Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Destiny Tells Me
"Bara?"
"Hmm?"
"Bangun. Udah pagi."
"Lima menit lagi, ya, sayang. Aku masih ngantuk."
Bara masih memejamkan mata sambil mengeratkan pelukannya pada Ara yang sejak tadi berusaha melepaskan diri.
"Aku sesak. Kamu minggir sedikit, dong."
"Nggak mau. Tunggu lima menit dulu."
"Aku mual, Bara! Cepat lepasin aku! Rasanya aku udah pengen muntah."
Karena sudah tidak tahan dengan rasa mual yang semakin kuat, Ara akhirnya mengerahkan seluruh tenaganya untuk menendang dan mendorong tubuh Bara.
Bruk!
Tubuh Bara menggelinding dari atas ranjang hingga jatuh ke lantai dan menimbulkan suara cukup keras.
Ini akibatnya kalau kamu main-main sama bumil!
"Astaga, sayang!"
Bara meringis sambil mengusap bokongnya yang terbentur lantai.
"Kamu kenapa kuat banget? Pantatku jadi sakit."
Ara tidak memedulikannya. Ia justru buru-buru berlari ke kamar mandi dan langsung memuntahkan isi perutnya.
"Loh? Muntah beneran?"
Bara yang panik segera menyusulnya. Ia berjongkok di samping Ara dan mengusap punggung istrinya perlahan.
"Kamu nggak apa-apa, sayang? Kandungan kamu juga baru tujuh minggu. Mau aku olesin minyak biar agak enakan?"
"Nggak perlu. Aku nggak apa-apa."
Ara membasuh wajahnya dengan air. Namun, baru saja ia berbalik dan hendak memeluk Bara, rasa mual itu kembali menyerang. Ara langsung menutup mulutnya dan kembali muntah.
"Sayang, kita ke dokter aja, ya?"
Bara semakin panik.
"Aku nggak tega lihat kamu kayak gini."
"Aku itu muntah gara-gara kamu."
"Gara-gara aku?"
"Badanmu bau."
Ara menutup hidung.
"Sana mandi! Ganti pakai sabun yang baru, yang lebih wangi."
"Ya Tuhan!"
Bara mencium lengannya sendiri.
"Badan wangi kayak gini kamu bilang bau?"
"Kalau kamu nggak mau mandi, mending jauh-jauh dari aku. Aku benar-benar mual!"
Bara segera mundur beberapa langkah sambil masih mencium aroma tubuhnya sendiri yang menurutnya biasa saja. Sepertinya ia memang harus banyak-banyak bersabar menghadapi Ara yang sedang hamil muda.
"Ya udah, aku mandi dulu."
Bara menyerah.
"Kamu istirahat aja setelah ini. Nanti aku buatin sarapan."
"Ya udah, sana cepat mandi! Aku mau ke bawah dulu. Mau nonton TV."
Bara hanya mendengus kesal sebelum masuk kembali ke kamar mandi.
Sementara itu, Ara keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang keluarga. Ia benar-benar merasa mual setiap kali berada terlalu dekat dengan Bara.
Baru saja hendak menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk, bel apartemen tiba-tiba berbunyi.
Ting!
Ara mengernyitkan dahi.
"Siapa pagi-pagi begini?"
Dengan santai, ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Di hadapannya berdiri seorang laki-laki mengenakan topi dengan wajah tertunduk. Tangannya membawa sebuah kotak berukuran cukup besar.
"Ada paket untuk Ara dan Bara."
Ara mengernyitkan dahi. Ia menerima kotak tersebut, tetapi langsung merasa curiga. Tidak ada nama pengirim yang tertera di sana.
"Dari siapa?"
"Saya juga nggak tahu."
Laki-laki itu menyerahkan selembar kertas dan bolpoin.
"Intinya paket ini untuk Anda. Silakan tanda tangan di sini."
Ara masih merasa aneh, tetapi akhirnya menandatangani kertas tersebut sebagai bukti bahwa paket telah diterima. Setelah itu, kurir tersebut langsung pergi.
Ara menutup pintu apartemen. Ia menatap kotak besar di tangannya dengan penuh kecurigaan.
"Aku sama Bara nggak merasa pesan apa pun."
Rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa takut. Ara membawa kotak itu ke dapur, mengambil pisau, lalu membuka lakbannya perlahan.
Krek.
Begitu tutup kotak terbuka, wajah Ara langsung berubah pucat.
"Bara!!!!!"
Teriakannya menggema di seluruh apartemen. Di dalam kotak tersebut terdapat seekor burung gagak yang sudah mati. Darah segar masih membasahi bulu dan tubuhnya.
Sepertinya burung itu baru saja dibunuh sebelum dimasukkan ke dalam kotak.
Bara yang mendengar teriakan Ara langsung keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe. Ia bahkan tidak sempat mengeringkan rambutnya.
"Kenapa, sayang? Ada apa?"
Bara berlari menuruni tangga.
"Itu!"
Ara menunjuk ke arah kotak dengan wajah pucat.
"Ada paket buat kita. Tapi kayaknya isinya semacam ancaman. Coba kamu lihat sendiri."
Rasa mual Ara kembali muncul begitu melihat bangkai burung tersebut. Ia langsung berlari menuju wastafel sambil menutup mulut. Bara yang masih kebingungan segera melihat ke dalam kotak. Wajahnya seketika berubah.
"Astaga..."
Ia juga merasa mual melihat bangkai burung dengan darah yang masih segar. Bara buru-buru menutup kembali kotak tersebut. Ia kemudian membungkusnya dan membuangnya ke tempat sampah di luar apartemen.
Siapa yang mengirimkan benda seperti itu? Apakah ini hanya lelucon mengerikan? Atau memang sebuah ancaman?
"Kamu nggak apa-apa, sayang?"
Bara segera menghampiri Ara dan memeluknya. Entah kenapa, sejak mengetahui Ara sedang mengandung anak mereka, rasa khawatirnya menjadi berlipat ganda. Kalau memang seseorang sedang meneror mereka, Bara harus memastikan Ara tetap aman.
"Aku yakin pasti ada yang neror kita."
Ara menatap Bara dengan wajah cemas.
"Jangan-jangan pelaku yang bikin kita sampai kecelakaan. Jangan-janganㅡ"
"Jangan-jangan apa?"
Bara langsung memotong.
"Jangan bikin aku takut, Ara."
Ara segera berlari menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Bara yang masih kebingungan hanya bisa mengikutinya. Ara membuka ponselnya dengan tangan gemetar.
Ia mencari rekaman suara yang pernah disimpannya pada masa lalu. Namun, rekaman itu tidak ada. Tentu saja. Rekaman tersebut dibuat di timeline sebelumnya. Setelah masa depan berubah, file yang berkaitan dengan kejadian itu ikut lenyap dari ponselnya.
"Kenapa nggak ada?"
Ara menggigit bibir. Ia kemudian membuka daftar kontak dan mencari satu nama: Vano. Tanpa banyak berpikir, Ara langsung menekan tombol panggil. Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.
"Halo?"
Suara Vano terdengar santai.
"Ara? Tumben pagi-pagi udah nelpon gue. Kenapa? Kangen?"
Ia terkekeh.
"Atau lo bosen sama Bara terus nelpon gue?"
"Sialan!"
Bara langsung menatap Ara. Ia segera mengambil ponsel dari tangan istrinya dan mengaktifkan pengeras suara.
"Lo yang ngasih gue paket bangkai burung itu, kan?"
"Waw!"
Vano terdengar tertawa kecil.
"Santai dong, Ra. Jangan marah-marah dulu."
Ia menghela napas.
"Gue nggak nyangka aja. Waktu di rumah sakit itu ternyata lo udah tahu siapa gue sebenarnya."
Ara mengepalkan tangan.
"Padahal selama ini lo nggak tahu apa-apa, kan?"
Vano melanjutkan.
"Apalagi lo masih mau temenan sama gue dan bahkan ngenalin gue ke semua teman lo."
"Gue tahu karena gue dapat pencerahan selama koma."
Ara menatap Bara.
"Gue mimpi kalau lo itu orang brengsek. Lo berniat nyelakain Bara dan bahkan nyumpahin dia supaya cepat mati."
Suaranya mulai bergetar.
"Jangan-jangan lo juga yang bikin kita kecelakaan. Bener, kan?"
Vano tertawa.
"Hahaha... nggak seru banget sih, Ra."
Nada suaranya berubah dingin.
"Padahal gue udah berharap kalian tewas dalam kecelakaan itu. Tapi dua-duanya masih aja selamat."
Ara membeku.
"Gue bahkan udah senang waktu dengar lo nggak bangun-bangun. Gue berharap lo bakal tetap koma."
Bara mengepalkan tangannya.
"Tapi lo malah bangun dan langsung nuduh gue sebagai orang jahat di depan semua orang."
"Mau lo apa, sih?"
Ara mulai meninggikan suara.
"Kenapa lo terus ngusik kehidupan gue sama Bara? Apa gue pernah salah sama lo?"
"Hmm..."
Vano terdengar tertawa kecil.
"Salahnya karena lo lebih milih Bara daripada gue."
"Karena gue memang cintanya sama Bara, bukan sama lo!"
"Ya."
Suara Vano terdengar semakin dingin.
"Karena itulah, gue nggak bisa dapat wanita yang gue suka."
Ia berhenti sejenak.
"Jadi gue bakal melakukan segala macam cara buat memisahkan kalian."
"Vano, tolong."
Ara menarik napas.
"Bisa berhenti ganggu kehidupan gue sama Bara nggak?"
"Nggak bisa, sayang."
Vano terkekeh.
"Kalau gue nggak bisa mendapatkan lo, Bara juga nggak boleh memiliki lo."
Tut.
Sebelum emosinya meledak, Ara langsung mematikan panggilan tersebut. Tangannya masih menggenggam ponsel dengan erat. Napasnya memburu. Bara segera memeluknya dari belakang.
"Kamu denger sendiri, kan, sayang?"
Ara menoleh.
"Di masa lalu, Papa mau ngejodohin aku sama dia. Tapi ternyata dia memang jahat."
Ia menarik napas panjang.
"Dia bahkan bilang bakal nunggu kamu meninggal dulu supaya dia bisa membuat aku jadi miliknya."
Bara terdiam.
"Karena waktu itu kamu sakit parah, dia bilang dia nggak perlu mengotori tangannya cuma buat nyelakain kamu."
Ara menatap layar ponselnya.
"Dulu aku punya rekamannya. Papa juga udah tahu sifat aslinya."
Ia mengepalkan tangan.
"Tapi di masa sekarang, rekaman itu nggak ada lagi karena timeline-nya udah berubah. Aku harus cari cara supaya dia nggak ganggu kehidupan kita."
Bara mengusap kepala Ara.
"Ya udah. Sekarang jangan terlalu kamu pikirin dulu, ya, sayang."
Ia mencoba menenangkan istrinya.
"Nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama."
"Aku takut dia bakal ngelukain kamu, Bara."
Ara kembali memeluknya.
"Aku takut."
"Nggak perlu takut."
Bara membalas pelukannya dengan erat.
"Umurku masih panjang."
Ara terdiam. Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa sesak.
Semoga kali ini benar-benar begitu. Semoga masa depan yang sudah berubah ini memang memberimu kesempatan untuk hidup lebih lama, Bara.
Namun, di sudut hatinya, Ara masih merasa ada sesuatu yang belum selesai. Karena jika Vano memang sengaja membuat kecelakaan mereka, berarti kecelakaan itu bukan bagian dari takdir. Dan jika bukan takdir, siapa yang sebenarnya mengubah takdir mereka?