Indonesia
NovelToon NovelToon
BLOOD OF THE BETRAYER

BLOOD OF THE BETRAYER

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Romansa Fantasi
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: azmi jamil

"Darah yang mengalir di nadiku adalah darah seorang pengkhianat."

100 tahun lalu, Raja Granadia menjual jiwanya pada iblis demi takhta, hanya untuk dihancurkan oleh Raja Graham. Namun, kegelapan tidak benar-benar mati. Di sebuah laboratorium rahasia yang dingin, seorang anak tercipta sebagai eksperimen hidup dari sisa-sisa kekuatan Granadia. bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon azmi jamil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

saint baru

Dua hari berlalu...

Luka-luka di tubuh Nathan telah menutup dengan kecepatan yang tidak wajar—efek samping dari modifikasi genetika dan eksperimen kejam yang pernah ia jalani. Namun, meski sembuh, jejak penderitaan itu tidak hilang. Seluruh kulit tubuhnya dipenuhi bekas luka yang mengerikan, seperti peta neraka yang terukir abadi di dagingnya.

Ia kini dibawa ke Pusat Pelatihan Asosiasi Pahlawan, sebuah tempat di bawah naungan Kerajaan Graham. Berbeda dengan sekolah biasa, tempat ini hanya beroperasi setelah jam sekolah usai. Di sinilah tempat para calon Rasul—anak-anak yang sejak kecil memiliki kekuatan di atas rata-rata—belajar mengendalikan kekuatan mereka agar tidak menghancurkan dunia.

Sesampainya di sana, Nathan bertemu dengan belasan anak lain yang sebaya dengannya, berusia sekitar 8 tahun.

Instruktur Algarata berdiri di depan barisan, suaranya menggelegar memenuhi lapangan.

"Dengar semuanya! Hari ini kita kedatangan Saint baru. Sini nak, perkenalkan dirimu."

Nathan melangkah maju. Wajahnya datar, matanya kosong tanpa nyawa.

"Kalian bisa panggil aku... 01."

Suaranya dingin, membuat suasana menjadi mendadak hening dan mencekam.

WUSH!

Tiba-tiba sebuah tangan besar mengacak-acak rambut peraknya. Rasul Kedua, Vladimir Romanov, datang sambil tertawa terbahak-bahak.

"Hei bocah kecil di depan! Itu nama lama! Mulai hari ini kau bukan nomor eksperimen lagi!"

Vladimir menatap tajam ke arah anak itu.

"Namamu Nathan. Ingat itu! Panggil saja Nathan, oke?"

Nathan mengerjap, bingung. "Sekarang namaku... Nathan?"

"Iya! Nathan!" Vladimir melempar sebuah permen ke arahnya. "Jadi lupakan angka-angka sialan itu!"

 

Setelah perkenalan singkat, pelatihan pun dimulai.

"Baiklah! Kita mulai dengan pemanasan! Lari keliling lapangan selama setengah jam! DILARANG menggunakan ability! Gunakan fisik murni!" teriak Algarata.

Mereka berlari, berkeringat, hingga akhirnya tiba waktu istirahat. Sementara anak-anak lain berkumpul mengobrol riuh, Nathan hanya duduk menyendiri di sudut yang gelap, memeluk lutut dan melamun jauh. Ia tidak tahu cara berteman. Ia hanya tahu cara bertahan hidup.

Namun, tatapan anak-anak lain tertuju padanya. Bukan karena kasihan, tapi karena ketakutan.

Saat Nathan tidak sadar, tato misterius di lengan kirinya terlihat jelas. Itu bukan gambar biasa. Itu adalah tanda suci dan sekaligus terkutuk: Tanda Sang Wadah, simbol bahwa ia adalah tubuh yang dipersiapkan untuk menampung para Dewa Iblis.

Melihat tato itu, tubuh Suzin Hanale merinding seketika.

"Hei... kalian ingat nggak apa kata Ayah kemarin?" bisik Suzin gemetar.

(Flashback)

"Besok akan ada anak baru namanya Nathan," kata Kai Hanale dengan wajah serius kepada anak-anak muda itu. "Ajak dia main, bujuk pakai permen atau apa saja. Hiraukan tatonya... dia adalah anak yang kami selamatkan dari neraka. Dia tidak berbahaya, percayalah."

(Kembali ke masa kini)

"Ayo dong salah satu dari kalian ajak dia ngobrol!" desak Suzin.

"Ah enggak ah! Lo aja deh Suzin! Gue takut!" tolak Khaleed Solomon.

"Udah ah jangan ribut!" potong seorang gadis cantik berambut pirang dan pendek, Rachel von Graham. "Kata Ayah gue nggak boleh jahat. Yasudah, gue aja yang ngajak!"

Rachel mengambil segenggam permen warna-warni dari sakunya, lalu berjalan dengan percaya diri menuju sudut gelap tempat Nathan duduk.

"Hei, Nathan!" sapanya ceria sambil tersenyum manis. "Jangan main sendiri dong. Hayu gabung sama yang lain! Nih, buat lo..."

Rachel menyodorkan tumpukan permen itu.

Saat itu juga...

Jantung Nathan berdegup kencang. Ada perasaan aneh yang merambat di dadanya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Wajah putih pucatnya perlahan berubah merah padam. Matanya membelalak sedikit menatap senyum gadis itu.

"S-siapa... kau...?" ucapnya terbata-bata, suaranya sedikit bergetar.

"Aku Rachel! Udah ah, jangan melamun terus!" Rachel langsung menarik tangan kecil Nathan yang penuh bekas luka itu. "Ambil permennya dulu! Ayo kita main!"

Nathan terdiam, tangannya secara refleks menggenggam permen itu erat-erat, sementara wajahnya makin merah seperti tomat, dan untuk pertama kalinya... ada sedikit rasa hangat yang meleleh di hatinya yang beku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!