Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 SANG MALAIKAT MAUT
Maya membuka pintu gedung dan melangkah ke jalanan.
Ia tak tahu hendak ke mana. Tak tahu apa yang dicarinya. Yang ia tahu, ia tak sanggup lagi hanya duduk diam di apartemen kumuh itu, menyaksikan ayahnya membusuk di penjara dan ibunya mati perlahan.
Ia menyusuri jalan utama, satu-satunya ruas di kawasan itu yang cukup terang untuk menahannya dari rasa takut di setiap langkah. Lampu-lampu jalan berkedip, sebagian pecah, sebagian tertutup sarang laba-laba. Mobil-mobil yang lewat, yang tak seberapa banyak, memacu kecepatan seolah takut untuk berhenti. Orang-orang berjalan menunduk, tangan tersembunyi di saku, langkah tergesa.
Maya merasa diawasi. Bukan sekadar rasa curiga berlebihan. Ini nyata. Dua laki-laki di sudut jalan menatapnya, bertukar bisik yang tak bisa ia dengar, lalu tertawa. Nalurinya menyuruhnya lari. Namun ia tidak lari.
Dan saat itulah ia melihatnya.
Sebuah mobil hitam. Bukan mobil sembarangan. Sebuah Maserati, besar, gelap, mengilap, sama sekali tak pada tempatnya di kawasan berisi rumah-rumah kelabu dan jalan-jalan berlubang ini. Mobil itu terparkir di samping kios permen, bagai noda tinta di atas kertas yang sudah kotor.
Dan bersandar di kap mobil, dengan setelan gelap yang membelah malam setajam pisau, berdiri seorang laki-laki.
BARA PRAKOSO
Tinggi. Berkulit sawo matang. Rahang persegi, alis tebal, hidung mancung lurus. Ada bekas luka tipis melintang di alis kirinya, seolah dulu ada yang mencoba membelah wajahnya namun gagal.
Kedua tangannya yang besar bertumpu di kap mobil dengan ketenangan seekor kucing besar. Dan matanya... matanya sewarna badai. Kelabu. Dalam. Mustahil dibaca.
Bara Prakoso.
Maya belum pernah melihatnya langsung, tapi ia langsung mengenalinya. Di dunianya, di dunia kalangan atas, orang membicarakan pria itu dengan berbisik.
Sang mafioso. Sang pembunuh. Laki-laki yang keluar dari neraka dengan tangan berlumur darah. Majalah-majalah gosip memberinya halaman-halaman penuh, selalu dengan foto buram yang diambil dari kejauhan, seakan memotretnya dari dekat adalah sesuatu yang berbahaya.
Dan kini pria itu ada di sana. Dua puluh meter darinya. Di kawasannya. Di jalannya.
Ini bukan kebetulan, batin Maya. Dia sedang menunggu seseorang.
Bara mengangkat kepala dan menatapnya lurus-lurus. Tak ada keterkejutan di matanya. Tak ada rasa penasaran. Hanya sebuah kepastian yang dingin, seolah ia sudah tahu perempuan itu akan muncul, seolah ia telah menanti saat ini selama berhari-hari.
Maya ingin berbalik. Ingin lari, bersembunyi, kembali ke apartemen dan berpura-pura tidur. Namun kakinya tak menurut. Keduanya terpaku di tanah, terjangkar oleh campuran rasa takut dan sesuatu yang tak bisa ia beri nama.
Bara menegakkan tubuh perlahan. Ia lebih jangkung daripada yang terlihat di foto-foto. Jauh lebih jangkung.
Dan ketika ia melangkah mendekat, ketika bunyi langkahnya bergema di aspal berlubang bagai denyut sebuah jantung raksasa, Maya merasa udara menjadi lebih pekat, lebih berat, seperti sesaat sebelum badai petir.
Ia berhenti sejarak langkah dari Maya.
Dipandanginya perempuan itu dari atas ke bawah. Bukan tatapan penuh nafsu. Ini penaksiran. Seperti orang yang menilai sebutir permata sebelum membelinya, menimbang bobotnya, memeriksa cacatnya, menghitung nilainya.
"Nona Adiwangsa," ujarnya, dan suaranya berat, terukur, jenis suara yang tak perlu berteriak untuk didengar. "Saya dengar Anda mencari uang lima ratus juta rupiah."
Maya menelan ludah. Tenggorokannya kering, berpasir, seolah ia baru saja mengunyah beling.
"Siapa Anda?"
Bara menyunggingkan senyum. Bukan senyum yang indah. Senyum yang tajam, berbahaya, memesona bagai baja yang baru ditempa. Senyum serigala yang menemukan mangsanya.
"Saya laki-laki yang bisa memberikannya," katanya. "Tapi tak ada yang gratis di dunia ini, Putri. Itu sudah mulai Anda pelajari."
Angin dari selatan menerbangkan sehelai daun kering dari tanah. Seekor anjing menggonggong di kejauhan. Dari dalam kiosnya, sang penjaja menatap keduanya dengan kening berkerut, seakan tahu pertemuan itu tak akan berakhir baik.
Maya mengangkat dagu. Dagunya bergetar, namun ia tak akan menunduk. Tak bisa. Kalau ia menunduk sekarang, kalau ia memperlihatkan rasa takut, kalau ia gentar, semuanya akan hilang.
"Apa yang Anda inginkan sebagai imbalannya?" tanyanya, dan suaranya keluar lebih mantap daripada yang ia sangka.
Bara Prakoso, laki-laki paling berbahaya di kota ini, menatap matanya dan mengucapkan satu kata yang akan mengubah nasib mereka berdua selamanya.
"Pernikahan."
Maya mengerjap. Sekali. Dua kali.
"Anda sudah gila?"
"Sepenuhnya," jawab Bara, dan kali ini senyumnya melebar. "Tapi tak segila itu sampai membiarkan perempuan seperti Anda terlunta di jalanan. Anda menyumbang nama keluarga Anda, darah biru Anda, tempat Anda di kalangan atas. Saya menyumbang uang, perlindungan, dan mengeluarkan ayah Anda dari penjara."
Dunia terhenti. Musik dari kawasan itu berhenti berbunyi. Anjing-anjing berhenti menggonggong. Sang penjaja kios berhenti menatap.
Yang tersisa hanya mereka berdua, saling berhadapan, di sebuah jalan berbahaya, di kawasan kumuh, sementara jarum jam terus mencatat sisa waktu yang dimiliki Bramantyo Adiwangsa sebelum ia lenyap ditelan sistem untuk selamanya.
Maya membayangkan ayahnya yang diborgol. Ibunya yang membisu bagai mati rasa. Kawan-kawan yang telah meninggalkannya. Tiga ratus empat puluh tujuh nomor kontak yang tak berarti apa-apa.
"Saya punya dua puluh empat jam," bisiknya.
"Dua puluh tiga," koreksi Bara sambil melirik arlojinya. "Waktu terus berjalan, Putri. Bagaimana keputusan Anda?"
Maya memejamkan mata.
Ketika ia membukanya kembali, ia bukan lagi perempuan yang sama seperti yang keluar dari apartemen itu sejam sebelumnya.
Ia bukan lagi gadis manja kesayangan ayahnya.
Ia bukan lagi putri keluarga Adiwangsa.
Ia telah menjadi sosok lain.
"Sepakat," katanya.
Dan Bara Prakoso mengulurkan tangan.
Maya menyambutnya.
Tangan laki-laki itu hangat, kokoh, dan penuh kapalan.
Tangan seorang laki-laki sejati, batin Maya. Tangan mereka yang dulu tak memiliki apa-apa.
Bara meremasnya lembut, cuma sedetik, lalu melepasnya.
"Selamat datang di neraka, Nona Adiwangsa," ujarnya. "Akan saya ajari Anda cara bertahan hidup di dalamnya."