Pernikahan tak ubahnya sebuah kapal yang sedang berlayar, berjalan mengarungi luasnya lautan dengan tujuan yang jelas. Sesekali berlayar dan juga menepi. Nahkoda yang selalu bertanggung jawab atas keselamatan dan kenyamanan penumpang yang ada didalamnya, mereka bekerja sama menjaga kapal dari terjangan ombak ataupun badai. Sena Larasati, gadis desa berusia 19 tahun, berwajah cantik, pendiam dan sederhana. Di usia mudanya ia memilih menikah dengan laki-laki yang berusia terpaut jauh dengannya. Bagas Kuncoro, laki-laki berusia 35 tahun, berwajah manis dan berprilaku sopan. Sena yang berangan-angan memiliki suami yang bertanggung jawab pun sirna. Sejak awal pernikahan mereka, sikap Bagas sudah berubah. Ternyata usia tidak menjamin seseorang dapat bersikap dewasa dan mengerti akan sebuah tanggung jawab dalam berumah tangga. Bagaimana Sena melewati hari-harinya? Bagaimana ia berjuang mempertahankan rumah tangganya? Jangan lupa ikuti kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais Twin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Berumah Tangga.
Adzan subuh berkumandang, Sena terbangun dari tidurnya, ia terperanjat kaget karena melihat ada seorang laki-laki tertidur pulas di sampingnya. Setelah sadar ia pun tersenyum. "Aku baru ingat, ternyata aku sudah menikah". Ucap Sena, kemudian ia membangunkan suaminya untuk sholat bersama.
"Mas, ayo bangun, kita sholat subuh dulu". Ucap Sena membangunkan suaminya.
"Aku masih ngantuk dik, kamu sholat sendiri ya". ucap Bagas dengan mata masih terpejam.
Sena yang melihat suaminya seperti kelelahan pun, merasa kasihan. Tanpa berlama-lama Sena pergi Sholat. Setelah selesai sholat ia bergegas pergi ke dapur. Dengan cekatan ia mulai memasak makanan sederhana, sebisa mungkin ia menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum suaminya bangun. Sena bertekad akan berusaha menjadi istri yang baik dan berbakti kepada suaminya.
"Lho nduk, jam segini ko sudah selesai masak", tanya Bu Arum melihat beberapa makanan yang tersaji di dapur.
"Iya Bu, tadi setelah subuh Sena langsung pergi ke dapur untuk masak, Sena ingin seperti ibu, menjadi istri yang baik untuk suaminya". Ucap Sena tersenyum.
"Kamu ini nduk, ada-ada saja". Ucap Bu Arum tersenyum.
ΩΩΩΩ
Pagi ini keluarga pak Agung sarapan bersama, Meskipun hanya dengan makanan sederhana, tapi tak mengurangi rasa nikmat yang ada didalam masakan.
"Sini Mas, biar Sena ambilkan nasinya". Ucap Sena mengambil piring suaminya, ia isi dengan nasi, sayur dan lauk.
"Terima kasih dik". Ucap Bagas tersenyum. Pak Agung dan Bu Arum tersenyum bahagia melihat pemandangan yang ada di depannya. Mereka tidak menyangka, putrinya dapat bersikap dewasa secepat ini.
" Sama - sama mas". Jawab Sena duduk di sebelah suaminya.
Setelah selesai sarapan Sena dan Bagas duduk di teras, sementara pak Agung akan bersiap pergi ke Kebun belakang rumah.
"Bapak mau pergi kerja?" Tanya Bagas, ketika melihat mertuanya sedang memakai sepatu boots.
"Tidak nak, bapak hanya ingin pergi ke kebun belakang rumah". Jawab pak Agung.
"Apa yang bisa Bagas bantu pak?" tanya Bagas basa-basi, sebenarnya ia juga merasa bingung, karena dari dulu ia tidak pernah bekerja atau membantu orangtuanya.
"Bapak hanya ingin memupuk dan menyemprot sayuran saja nak?" jawab pak Agung.
"Biar Bagas bantu pak?" ucap Bagas
"Mas Bagas yakin, ingin bantu bapak? Tanya Sena.
"Iya dik, tidak papa". Ucap Bagas tersenyum.
Kini Bagas dan pak Agung berada di kebun.
"Lho nduk kok sepi, dimana suamimu? Tanya Bu Arum.
"Mas Bagas ikut bapak ke kebun Bu?", jawab Sena.
"Iya sudah, ini ibu dapat singkong dari Bu Yuli, digoreng nduk, buat suami mu nanti?" ucap Bu Arum, terlihat membawa kantong plastik berisikan singkong.
Sena bergegas ke dapur untuk menggoreng singkong, sebelum suaminya kembali dari kebun.
Sementara di kebun, Bagas terlihat kelelahan. karena ini pertama kalinya ia pergi ke kebun.
"ternyata bekerja sangat melelahkan", Ucap Bagas dalam hati.
ΩΩΩΩ
Sore hari Dewi pergi kerumah Sena. Ia ingin berpamitan karena besok harus berangkat ke kota.
"kamu beneran Wi, besok akan berangkat kota?" tanya Sena terlihat sendu.
"iya Sen, aku harus melanjutkan pendidikanku". Ucap Dewi
"Kamu disana hati-hati ya Wi, jaga diri baik-baik". Ucap Sena.
"Iya Sen, kamu juga ya?" aku pasti akan merindukan mu?" ucap Dewi, memeluk sahabatnya.
" Nanti kalau ada waktu kita bisa bertemu lagi Wi". Ucap Sena memeluk sahabatnya dengan erat.
ΩΩΩΩ
Malam ini pak Agung dan Bagas sedang duduk di ruang tamu, udara dingin mulai menerpa. Hujan rintik sejak tadi sore enggan untuk berhenti.
" Pak, besok Bagas mau minta izin, untuk mengajak Sena berkunjung ke rumah ibu dan bapak?" ucap Bagas
"iya nak, sekarang Sena telah menjadi istrimu. Jadi sekarang Sena sudah menjadi tanggung jawabmu. Dan kamu nak, sebagai istri harus patuh dengan suamimu? selama itu masih dalam hal kebaikan". Ucap pak Agung, melihat Sena yang datang membawa kopi.
"iya pak, Bagas akan berusaha menjadi suami yang tanggung jawab". Ucap Bagas, sementara Sena hanya mengangguk.
"Sudah malam pak, kenapa nak Bagas tidak disuruh istirahat, malah di ajak ngobrol saja?" Ucap Bu Arum, menghampiri anak dan suaminya
" Malam apa to Bu, baru juga jam sepuluh?"ucap pak Agung menyesap kopi.
"Sudah nduk, ajak suami mu istirahat, kasian pasti kecapean tadi habis ikut bapakmu ke kebun". ucap Bu Arum
"Kalian istirahat saja duluan, biar ibu yang menemani bapak disini". ucap pak Agung, Sena dan Bagas pun nurut, mereka beranjak pergi menuju kamar.
ΩΩΩΩ
Pagi ini Sena beraktivitas seperti biasanya, sedangkan Bagas terlihat sibuk memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam tasnya. Karena pagi ini Bagas dan istrinya akan berkunjung ke rumah orangtuanya.
"Mas, ayo kita sarapan dulu?" ucap Sena menghampiri Bagas.
"iya dik, sebentar lagi". Ucap Bagas
Sementara Bu Arum terlihat sedih, mengingat sebentar lagi putrinya, Sena akan pergi. Padahal Sena hanya pergi berkunjung ke rumah mertuanya.
"Bu, Ibu !, ucap pak Agung menepuk bahu istrinya.
"Eh, bapak? Ada apa pak?" tanya Bu Arum setelah tersadar dari lamunannya.
"Ibu sedang apa? dari tadi bapak panggil kok tidak dengar?" ucap pak Agung.
"Ibu sedang membuatkan kopi untuk bapak dan nak Bagas pak?" jawab Bu Arum.
"Membuatkan kopi bagaimana? Wong dari tadi bapak lihat ibu cuma diam saja? Ada apa to Bu? Tidak baik pagi-pagi melamun". ucap pak Agung.
"Ibu hanya merasa sedih pak, sebentar lagi Sena akan meninggalkan kita". Ucap Bu Arum dengan raut wajah yang menampakkan kesedihan.
"Bu, Ibu. Sena itu hanya berkunjung ke rumah mertuanya? Ibu jadi orang harus legowo (lapang dada), putri kita sekarang sudah menikah. sudah sewajarnya jika dia ikut dengan suaminya. Kita sebagai orang tua cukup mendo'akan saja Bu, semoga mereka selalu baik-baik saja". Ucap pak Agung pada istrinya.
ΩΩΩΩ
"Bu, Pak, Sena pamit dulu ya?", ucap Sena berpamitan dengan orang tuanya.
"Iya, kamu yang hati-hati ya nduk". Ucap Bu Arum, dengan mata berkaca-kaca memeluk putrinya.
"Iya Bu, ibu juga ya? Sehat-sehat ya Bu". Ucap Sena mengeratkan pelukannya.
Kini Sena gantian memeluk bapaknya. Laki-laki pertama yang menjadi cinta pertamanya.
"Bapak sehat-sehat ya?", Ucap Sena.
"Iya, kamu juga ya nduk, baik-baik di sana. Selalu ingat pesan bapak ya". Ucap pak Agung.
Setelah berpamitan, Bagas dan Sena pergi mengendarai motornya menuju rumah pak Rudi.
" Assalamualaikum", ucap Sena, setelah sampai rumah mertuanya.
"Walaikumsalam", jawab Bu Rena, dari dalam rumah.
"Eh, anak ibu sudah datang, masuk nduk?" ucap Bu Rena menghampiri menantunya. Sena tersenyum mengangguk.
"Bapak mana Bu? Tanya Bagas.
"Bapak mu ya kerja to nak?". Ucap Bu Rena.
Kini mereka duduk di ruang tamu.
"Bagaimana kabar orang tua mu nduk?" tanya Bu Rena.
"Alhamdulillah, kabar mereka baik Bu? Jawab Sena, terlihat canggung.
"Kamu sekarang sudah menjadi anak ibu, jadi jangan merasa sungkan ya nduk, anggap saja ini rumah sendiri". Ucap Bu Rena menggenggam tangan menantunya.
"Iya Bu". ucap Sena tersenyum.
Sementara itu Bagas, terlihat sudah berganti pakaian.
"Kamu mau kemana nak?" tanya Bu Rena
"Bagas mau bertemu Udin sebentar Bu?" jawab Bagas.
" Besok kan masih bisa nak, lagian kamu juga baru sampai". ucap Bu Rena.
"Beberapa hari ini Bagas tidak bertemu Udin Bu?" rasanya kangen untuk kumpul, ngobrol-ngobrol". Ucap Bagas.
"Sudah Bu, biarkan mas Bagas pergi. Mungkin ada hal penting yang ingin mas Bagas bicarakan dengan bang Udin". Ucap Sena , menengahi.
Ketika Bagas keluar rumah, ia terkejut melihat seseorang yang datang kerumahnya.
"Siti !", sedang apa kamu disini? Tanya Bagas dari keterkejutannya.
"Eh, nak Siti, mari masuk". Ucap Bu Rena yang baru saja keluar.
"Ibu kenal dengan Siti?", tanya Bagas bingung.
"Bagaimana ibu tidak kenal? ibu sudah beberapa kali bertemu dengan nak Siti. Wong nak Siti ini adalah tetangga baru kita. Kabarnya Ia pindah bersama orangtuanya." ucap Bu Rena tersenyum.
"Jadi, Bagas ini anak ibu?" tanya Siti yang juga terkejut.
"Iya nak, dan ini menantu ibu, Sena?" Ucap Bu Rena memperkenalkan.
"Siti sudah tahu Bu, karena sebelumnya kita pernah bertemu?" ucap Siti tersenyum.
Bagas mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Udin. Saat ini mereka duduk berkumpul bersama. Sena sejak tadi hanya diam, beberapa kali ia terlihat ngobrol dengan mertuanya. Sementara Bagas terlihat asyik ngobrol bersama Siti, sesekali mereka terlihat tertawa bersama.
"Mereka terlihat begitu akrab, sepertinya masa lalu mereka bukan hanya sebatas seorang teman". Ucap Sena dalam hati.