Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.
Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Reuni Orang-Orang Sombong
Gema suara Leon yang menyebut nama Dirga secara mendadak seketika membekukan suasana hangat di ruang makan mewah keluarga Arisandra. Pak Surya Hartono yang berada di samping putranya mengerutkan dahi, sementara Pak Arisandra menghentikan langkahnya yang hendak menyambut rekan bisnisnya tersebut.
Leon melangkah maju beberapa tindak. Matanya membelalak penuh ketidakpercayaan saat menatap sosok pemuda berkemeja abu-abu gelap yang duduk tenang di samping Lisa. Senyum sinis perlahan mengembang kembali di wajah tampannya, bercampur dengan keheranan yang amat sangat.
"Leon?" tanya Pak Surya Hartono bingung. "Kamu mengenal pemuda ini?"
Leon tertawa terkekeh-kekeh, sebuah tawa mengejek yang menggema nyaring menembus lampu kristal gantung di atas meja makan. Ia menunjuk wajah Dirga dengan gaya yang sangat arogan.
"Mengenalnya, Papa? Tentu saja saya mengenal bajingan miskin ini!" seru Leon dengan nada penghinaan yang tak tertutupi. Ia menatap Pak Arisandra dan Tante Siska secara bergantian. "Pak Arisandra, Nyonya Siska... Bagaimana bisa bangkai kotor seperti orang ini diizinkan melangkah masuk dan duduk di meja makan keluarga besar Arisandra?"
Tante Siska dan Chintya saling pandang dengan mata berbinar-binar, merasa mendapat angin segar atas konfirmasi keburukan Dirga.
"Leon, apa maksudmu?" potong Tante Siska cepat, memajukan badannya dengan antusias. "Coba jelaskan pada kami! Sejak tadi pemuda ini mengaku sebagai tamu kehormatan Lisa dan berlagak seperti investor terpandang!"
Leon kembali tertawa nyaring, menggeleng-gelengkan kepalanya seolah baru saja mendengar lelucon konyol.
"Investor terpandang?!" seru Leon, nada suaranya dipenuhi nada ejekan yang menusuk. "Nyonya Siska, orang ini bernama Dirga. Dia adalah mantan Office Boy kasta terendah di PT Kantor Investasi! Bukan hanya itu, dia dipecat secara tidak terhormat beberapa minggu lalu karena menyenggol dan memecahkan vas keramik antik seharga seratus lima puluh juta rupiah milik direkturnya!"
Pak Arisandra membelalakkan matanya tipis. Raut wajahnya yang semula datar kini mengeras, menatap Dirga dengan kekagetan yang makin dalam.
"Bukan cuma itu," lanjut Leon dengan dada terbusung, melangkah makin mendekati meja makan dengan gaya dominan. "Dia ini adalah mantan kekasih dari Eri, kekasih saya yang sekarang! Dulu dia rela menguras seluruh sisa tabungannya dan berbohong demi kasbon kantor hanya untuk membelikan Eri tas merek mewah karena takut dicampakkan. Tapi Eri sadar bahwa orang miskin tidak akan pernah bisa memberikan masa depan. Eri membuangnya seperti sampah di kafe Senopati di depan mata saya sendiri!"
"Astaga!" Chintya menjerit pelan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan, berpura-pura syok. "Mama, dengar itu! Dia mantan OB yang dipecat karena merusakkan barang kantor, dan ditinggalkan pacarnya karena miskin!"
Tante Siska memukul meja makan dengan telapak tangannya, menatap Lisa dan Pak Arisandra dengan ekspresi kemenangan. "Kak Arisandra! Lisa! Apakah kalian kurang bukti lagi?! Apa yang dikatakan Leon 100% membuktikan bahwa orang ini adalah penipu kelas teri yang mencoba menguras harta keluarga kita! Dia ditinggalkan kekasihnya karena tidak berharga, lalu sekarang bermimpi ingin menempel pada keluarga Arisandra!"
Pak Surya Hartono mendengus dingin, menatap Dirga dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara. "Surya, saya tidak menyangka kediaman sekelas Arisandra bisa kemasukan pemuda benalu seperti ini. Seharusnya petugas keamanan luar langsung menyeret orang semacam ini ke kantor polisi sebelum dia melakukan penipuan lebih jauh."
Di tengah badai cemoohan, tuduhan, dan riak penghinaan yang mengepung ruang makan tersebut, Dirga tetap duduk tegap. Ia tidak sedikit pun menundukkan kepala atau memperlihatkan raut wajah minder. Jemarinya tertata rapi di atas meja. Mata batin dan ketenangan jiwanya yang telah terpotong penderitaan masa lalu membuat seluruh serangan verbal Leon terasa bagai debu terbang di hadapannya.
Dirga perlahan mengangkat pandangan matanya. Sorot matanya yang dingin, tajam, dan sarat akan wibawa terhalus mengunci pandangan Leon secara lurus.
"Ceritamu sangat lengkap, Leon," panggil Dirga dengan suara rendah, berat, dan tenang, seketika memotong kegaduhan di ruangan itu. "Kamu mengingat setiap detail masa lalu saya dengan sangat baik. Tapi sayangnya, kamu terlalu sibuk membanggakan keangkuhanmu hingga lupa melihat ke mana roda takdir sedang berputar."
Leon tertegun sejenak menyaksikan ketenangan Dirga yang tidak goyah sedikit pun, namun ia dengan cepat menguasai dirinya dan mencibir kasar.
"Roda takdir?" ejek Leon dengan tatapan berapi-api. "Pecundang seperti kamu bicara soal takdir? Kamu pikir dengan memakai kemeja rapi ini kamu bisa menghapus kenyataan bahwa kamu hanyalah tukang ojek yang pernah memungut uang ratusan ribu di lantai kafe saat saya lempar ke dadamu?"
"Uang yang kamu lemparkan itu menunjukkan betapa rendahnya cara berpikirmu, Leon," balas Dirga lurus, intonasi suaranya memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Kamu mengukur harga diri manusia dengan kilauan harta orang tuamu. Masa lalu saya sebagai OB dan penderitaan saya bukanlah sebuah aib yang harus saya sembunyikan. Itu adalah tempaan yang membentuk saya menjadi pria yang berdiri di atas kakinya sendiri hari ini, tanpa perlu bersembunyi di balik ketiak dan kekayaan ayahnya."
Kata-kata Dirga yang menohok dan sarat akan martabat seketika membuat wajah Leon memerah padam karena murka. Pak Surya Hartono ikut tersinggung dan melangkah maju dengan wajah mengeras.
"Kurang ajar sekali mulutmu, Pemuda!" bentak Pak Surya Hartono dengan nada berwibawa namun kasar. "Kamu berani menyindir putra saya di hadapan saya?!"
"Saya tidak menyindir, Pak Surya," timpal Dirga dingin. "Saya hanya menyatakan fakta di hadapan orang-orang yang merasa dirinya begitu tinggi hingga lupa bahwa takdir bisa meruntuhkan kesombongan mereka dalam sekejap."
Tante Siska berdiri dari kursinya, menudingkan jarinya ke arah Dirga dengan amarah yang meluap-luap. "Kak Arisandra! Lihat pemuda miskin ini! Sudah terbukti dia penipu, mantan OB dipecat, dan ditinggalkan wanita, tapi mulutnya masih begitu lancang menghina tamu penting kita! Panggil penjaga sekarang! Seret tukang ojek ini keluar dari rumah kita!"
Pak Arisandra mengepalkan tangannya di atas meja. Wajah sang penguasa Larasati Group itu tampak sangat keruh dan dipenuhi keraguan yang mendalam. Pengakuan Leon mengenai latar belakang Dirga sebagai mantan OB yang dipecat secara tidak terhormat dan terlilit utang kasbon menghantam dasar pertimbangan bisnisnya dengan sangat keras.
"Dirga..." suara Pak Arisandra terdengar sangat dingin dan berat. "Penjelasan Leon mengenai masa lalumu... Apakah semua itu benar?"
Dirga menatap Pak Arisandra tanpa keraguan sedikit pun. "Benar, Pak Arisandra. Saya pernah menjadi OB, saya pernah mengalami penolakan, dan saya pernah berada di titik terendah. Saya tidak pernah membantah dari mana saya berasal."
Pak Arisandra menarik napas panjang, kekecewaan tercermin jelas di matanya. "Jika itu benar, maka keraguan keluarga saya terbukti secara rasional. Saya menghargai keberanianmu datang ke sini, tapi Larasati Group dan keluarga Arisandra tidak bisa berurusan dengan seseorang yang memiliki rekam jejak finansial dan kerugian integritas di masa lalunya. Saya minta kamu—"
"CUKUP!"
Sebuah teriakan lantang, sarat akan kemarahan dan ketegasan yang tak terbendung mendadak membahana di dalam ruang makan mewah tersebut.
Lisa berdiri dari kursinya! Kedua telapak tangannya menekan permukaan meja makan dengan sangat kuat. Wajah cantiknya memerah dipenuhi rasa amarah yang memuncak, matanya menyapu sekeliling ruangan dengan tatapan tajam berapi-api yang mengejutkan semua orang, termasuk ayahnya sendiri!
Suasana ruang makan seketika hening mencekam. Tante Siska, Chintya, Leon, dan Pak Surya Hartono terhenyak, membisu di tempat mereka berdiri.
"Lisa!" panggil Pak Arisandra dengan nada terkejut. "Apa-apaan kamu ini?!"
"Saya yang seharusnya bertanya pada Ayah dan kalian semua, apa-apaan sikap kalian ini?!" seru Lisa dengan intonasi tinggi penuh wibawa dan keberanian yang membakar. Matanya membara menahan rasa geram yang amat sangat. "Apakah kemewahan dan status sosial telah membutakan mata dan hati kalian hingga kalian tidak bisa lagi membedakan mana manusia yang bermartabat dan mana manusia yang berbisa?!"
Tante Siska melotot heran. "Lisa! Leon baru saja membeberkan bahwa pemuda ini penipu dan mantan OB yang—"
"Diam Tante Siska!" bentak Lisa tanpa ragu, memotong ucapan tantenya secara lurus dan tajam hingga Tante Siska terperanjat mundur. "Tante tidak tahu apa-apa! Chintya tidak tahu apa-apa! Dan kamu, Leon..." Lisa memutar pandangannya, menatap Leon dengan tatapan penuh rasa jijik dan penghinaan yang mendalam. "...kamu hanyalah pria picik yang merasa berkuasa hanya karena uang orang tuamu!"
Leon terperanjat, mukanya memerah karena dipermalukan secara terbuka oleh wanita paling bergengsi di Larasati Group. "Lisa! Saya bicara berdasarkan kenyataan! Dia itu—"
"Kenyataan apa?!" potong Lisa dengan suara bergetar namun mantap. "Kenyataan bahwa pria yang kalian hina sebagai mantan OB ini adalah orang yang menyelamatkan Larasati Group dari kerugian ratusan miliar rupiah akibat kecurangan Orang dalam sendiri?! Kenyataan bahwa Dirga adalah orang yang menolak uang imbalan lima miliar rupiah dari saya demi menjaga harga dirinya?!"
Pak Arisandra terhenyak di tempat duduknya, terkejut mendengar kemarahan putrinya yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Lisa melangkah satu tindak, berdiri secara pasang badan persis di depan Dirga, menghadap ayah dan seluruh tamu di ruangan tersebut.
"Hari ini..." lanjut Lisa dengan nada suara melunak namun penuh penekanan yang menusuk kalbu, "...anak perusahaan kita terdesak likuiditas dan sengaja menjual rugi lahan Desa Sukamaju seharga tiga ratus juta rupiah. Tapi apa yang dilakukan Dirga? Pria yang kalian tuduh ingin menguras harta keluarga Arisandra ini justru menolak harga murah itu! Dia membayar kita secara penuh lima ratus juta rupiah dari uang modalnya sendiri, hanya karena dia tidak mau memanfaatkan posisi kita yang sedang terdesak!"
Tante Siska dan Chintya terbelalak dengan mulut terbuka lebar. Leon dan Pak Surya Hartono membeku, terkejut mendengar fakta nominal transaksi tunai tersebut.
"Dirga memiliki integritas, kehormatan, dan kemampuan yang seratus kali lebih tinggi daripada orang-orang berjas mahal di ruangan ini yang hanya bisa menyebarkan dengki!" seru Lisa lantang, dadanya naik turun menahan gumpalan emosi. Ia lalu memutar tubuhnya, menatap Pak Arisandra secara lurus. "Ayah! Jika Ayah mengusir Dirga malam ini hanya karena mendengarkan bualan orang-orang sombong ini, maka Ayah tidak hanya mengusir penyelamat perusahaan kita, tapi Ayah juga telah menghancurkan rasa hormat saya pada Ayah sebagai seorang pimpinan!"
Pernyataan konfrontatif dari Lisa membuat suasana di meja makan keluarga Arisandra memanas hebat, meninggalkan seluruh ruangan dalam gemuruh ketegangan yang membakar.