Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG DARI MASA LALU DAN HARAPAN BARU
Getar panjang ponsel Ammar di atas meja rias terasa ganjil, meretas keheningan manis yang baru saja tercipta di antara kami. Di layar yang menyala terang, deretan angka tak dikenal berawalan kode negara Arab Saudi +966 berkedip-kedip seolah membawa desakan yang tak biasa.
Ammar perlahan bangkit dari posisinya yang berlutut di hadapanku. Ia mengusap sisa air mata bahagianya dengan ujung jemari, lalu menatap layar ponsel itu dengan kening berkerut dalam. Rona kehangatan yang baru beberapa detik lalu memenuhi wajah tampannya mendadak menyurut, berganti menjadi kewaspadaan yang tersirat samar.
"Nomor luar negeri, Mas?" tanyaku pelan, ikut berdiri di sampingnya seraya merapikan ujung gamisku.
"Iya, dari Arab Saudi," sahut Ammar pendek. Ia menatapku sejenak, memberikan usapan menenangkan di punggung tanganku sebelum menggeser ikon hijau di layar. "Assalamu'alaikum."
Ammar mengaktifkan mode pengeras suara agar aku juga bisa mendengar. Dari seberang sambungan, gema nada bicara seorang pria paruh baya yang terengah-engah dan riuh oleh latar belakang suara deru kendaraan memecah hening kamar kami.
"Wa'alaikumussalam wa rahmatullah... Apakah ini benar Habib Ammar bin Ali?" suara di seberang sana terdengar panik dan bergetar, menggunakan bahasa Arab yang amat fasih.
"Benar, saya sendiri. Ini dengan siapa?" balas Ammar tenang, meski pegangan tangannya pada ponsel tampak kian mempererat.
"Alhamdulillah... Ya Habib, saya Syaikh Abdullah, penanggung jawab lapangan aset wakaf keluarga Anda di Madinah. Saya mendapatkan nomor Anda dari perwakilan alumni Mesir," pria itu menghela napas berat, seolah baru saja menempuh perjalanan jauh. "Maaf mengganggu malam-malam begini. Tapi ada hal darurat terkait wakaf Syekh Ali yang harus Anda ketahui."
Ammar menatapku sekilas. Pandangannya menajam. "Ada apa, Syaikh? Apakah ada masalah dengan bangunan wakaf di dekat Nabawi?"
"Bukan sekadar masalah biasa, Habib Ammar..." Syaikh Abdullah jeda sejenak, menyisakan suara desis angin malam yang tertangkap mikrofon. "Seseorang bernama Salman bin Rasyid... sepupu jauh Anda yang dulu diasingkan dari keluarga besar karena penggelapan dana, baru saja memanfaat keberadaan Syekh Ali yang berada jauh di Indonesia dan sudah sepuh. Salman mengajukan gugatan sepihak di pengadilan syariah Jeddah. Dia mengklaim memiliki surat hibah otentik atas tanah tempat berdirinya asrama mahasiswa dan bangunan wakaf milik Syekh Ali."
Aku terperanjat pelan. Nama Salman sama sekali belum pernah kudengar selama menjadi istri Ammar. Aku menatap suamiku, mencoba membaca ekspresinya.
Wajah Ammar membeku. Alur rahangnya mengeras seketika, memperlihatkan guratan ketegangan yang amat nyata. "Surat hibah? Itu tidak mungkin. Abah menyerahkan seluruh pengelolaan wakaf itu kepada lembaga resmi dan diperkuat oleh dokumen otentik di Kementerian Hukum Indonesia dan Kerajaan Saudi."
"Saya tahu, Habib. Tapi Salman menggunakan rekayasa dokumen lama dan celah hukum saat Syekh Ali memimpin usaha di sana puluhan tahun lalu," terang Syaikh Abdullah. "Karena Syekh Ali saat ini berada di Indonesia dan kondisi fisiknya sudah sepuh sehingga tidak memungkinkan melakukan penerbangan jauh ke Arab Saudi, Salman merasa di atas angin. Jika dalam waktu tiga minggu Anda sebagai putra mahkota dan pemegang kuasa resmi tidak hadir di pengadilan banding Jeddah membawa berkas asli, seluruh aset wakaf tersebut akan disita atas nama pribadinya."
Dada Ammar naik turun teratur. Ia mengontrol emosinya dengan luar biasa cepat, mempertahankan wibawanya meski kabar tersebut ibarat petir yang menyambar di tengah cuaca cerah.
"Terima kasih atas informasinya, Syaikh Abdullah. Tolong tahan proses eksekusi lapangan dengan berkas darurat yang ada. Saya akan mengatur penerbangan ke Jeddah secepatnya," pangkas Ammar mantap.
"Baik, Habib. Kami tunggu keberangkatan Anda. Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Sambungan terputus. Pintu kamar mandi yang tadi menjadi saksi bisu rasa syukur atas kehadiran calon buah hati kami, kini mendadak dipenuhi atmosfer ketegangan yang berat. Ammar meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengusap wajahnya kasar seraya menghembuskan napas panjang.
"Mas..." aku mendekatinya, merengkuh lengan kokohnya dan menyandarkan pipiku di bahunya. "Siapa Salman?"
Ammar berbalik, membawa tubuhku kembali ke dalam dekapannya. Ia mengecup puncak kepalaku lama, seolah mencari kekuatan di sana.
"Dia saudara sepupu dari pihak Abah, Aisyah," jelas Ammar pelan, suaranya kembali melunak saat berbicara padaku. "Dulu, waktu saya masih kecil, dia dipercaya Abah mengelola keuangan keluarga di Arab Saudi. Tapi dia merusak amanah, menggelapkan dana besar, dan melarikan diri. Sekarang melihat Abah sudah sepuh dan fokus beristirahat memimpin pesantren di sini, dia berusaha memanfaatkan situasi untuk merebut peninggalan Abah di sana."
Aku mendongak, menatap mata cokelatnya yang memancarkan beban berat. "Apakah Mas Ammar yang harus pergi ke Jeddah?"
Ammar menatapku dalam-dalam, pandangannya menyapu wajahku lalu turun ke arah perutku yang masih rata. Penyesalan terpancar jelas di matanya. Baru beberapa menit lalu kami merayakan kabar kehamilanku, dan kini tugas berat memanggilnya pergi ke seberang lautan untuk melindungi amanah sang ayah.
"Saya tidak ingin meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini, Aisyah," bisik Ammar parau, mengusap lembut pipiku. "Kamu baru saja mual, kamu sedang hamil muda... Saya harus ada di sampingmu."
Aku mengikis jarak di antara kami, menggenggam erat kedua tangannya. "Mas Ammar... menjaga amanah Abah dan mempertahankan tanah wakaf umat adalah kewajiban yang sangat mulia. Abah tidak mungkin terbang ke sana dengan kondisi fisiknya sekarang. Jangan khawatirkan aku. Di sini ada Umi, ada Nabila, dan para pengurus pesantren. Lagi pula, calon adik Arkhan di dalam sini pasti bangga punya Abi yang bertanggung jawab dan berbakti pada orang tuanya."
Ammar menatapku dengan binar keharuan yang meluap. Ia merengkuhku kian erat, mencium keningku bertubi-tubi seraya menggumamkan doa dan rasa terima kasih yang tak terhingga.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyiram kompleks Pesantren Syekh Ali dengan warna keemasan yang hangat. Sebelum disibukkan oleh urusan keberangkatan luar negeri dan pengurusan dokumen di Jakarta, Ammar mengosongkan seluruh agendanya pagi itu khusus untuk mendampingiku ke Rumah Sakit Bersalin Syifa.
Ammar menggenggam tanganku sepanjang jalan dari tempat parkir menuju ruang konsultasi Dokter Sarah. Arkhan sendiri dititipkan sementara di rumah utama bersama Umi Khadijah dan Abah Syekh Ali yang sangat bahagia begitu mendengar kabar bahwa mereka akan kembali mendapat cucu.
"Silakan duduk, Habib Ammar, Mbak Aisyah," sapa Dokter Sarah ramah saat kami melangkah masuk ke ruang periksa yang beraroma antiseptik lembut. "Wah, wajahnya cerah sekali berdua. Ada kabar bahagia apa ini?"
Ammar tersenyum tipis sebuah senyuman bangga yang tak bisa ia sembunyikan. "Istri saya mual-mual sejak semalam, Dokter. Kami ingin memastikan kondisi kehamilannya."
"Masya Allah... mari, Mbak Aisyah, langsung berbaring di ranjang periksa ya. Kita lakukan pemeriksaan USG," tutur Dokter Sarah seraya menyiapkan alat dan mengoleskan jel bening yang dingin di atas perut bawahku.
Ammar berdiri setia di samping ranjang, memegang tangan kiriku erat-erat. Pandangan matanya terpaku lurus pada layar monitor hitam putih yang menyala di samping dokter.
Dokter Sarah menggerakkan stik USG perlahan di atas perutku. Tak berapa lama, sebuah titik kecil berbentuk kantung kehamilan muncul di layar, diapit oleh garis-garis samar organ dalam.
"Nah, lihat ini..." Dokter Sarah menunjuk layar dengan stik penunjuk. "Ini kantung kehamilannya sudah terbentuk dengan sangat baik di dalam rahim. Usianya diperkirakan baru memasuki minggu kelima."
Dokter Sarah menekan sebuah tombol, dan mendadak ruangan periksa yang hening diisi oleh suara detak yang sangat cepat dan teratur.
Tuk-tuk-tuk-tuk-tuk-tuk...
Suara detak jantung calon bayi kami menggema jernih. Itu adalah nada kehidupan paling indah yang memecah segala keraguan dan kecemasan kami sejak semalam.
Genggaman tangan Ammar menyergap jariku lebih kuat. Aku menoleh dan melihat suamiku menahan napas, matanya berbinar kebasah-basahan menatap titik kecil di layar yang berdenyut seirama dengan suara tersebut.
"Detak jantung bayinya sangat kuat dan reguler," jelas Dokter Sarah tersenyum melihat reaksi kami. "Kondisi rahim Mbak Aisyah sehat, posisinya sempurna. Hanya saja karena ini masih trimester pertama, Mbak Aisyah harus benar-benar menjaga fisik, jangan sampai kelelahan, dan hindari stres berlebih."
Ammar membungkuk, mendaratkan ciuman dalam di pelipisku di hadapan Dokter Sarah yang terkekeh pelan. "Dengar kan, Sayang? Jangan capek-capek di rumah nanti."
"Iya, Mas... aku dengar," balasku seraya tersenyum mengusap lengannya.
Usai pemeriksaan dan menerima resep vitamin penguat kandungan, kami keluar menuju koridor rumah sakit. Ammar tak membiarkanku berjalan cepat sedikit pun. Ia merangkul pinggangku dengan sangat protektif, seolah aku adalah porselen langka yang mudah retak.
"Mas Ammar," panggilku saat kami berjalan menuju mobil. "Kapan jadwal terbang ke Jeddah?"
Ammar menghentikan langkahnya di dekat pintu mobil, menatapku dengan raut wajah yang kembali serius namun sarat akan kehangatan. "Lusa pagi, Aisyah. Saya harus ke Jakarta dulu sore ini untuk mengurus visa darurat dan mengambil dokumen asli tanah wakaf Abah yang tersimpan di brankas hukum keluarga, lalu meminta surat kuasa resmi bertanda tangan Abah Syekh Ali."
Ia membukakan pintu mobil untukku, membantuku duduk dengan hati-hati sebelum melingkari mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Lusa..." bisikku pelan. "Berapa lama Mas Ammar akan berada di sana?"
Ammar menggenggam jemariku di atas tuas transmisi, menatapku lurus. "Paling cepat sepuluh hari, paling lama dua minggu. Saya akan langsung mengawal sidang banding di Jeddah. Saya berjanji akan menyelesaikan urusan ini secepat mungkin dan langsung pulang."
Aku mengangguk mantap, membuang jauh-jauh rasa cemas yang sempat bertengger di benakku. "Selesaikan tugas Mas Ammar dengan tenang. Jangan pikirkan hal-hal yang membuat Mas tidak fokus di sana. Aku, Abah, Umi, dan anak-anak akan selalu mendoakan Mas Ammar dari sini."
Ammar mendekatkan wajahnya, mengecup bibirku dengan lembut namun penuh penekanan sebuah janji tersirat bahwa jarak ribuan kilometer tak akan pernah menipiskan ikatan suci di antara kami.
Hari keberangkatan pun tiba dengan begitu cepat. Pagi-pagi sekali, pelataran rumah utama pesantren telah dipenuhi oleh sanak keluarga, para pengurus senior, serta Abah Syekh Ali dan Umi Khadijah yang hendak melepas keberangkatan Ammar ke bandara.
Ammar mengenakan setelan kemeja koko katun berwarna abu-abu gelap berpadu celana bahan rapi dan peci hitam. Sebuah koper hitam ukuran sedang sudah tertata di bagasi mobil yang disiapkan oleh Pak Joko.
Syekh Ali duduk di kursi teras rumah utama, menatap putra tunggalnya dengan tatapan bangga sekaligus penuh haru. Ammar berlutut di hadapan sang ayah, menggenggam erat kedua tangan Syekh Ali yang mulai keriput.
"Berangkatlah dengan nama Allah, Ammar," tutur Syekh Ali dengan suara serak namun berwibawa. "Pertahankan hak wakaf umat dan kehormatan keluarga kita. Jangan ada rasa dendam pada Salman, selesaikan semuanya dengan keadilan hukum dan syariat."
"Insha Allah, Abah. Mohon doa dan restunya selalu," jawab Ammar penuh takzim, mencium punggung tangan dan kening ayahnya.
Umi Khadijah memeluk putranya itu dengan erat, mengusap punggungnya seraya meneteskan air mata doa. "Hati-hati di jalan, Ammar. Jaga diri baik-baik di negeri orang."
Selanjutnya, Ammar berlutut di hadapan Arkhan yang berdiri bingung memegang mainan mobil-mobilan kayunya.
"Arkhan..." panggil Ammar lembut, merapikan peci kecil di kepala putranya. "Abi mau pergi bertugas sebentar ke Arab Saudi. Arkhan di rumah jadi jagoan ya? Jaga Ummah, Kakek, dan Nenek. Jangan bikin Ummah capek. Bisa?"
Arkhan menatap ayahnya dengan mata bulat jernihnya. Ia mengangguk-angguk kecil meski raut mukanya menyiratkan kebingungan. "Abi beli mobil-mobilan besar ya nanti?"
Ammar terkekeh, merengkuh tubuh mungil Arkhan dan mencium kedua pipinya gemas. "Iya, Abi belikan mainan yang banyak. Tapi Arkhan harus nurut sama Ummah, janji?"
"Janji, Abi!" sahut Arkhan menempelkan jempol mungilnya ke jempol Ammar.
Terakhir, Ammar bangkit dan berdiri tepat di hadapanku. Suasana riuh di sekitar kami seolah mengabur, menyisakan tatapan kami berdua yang saling terkunci.
Aku melangkah mendekat, meraih tangan kanannya dan mencium punggung tangannya dengan khidmat. Ammar meletakkan tangan kirinya di belakang kepalaku, menyatukan kening kami selama beberapa detik.
"Saya titipkan diri kamu dan anak-anak kepada Allah, Aisyah," bisik Ammar dengan suara bergetar yang hanya bisa didengar olehku. "Jaga kesehatanmu. Kalau ada apa-apa, sekecil apa pun, langsung kabari saya."
Aku mengangguk, menahan air mata agar tidak jatuh dan memperberat langkahnya. "Mas Ammar juga. Hati-hati di perjalanan. Semoga Allah mudahkan semua urusan Mas di sana dan mengembalikan Mas ke pelukan kami dalam keadaan sehat wal'afiat."
Ammar mendaratkan kecupan hangat yang sangat lama di keningku, lalu mengusap perutku pelan. "Abi berangkat dulu ya, Nak... Baik-baik di dalam sana."
Dengan langkah mantap meski terasa berat, Ammar berbalik dan masuk ke dalam mobil. Kaca jendela diturunkan, dan tangannya melambai saat mobil perlahan melaju meninggalkan pelataran pesantren, membelah kabut tipis pagi yang menyelimuti kompleks.
Aku berdiri mematungi kepergiannya, memeluk Arkhan di samping Syekh Ali dan Umi Khadijah. Di dalam rahimku, sebuah kehidupan baru sedang tumbuh, dan di seberang lautan sana, suamiku sedang berjuang membawa amanah sang ayah demi mempertahankan tanah wakaf.