Indonesia
NovelToon NovelToon
OVERRATED

OVERRATED

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:36.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.

Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.

Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Malam telah sepenuhnya merengkuh kota New York. Langit malam yang pekat dipenuhi ketebalan kabut dingin yang menusuk hingga ke dalam tulang.

Setelah hari yang begitu menguras jiwa dan raga—dimulai dari pertengkaran panas pagi tadi, pertemuannya kembali dengan Kaetos yang meremukkan dada, hingga teriakan keputusasaan di lorong rektorat yang menggema tanpa jawaban—Parrie akhirnya menginjakan kakinya kembali di kediaman megah keluarga Ford.

Mansion Ford berdiri kokoh dengan lampu-lampu taman yang menyala kekuningan, menyembunyikan kebusukan dan kebencian yang bersarang rapat di dalam dinding-dinding bertembok tebal itu.

Parrie melangkah masuk tanpa membuat suara. Langkah kakinya lambat, matanya sembab, dan jiwanya bagaikan raga kosong yang terseret oleh arus takdir.

Ia tidak berniat menyapa siapa pun. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada di dalam tubuhnya yang letih, Parrie menyusuri tangga berkarpet tebal menuju lantai atas, melangkah lurus menuju kamar sempit di ujung koridor—sebuah ruangan bekas kamar penyimpanan yang dimodifikasi terburu-buru, tempat yang terpaksa ia tempati selama seminggu terakhir ini.

Ceklek.

Parrie menutup pintu kamar, menguncinya dari dalam, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang terasa dingin. Gadis itu memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan wajah Kaetos yang memalingkan pandangan dan membelakanginya saat ia berteriak histeris berputar tanpa henti di dalam kepalanya, membawa rasa nyeri yang teramat sangat di rongga dadanya.

Namun, ketenangan sekejap itu runtuh begitu saja.

Ceklek!

Gagang pintu bergerak kasar. Bunyi engsel kayu berderit saat pintu kamar Parrie terbuka lebar—rupanya kunci selot kamar itu sudah longgar dan rusak.

Sosok pemuda bertubuh tinggi dengan pakaian santai melangkah masuk tanpa permisi. Dia berdiri tegak di tengah ruangan, menyandarkan satu bahunya di bingkai pintu sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

Dia adalah Glenmore Ford, saudara tiri Parrie—putra kebanggaan Maeve.

Parrie tidak melonjak kaget. Ia bahkan tidak memprotes atau bergerak cepat menutup tubuhnya. Gadis itu hanya perlahan membuka matanya, menatap Glenmore yang berdiri di sana dengan raut wajah meliuk dalam senyuman mengejek. Parrie tetap berbaring santai, menatap langit-langit kamar dengan sorot mata hampa tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut atau terkejut.

Glenmore mengamati reaksi Parrie selama beberapa saat. Senyum mengejek di bibirnya berubah menjadi kerutan dahi yang penasaran.

"Kenapa kau tidak pernah takut tiap kali aku masuk ke dalam kamarmu?" tanya Glenmore, suaranya dipenuhi nada angkuh yang kaku. "Wanita biasa di posisi ini pasti sudah berteriak histeris atau sibuk menutupi dirinya."

Parrie menghela napas pelan, lalu perlahan mendudukkan tubuhnya di tepi kasur. Ia menatap Glenmore lurus-lurus, memamerkan senyum sinis yang tipis namun menyayat.

"Aku bukan gadis remaja yang akan berteriak histeris hanya karena pria sepertimu masuk ke dalam kamarku," jawab Parrie, suaranya tenang, parau, dan dingin. "Aku lebih liar dan sudah melihat hal yang jauh lebih dari yang bisa kau bayangkan, Glen."

Glenmore terkekeh pelan. Ia mengikis jarak, melangkah beberapa tindak mendekati meja belajar Parrie yang berantakan.

"Liar? Kau? Gadis miskin yang baru seminggu keluar dari gang kumuh?" Glenmore menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, raut wajahnya mendadak berubah menjadi lebih serius, matanya menyipit menatap Parrie dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Akan kutahu seberapa 'liar' dirimu nanti," ujar Glenmore. "Tapi ngomong-ngomong... aku melihatmu tadi siang di area kampus. Kau berbicara dengan pria Ashford di universitas! Apa kau punya utang padanya? Karena setahuku... dia tidak pernah tertarik pada wanita mana pun."

Parrie mengerutkan keningnya sejenak. Mendengar nama 'Ashford' keluar dari bibir saudara tirinya, rasa perih di dadanya kembali berdenyut keras. Namun, melihat sikap Glenmore yang sok tahu dan menginterogasinya, rasa muak Parrie bangkit.

Parrie terkekeh pelan—sebuah tawa pendek yang terdengar sangat lucu baginya.

"Omong kosong," jawab Parrie sinis. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kamar yang dingin. "Dia tidak menagih utang denganku. Dia mengajakku untuk bercinta."

PFFFFHTTT—Haha!

Tawa Glenmore menyembur begitu saja, memenuhi ruangan kamar yang sempit itu. Pemuda itu tertawa terbahak-bahak hingga harus memegang perutnya sendiri, seolah-olah baru saja mendengar lelucon paling konyol di abad ini.

"Bercinta?!" pekik Glenmore di sela-sela tawanya yang keras. "Kau pikir aku bodoh, Parrie? Aku sudah mengenal Kaetos Ashford sejak kami masih di sekolah menengah! Mengajakmu bercinta? Haha! Itu tidak mungkin! Bagaimana mungkin seorang Dimitriou Kaetos Ashford mau bercinta denganmu? jangankan menyentuhmu... melihatmu saja mungkin dia akan muntah hebat!"

Pipi Parrie mendadak memanas. Amarah yang terpancing oleh hinaan itu membuat jemarinya mencengkeram sprei kasur dengan erat. "Apa kau tidak percaya?" tanya Parrie, suaranya menajam karena mulai tersinggung.

Glenmore menghentikan tawanya, menyisakan senyum meremehkan yang amat kental di wajah tampannya.

"Hey, Anak Haram. Kau harus tahu satu hal jika kau ingin selamat di universitas itu," kata Glenmore seraya memajukan tubuhnya, menatap Parrie dengan nada mengajari. "Sejak dulu, Kaetos Ashford itu adalah pria yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun. Apa kau melihatnya berteman akrab dengan seorang pria tadi? Tidak. Apa tadi kau juga melihat dia berbicara manis atau bergandengan tangan dengan seorang wanita? Tidak, tentu saja tidak pernah!"

Glenmore mendengus hampa. "Hanya kau yang ketahuan bicara panjang lebar dengannya tadi. Dan aku yakin seratus persen... kau baru saja mendapatkan peringatan keras atau makian dari mulutnya karena kau tak sengaja menyenggol lengannya saat berjalan!"

Parrie terdiam. Tatapannya menajam pada Glenmore. "Apa maksudmu dengan 'tidak bisa disentuh'?"

"Dia benci sentuhan!" tegas Glenmore dengan nada yakin. "Biar kuberi tahu ya... sentuh dia sedikit saja secara tiba-tiba, nyawamu bisa melayang! Dia akan mengamuk dan marah besar jika ada orang yang menyentuh kulitnya atau mendekatinya tanpa izin. Dia punya masalah kesehatan mental gila tentang pertahanan diri. Rumornya dia sangat jijik dengan sentuhan manusia."

Parrie membeku di tempatnya.

Dia benci sentuhan...? Dia punya gejala pertahanan besar akibat reaksi sentuhan...?

Pikiran Parrie mendadak melayang kembali pada Enam bulan yang mereka lalui bersama di apartemen pribadi pria itu. Bayangan bagaimana Kaetos memeluknya erat di tengah malam, bagaimana jemari pria itu selalu menelusuri setiap inci kulitnya dengan penuh kehangatan, dan bagaimana Kaetos selalu membiarkan Parrie tertidur di atas dadanya tanpa pernah mengeluh... semuanya berputar bagaikan kaset rusak di kepala Parrie.

Jika Kaetos adalah pria yang sangat membenci sentuhan fisik dan akan mengamuk jika disentuh oleh orang lain... lalu mengapa selama Lima bulan itu Kaetos membiarkan Parrie menyentuhnya? Mengapa pria itu justru selalu menuntut sentuhan dari Parrie setiap malam?

Melihat Parrie yang mendadak melamun dengan raut wajah semakin pucat, Glenmore mengibaskan tangannya di depan wajah gadis itu.

"Sadar, Anak Haram! Jangan membayangkan yang tidak-tidak," ejek Glenmore.

Parrie menggertakkan giginya. Rasa muak pada keangkuhan saudara tirinya kembali mendominasi hatinya. Ia menegakkan tubuhnya, menunjuk pintu kamar yang terbuka lebar.

"Keluar dari kamarku," desis Parrie tajam. "Aku juga ingin muntah melihat wajah brengsekmu di sini."

Mendengar usiran keras dari Parrie, raut wajah Glenmore mendadak berubah menjadi kaku dan berang.

"Sialan kau!" umpat Glenmore, melangkah maju mendekati tempat tidur. Matanya memindai tubuh Parrie dari atas ke bawah, memperhatikan raut lelah dan pucat pada wajah gadis itu.

Tiba-tiba, sebuah ide jahat dan ejekan kasar terlintas di otak Glenmore. Ia menyunggingkan senyum mesum yang meledek.

"Cih... lihat wajahmu yang pucat dan seperti ingin muntah itu," celetuk Glenmore dengan nada meledek yang terlampau kasar. "Jangan bilang... kau sedang hamil? Hah? Dengan siapa kau melakukan hubungan haram itu di luar sana, Parrie? Dengan pria jalanan? Atau pria tua keladi?"

Glenmore mendekatkan wajahnya, bersedekap dengan tawa ejekan. "Tapi kalau kau bingung siapa ayahnya... tenang saja. Aku bisa bertanggung jawab atas anakmu. Anggap saja hadiah selamat datang untuk saudara tiri miskin sepertimu."

"KAU—!"

Kalimat murka Parrie terputus seketika saat sebuah suara langkah kaki nyaring berderak di sepanjang koridor luar, disusul oleh suara teriakan melengking yang sanggup merobek selaput gendang telinga.

"GLENMORE! APA YANG KAU LAKUKAN DI DALAM RUANGAN WANITA MURAHAN ITU?!"

Maeve Ford berdiri di ambang pintu kamar. Matanya membelalak lebar, memancarkan kilat amarah yang sangat pekat saat melihat putra kesayangannya berada di dalam kamar Parrie pada malam hari. Wajah wanita paruh baya itu memerah padam oleh emosi yang membakar.

Ia melangkah masuk dengan cepat, menyambar lengan Glenmore dan menarik putranya ke belakang tubuhnya, seolah-olah Parrie adalah racun mematikan yang sanggup mengontaminasi Glenmore dalam sekejap.

"Gila kau, Glen! Kenapa kau masuk ke kamar cacing ini?!" bentak Maeve pada putranya, sebelum memutar tubuhnya dan menunjuk wajah Parrie dengan jari telunjuknya yang gemetar hebat oleh murka.

"Dan kau, Parrie!" jerit Maeve, suaranya melengking tinggi menggema ke seluruh sudut mansion. "Dasar wanita tidak tahu malu! Kau berusaha menggoda putraku, iya?! Kau sengaja memancingnya masuk ke kamarmu pada malam hari agar kau bisa menjebaknya?!"

Parrie berdiri dari tepi kasur, menatap Maeve dengan dada yang kian sesak. "Aku tidak pernah menggoda putramu! Dia sendiri yang masuk tanpa permisi ke kamarku!"

"BOHONG!" pekik Maeve tanpa mau mendengar penjelasan sedikit pun. Matanya menatap Parrie dengan kebencian mendalam yang tak pernah surut. "Kau sama saja seperti ibumu! Sama-sama wanita gatal! Sama-sama murahan yang suka memancing pria-pria berkecukupan untuk mengangkat derajatmu dari lumpur!"

Aroma penghinaan itu kembali merubung Parrie, membakar sisa kesabarannya yang sudah mencapai batas paling tipis.

"Jangan pernah membawa-bawa nama mendiang ibuku!" desis Parrie, suaranya dalam dan bergetar hebat oleh rasa sakit. "Ibuku jauh lebih terhormat daripada wanita yang hanya bisa berteriak seperti orang gila di rumahnya sendiri!"

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi Parrie. Maeve menamparnya dengan segenap tenaga hingga kepala Parrie terlempar ke samping, meninggalkan rasa panas menyengat dan sudut bibirnya yang sedikit robek meneteskan darah segar.

"Tahu diri kau, Anak Haram!" bentak Maeve, napasnya terengah-engah oleh emosi. "Mulai besok, jika aku melihatmu berada dalam jarak lima meter dari putraku, atau melihatmu bertingkah sok suci di rumah ini... aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dan melemparmu kembali ke selokan tempat asalmu!"

Maeve lalu mencengkeram lengan Glenmore dengan kuat. "Ayo keluar, Glen! Jangan biarkan bau busuk wanita ini mengotori tubuhmu!"

Dengan penuh kebencian, Maeve menarik putranya keluar dari kamar, menyisakan pintu yang sengaja dibanting keras hingga bergetar hebat.

BAM!

Keheningan malam kembali merayap di dalam kamar sempit itu.

Parrie berdiri mematung di tengah ruangan. Rasa panas menyengat di pipinya tak sebanding dengan rasa hancur yang meremukkan dadanya. Gadis itu perlahan mengulurkan jemarinya, mengusir tetes darah di sudut bibirnya, lalu meluruh berlutut di atas lantai porselen yang dingin.

Di dalam kegelapan kamar yang sunyi, di bawah bayang-bayang nama 'Ford' yang mencekik dan bayangan Kaetos Ashford yang tak pernah lenyap, Parrie Rose memeluk lututnya sendiri. Ia membiarkan air mata keputusasaannya menetes tanpa suara ke atas lantai, menyadarkannya bahwa di dunia yang megah dan kaya ini... tidak ada satu pun tempat yang benar-benar aman bagi jiwanya yang telah terluka.

1
Yusry Ajay
wah...uda tamat aja Thor 🤗🤗
Rosdianah 🌷: huhu iya kak, see you 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
oh ternyata 🤔🤔🤔
nayla tsaqif
Kae,, dulu dirimu jg pernah gila lhoo, lbh parah dr hux malah,, 😅 bisa2nya ngatain hux gila,,
Rosdianah 🌷: hahaha Padahal 11 12 sama menantu 😭🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
hu.... menegangkan Thor 😁😁
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat kabur penny😁😁😁
Rosdianah 🌷: kwkwk
total 1 replies
Debu Nakal
akankah dominic akan punya cerita berlanjut seperti kembarannya??? 🤔
Debu Nakal: mantap.. lanjutkan
total 2 replies
Debu Nakal
plot twist nya gong bgt tnyata
Rosdianah 🌷: Aaa Siap kak🫶
total 3 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 👍👍
Yusry Ajay
kurang Thor 🤗🤗🤗up lg...
Yusry Ajay
ciuman trus hux🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: hahha🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
ya ampun Thor beruntung bgt jd panny dicintai sampe gila gitu..🤗
Rosdianah 🌷: iya kak 🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪🤗
Yusry Ajay
makin seru cerita nya Thor 🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuy 🥳
total 1 replies
Vtree Bona
nahloh ada lagi cwo ga psikopat kak Thor
Rosdianah 🌷: loh 🤭
total 1 replies
Vtree Bona
nah lho di bawa kemana penny
Rosdianah 🌷: kwkwk🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak, Sehat selalu kak reader 🫶
total 1 replies
Debu Nakal
seru nih..
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
kepo aq Thor 🤔🤔
Yusry Ajay
siapa Thor yg nyulik penasaran bgt🤔🤔
Yusry Ajay
siapa yg nyulik Thor 🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!