Keadaan memaksaku harus menikahi
seorang tuan muda idiot.
Aku harus menuruti perintah ibu tiri ku untuk menerima pinangan keluarga pak Darmawan seorang pengusaha ternama. dengan alasan balas budi karena telah membesarkan ku.
Apalagi dengan ancamannya akan menyiksa ayahku, aku tak bisa menolak.
Namun seiring waktu, aku bisa berdamai dengan nasibku, apalagi setelah meninggalnya pak Darmawan dan istri dalam sebuah kecelakaan. Hal itu membuat suami idiot ku kehilangan pegangan. banyak orang ingin melenyapkannya karna dia pewaris tunggal kekayaan orang tuanya.
Hanya akulah satu-satunya orang yang dekat dengannya.
Satu persatu misteri terkuak. Di antaranya, kematian mertuaku ternyata ada hubungannya dengan ibu tiriku.
Sanggupkah aku mempertahankan rumah tanggaku bersama suami idiot itu?
ikuti kisahnya...
Hy semua..!
Aku datang lagi dengan cerita yang agak beda dikit dari biasanya. Mohon dukungannya terus ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Aku agak kesulitan membujuk Wisnu yang tidak mau makan. Ia terus meratap Karena di tinggal orang tuanya.
"Nu, ayo makan dulu..!"
"Nunu tidak mau makan, papa dan mama disana pasti kelaparan juga."
"Tidak begitu, orang meninggal sudah tidak bisa merasakan kenyang dan lapar. Lain dengan kita yang masih hidup." aku jelaskan dengan sabar. Dan akhirnya dia mau aku suapi.
"Biik... !" terdengar teriakan keras dari kamar bawah.
Setelah aku intip ternyata Yudis sedang memarahi Bik Sari.
"Aku sudah bilang, tidak kopinya jangan terlalu manis.ctapi kenapa tidak mendengar perintahku ha?"
Bik Sari ketakutan.
"Maaf, Den. Bibi tidak sengaja."
Tante Rasti datang karena mendengar keributan itu.
"Kenapa lagi?"
"Ini Mam, Bik Sari mulai bertingkah setelah pak De dan Bu De tidak ada." Yudis mengadu pada mamanya.
"Jangan begitu, dong Bi. bagaimanapun, papanya Yudis sekarang yang mengatur rumah ini. Jadi hargai dong Yudis sebagai tuan muda yang baru." ucapnya pelan.
Aku yang ikut mendengar merasa muak dengan senyum munafik nya.
Sangat jelas kalau mereka hendak menguasai harta Wisnu.
Aku membawa piring kotor kebelakang.
Yudis yang sedang duduk, tak sengaja melihatku.
Iya sengaja mencegat langkahku.
"Nara, kau yakin masih mau melayani si idiot itu? Buat apa? Mending sama aku, sudah tampan, dan yang jelas sekarang aku kaya raya."
Aku sangat marah oleh ucapannya.
"Apa pantas kau berkata begitu tentang kakakmu? Wisnu adalah suami ku. bagiku, dia lebih baik seratus kali dari pada kau." ucapku ketus.
Bukannya marah, pemuda itu malah terkekeh.
"Aku tau, kau masih malu mengakuinya. Lagian siapa sih yang tahan dengan pria dewasa yang berjiwa anak-anak? Ayolah sayang... Aku yakin bahkan kau belum pernah merasakan malam pertama." Yudis meraih tanganku. Dengan cepat kutarik dan aku tampar pemuda jurang ajar itu.
"Jangan samakan aku dengan wanita penghibur di luar sana. Aku wanita yang bersuami. Apapun keadaan Wisnu saat ini, dia adalah suamiku."
Aku berlalu meninggalkan Yudis yang memegangi pipinya. Ia terlihat sangat marah padaku, mungkin juga dia tersinggung karena ucapanku. Masa bodo lah, tugasku hanya satu di rumah ini. yaitu melindungi Wisnu dari kejahatan keluarganya sendiri.
Hati ku masih sangat kesal saat Tante Rasti datang ke kamarku.
"Nara, tolong buka pintunya,!"
Saat ku buka pintu, nongol wajah wanita yang yang sedang memasang senyum palsunya.
"Boleh Tante masuk?"
Aku mengangguk saja. Ia menebarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Begini, mengingat kau baru disini dan belum terlalu mengenal seluk beluk rumah ini, bagaimana kalau Tante saja yang menegang kunci itu...?" ucapnya dengan senyum lebar
Walau sempat terkejut, aku berusaha bersikap tenang.
"Owh kunci itu? Itu dia masalahnya .. Waktu itu Wisnu memintanya dan aku kasi, eh malah dia menghilangkannya. Aku juga sedang bingung bagaimana caranya agar dia ingat, dimana dia meletakkan kunci itu."
Aku lirik wajahnya sekilas tampak kecewa,
"Sayang sekali, kenapa kamu berikan pada Wisnu?"
"Ya, kupikir toh itu juga miliknya, jadi ya .. ku kasi saja."
"Ya sudah. Tante permisi dulu."
Wanita culas itu berhasil aku kelabui.
Padahal kunci brankas itu masih ada di tempat yang kurasa cukup aman.
"Rasain kau benalu, pasti dia kalang kabut mencarinya." aku tersenyum puas.
Dengan malas aku melihat keluar saat mendengar suara ribut di bawah.
Astaga Wisnu?
Sontak aku berlari turun. Ku lihat Tante Rasti sedang memarahi Wisnu.
Wisnu tampak ketakutan, dia segera bersembunyi di belakangku.
"Kenapa Tante memarahinya?" tanyaku tak suka.
"Sudahlah, Nara... Jangan sok jadi pembela."
"Aku tidak sok, aku memang akan membela Wisnu. Memang apa yang sudah dia lakukan?"
"Dia makan es krim dan belepotan di mana-mana. Tante hanya menegurnya."
Aku menggeleng heran.
"Tante... Kalau cuma itu kenapa harus membuatnya ketakutan begitu? Kan bisa menyuruh bibik untuk membersihkannya."
Tante Rasti melenggang pergi.
Aku menenangkan Wisnu yang masih ketakutan.
Mulai saat itu, permusuhan di antara kami semakin kentara. Aku dan Wisnu lebih suka makan di kamar saja. Tidak pernah lagi duduk semeja dengan mereka.
Entah kenapa pula, Wisnu sangat ketakutan kalau melihat Om nya. seperti trauma yang aku sendiri tidak tau
"Nu, aku mau pulang menjenguk ayahku. kau tidak apa-apa, kan?"
"Nunu mau ikut..! Nunu takut kalau tidak ada Nara." ucapnya polos.
Memang sangat berbahaya membiarkan Wisnu di sini. Bisa saja dia akan di jahati lagi oleh Yudis.
Tapi kalau membawanya juga aku merasa risih. Semua tetanggaku pasti akan bergunjing.
"Nu, aku hanya sebentar saja, kok. Nunu diam bersama Bik Sari, ya."
Setelah ku beri pengertian, akhirnya Wisnu mengerti.
Setelah menitipkan Wisnu pada Bi Sari. Diam-diam aku pergi dari rumah menggunakan sepeda motor.
Niatku hanyalah menjenguk ayah.
Ayah sangat gembira melihat kedatanganku. Ia langsung bangkit dari tempat tidurnya.
Ayah sendirian saja di rumah. Bu Marni dan anaknya tidak kelihatan
"Keterlaluan sekali mereka, membiarkan ayah yang sedang sakit sendirian begini." aku menggerutu sendiri.
Aku pergi kedapur, niatku hendak membuatkan bubur untuk ayah. Tapi saat melewati kamar Salsa. langkahku terhenti. Ada suara ******* yang saling bersahutan. ******* yang siapapun pasti bisa menebak sedang apa pemilik suara itu sendiri.
Apalagi buat gadis yang seusiaku. Walaupun belum pernah merasakannya, tapi aku tau.
lalu siapa yang ada di dalam kamar itu saat ini? ah tentu saja Salsa.
Aku berjingkat lebih mendekat
Dari lubang kunci aku bisa melihat sedikit.
Dadaku berdebar kencang. Disana aku melihat Andri sedang bergumul dengan seseorang. Dan aku bisa menebak dengan siapa Adri saat itu, pasti Salsa. Yang ku tau Andri adalah pacarnya Salsa.
Aku pikir buat apa mencari masalah dengan adil tiriku itu. Aku terus melangkah kedapur.
Setelah membuatkan ayahku bubur, terus. Aku antarkan ke kamarnya.
Sengaja aku tidak memberitahu ayah tentang apa yang aku lihat barusan.
Ayah makan dengan lahap. entah karena lapar atau karena aku yang menyuapinya.
"Ayah, Nara mau balik dulu ketempat Wisnu, kasian dia sendirian. Semenjak papa dan mamanya meninggal, hanya aku temannya. Memang ada keluarganya yang lain, tapi mereka memperlakukan Wisnu seperti orang asing."
"Iya, Nak. Pergilah.. Ayah sudah tidak apa-apa." ayah tersenyum memeluk ku.
Aku keluar dari kamar Ayah. Saat itu aku kaget melihat Bu Marni keluar juga dari kamar Salsa merapikan rambutnya yang berantakan.
Ia cukup kaget saat menatapku.
"Kau kapan datangnya?" tanyanya berbasa basi.
"Sudah tadi, bahkan aku sudah membuatkan bubur untuk ayah." ucapku acuh.
Wajah Bu Marni terlihat ketakutan.
"Oh, ya? Aku pikir ibu pergi, tapi ternyata di rumah." aku sengaja pura-pura tidak tau apa yang terjadi di kamar Salsa.
"Salsa, ada? Aku Mau bicara sesuatu."
Aku hendak masuk ke kamar itu namun tangan Bu Marni menahan ku.
"Salsa sedang tidur, sebaiknya jangan di ganggu, ya! Ibu pikir juga dia masih kesal pada kejadian di rumah Wisnu."
Aku tau, dia menahan ku pasti karna masih ada Andri si bajingan di dalam.
"Ya, sudahlah kalau begitu. Aku pulang dulu, Bu.."
Aku langsung pergi begitu saja. Bu Marni terlihat menarik nafas lega.
Aku keluar dari halaman rumahku dengan wajah kesal. Aku marah karena ayahku sudah di khianati. Aku marah karna rumah suci kami telah di kotori oleh perbuatan bejat Bu Marni.
Di tikungan jalan depan rumah, aku berpapasan dengan Salsa yang terlihat baru pulang dengan seorang temannya.
Aku tidak tau apa yang terjadi kalau Salsa sampai tau kalau ibu dan pacarnya sudah menikamnya dari belakang.
kalo AQ SDH kabur...besarkan anak...sudah...sokor2 mau SM Jaja...org baik luar biasa dan selalu siaga untukmu