Nara seorang gadis biasa dan sederhana terpaksa harus menikah dengan pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya karena sebuah surat wasiat dari kakeknya.
Dia harus rela berpisah dengan kekasihnya dan menjalani kehidupan pernikahannya yang bagaikan neraka.
Follow IG Author : @hanania442 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Aku menjalani hari-hariku seperti biasanya. Revan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan bisnisnya di Singapore.
Dia hanya memberikan pesan singkat satu kali padaku jika pekerjaannya belum selesai dan tidak bisa pulang.
Aku terus berusaha menghubunginya. Aku menceritakan apapun yang aku alami setiap hari dengan pesan singkat. Namun, Revan tidak pernah membalas pesanku.
Menyebalkan sekali! Kau pikir aku apa? Selalu saja mengabaikanku begitu sibuknya sampai tidak bisa membalas pesan atau menelvon aku.
Aku juga mengunjungi orang tua ku hampir setiap hari walaupun perjalanan sangat jauh tapi tidak masalah bagi ku karena ini kesempatan ku untuk mengunjungi mereka mungkin ke depannya sangat sulit untuk kesini. Terkadang tengah malam aku baru tiba di rumah.
Hari ini aku akan bersenang-senang dengan sahabatku. Kami berbelanja, menonton film dan makan di restoran seafood favoritku.
“Sepertinya aku harus berusaha lebih keras untuk merebut hati suamiku.”
“Dia masih juga tidak membalas pesanmu?”
“Begitulah, aku juga tidak tahu sampai kapan hubungan ini dapat di pertahankan.” Aku menjawab pertanyaan Mira sambil meminum jus alpukat kesukaanku
“Kau harus menjadi sedikit lebih ‘nakal’ agar dia ingin menerkammu.”
“Aku sudah beberapa kali menggodanya. Kau tau apa yang di katakannya ‘hei kau jangan memakai pakaian tipis seperti itu di sini banyak para bodyguard apa kau ingin tidur dengan mereka’ dan kata-kata lain yang keluar dari mulutnya.”
“Hei.. dia itu lelaki normal atau tidak? Menurutku lelaki tidak butuh cinta untuk melakukan ‘itu’ setidaknya kalian melakukan satu kali selama kalian tinggal bersama.”
“Tentu saja dia itu sangat normal aku yakin.”
Tidak lama kemudian Jhon datang mengatakan bahwa waktunya aku pulang. Ya, aku hanya di beri waktu tiga jam untuk bersenang-senang di hari libur ini.
“Jhon, apakah kau tidak lelah mengikuti aku terus?” dia hanya menjawab dengan senyuman lalu fokus melihat ke depan dan melajukan mobil
Aku memandang kearah luar jendela mobil. Menikmati lamunanku. Untuk apa sebenarnya hubungan ini. Mengapa Revan tidak menceraikan aku saja. Setelah aku pikir-pikir kehadiranku tidak ada manfaatnya bahkan kehadiranku semakin membuat biaya hidupnya membengkak.
Walaupun dia mengacuhkanku tapi segala kebutuhanku terpenuhi bahkan berkecukupan. Tapi aku harus membayar dengan kebebasanku yang hilang.
Tanpa terasa sudah 2 tahun kami menikah tidak ada kemajuan sama sekali dalam hubungan kami, apakah aku sanggup bertahan disini.
“Nyonya kita sudah sampai,” Jhon membukakan pintu mobil dan mempersilahkan aku turun
“Terima kasih. Jhon kau tidak perlu membawakan barang belanjaanku ini tidak berat.”
“Ini tugas saya nyonya.”
“Tidak perlu, istirahatlah aku setelah ini tidak ingin pergi kemana-mana.” Jhon menundukkan kepala dan pergi
Sesungguhnya aku tidak nyaman dengan perlakuan para pekerja di rumah ini. Mereka terlalu hormat padaku. Aku jadi semakin tidak nyaman dan kadang merasa kesepian karena mereka terlalu menjaga jarak denganku.
Aku melangkahkan kaki masuk kedalam ‘sangkar emas’ ku. Ya, anggap saja begitu. Sangkar emas untuk membatasi kebebasan ku.
Beberapa aku melangkah masuk ada suara gaduh. Sebenarnya apa yang terjadi. Para maid berkumpul dan menundukkan kepala mereka.
“Mama, kapan mama datang?”
“Kau! Apa yang kau lakukan selama Revan tidak ada?”
Oh, tidak apakah mama tahu jika aku sering mengunjungi orang tuaku. Tapi aku bisa mengatakan bahwa Revan sudah memberikan aku izin. Mama melihatku dari kepala sampai ujung kaki dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.
“Kau menghambur-hamburkan uang anakku? Sedangkan dia sedang bekerja mati-matian.”
“Maaf, Ma” Aku menunduk tidak ada untungnya aku banyak bicara
Mama tiba-tiba menarik tas belanjaku dan mengeluarkan semua isinya. Aku sangat malu di perlakukan seperti ini di depan para maid apalagi tas belanja itu berisi baju tidur dan lingerie.
“Apa ini? Kau berusaha menggoda putraku dengan berpakaian seperti ini. HAH!"
“Ma, ayo kita bicara di ruang keluarga saja disini terlalu banyak mata yang melihat kita dan aku rasa masalah ini privasi keluarga kita.”
“Apa kau malu jika semua orang tahu bahwa kau ingin menggoda putraku.”
“Putramu itu suamiku, Ma. Aku berhak atas dirinya.”
“Ya! Dia suamimu tapi aku tidak pernah merestui kalian bahkan Revan tidak pernah mencintai kamu dan satu lagi yang aku yakini bahwa putraku tidak pernah menyentuhmu satu kali pun.”
“Aku tahu dia tidak mencintaiku tapi, aku yakin suatu saat dia akan mencintaiku.”
“Lalu setelah dia jatuh kepelukanmu kau akan menguasai seluruh hartanya. Begitu? Kau dan keluargamu sama saja. Sama - sama menjadi parasit di keluarga ini.”
“Ma, aku tidak pernah berfikir seperti itu!”
“Lalu apa yang membuat kamu bertahan dalam rumah tangga seperti ini? Kalau bukan karena kekayaan putraku.”
“Ma, percayalah aku tidak seperti itu.”
“Aku sangat paham siasat apa yang kau susun dengan keluargamu, setelah Revan jatuh kepelukanmu, kalian akan perlahan menguasai semuanya!” Mama melempar beberapa belanjaan itu ke wajahku sambil berlalu dan pergi.
Menangis pun tidak akan merubah segalanya. Ini memang sudah menjadi jalan hidupku yang harus aku jalani. Aku akan buktikan bahwa aku tetap bertahan disini untuk mendapatkan hati dan cinta suamiku.
Aku yakin Revan pasti memiliki ruang di hatinya untukku.
Jangan lupa 👍❤️ Vite & Comment
Follow IG Author: @hanania442
sejauh ini memang menarik ceritanya....
Mampir jg ke novelku ya : HARD TO SAY GOODBYE, ini bikin baper jg lho... Thx...