Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 05

Suara gemercik gerimis di luar rumah mengiringi suasana hening di ruang tengah lantai satu. Jam dinding menunjukkan tepat pukul 20.00 WIB. Sesuai dengan titah tak terbantahkan dari sang Ketua OSIS, Kirana kini duduk bersila di atas karpet tebal dengan tumpukan buku paket Kimia dan Matematika yang mengapitnya.

Di seberang meja kaca, Kenan duduk dengan kemeja kasual berlengan panjang yang digulung rapi hingga siku. Kacamata berbingkai tipis bertengger di pangkal hidungnya, sebuah pemandangan baru yang hanya bisa dilihat Kirana di rumah, yang sukses membuat aura kecerdasan cowok itu meningkat berlipat ganda.

"Fokus, Kirana," tegur Kenan datar tanpa mengalihkan pandangan dari buku latihan fisika di tangannya. "Sudah lima menit lo cuma memandangi rumus nomor tiga tanpa nulis satu angka pun."

Kirana tersentak, cepat-cepat mencengkeram pulpennya erat-erat. "Gue lagi mikir! Ini rumusnya sulit banget, lagian kenapa harus ada integral di dalam soal cerita sih? Gak masuk akal!"

Kenan menghela napas tipis, meletakkan pulpennya, lalu menggeser duduknya rapat ke samping Kirana. Aroma mint dan sabun mandi yang segar dari tubuh Kenan mendadak menginvasi indera penciuman Kirana. Jarak mereka begitu dekat hingga lengan mereka saling bersentuhan.

"Mana yang gak Lo paham?" tanya Kenan pelan namun sedikit ketus.

"I-ini..." Kirana menunjuk sebuah soal turunan fungsi dengan jari gemetar, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang mendadak tidak normal. "Gue gak ngerti kenapa variabel ini harus diturunkan dulu sebelum dimasukkan ke rumus utama."

Kenan mengambil pulpen dari jemari Kirana, menyenggol pelan jemari cewek itu hingga membuat Kirana menahan napas. “Sialan! gue kenapa jadi deg-degan gini sih, ck” batin nya kesal sendiri.

Dengannya yang telaten, Kenan mulai menuliskan deretan angka dan penjelasan langkah demi langkah di lembar kertas kosong.

"Lihat pola ini," bisik Kenan, suaranya yang bariton terdengar sangat hangat di telinga Kirana. 

"Variabel ini mewakili laju perubahan. Kalau lo gak nurunin dulu, hasil akhirnya bakal bias. Paham?"

Kirana bukannya memperhatikan kertas, melainkan malah terhipnotis menatap garis rahang Kenan yang tegas dan cara bibir cowok itu bergerak saat menjelaskan.

"Kirana," panggil Kenan, memalingkan wajahnya hingga pandangan mereka saling terkunci dari jarak kurang dari sepuluh sentimeter. "Lo dengerin gue atau melamun?"

"Eh…P-paham!" bohong Kirana cepat sambil mengangguk-angguk berlebihan. "Paham banget! Pokoknya diturunin dulu, kan?"

Sudut bibir Kenan terangkat tipis. Ia menarik pelan ujung hidung Kirana dengan dua jarinya hingga cewek itu meringis. 

"Bohong lo. Ulangi cara ngerjainnya dari awal."

"Aduh! Kenan! Sakit tahu!" amuk Kirana sambil mengelus hidungnya yang memerah. "Lo guru paling galak dan menyebalkan se-dunia!"

"Dan lo murid paling pemalas," balas Kenan santai, namun ada binar geli di matanya yang dingin.

 "Kerjakan tiga soal di bawahnya. Kalau benar semua, gue izinkan lo tidur. Kalau ada yang salah satu aja, tambah lima soal lagi."

"Ancaman macam apa itu?!" jerit Kirana frustrasi, namun mau tak mau ia mulai menundukkan kepala dan mencoret-coret kertasnya dengan serius.

Selama satu jam berikutnya, ruang tengah itu dipenuhi oleh ketukan pulpen, rintik hujan di luar, dan desah nafas Kirana yang bersusah payah mengerjakan soal-soal tingkat tinggi buatan sang juara umum sekolah itu. 

Di balik sikap kaku dan menuntutnya, Kenan dengan sabar membenarkan kesalahan perhitungan Kirana tanpa sekalipun meninggikan suara.

…

Keesokan harinya di sekolah, rumor mengenai kotak bekal edisi terbatas kemarin rupanya belum sepenuhnya padam. Meskipun penjelasan Kenan mengenai 'hubungan pertemanan ibu mereka' berhasil menepis dugaan miring, pandangan sinis dari beberapa siswi pendukung Clarissa masih mencurigai Kirana di sepanjang lorong.

Saat jam istirahat kedua, Kirana sedang berada di koridor dekat lapangan basket bersama Maya. Tiba-tiba dari arah lapangan, sebuah bola basket memantul kencang dan hampir saja mengenai kepala Kirana jika sebuah tangan jahil tidak menyergap bola tersebut dari samping.

"Ups, sorry! Hampir aja kena cewek manis," ujar Rendy dengan cengiran khasnya. Sang ketua tim basket itu menghampiri Kirana sambil mengusap keringat di lehernya dengan handuk kecil.

"Rendy! Lo kalau main hati-hati dong," celetuk Maya sambil terkekeh.

Rendy tertawa pelan, lalu menatap Kirana dengan pandangan hangat. "Sorry ya, Kir. Btw, soal tawaran nongkrong kemarin... gimana kalau Sabtu malam minggu ini? Lo gak ada acara keluarga lagi kan?"

Kirana menyentak kepala, mendadak bingung. Sebelum ia sempat merangkai kata-kata untuk menolak secara halus, sebuah langkah kaki yang mantap berbunyi memotong percakapan mereka.

Kenan melangkah mendekat dengan jas OSIS yang terpasang sempurna dan membawa lembaran dokumen evaluasi ekskul. Tatapan matanya yang kelam menghujam tepat pada Rendy, lalu beralih pada Kirana.

"Rendy," tegur Kenan dengan suara dingin yang memotong udara siang itu. "Jadwal penggunaan lapangan basket untuk jam istirahat sudah habis lima menit lalu. Harap rapikan peralatan dan kembali ke kelas."

Rendy memutar bola basket di jarinya, menatap Kenan dengan senyum tipis yang terkesan menantang. 

"Kalem kali, Nan. Cuma telat lima menit doang. Gue lagi ngobrol sama Kirana sebentar."

"Ketertiban tetap ketertiban," potong Kenan tanpa emosi, namun auranya yang intimidatif membuat atmosfer di koridor berubah tegang seketika. 

"Dan Kirana, guru Kimia mencari kelompok lo di laboratorium sekarang."

"Eh? Bu Siska nyariin gue?" Kirana terperanjat bingung.

"Sekarang," tegas Kenan tanpa memberi ruang untuk bantahan.

Kirana yang tidak mau memicu keributan lebih lanjut di depan banyak murid akhirnya mengangguk cepat. 

"A-ah, iya! Ren, gue ke lab dulu ya! May, ayo!"

Kirana menarik tangan Maya dan bergegas pergi meninggalkan koridor. Rendy hanya bisa mengarahkan pandangannya pada punggung Kirana yang menjauh, lalu menatap Kenan yang masih berdiri mematung di tempatnya.

"Lo posesif banget sama murid biasa kayak Kirana, Nan," gumam Rendy dengan nada bercanda namun penuh arti. "Atau rumor soal ibu lo dan ibunya Kirana itu cuma alibi?"

Kenan membetulkan posisi jam tangan hitam di pergelangan tangannya, menatap Rendy lurus tanpa kedipan. "Urus saja tim basket lo agar tidak memalukan di kejuaraan bulan depan. Jangan mencampuri urusan yang bukan urusan lo”

Tanpa menunggu balasan dari Rendy, Kenan membalikkan badan dan melangkah pergi dengan aura membekukan.

Malam harinya, hujan deras kembali mengguyur kota dengan lebih lebat dibanding malam sebelumnya. Kirana yang sedang menonton televisi di ruang tamu merasa janggal karena hingga pukul 20.30 WIB, Kenan belum juga keluar dari kamarnya di lantai atas. Padahal biasanya, jam segini cowok itu sudah berdiri di depan meja makan membawa segelas air hangat atau siap untuk sesi belajar.

"Tumben si Es Batu belum turun?" gumam Kirana pada dirinya sendiri. "Apa dia ketiduran gara-gara capek rapat OSIS tadi?"

Karena penasaran dan sedikit kepedulian yang tak mau ia akui, Kirana menaiki anak tangga menuju kamar utama Kenan di lantai dua. Ia berdiri di depan pintu kayu yang tertutup rapat, mengetuknya pelan.

Tok! Tok! Tok!

"Ken? Lo udah tidur?" panggil Kirana.

Tidak ada jawaban. 

Hanya terdengar suara gemuruh angin dan hujan di luar.

Kirana mencobanya sekali lagi, memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Ia mendorong pintu itu perlahan dan mengintip ke dalam.

Kamar Kenan tampak sangat rapi dan minimalis. Lampu utama mati, hanya disinari oleh lampu tidur bersinar remang di sudut ruangan. Di atas tempat tidur besar, Kenan berbaring meringkuk dengan selimut tebal yang menutup tubuhnya hingga ke dada. Nafasnya terdengar berat dan tersendat-sendat.

Kirana melangkah mendekat dengan ragu. 

"Kenan?" Saat Kirana berlutut di samping kasur dan menyentuh dahi Kenan, ia langsung menarik tangannya kaget. Kulit Kenan terasa sangat panas.

"Astaga! Panas banget!" jerit Kirana pelan.

Kenan perlahan membuka matanya yang tampak merah dan sayu. Binar dingin yang biasa memancar dari manik matanya yang hitam kini berganti dengan raut lemah yang tak berdaya.

"Kirana...?" bisik Kenan dengan suara sangat serak.

"Lo demam tinggi, Kenan! Kenapa gak bilang dari tadi sih?!" omel Kirana mulai panik, rasa khawatirnya seketika membumbung tinggi melupakan rasa canggung di antara mereka. 

"pasti gara-gara kemarin lo kehujanan pas keliling mengecek area sekolah!"

Kenan mencoba untuk duduk, namun kepalanya yang terasa seberat beban ton membuat ia kembali menyandarkan kepala ke bantal sambil meringis. "Cuma pusing sikit... gak apa-apa..."

"Gak apa-apa gundulmu!" amuk Kirana spontan. "Muka lo udah pucat kayak mayat begini masih bilang gak apa-apa! Tahan di sini, gue ambil air hangat sama kompres!"

Kirana berlari turun ke dapur bagaikan angin puting beliung. Ia menyiapkan baskom berisi air hangat, selembar handuk kecil, dan mengambil obat penurun panas dari kotak P3K yang tersimpan di lemari atas. Ia juga menyempatkan diri menyeduh segelas teh hangat manis.

Dengan membawa nampan berisi perlengkapan darurat itu, Kirana kembali ke kamar Kenan. Ia meletakkan nampan di meja samping tempat tidur, lalu memeras handuk hangat dan menempelkannya dengan hati-hati di dahi Kenan.

Kenan memejamkan mata saat rasa hangat dari kompres itu menyentuh kulitnya. "Makasih..." lirihnya pelan.

"Minum obatnya dulu," bimbing Kirana, membantu merengkuh bahu tegap Kenan agar cowok itu bisa duduk bersandar di kepala ranjang.

Kirana menyodorkan butiran obat dan segelas air hangat. Kenan meminumnya tanpa protes.sebuah pemandangan langka yang membuat Kirana sadar betapa lemahnya Ketua OSIS-nya saat sedang sakit.

Setelah Kenan kembali berbaring, Kirana duduk di lantai samping tempat tidur, mengganti kompres di dahi Kenan setiap sepuluh menit sekali. Kenan menatap jemari Kirana yang sibuk bergerak mengurusnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kenapa ngeliat gue begitu?" tanya Kirana pelan, sedikit salah tingkah di bawah tatapan sayu Kenan.

"Gue kira..." suara Kenan terdengar sangat lemah di antara desir angin malam. "...lo bakal seneng kalau gue sakit. Jadi gak ada yang menghukum lo lagi di sekolah."

Kirana menghentikan gerakan tangannya. Hatinya terasa seperti dicubit mendengar ucapan itu. Ia menatap mata Kenan lurus-lurus.

"Gue memang benci kalau lo menghukum gue gara-gara hal sepele kayak tali tas," ucap Kirana jujur. "Tapi gue juga gak tega lihat lo sakit begini, Kenan. Biar bagaimanapun... lo itu kan suami gue sekarang. Dan lo udah banyak jagain gue."

Kenan terdiam. Perlahan, tangan Kenan yang terasa panas terangkat dari bawah selimut, meraih jemari mungil Kirana yang berada di tepi kasur dan menggenggamnya erat.

"Jangan dekat-dekat sama Rendy lagi," gumam Kenan tiba-tiba dengan nada rendah.

Kirana membelalakkan mata, kaget dengan peralihan topik yang mendadak. 

"H-hah? Soal Rendy tadi siang?"

"Gue gak suka," aku Kenan jujur, menyembunyikan wajahnya yang agak merona di balik bantal. "Gue gak suka lihat dia megang bahu lo, atau ngajak lo jalan."

Kirana membeku di tempatnya. Detak jantungnya mendadak bergemuruh jauh lebih keras dibanding suara petir di luar. 

Jangan bilang Kenan sedang cemburu.

"Lo... cemburu?" bisik Kirana penasaran. Sebenarnya ia tidak percaya seorang Kenan akan cemburu melihat nya dekat dengan cowok lain. Tidak mungkin Kenan menyukai nya.

Kenan tidak menjawab secara langsung. Ia hanya mempererat genggaman tangannya di jemari Kirana, menyandarkan pipinya yang hangat di atas jemari cewek itu sambil memejamkan mata.

"Tidur di sini malam ini," gumam Kenan lirih, matanya mulai terpejam berat akibat efek obat penurun panas. "Jangan kemana-mana."

Kirana menatap Kenan yang mulai tertidur lelap sambil memegang tangannya. Rasa hangat yang membuncah di dadanya tak lagi bisa dipungkiri. Dengan perlahan, Kirana menggunakan tangannya yang lain untuk merapikan poni rambut Kenan yang menutupi dahinya.

 "Oke. gue gak bakal  kemana-mana." Anggap saja sebagai ganti malam itu saat Kenan menemani nya karena takut petir.

“Apa memang seperti ini dia pas sakit, beda sekali pas nggak sakit, dingin banget kayak es batu” batin Kirana masih tak percaya namun tak dipungkiri bibir nya ikut terangkat membentuk senyuman.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!