Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Bayangan Yang Hilang
Jalanan kota yang padat merayap tersaji di balik jendela mobil kemudi. Jane duduk di samping Ethan, mendekap erat kotak perhiasan beludru berisi cincin berlian dan kalung safir biru yang baru saja dibeli. Wajahnya berseri-seri, dipenuhi rasa puas yang membuncah.
“Ethan, kamu benar-benar luar biasa,” bisik Jane manja. Ia melingkarkan kedua lengannya di lengan kiri Ethan, menyandarkan kepalanya mesra di bahu pria itu.
“Kalung ini sangat cantik. Aku sudah tidak sabar ingin memamerkannya di acara pertunangan kita nanti,” tambahnya menunjukkan antusias.
Namun Ethan sama sekali tidak merespons. Tangannya yang berada di pangkuan tampak mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya lurus menatap jalanan di depan, tetapi pikirannya tertinggal jauh di toko perhiasan tadi.
Bayangan Mia, tatapan matanya yang jernih tanpa beban, suaranya yang tenang saat menyapa 'Tuan Ethan', hingga senyum profesionalnya yang tanpa cela itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Bagaimana bisa wanita yang dulu menangis memohon kehangatan darinya, kini menatapnya seolah ia tak lebih dari sekadar bongkahan batu di pinggir jalan.
Dada Ethan kembali terasa sesak, dipenuhi penyesalan dan kegelisahan yang membakar jiwanya.
“Ethan? Kamu dengar aku, kan?” tanya Jane, sedikit merengut karena diabaikan.
Dari kursi kemudi, Marcus—manajer pribadi Ethan, yang sejak tadi mengamati gerak-gerik Ethan dari kaca spion tengah, akhirnya berdehem pelan. Suasana canggung di antara pasangan itu sudah cukup membuatnya gelisah.
“Ethan,” panggil Marcus dengan nada suara profesional, memecah kecanggungan di kabin mobil.
“Lupakan sejenak urusan perhiasan. Kita harus membahas briefing untuk proyek film terbarumu.”
Ethan sedikit tersentak, membasahi bibirnya yang mendadak kering. “Film terbaru?”
“Ya, skrip final untuk proyek film drama-romantis garapan Sutradara Aries sudah keluar tadi siang,” terang Marcus sembari memeriksa tablet di tangannya.
“Pihak rumah produksi menuntut fokus penuh darimu minggu ini. Karakter utama yang akan kamu mainkan sangat kompleks, seorang pria yang terjebak dalam rasa bersalah masa lalu setelah kehilangan wanita yang paling dicintainya.”
Kata-kata Marcus itu seketika bagaikan tamparan keras yang tepat menghantam kesadaran Ethan.
Pria yang terjebak masa lalu? Ethan tertawa getir di dalam hati. Bukankah itu peran yang sedang ia jalani secara nyata saat ini?
****
Ethan melangkah menyusuri lorong rumahnya yang hening, setiap langkahnya menggemakan kekosongan yang kian menghimpit. Rumah yang dulunya hangat dan penuh tawa itu kini menjelma menjadi sebuah istana yang dingin.
Di sudut ruang tamu, ia seolah melihat Mia sedang tersenyum lembut sembari merapikan vas bunga favoritnya. Di meja makan, bayangan Mia yang sedang sibuk menyiapkan sarapan dengan apron kumal menyapa ingatannya, mengingatkannya pada perhatian-perhatian kecil yang dulu selalu ia abaikan.
Ia melempar jaket sembarangan ke atas sofa, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah di sofa itu. Tangan kanannya menutupi matanya yang terasa berat dan panas. Rumah besar nan lapang ini mendadak terasa sempit.
Martha melangkah perlahan mendekat, memecahkan keheningan ruang tamu yang mencekam.
“Tuan Ethan, saya bawakan jus jeruk hangat untuk Anda,” ucapnya lembut sambil meletakkan gelas di atas meja.
Ethan tidak mengubah posisinya. Tangan kanannya masih menutupi wajahnya, sementara napasnya terdengar berat.
“Bawa pergi, Martha. Biarkan aku sendiri,” sahutnya dingin tanpa minat.
“Baik, Tuan,” balas Martha patuh. Ia mengangguk pelan, memungut kembali gelas tersebut dan berbalik untuk berjalan menuju dapur.
Namun, belum sempat Martha melangkah jauh, Ethan mendadak menegakkan tubuhnya. Perutnya melilit perih, memukul lambungnya dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Reaksi tubuh ini selalu muncul setiap kali stres berat menghantamnya.
“Mia!” panggil Ethan dengan suara serak yang memecah kesunyian rumah.
“Tolong buatkan sup. Perutku sakit lagi.”
Ia menunggu. Matanya menatap lurus ke arah lorong dapur dengan binar harapan yang rapuh. Dalam benaknya, Mia akan segera muncul membawa semangkuk sup ayam hangat, memandangnya dengan tatapan cemas, lalu mengomeli kebiasaannya yang kerap lupa makan.
Detik berlalu menjadi menit. Namun suasana tetap sunyi.
Tidak ada langkah kaki tergesa yang menghampirinya. Tidak ada aroma sup gurih yang menyeruak di udara. Tidak ada suara lembut yang menanyakan keadaannya.
Yang berdiri di ujung lorong hanyalah Martha yang tertegun, menatap sang majikan dengan pandangan iba dan serba salah.
“Tuan... Nona Mia sudah tidak tinggal di sini lagi. Nona Mia sudah pergi,” ujar Martha iba.
Kata-kata itu bergema pelan di dalam ruangan. Seketika menghancurkan ilusi yang baru saja dibangun oleh pikiran Ethan yang frustrasi. Pria itu terpaku. Tangan yang tadi melambai kini terkulai lemas di atas lututnya. Bayangan sosok Mia yang baru saja hadir di pelupuk matanya luluh lenyap seketika, menyisakan kebenaran pahit bahwa wanita itu memang benar-benar telah melangkah keluar dari kehidupannya.
Martha menatap Ethan dengan raut wajah serba salah. Tangannya meremas celemek yang dikenakannya sebelum memberanikan diri kembali bersuara.
“Tuan Ethan... kalau Tuan mau, saya bisa buatkan sup hangat untuk meredakan sakit perut Tuan,” tawar Martha lembut.
Ethan memejamkan mata rapat-rapat. Rasa nyeri di perutnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sesak yang menghantam dadanya. Ucapan Martha seolah menegaskan betapa hampa rumah yang ia tinggali saat ini.
“Tidak perlu, Martha. Jangan buat apa pun. Aku hanya butuh istirahat sekarang,” tolak Ethan. Suaranya terdengar serak dan dingin, menahan gejolak emosi di dalam dada.
Tanpa menunggu balasan dari Martha, Ethan bangkit berdiri. Langkah kakinya terasa berat dan limbung saat menaiki tangga menuju lantai dua.
Begitu sampai di kamar utama, Ethan memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Ia tidak repot-repot menyalakan lampu. Dalam kegelapan yang remang, ia melangkah mendekati ranjang berukuran besar di tengah ruangan dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
Ethan membenamkan wajahnya di atas bantal, menghirup udara yang kini tak lagi menyimpan aroma harum tubuh Mia.
Saat ia membalikkan tubuhnya menatap langit-langit kamar, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah sofa panjang yang terletak di sudut ruangan.
Seketika, ingatannya melayang ke masa lalu.
Di atas sofa tua itu, bayangan Mia mendadak hadir begitu nyata. Ethan teringat malam saat ia terserang demam tinggi tahun lalu. Mia menolak tidur di kasur dan memilih meringkuk di atas sofa sempit itu hanya agar bisa terbangun setiap jam untuk mengganti kompres di dahi Ethan, serta memastikan suhunya turun.
Ia ingat betul bagaimana wajah lelah Mia yang tertidur dalam posisi tidak nyaman, namun jemarinya masih setia menggenggam erat jemari Ethan sepanjang malam.
Ethan mengepalkan tangannya di dada, merasakan sakit perutnya yang kian melilit beradu dengan penyesalan luar biasa yang kini meremukkan jantungnya.
“Mengapa sekarang aku baru merindukanmu?” bisik Ethan pelan.
–tbc–