Indonesia
NovelToon NovelToon
Soulmate

Soulmate

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Wanita Karir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Secret_Gill

Hidup sempurna milik Seira Amelia Purnama dan Barron Arsenio Raymond. Jika jodoh itu ada, aku harap hanya kamu orangnya.


Update setiap Jumat, Happy Reading

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret_Gill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06

Malam itu seperti biasanya, aku sedang dalam sambungan telepon dengan Barron. Walau satu kantor, kita jarang bisa bertemu, sehingga banyak hal yang kami bicarakan malam itu. Di tengah-tengah pembicaraan aku mendengar suara bel rumahku.

“Bentar ya babe, ada tamu, mungkin Lavin mau nginep.” Tebakku sambil meninggalkan kamar dan menuju pintu. Hanya Lavin yang biasanya datang tengah malam untuk menginap. Perlahan kubuka pintu rumahku dan yang kutemui bukanlah Lavin, melainkan lelaki tegap dengan earphone ditelinganya menyanyikan lagu Happy Birthday dengan tangan yang membawa kue.

“Barron! Kok?” tanyaku kaget.

“Happy birthday, sayang.” ucapnya tersenyum melihatku terkejut. Akupun mempersilahkan lelaki itu masuk ke rumah. “Make a wish dong!” pintanya.

Aku pun memejamkan mata menyebutkan tiga permintaanku dalam hati. Yang pertama aku meminta agar aku sehat dan bahagia selalu, kedua aku berharap semoga semua orang yang aku sayangi dan menyayangi aku bahagia dan sehat selalu. Dan yang terakhir, berharap aku dan Barron akan selalu bahagia bersama. Selesai meminta permohonan aku pun membuka mata dan meniup lilin yang berada di atas kue tersebut.

Barron meletakkan kue tersebut di atas meja makan sebelum memeluk dan mencium keningku. “Happy birthday once again,” ujarnya. “kuenya mau disimpen atau langsung dimakan?” tanyanya yang kubalas dengan pelototan mataku. Ini udah lewat tengah malam dan dia masih mengidekan untuk makan kue?! Kayaknya Barron beneran pengen aku gendut. “Yaudah simpen kuenya di kulkas gih! Aku pulang dulu.” Lanjutnya.

“Hah? Gini doang?” tanyaku kecewa.

“Ngantuk aku, nunggu di mobil dari tadi.” Ucapnya sambil menguap.

“Oke deh. Hati-hati nyetirnya.” Kataku sembari mengantarnya keluar yang disambut dengan lambaian tangannya. Tak perlu waktu lama mobilnya pun pergi meninggalkan halaman rumahku. Setelah memasukkan kue yang dibawa Barron ke dalam kulkas, aku pun kembali ke kamar untuk tidur.

Dentingan Fur Elise membuatku terbangun dari tidurku. Aku meraih handphone-ku dan mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.

“Good morning sweety.” Sapa suara diseberang sana.

“Jam berapa ini babe?” ucapku mengenali suara Barron.

“Jam 8.”

“Ha? Beneran dikit? Aduh aku telat! Udah dulu ya.” Jawabku sambil berlari memasuki kamar mandi untuk bersiap.

“Tunggu!” cegahnya saat aku mau menutup telepon. “Kamu nggak usah ke kantor, emm… buka pintu dulu deh.” Ujarnya.

“Huka hintu? Hamu hihual?” tanyaku sembari sikat gigi.

“Iya diluar. Kalo mo ngomong ya mbok kumur dulu.”

“Sabar.” Jawabku setelah berkumur. Aku menyelesaikan kegiatan sikat gigiku dan  segera membuka pintu. Terlihat Barron masuk sambil membawa boneka panda yang cukup besar untuk dipeluk dan tas kertas yang lumayan besar.

“Wow! Apa ini?” tanyaku melihat bawaannya yang luar biasa banyak.

“Kado buat kamu lah. Kamu nggak mungkin mikir aku cuman ngasih kue semalem doang kan?” tebaknya yang merupakan pikiranku semalam, sehingga aku cukup terkejut melihatnya ada di depanku dengan barang-barang di tangannya. “Kamu hari ini nemenin mami ya? Aku janji mau nemenin dia ke salon, tapi ternyata aku ada rapat penting siang nanti.” Pintanya polos.

“Lah, aku kan mesti kerja babe.”

“Udah aku ijinin. Jadi kamu temenin mami ya? Please?” mohonya dengan wajah memelas.

“Huh! Ini nih yang buat aku kena gosip di kantor!” sungutku.

“Makasih babe! You’re the best!” ucapnya mencium keningku. “Oh iya, entar malem kita dinner ya? Pake yang ada disini.” Ujarnya sambil memberiku tas kertas yang dibawanya. “Yaudah cepet mandi, aku anter ke rumah.” Lanjutnya.

“Siap Boss!” jawabku sambil memutarkan kedua bola mataku sebelum berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan perintahnya.

Satu jam kemudian aku sudah berada di dalam mobil pacarku yang bossy ini. Gini amat nasibku ya Tuhan. Mobil melaju dalam keheningan. Aku maupun Barron sepertinya tidak ada yang berniat memulai percakapan sampai kami tiba di depan rumahnya. Ternyata maminya sudah menunggu diluar rumah dengan adik perempuannya.

“Halo tante.” Sapaku memeluk wanita yang sudah berkepala lima itu.

“Halo sayang, apa kabar?” tanyanya membalas pelukanku.

“Baik, tante sendiri apa kabar?”

“Baik dong, ayo masuk.” Ajaknya, saat aku mau masuk, Alana memelukku dari belakang.

“Hey! Naughty girl.” Ucapku menepuk tangannya yang melingkar di perutku.

“Aku kangen sama kak Rara! Kok jarang main?”

“Kakak juga kangen kok. Kayaknya baru minggu kemarin deh kakak main ke sini.”

“Tapi akunya kan nggak ada. Nggak mau tau pokoknya minggu nanti jalan bareng aku!” ancam anak enam belas tahun itu.

“Oke, Minggu jam sebelas kakak jemput ya.” Janjiku.

“Jangan diladenin Ra, anak itu manjanya kelewatan.”

“Gapapa tan, jadi berasa punya adek cewek, kan adekku cowok semua.”

“Mi, aku pergi ya! Jangan buat mami sama kak Seira pening ya Na! Aku pergi dulu.” Pamit Barron mengecup keningku.

“Seira aja di cium, mami sama Alana mana pernah dicium buat pamit.” Ledek Tante Lily yang membuatku tersipu.

“Ngga gitu dong mi, sini Barron cium.” Ucap lelaki itu seraya mendekati ibunya.

“Udah sana berangkat, nanti telat dimarahin papi kamu.” Ujar Tante Lily setelah mendorong wajah Barron yang akan mencium pipinya. Aku tertawa melihat wajah Barron yang cemberut saat ciumannya ditolak oleh sang bunda.

“Yaudah, Barron berangkat ya.” Ucap Barron melambaikan tangan sebelum keluar dari pintu rumah.

Setelah hampir seharian berada di salon bersama Tante Lily dan Alana, aku merasa hari ini nggak buruk-buruk amat. Lumayan juga bisa menghabiskan hari ulang tahun dengan spa. Anggap saja hadiah ulang tahun untuk diri sendiri. Tapi kalau tiap hari begini yang ada kantong jebol!

“Tante aku pulang ya, hati-hati pulangnya. Dadah Alana, see you on Sunday!” pamitku saat mobil yang kami tumpangi tiba di depan rumahku.

Kalau nggak inget ada janji dengan Barron, rasanya aku mau tidur saja. Hampir aku mau menelepon membatalkan janji, saat kulihat tas kertas yang dibawa Barron tadi pagi. Dia udah capek-capek buat rencana untuk aku, kalau aku batalin kayaknya aku kelewatan deh. Akhirnya aku menaruh kembali handphone-ku dan membuka tas kertas tersebut. Terdapat kotak yang cukup besar berwarna hitam dengan pita putih diujungnya. Perlahan kubuka kotak itu, dan tampaklah knee length dress putih yang cantik. Bagaimana tidak? Lihat saja pita mungil di bagian samping tepat di pinggang dan pola bunga mawar berwarna hitam di bagian atas dengan tule yang cantik.

Selesainya aku mandi dan mengeringkan rambutku, kukenakan knee length dress itu. Aku menggelung rambutku ke atas untuk mendukung baju yang kukenakan dan menggunakan headband berbentuk bunga kamboja untuk memberi kesan elegan. Tidak lupa aku memakai anting-anting dan kalung berbentuk senada dengan headband-ku. Setelah memoleskan make-up tipis diwajahku, kusampirkan tali clutch-ku ke pundak dan mengenakan heels yang berwarna senada dengan gaunku.

Tepat setelah aku memakai heels-ku, bel rumahku berbunyi. Setelah melihat bayanganku di cermin sekali lagi, aku pun membuka pintu dan mendapati Barron di balik pintu rumahku. Dia terlihat tampan sekali dengan single breasted-nya.

“Kita mau makan dimana sih? Kok heboh amat bajunya?” tanyaku penasaran.

“It’s a surprise, jadi bisa bekerja sama dengan menutup matamu dengan ini?” pintanya menunjukkan sehelai pita hitam di tangannya.

Aku melihatnya dengan pasrah “Kamu ngide apa lagi?” tanyaku yang sudah paham kalau lelaki ini banyak sekali akal bulusnya.

“Pake aja ya?” pintanya lagi dengan wajah memelas yang langsung tersenyum saat aku dengan pasrah menganggukkan kepalaku. Dengan perlahan dia menutup mataku “kamu cantik banget malem ini” bisiknya di telingaku yang membuat aku terseipu. Setelah mengikatnya serta menuntunku menuju mobilnya.

Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan dan itu membuatku mengantuk. Bayangkan saja saat matamu ditutup dan tidak ada pembicaraan apapun yang terucap.

“Heh! Jangan kelewatan dong!” ketusku

“Kenapa babe?” tanya lelaki itu tanpa merasa bersalah.

“Kenapa!?” ulangku dengan nada tidak percaya. “Ahh… terserah deh! Aku tidur aja.”

“Ehh… jangan tidur dong.”

“Terus kamu maunya aku ngapain? Mata ditutup, diajak ngomong juga nggak, sekarang mo tidur juga dilarang!”

“Kita ngobrol aja gimana? Aku denger minggu nanti kamu mau jalan sama Alana?” ucapnya memulai obrolan.

“Iya, dia bilang udah lama nggak jalan bareng aku. Kenapa?”

“Aku ikut boleh?”

“Aku sih boleh-boleh aja, tapi nggak tau deh kalo Alana. Coba kamu tanya dia dulu.”

“Yah kalo tanya Alana mah pasti ngga boleh, yaudah deh aku coba aja tanya, siapa tau lagi lempeng anaknya. Kamu akhir tahun pulang kayak biasanya kan?”

“Iya, kenapa?”

“Kayaknya aku nggak bisa ikut kamu pulang. November ini ada rencana aku ke Amrik ngurus kerjaan. Maaf ya.” Ucapnya membuat aku terdiam sejenak. Entah mulai kapan, aku merasa aneh pulang tanpa Barron menemaniku.

“Emang berapa lama?”

“Rencananya sekitar dua bulan.”

“Jadi kamu nggak tahun baruan bareng aku dong?”

“Gomen. Aku usahain lebih cepet deh.” Aku terdiam mendengar ucapannya. “Ahh… jangan diem dong babe. Aku usahain sebelum tahun baru aku udah pulang deh.”

“Gapapa, kamu kerja aja yang bener.” Jawabku sambil tersenyum.

“Yakin?” tanyanya memastikan, yang kusambut dengan anggukkan.

“Ya, aku sih maunya kamu nggak pergi, tapi nggak bisa gitu kan? Kamu pergi juga bukan buat have fun, jadi aku gapapa.”

“Kamu memang yang terbaik. Kita udah sampe, tunggu bentar ya.” Setelah berkata demikian terdengar suara buka tutup pintu. Tak sampai satu menit pintu sebelahku terbuka dan tangan seseorang menuntunku ke luar.

“Awas kepala.” ucap Barron menutup kepalaku.

“Kita kemana sih?” tanyaku penasaran setelah aku berdiri stabil dan Barron mengunci pintu mobil.

“Bentar lagi juga kamu tau. Awas tanjakan.” Ucap Barron yang menuntunku berjalan layaknya menuntun orang buta berjalan.

Setelah berjalan melewati tanjakkan dan beberapa anak tangga, akhirnya Barron menghentikan langkahku.

“Udah sampai.” Katanya sambil membuka penutup mataku. Butuh waktu agak lama agar aku bisa menyesuaikan mataku dengan cahaya yang ada. Saat aku dapat melihat dengan jelas, terlihat orang-orang yang aku kenal, tante Lily, om Alex, Alana, ce Brenda dengan suaminya, ko Daniel dengan istri serta anak laki-lakinya, Lavin, Kenzie, Adolfo, tante Ady, dan semua rekan kerjaku.

“Wow…” ucapku menutup mulutku dengan tangan. Untuk sejenak aku nggak bisa mengatakan apa pun.

“Happy birthday Seira, I love you more than you can think.” Bisik Barron ditelingaku seraya memelukku dari samping.

“Makasih ya.” Ucapku sembari tersenyum menatap wajah tampannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!