Aksinya gagal karena Darius terhipnotis oleh seseorang yang tertidur disofa,wajahnya sangat mirip dengan Sinta kekasihnya yang meninggalkannya karena Darius selalu membuat kecewa.
Apa Sinta akan membuka kembali hatinya?
Apa Darius mampu mencuri kembali hati Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone pak Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Darius meraih kembali baju yang dilepasnya,namun dia kembali meletakkan diatas ranjang karena panggilan alam yang harus segera dia selesaikan.Ada rasa bergetar namun harus dia kendalikan,dia hanya berusaha menahan nafas dan menghembuskannya,Darius keluar dari kamar Sinta dia menuruni tangga dan melihat Alvin tengah sibuk didapur bersama Bibi pembantu.
"Vin,kamu gak sekolah?"tanya Darius
"Udah telat Pa."jawab Alvin
Darius meraba arloji dipergelangan tangannya namun dia lupa tadi melepas dan meletakkan diatas nakas,dia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam delapan kurang.
"Pa,sarapan dulu biar aku bawa ini keatas."kata Alvin
Darius mengangguk,dia duduk dimana semestinya namun Alvin meraih tangan dan memberikan kursi dimana Mamanya selalu duduk.
"Mulai sekarang Papa duduk disini."kata Alvin
Melihat interaksi antara Alvin dan Darius yang sangat dekat membuat Bibi yang sudah merawat Alvin dari kecil ikut tersenyum,dia mendekati Darius saat Alvin tidak terlihat lagi.
"Jadi Bapak Papanya Mas Alvin ya?"tanya Bibi
"Menurut Bibi?"tanya Darius
"Sudah Bibi duga,kalian memiliki wajah mirip."jawab Bibi sambil menuangkan minuman kedalam gelas Darius
Darius banyak mengobrol dengan Bibi bahkan asisten satu lagi yang usianya lebih muda dari Sinta ikutan nimbrung karena Darius orangnya senang bercanda.
"Pak,dulu pernah ada pacar Ibu kerumah tapi Mas Alvin menolak."kata Sumi
"Iya Pak,tapi dengan Bapak Mas Alvin langsung lengket."kata Bibi
Darius masih menyesap kopi dan sepotong roti,dia kembali menatap keatas dimana Sinta sedang terlelap.
Alvin berusaha membangunkan Mamanya meski sedikit kesulitan,Sinta membuka mata dan tersenyum kearah Alvin,pelan-pelan bangun dan menatap nakas,ada ponsel dan arloji milik Darius disana.
"Aih,Mama.Papa sedang sarapan,ntar lagi juga kesini,perlu aku panggil?atau Mama perlu dokter Ruli datang?"tanya Alvin
"Mama udah baikan."jawab Sinta
"Ya iyalah pasti,tadi dipeluk sama Papa,apa Mama lupa?"tanya Alvin
Sinta tidak menjawab,dia memalingkan wajah dengan memasang senyum,rasa bencinya kepada Darius memudar seketika menjadi rasa rindu.
Darius masuk kembali kedalam kamar Sinta,setelah mandi dan ganti baju,dia memakai baju Alvin dan memperlihatkan tubuhnya yang kekar.
"Ma,tuh Papa udah wangi,aku keluar dulu."kata Alvin
"Kamu gak sekolah?"tanya Sinta
"Telat tadi."jawab Alvin
Sinta berusaha mencari ponselnya,dia meraba dibawah bantal namun tidak menemukan,Darius yang melihat langsung memberikan kepada Sinta.
"Ini."kata Darius
"Makasih."kata Sinta sambil meletakkan mangkuk diatas nakas
"Sin,makanmu dikit kali,sini aku suapi."kata Darius
Sinta menyalakan ponselnya namun kehabisan daya,dia meminta Darius untuk mengisi daya disudut ruangan.
Sinta meraih kembali mangkuk yang belum habis separuh,namun tangan Darius menahannya.
"Sudah kubilang,biar aku suapin kamu."kata Darius
Darius tersenyum melihat Sinta menghabiskan makanannya tanpa protes,dia berusaha meraih gelas dan minum hingga habis.
Sinta menatap ponsel Darius yang bergetar,namun Darius hanya meletakkan kembali diatas nakas.
"Kenapa gak diangkat?"tanya Sinta
"Gak penting,kamu butuh sesuatu?"tanya Darius
"Tidak,sudah cukup."jawab Sinta
Sinta kembali menata bantal dan kembali berbaring,pelan-pelan matanya tertutup dan kembali terlelap,Darius meninggalkan setelah menyelimuti dan memasang pendingin ruangan dengan suhu lebih hangat.
Darius meraih ponsel dan keluar dengan membawa nampan gelas dan mangkuk kosong,diruang tengah terlihat Alvin sedang serius menatap laptopnya bersama dengan seorang wanita seusia Sinta.
"Vin,Papa keluar sebentar."kata Darius
"Jangan lama-lama Pa."kata Alvin
"Bentar aja."kata Darius
Alvin melihat Darius keluar tanpa membawa tas ranselnya,itu tandanya Papa hanya pergi sebentar,lamunannya terhenti saat Mbak Melani menyenggol lengannya.
"Kamu panggil dia apa?"tanya Melani asisten Mama
"Papa,kenapa?"tanya Alvin
"Papa kandung atau pacar Mama?"tanya Melani
"Aku gak mau Mama punya pacar kecuali Papa."jawab Alvin
Melani kembali serius dengan pekerjaannya,karena Sinta tidak kekantor Melani yang datang membawa kerjaan kerumah.
Menjelang siang pekerjaan dan ponsel Melan terus berbunyi,dia hanya membalas dengan pesan karena kewalahan.
Darius kembali kerumah.orang tuanya dia menemui Mama dan Papanya karena ingin minta ijin.
"Ma,Pa.Aku ingin segera menikahi Sinta."kata Darius
"Kapan?"tanya Papa
"Secepatnya,aku cuma minta kalian suport aku."jawab Darius
"Perlu pesta besar?"tanya Mama
"Ma,kami bukan pasangan muda lagi,aku rasa Sinta juga tidak setuju."jawab Darius
"Darimana kamu tahu Sinta tidak setuju?"tanya Mama dan Papa kompak
Darius tidak menghiraukan lagi pertanyaan Mama dan Papanya,dia menghubungi Marco dan Beno untuk membantu mempersiapkan pernikahannya.
"Ben,bantu siapkan pernikahanku segera."kata Darius
"Bos,kamu mau menikah?dengan siapa?"tanya Marco
Darius buru-buru menepis karena hanya akan mendapat pertanyaan lagi dari anak buahnya,Papa hanya menggelengkan kepala saat melihat tingkah anak keduanya yang kini sudah sukses tanpa bantuan dan nama keluarga.
"Kapan kamu kembali keperusahaan?"tanya Papa
"Berikan saja kepada Kakak."jawab Darius
"Papa gak setuju,kamu harus kembali keperusahaan!"kata Papa sedikit keras
"Ya sudah,berikan saja langsung kepada Alvin."kata Darius
Mama spontan menoleh kearah Darius,pandangannya datar bahkan tanpa berkedip seolah masih tidak rela jika perusahaan jatuh ketangan yang salah.
"Pa,lihat Mama pasti gak setuju."kata Darius
"Kamu ini."kata Papa sedikit geram
"Pa,Alvin gak berminat sama sekali,dia lebih memiliki karakter sama denganku,suka yang kotor-kotor."kata Darius
Papa memukul Darius dengan tongkatnya,meski kesan pertamanya saat melihat Alvin sangat menyakinkan namun Papa juga belum sepenuhnya mengenal dan yakin kepada Alvin.
"Suruh dia menginap disini akhir pekan ini."kata Papa
"Gak mau."kata Darius
"Darius!bisa gak serius sedikit!"kata Papa menekan keras suaranya
Darius bangun dari duduknya,dia berjalan meninggalkan kedua orang tuanya tanpa menoleh lagi karena dia yakin Papa akan lebih keras kepada Alvin jika menuruti kemauannya,lebih baik Alvin terus bersama dengan Sinta,dan Darius memutuskan untuk tinggal dirumahnya.
Darius meminta kepada Marco dan Beno mengantar beberapa baju kerumah yang menjadi tujuan mereka kemarin,dia akan menunggu disana.
"Antar beberapa baju kerumah kemarin,aku tunggu kalian disana."kata Darius sambil menyalakan mobil milik Alvin yang kemarin ditinggal dirumah Papa
Menjelang makan siang Darius kembali kerumah,melihat Alvin masih sibuk dia mencoba menawarkan bantuan
"Butuh bantuan?"tanya Darius
"Tentu."jawab Alvin
Darius menarik laptop milik Alvin,dia mulai mengerjakan sementara Alvin beranjak dan merebahkan tubuhnya disofa.
Marco dan Beno datang dengan membawa tas besar,mereka ragu mau masuk karena khawatir bertemu dengan Sinta.Hanya dengan menghubungi Darius mereka baru berani masuk.
"Bos,ini bajumu."kata Beno
"Vin,ini sudah selesai."kata Darius
Melani hanya melongo melihat cara kerja Darius,begitu cekatan dan saat Melan melihat hasilnya sangat rapi.
"Pak,ini kamu yang mengerjakan barusan?"tanya Melani