Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.
Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?
Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjalani Hubungan
“Senja bareng sama kita atau sama Rafka?” Bunda bertanya, mereka sudah bersiap-siap untuk berangkat lagi ke rumah saudara Bunda.
Gadis yang sedang di tanya terdiam, sesekali menengok layar hp. “Senja ngga tau, Bun. Si Rafka ngga ada ngomong apa-apa” jelas Senja apa adanya.
Bunda menepuk kening gemas “Loh ya di tanya dong” Senja hanya cengengesan
“Sudah, Bun. Tapi dia belum balas” tidak mau di tuduh berbohong gadis itu melampirkan bukti chatnya ke arah Bunda.
“Sudah kalian berdua aja, pdkt!” Wisnu berjalan keluar tidak sengaja mendengar ucapan Senja. Hanya numpang lewat. Pria itu mau memanaskan Mobil.
Alih-alih marah Senja malah menyetujui ucapan Sang Abang. Ia juga sempat memiliki niatan seperti itu “Iya, kayanya kita nyusul, Bun. Mobil juga ngga muat pasti. Biar Senja bawa mobil sendiri. Mau bawa kerjaan, sekalian kerjain di jalan nanti”
Bunda menggeleng heran “lebaran loh ini, kok kerja si!”
Senja menggidik bahu “namanya tanggung jawab, Bun. Sudah biasa lah”
Ayah masuk ke ruang tamu tempat mereka berkumpul yang sudah berpakaian rapi “Ayo jalan. Ada yang mau di tunggu?” melihat ke sekeliling menantu nya pun sudah turut bergabung. “Senja gimana?"
"Senja nanti nyusul bareng Rafka. kita duluan aja” jawab Bunda cepat. Dan Ayah ber-oh ria. Sepertinya Ayah tiga anak itu sangat setuju dengan hubungannya. Tidak ada wajah-wajah keberatan apalagi protes seakan-akan Senja telah menikah.
“Gahez mau ditinggal? Atau Ikut Senja?” Senja jelas menolak langsung usulan dari Ayahnya. Yang benar saja, Adeknya sangat nyebelin kalau ada sekutunya.
“Ogah! Mending Kak Hiza aja yang bareng aku!” Protes Senja
“Enak aja! Kamu mau jadikan istriku nyamuk gitu? Hiza bareng sama aku lah, suaminya!” sewot Wisnu yang keberadaannya tidak terdeteksi, tau-tau sudah ada merangkul Istrinya.
“ih kenapa sih, Bang. Tadi kak Hiza bisik sama Senja, kalau dia eneg liat muka Abang!” Wisnu memicingkan matanya ke Hiza yang tertawa seraya menggeleng kepala lengkap dengan lambaian tangan.
“Ayo, kamu jangan sampai ketularan Senja” Wisnu memboyong Hiza dalam rangkulannya. Wisnu bahkan masih sempat-sempatnya menatap sinis kearah Senja yang tertawa puas.
Getaran dari Hp menghentikan tawa Senja, pesan Rafka masuk balasan dari pesannya tadi. ‘Aku sudah siap, mau ku jemput sekarang?’
Senja melirik ke keluarganya yang masih di halaman rumah. Menunggu mobil di keluarkan Wisnu. Menimbang-nimbang idenya cukup bagus atau jelek di lakuin sekarang.
‘Ke rumahku aja, kita berangkat pake mobilku’ tapi mencoba tidak ada salahnya kan pikir Senja
‘tolong jangan salah paham, aku sekalian mau mengecek pekerjaanku di jalan juga siang nanti ada agenda zoom meeting. Jadi aku harus mempersiapkannya di jalan nanti.’ Meralat cepat omongan lebih baik dari pada di sangka yang tidak-tidak.
Rafka
‘tidak masalah, kenapa tidak pakai mobilku saja?’
Senja
‘maaf, tapi aku sudah menyimpan dokumen di mobil’
Rafka
‘ya sudah, aku otw ke rumahmu sekarang’
Senja menghela nafas lega. Rafka mau mengerti dirinya dan tidak menuntut apalagi memaksa dengan dalih harga diri seorang laki-laki. Padahal tidak ada salahnya kan memakai kendaraan cewe?
Sekarang Senja hanya tinggal menunggu Rafka datang, rumah Pria itu tidak jauh dari nya hanya berjarak beberapa rumah saja. Tapi kalau jalan tetap jauh sih, bagi Senja.
Sembari menunggu Rafka, Senja Kembali mengecek dokumen-dokumen yang ikut serta dalam perjalanannya nanti, sesekali melakukan pengecekan ulang pada staff nya dalam zoom nanti. Hingga..
“Hai, lama ya?” itu suara yang memaksa nya menerima lamaran waktu lalu. Senja mendongak demi bisa melihat wajah Pria jangkung yang berdiri di depannya.
Munafik jika Senja tidak terpesona melihat penampilan Laki-laki di depannya ini. Rafka memakai kemeja lengan Panjang yang di gulung sampai lengan berwarna Navy di padukan celana kain Slim Fit Cream dan sepatu Sneakers warna putih. Jangan lupakan jam tangan yang melilit pergelangan tangannya menambah kharisma nya semakin menguar.
Selaras dengan pakaian Senja sekarang, Senja sendiri memaki Blouse dengan detail Stand Collar bernuansa Pleated dan Pearl Accents berwarna Cream, Sebagian baju ia masukkan ke Hightwaist Loose Pants Classic Broken White. Di tambah dengan hijab yang senada dengan baju yang telah ia bentuk sedemikian rupa dan rapi adalah utama bagi Senja. Untuk sepatu pilihan Senja jatuh pada Pointed Toe Flat Shoes Beige.
“Hah? Ohh ngga. Jalan kaki tadi?” tanya basa-basi Senja. Tak mau mencolok memperhatikan tadi.
Rafka tersenyum “Motor, minta antar kakak tadi” jawaban yang sangat Jujur di dapatkan oleh Senja di hari menjelang panas ini.
Senja ber-oh “berangkat sekarang?”
“Ayo, mana kunci mobilmu biar aku ambil” Rafka mengadahkan tangan meminta kunci yang langsung di berikan Senja.
Selagi Rafka mengambil mobil, Senja memanfaatkan waktu untuk menutup sejenak laptop yang telah di bukanya sedari tadi. Sehingga pada saat mobil tepat di depan teras Senja langsung memasuki mobilnya Bersama Laptop yang senantiasa berada di pangkuannya seperti ter lem lengket.
Suasana di mobil hening, hanya deru mesin dan suara keyboard yang di tekan-tekan Senja demi menghasilkan sebuah kata di dalamnya. Sesekali Rafka melirik melihat Senja yang tampak sibuk sekali.
“Meski lebaran tetap kerja?” Tanya Rafka mengusir kecanggungan. Jangan sampai Senja menganggapnya sebagai supir eksklusif.
Senja tersentak kaget. Tubuhnya mudah sekali merespon kaget. “Oh maaf, ini Cuma persiapan zoom nanti, atasan bisa nya hari ini ya aku bisa apa. Waku beliau sempit sekali.”
Rafka mengangguk mengerti “Kamu sendiri, lebaran masuk?” tanya balik Senja.
“Iya, sebenarnya aku bisa ambil cuti buat lebaran tapi buat apa? Mending masuk. Tapi Sekarang dan kedepannya kayanya aku memilih buat cuti deh” Senja mengerutkan dahi bingung.
Rafka yang melihat itu justru tersenyum, laki-laki itu mudah sekali mengumbar senyumannya “kan ada kamu, aku siap jadi supir tanpa bayaran buat ngantar kemanapun kamu mau” Senja yang mendengarnya reflek merinding. Dia bukan gadis yang suka di gombalin, apalagi gombalan Rafka receh!
“kamu lebay ternyata” ucap Senja jujur. Mulutnya tak bisa ia kendaliin.
Rafka tertawa “Memang, kenapa kamu nyesel nerima lamaranku?” semakin pula Senja memutar mata malas, pertanyaan yang terus di ulang.
“tapi maaf ya, karena sudah di terima ngga bisa di return jadi kamu harus menerimanya dengan sepenuh hati wahai Arunika Binar Senja”
“Kamu ngga bakal nyesel emang? Aku serius loh, aku ngga bisa masak. Jarang nyuci”
Pria di sampingnya menengok penuh kearahnya. Di depan lampu merah “Aku tidak pernah mempermasalahkan itu, Nja. Aku bisa masak. Kamu ngga mau masak biar aku yang masak. Aku siap jika harus jadi Cheff juga di rumah kita” tangan Rafka terulur meraih tangan Senja yang menganggur di atas laptop.
Senja sendiri sudah menggigit bibir bawahnya, otaknya menolak percaya semua ucapan Rafka sedangkan Perasaannya menerima penuh perlakuan Rafka padanya.
“Sudah, jangan dipikirkan. Kita cukup menjalani hubungan ini. Perjalanan kita masih Panjang, Senja, jangan merasa tertekan oke?” jari Rafka tak diam, Ia mengelus pelan dengan ibu jari di permukaan tangan Senja.
“Jadi, kemana kita sekarang?” Rafka segera mengalihkan topik dari tadi Senja hanya diam tak membalas, ia yakin gadis itu terserang rasa tak enak di hati nya. Tugasnya sekarang adalah menenangkannya.
“ah, kita ke rumah saudara Bunda. Itu mapsnya buka aja, liat di situ” Intruksi Senja di terima dengan baik oleh Rafka, mengendarai kendaraan dengan laju normal. Tidak ada yang perlu di buru-buruin.
Itu bagi mereka, sedangkan di rumah tujuan, mereka telah di tunggu-tunggu. Hubungan mereka menarik untuk diketahui. dan di depan sana, ada satu hal yang telah Senja lupakan.