"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Tok!Tok!Tok!
Erlangga langsung mengalihkan pandangannya dari layar monitor saat suara ketukan pintu ruang kerjanya terdengar.
Ia tidak langsung merespon. Ia menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu, lalu dengan gerakan tenang menutup layar laptopnya.
Senyum miring yang tadi menghiasi wajahnya kini sudah lenyap, digantikan dengan ekspresi datar seperti biasanya.
Ia menegakkan punggungnya, lalu bersandar pada kursi kebesarannya. "Masuk," ucapnya dingin.
Ceklek!
Pintu itu terbuka secara perlahan, dan langsung menampilkan sosok Rafael yang tengah berdiri di ambang pintu.
Pria itu melangkah masuk dengan gaya santai, lalu berhenti tepat di samping meja kerja Erlangga.
"Meeting, Lang! Lo malah enak-enakan diam di sini. Tuh orang-orang pada nungguin lo," ucap Rafael sambil berkacak pinggang. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya heran saat melihat ketenangan sepupunya ini, sementara para petinggi divisi di luar sana sudah mulai kasak-kusuk menunggu kehadirannya.
Erlangga tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Rafael dingin.
"Hmm." Erlangga hanya bergumam pelan, lalu bangkit dari kursi kebesarannya. "Lo ngapain kesini?"
"Gue ke sini disuruh Om Ridwan buat nemenin lo," jawab Rafael. "Katanya proyek ini besar banget, ya?"
"Ya, sepertinya akan sedikit merepotkan," sahut Erlangga singkat dan langsung melangkah lebar keluar dari ruangan.
"Ck... Lang! Tungguin gue!" Rafael langsung mendesah pelan dan buru-buru menyamakan langkah kakinya yang panjang untuk menyusul Erlangga.
Begitu sampai di depan ruang rapat, Bima langsung membungkuk hormat dan membukakan pintu untuk mereka.
"Selamat pagi, Tuan Muda. Silahkan," ucap Bima.
Erlangga melangkah masuk tanpa menoleh ataupun menjawab, dengan di ikuti Rafael di belakangnya.
Seketika itu juga, suasana di dalam ruangan yang tadinya bising oleh bisik-bisik langsung senyap. Semua orang di dalam ruangan serentak bangkit dan membungkuk hormat.
Erlangga mendaratkan tubuhnya di kursi paling ujung, sementara Rafael mengambil tempat di kursi sebelah kanan Erlangga.
"Bisa kita mulai?" ucap Erlangga.
Kepala Divisi Perencanaan Utama, Pak Baskoro, langsung mengangguk dan berdehem pelan. Ia segera menyalakan proyektor dan berdiri di depan layar besar.
"Selamat pagi, Tuan Muda Erlangga, Tuan Muda Rafael, dan rekan-rekan sekalian," ucap Pak Baskoro yang membuka rapat pagi ini.
"Hari ini kita akan membahas proyek tentang pembangunan kawasan smart-city yang mencakup resor mewah, pusat bisnis internasional, dan pelabuhan wisata di kawasan Indonesia Barat. Nilai investasinya mencapai triliunan rupiah."
Pak Baskoro mengklik remot proyektor, dan langsung menampilkan logo sebuah perusahaan raksasa lain yang sangat familiar di dunia bisnis.
"Seperti yang sudah direncanakan, kita sedang menjajaki kerja sama dengan Adhitama Group selaku pemegang hak lahan utama dan jaringan logistik terbesar. Jika Maheswara Group berhasil mengamankan tanda tangan mereka, posisi kita di pasar Asia Tenggara tidak akan tergoyahkan," lanjut Pak Baskoro sambil sesekali melirik ke arah Erlangga.
"Lalu, apa kendalanya?" tanya Erlangga langsung ke inti masalahnya.
"Begini, Tuan Muda... pihak Adhitama Group sangat berhati-hati dengan proyek ini. Pagi tadi, sekretaris direksi mereka mengirimkan pesan singkat. Kepala divisi mereka menyatakan bahwa pimpinan Adhitama Group menolak bernegosiasi dengan perwakilan atau utusan perusahaan."
Pak Baskoro menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mereka menegaskan... hanya ingin bertemu dan bernegosiasi langsung dengan pemilik sah sekaligus pimpinan tertinggi Maheswara Group. Yaitu Anda sendiri, Tuan Muda Erlangga."
Mendengar hal itu, Rafael langsung menoleh ke arah Erlangga dengan mata yang sedikit membelalak. Sementara Erlangga tetap menunjukkan sifat tenangnya yang khas.
"Bima!" panggil Erlangga tanpa mengalihkan pandangannya.
Bima yang sedang berjaga di dekat pintu itu langsung melangkah sigap dan membungkuk di samping Erlangga. "Ya, Tuan?"
"Buatkan jadwal pertemuan saya dengan Adhitama Group. Hari ini juga."
"Baik, Tuan."
Erlangga kemudian mengedarkan pandangannya yang dingin kepada para petinggi divisi. "Saya akan turun tangan sendiri untuk proyek ini. Rapat selesai," ucapnya tegas.
Setelah itu, ia langsung bangkit berdiri, dan meninggalkan ruangan dengan di ikuti Rafael di belakangnya.
Setelah mereka keluar dari ruang rapat, Rafael langsung menyamakan langkahnya dengan Erlangga.
"Lang! Lo serius mau nemuin petinggi Adhitama Group? Mereka itu terkenal alot dan arogan tau! Mending lo pikir-pikir lagi deh! Lagian Kalau lo nggak dapat proyek ini, perusahaan lo nggak akan bangkrut, kan?!" ujar Rafael bertubi-tubi.
Erlangga tidak menghentikan langkahnya sedikitpun. Pandangannya tetap menatap lurus ke depan. "Gue serius. Lagian gue juga kenal siapa petinggi Adhitama Group itu."
"Hah? Lo kenal?!" Rafael langsung menghentikan langkahnya karena syok. "Emang siapa, Lang? Kasih tahu gue, dong?!" tanyanya sedikit berteriak.
Erlangga tidak berniat untuk menjawab. Ia hanya melirik Rafael sekilas dari sudut matanya sambil terkekeh rendah.
thor tolong kasih pelajaran ke kara🤣🤣🤣
yg ada kara takut kehilangan erlangga
lanjut double up kak
lanjut kak
lanjut kak
lanjut kak