bereaksi terhadap radiasi pemancar, namun kali ini, alih-alih meledak menjadi amarah pembunuh seperti saat kematian ayahnya, Nico memegang erat tangan Hayra.

"Hayra... tahan..." bisik Nico, matanya yang merah memancarkan kesadaran murni. "Ingat kata Ayah... kita bukan senjata mereka. Kita yang mengontrol darah ini."

Hayra menatap mata Nico. Di dalam cengkraman jemari mereka, terjadi sesuatu yang tidak pernah diprediksi oleh Vance maupun Dr. Helena.

Varian mutasi laten di dalam darah Hayra yang berfungsi sebagai perisai alami, berinteraksi secara harmonis dengan varian mutasi tempur di darah Nico. Alih-alih terpicu menjadi patogen liar, kedua darah hibrida itu saling melengkapi, menciptakan sebuah medan pertahanan kekebalan biologis alami yang memancar keluar dari tubuh kedua anak tersebut dalam bentuk pendaran cahaya keemasan jernih.

Gelombang frekuensi pemicu dari generator Vance mendadak terpental kembali saat menyentuh aura kekebalan Hayra dan Nico.

Dr. Helena, yang melihat grafik analisis biometrik di layar konsol portabelnya, membelalakkan mata tak percaya. "Luar biasa... Mereka tidak terpengaruh! Darah mereka telah mencapai titik evolusi keselarasan sempurna!"

Vance panik saat melihat layar konsol reaktornya menunjukkan tanda bahaya lonjakan energi balik. "Tidak! Ini tidak mungkin! Tembak mereka sekarang!"

Sebelum prajurit musuh sempat bereaksi, Nico bangkit berdiri. Bergerak dengan kecepatan murni yang terkoordinasi sempurna tanpa sedikit pun kehilangan kendali akal sehatnya, Nico menerjang dua prajurit *Goliath* terdepan, merampas senjata gelombang mikro mereka dan meremukkannya dalam satu remasan tangan.

Di saat yang sama, Hayden dan Fiora bergerak kompak melintasi ruang reaktor. Fiora melompati barikade musuh, melepaskan tembakan presisi yang melumpuhkan sistem kontrol zirah Vance, sementara Hayden menerjang langsung ke arah Vance.

*CRAASH!*

Pukulan keras Hayden menghantam wajah siberinetik Vance, membanting pemimpin *Sovereign* itu ke atas papan kontrol utama. Vance terbatuk darah, menatap Hayden dengan mata terbelalak ketakutan.

"Ini... ini belum selesai... darah mereka... akan selalu diburu..." racau Vance parau.

"Tidak akan ada lagi yang berburu," tegas Hayden dingin.

Hayden mencabut granat termit berdaya lebur tinggi dari tali taktisnya, menancapkannya tepat di dalam poros inti reaktor biologis, lalu mengunci sistem navigasi menara agar seluruh data genetik di komputer pusat terhapus secara permanen.

"Helena, hapus seluruh data cadangan! Kita keluar dari sini sekarang!" seru Hayden.

Dr. Helena menekan tombol penghancuran data total pada konsol pusat. Layar-layar monitor di seluruh laboratorium mendadak menghitam satu per satu, menghapus setiap baris kode genetik, analisis biometrik, dan formula *Genesis-X* yang pernah ada di dunia.

"Semua data terhapus sempurna! Reaktor akan meledak dalam dua menit!" teriak Helena.

"Evakuasi ke atap! Helikopter evakuasi musuh ada di *helipad*!" seru Dion melalui radio.

Ledakan berturut-turut mulai merobohkan struktur bagian dalam Menara Utama saat seluruh anggota tim berlari menaiki tangga darurat menuju *helipad* di atap tertinggi. Reaktor biologis di lantai bawah meledak hebat, membakar seluruh sampel virus dan memusnahkan fasilitas pemicu *Sovereign Initiative* menjadi abu tanpa sisa.

Di atas atap menara, angin malam Kota Pusat bertiup kencang, membawa kabut dan asap pembakaran dari bawah. Dion dan Leo dengan cepat menguasai helikopter transport militer yang terparkir di *helipad*, melumpuhkan pilot musuh dan menyalakan baling-baling utama.

"Masuk! Cepat!" seru Dion dari kursi kemudi helikopter.

Mery, Helena, Maya, Nico, dan Hayra melompat masuk ke dalam kabin helikopter yang lapang. Fiora berdiri di ambang pintu kabin, mengulurkan tangannya pada Hayden yang baru saja selesai memasang muatan peledak terakhir pada pintu akses atap untuk menahan sisa-sisa pasukan musuh.

Hayden menyambar tangan Fiora, melompat masuk ke dalam kabin seraya pintu helikopter terbukti terkunci rapat.

*BOOOMMMM!*

Ledakan berantai menghancurkan lantai puncak Menara Utama tepat saat helikopter mereka terangkat naik ke udara. Kubah kaca megah itu runtuh ke dalam, disusul oleh robohnya pemancar gelombang mikro yang menjadi simbol kekuasaan *Sovereign Initiative*.

Dari balik jendela kaca helikopter, Hayden, Fiora, dan seluruh keluarga menatap ke bawah. Menara Utama yang dulu menjadi benteng ketakutan kini telah tenggelam dalam kobaran api yang melahap seluruh jaringan data dan racun mutasi masa lalu. Tak ada lagi sampel *Virus Genesis-X*, tak ada lagi data pelacak genetik, dan tak ada lagi faksi yang bisa mengancam kehidupan anak-anak mereka.

Helikopter itu terbang melintasi cakrawala Kota Pusat, meninggalkan reruntuhan perang menuju ke arah timur—ke arah di mana garis terbitnya matahari fajar mulai memancarkan warna keemasan yang hangat menembus awan malam.

Satu bulan kemudian.

Di sebuah lembah terpencil yang jauh di sebelah timur Sektor Utama—sebuah wilayah baru yang subur, tidak terjamah oleh sisa-sisa konflik peradaban lama, dan terlindungi oleh jajaran pegunungan hijau yang indah—sebuah pemukiman kayu baru telah berdiri.

Rumah-rumah sederhana dibangun dengan kokoh di tepi sungai berair jernih. Tidak ada lagi barikade benteng baja, tidak ada lagi sensor perimeter ancaman, dan tidak ada lagi kawat berduri.

Di teras rumah utama, Fiora duduk di kursi goyang kayu seraya menyesap teh hangat. Di sampingnya, Mery sedang menyulam kain seraya tersenyum mendengarkan gelak tawa anak-anak dari arah tepi sungai.

Di tepi sungai tersebut, Leo dan Maya sedang mengajari Hayra cara memancing ikan dengan cara tradisional. Hayra yang kini berusia sepuluh tahun tertawa riang saat berhasil mengangkat seekor ikan kecil, memamerkannya pada Nico yang duduk di atas batu kali seraya membaca buku catatan sains milik Dr. Helena.

Nico mendongak, menyunggingkan senyum hangat. Di bawah sinar matahari pagi yang cerah, iris matanya masih berwarna kristal merah yang unik, tetapi tidak ada lagi ketakutan atau pendaran mutasi yang berbahaya. Gelang pemantau di pergelangan tangannya telah dilepas selamanya—menandakan bahwa ia dan Hayra kini sepenuhnya bebas hidup sebagai manusia biasa tanpa beban takdir kelam.

Dr. Helena dan Dion terlihat sedang merapikan rumah kaca tanaman obat di samping rumah, sementara dari arah bukit, Hayden melangkah turun membawa kayu bakar di pundaknya.

Hayden meletakkan kayu bakar di samping teras, menyapu keringat di dahinya, lalu menatap Fiora yang menyambutnya dengan senyuman paling damai yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya.

Fiora bangkit berdiri, melangkah mendekati Hayden dan menyandarkan kepalanya di dada tegap suaminya. Hayden melingkarkan kedua tangannya di pinggang Fiora, membiarkan kehangatan pagi menyelimuti tubuh mereka.

"Perang ini benar-benar sudah berakhir, Hayden," bisik Fiora lembut, matanya menatap Hayra dan Nico yang sedang berlari-lari kecil di tepi sungai bersama Leo dan Maya.

Hayden mencium kening Fiora dengan penuh rasa syukur yang mendalam. Ia mengingat setiap tetes darah, air mata, dan pengorbanan rekan-rekan mereka—terutama Karl—yang telah melapangkan jalan hingga mereka bisa berdiri di tempat ini hari ini.

"Ya, Fiora," balas Hayden dengan suara berat yang kini dipenuhi kedamaian sejati. "Perang kita sudah selesai. Sekarang... saatnya kita memberikan mereka masa depan."

Matahari fajar naik makin tinggi di atas lembah hijau itu, menyinari rumah baru mereka dan mengikis habis sisa-sisa kegelapan masa lalu. Di atas tanah yang baru, di tengah keluarga yang utuh dan saling mencintai, epik perjuangan Hayden dan Fiora resmi berakhir—bukan dengan kehancuran, melainkan dengan berseminya harapan baru bagi kemanusiaan.

Tamat

1
Yurmanitya Fadilah
👍👍👍
Coco
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!