Willi, pria dengan pemikiran mendalam jatuh cinta dengan teman sekelasnya. Namun, semua tak akan dapat terjadi. Perempuan itu, adik dari pria jahat yang merenggut kebahagiaan tenteku.
Wanita yang terpaksa menikah dan sengsara, Alisya. Adik angkat dari ibunya Willi. Willi dan Alisya memiliki jarak umur yang tak begitu jauh. Cinta, bisa saja hadir diantara keduanya. Namun, pria jahat itu tak akan membiarkannya.
"Semua wanita adalah milikku." Damar, sang pria kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Modulo12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuatku Nyaman
...Alisya tertegun. Permintaan Damar yang tiba-tiba dan tidak terduga membuatnya bingung. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Damar, kenapa pria yang biasanya tenang dan penuh kontrol ini tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang hampir tidak ia kenali. Namun, di balik kebingungannya, ada sesuatu yang lain. Mungkin rasa sayang, atau mungkin keinginan untuk membuat Damar bahagia, yang membuatnya akhirnya mengangguk pelan....
“Baiklah,” jawabnya singkat, meski hatinya masih berdebar tidak karuan.
...Damar tidak menunggu lama. Ia mendekati Alisya, mengulurkan tangannya dan menariknya ke dalam pelukannya. Sentuhan itu membuat Alisya terkejut, tapi ia tidak menolak. Ada sesuatu dalam cara Damar memeluknya yang membuatnya merasa aman, meskipun di baliknya ia tahu ada keinginan yang menggebu-gebu....
...Mereka melangkah menuju ruang tamu, di mana cahaya matahari pagi menyusup melalui jendela, menciptakan suasana yang lembut dan hangat. Namun, di dalam diri Damar, api keinginan semakin membesar. Dia tidak lagi bisa berpikir jernih, semua yang ada dalam benaknya hanyalah hasrat yang membakar, hasrat yang harus ia lampiaskan....
...Di ruang tamu itu, di sofa yang pernah menjadi tempat mereka berbagi tawa dan cerita, Damar dan Alisya menemukan diri mereka terjerat dalam sebuah hubungan yang lebih dari sekadar fisik. Sentuhan demi sentuhan, ciuman demi ciuman, semuanya terasa begitu intens, seolah-olah dunia di sekitar mereka berhenti berputar. Hanya ada mereka berdua, terbungkus dalam balutan hasrat dan keinginan yang tak terbendung....
...Awalnya, Alisya merasa ragu, namun semakin lama ia merasa dirinya tenggelam dalam arus yang sama. Ada kehangatan yang memancar dari Damar, sesuatu yang ia kenal dan rindukan. Meskipun cara Damar mendekatinya pagi itu terasa mendesak dan penuh gairah, Alisya tidak bisa menolak. Ia tahu bahwa ini lebih dari sekadar hubungan fisik; ini adalah cara Damar mengekspresikan sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata....
...Di tengah-tengah keintiman yang membara itu, Alisya mendapati dirinya semakin terhubung dengan Damar. Setiap sentuhan yang mereka bagikan, setiap desahan, semakin mempererat ikatan yang ada di antara mereka. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hasrat, sebuah rasa saling memiliki yang menguat seiring dengan setiap momen yang mereka lalui bersama....
...Waktu seakan berhenti di ruang tamu itu. Tidak ada suara lain selain napas mereka yang terengah-engah, dan detak jantung yang berpacu cepat. Alisya bisa merasakan seluruh tubuhnya gemetar, bukan karena. ketakutan, tapi karena intensitas dari perasaan yang ia rasakan. Damar, di sisi lain, merasakan dorongan kuat untuk melindungi dan menjaga Alisya, meskipun ia tahu bahwa di balik semua itu, ada hasrat yang sulit untuk dijelaskan....
...Ketika akhirnya momen itu berakhir, Damar dan Alisya terdiam. Mereka saling menatap, mata mereka berbicara dalam bahasa yang hanya mereka berdua yang mengerti. Tidak ada kata-kata yang diucapkan, namun di antara mereka ada kesepahaman yang mendalam. Mereka tahu bahwa apa yang baru saja terjadi bukan hanya sekadar pelampiasan hasrat, tetapi sesuatu yang lebih. Sebuah hubungan yang telah lama terbentuk, dan kini mencapai puncaknya dalam bentuk kasih sayang yang murni....
...Damar menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Alisya tetap berada dalam pelukannya, kepalanya bersandar di dada Damar yang naik turun dengan cepat. la bisa merasakan detak jantung Damar yang masih berpacu, namun perlahan-lahan mulai kembali normal....
"Terima kasih," bisik Damar dengan suara lembut. la tidak bisa menemukan kata-kata lain untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Perasaan syukur, bahagia, dan juga lega bercampur menjadi satu.
...Alisya hanya mengangguk, tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa. la tahu bahwa Damar memerlukan momen ini, dan meskipun awalnya ia merasa ragu, kini ia mengerti. Mereka berdua saling membutuhkan, dan pagi itu menjadi saksi bisu dari hubungan mereka yang semakin kuat....
...Namun, di balik semua itu, Alisya merasa ada sesuatu yang mengganjal. la bisa merasakan bahwa Damar datang pagi itu bukan hanya karena dorongan hasrat semata, tetapi karena ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang ia coba hadapi. Alisya ingin bertanya, ingin mengerti lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia memutuskan untuk menunggu. Mungkin nanti, ketika suasana sudah lebih tenang, Damar akan mau berbicara lebih banyak....
"Damar..." Alisya akhirnya memecah keheningan, suaranya lembut namun terdengar penuh perhatian.
"Ya?" jawab Damar, suaranya masih
terdengar sedikit berat.
"Apakah ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan? Aku di sini, kalau kamu butuh teman bicara."
Damar menatap Alisya dalam-dalam, merasakan kehangatan yang terpancar dari gadis itu. la tahu bahwa Alisya tulus, bahwa ia peduli dan ingin membantu. Namun, Damar juga tahu bahwa perasaannya saat ini masih terlalu kacau untuk diungkapkan dengan kata-kata. "Mungkin nanti, Alisya. Aku... aku hanya butuh waktu," jawabnya pelan.
Alisya mengangguk, memahami tanpa perlu mendesak lebih jauh. "Baiklah, aku akan menunggu," katanya sambil merapatkan pelukannya, memberikan Damar rasa aman yang ia butuhkan.
...Mereka berdua tetap dalam posisi itu untuk beberapa saat, membiarkan keheningan pagi yang tenang meresap ke dalam diri mereka. Di luar, matahari semakin tinggi, dan suara kehidupan pagi mulai terdengar samar-samar. Tetapi di dalam ruang tamu itu, waktu seolah berhenti, membiarkan Damar dan Alisya menikmati momen keintiman yang tak terlupakan....
...Mereka tahu bahwa pagi itu akan menjadi salah satu kenangan yang tidak akan pernah mereka lupakan, sebuah momen di mana mereka benar-benar merasakan cinta dan kasih sayang yang mendalam, meski tanpa kata-kata....
...Biasanya Damar mencumbu Alisya tanpa perasaan, kini untuk pertama kalinya. Kehangatan cinta terasa....
"Apakah kamu tidak bekerja hari ini?"
"Tidak harus, aku adalah bos. Aku bebes sayang."
"Ohh, okey." Alisya tersenyum kembali setelah masa lemasnya menghampiri.
"Aku mau lagi, tapi di kamar."
"Baiklah sayang, kamu yang minta."
Mereka berdua beranjak menuju kamar, Dengan pakaian yang telah turun, Damar memasuki Alisya begitu lembut. "Ahhh, Dam kamu benar-benar lembut hari ini."
***
...Willi maupun Intan telah sampai di dalam kelasnya. Kegiatan belajar dan mengajar sudah lama dimulai, dan hampir selesai....
"Halo murid-murid bapak semuanya. Selamat siang."
"Selamat siang pak." Jawab anak-anak serempak.
"Sebelum pulang, saya akan memberikan kalian sebuah tugas dan dapat dikerjakan secara berkelompok. Buka buku matematika kalian halaman 45, kerjakan 1 soal sesuka hati kalian. Tuliskan pada sebuah karton dan minggu depan presentasikan."
"Baik pak." Anak-anak tampak serentak menyanggupi permintaan guru tersebut.
"See you next time, Saya pergi dulu. Langsung pulang kerumah ya, kerjakan tugas. Jangan keluyuran."
"Iya pak, hahaha." Celetuk anak dibelakang sana.
Ketika pak guru mau keluar kelas, seorang anak perempuan mencegatnya.
"Pak tunggu, kelompoknya gimana pilih sendiri atau dibuatkan?"
"Pilih sendiri saja ya, dua orang."
"Baik pak, terimakasih."
"Ya."