Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Surat Cerai di Atas Meja

PRANG!

Kayu pintu kamar itu akhirnya menyerah. Engsel bagian bawah terlepas paksa dari kosennya, menyingkapkan celah lebar yang seketika disapu silau lampu ruang tengah. Rendy bergerak secepat kilat. Sebelum tubuh-tubuh di luar menerobos masuk, ia merengkuh tubuh Clarissa yang bergetar hebat, menutupi bahu dan dada polos istrinya dengan selimut tebal hingga rapat. Rendy menarik kaosnya sendiri dari sudut kasur, memakaikannya ke tubuhnya dengan satu sentakan cepat, lalu berdiri pasang badan di tepi ranjang.

Dion melangkah masuk lebih dulu dengan linggis besi di tangan kanan, disusul oleh Ibu Rosma, Hendra, dan dua orang paman Clarissa yang sengaja dipanggil malam-malam untuk memberi tekanan.

"Pemandangan yang menjijikkan!" jerit Rosma dengan nada melengking penuh rasa jijik saat melihat Clarissa bersembunyi di balik selimut dengan bahu gemetaran. "Sudah mau diusir, masih sempat-sempatnya melakukan perbuatan mesum di dalam kamar! Tidak tahu malu!"

"Ibu, keluar!" bentak Rendy. Suaranya tidak keras, namun mengandung gemuruh dingin yang amat menekan hingga membuat dua paman Clarissa menghentikan langkah mereka sejenak. "Ini kamar kami!"

"Kamar kamu?!" cibir Hendra yang berdiri bersedekap di ambang pintu, menatap Rendy dengan senyum meremehkan dari balik kacamata bermereknya. "Ini rumah milik keluarga Clarissa, Rendy. Kamu cuma menumpang. Dan malam ini, masa menumpangmu sudah habis."

Dion maju dua langkah, mengacungkan linggisnya ke arah meja kayu kecil di sudut ruang tamu luar. "Keluar sekarang ke ruang tamu! Atau aku seret kamu telanjang bulat ke depan kompleks!"

Clarissa menangis sesenggukan di bawah selimut. Dengan jemari gemetaran, ia mengenakan pakaian rumahannya di balik penutup kain itu. Rendy menoleh, membelai pipi istrinya yang basah dengan kelembutan yang sangat kontras dibandingkan aura dingin yang memancar ke arah keluarga mertuanya. "Tidak apa-apa, Sa. Pakai baju yang rapi. Kita selesaikan di depan."

Dua puluh menit kemudian, ruang tamu sempit itu menjelma menjadi ruang pengadilan tak resmi yang dingin.

Lampu neon putih yang menyala terang memantulkan bayangan orang-orang yang duduk melingkari meja kaca tebal. Ibu Rosma duduk di ujung meja bak seorang hakim pembawa hukuman, didampingi Hendra dan Dion. Dua paman Clarissa berdiri di belakang sofa dengan wajah dilipat ketus.

Di sisi lain meja, Rendy duduk berdampingan dengan Clarissa. Pria itu tampak begitu tenang secara lahiriah—pundaknya tegap, matanya lurus menatap Rosma tanpa ada rasa gentar sedikit pun. Namun di bawah meja kaca yang tertutup sebagian oleh jumbai taplak, situasi yang sama sekali berbeda tengah terjadi.

Jemari Clarissa meraba dinginnya telapak tangan Rendy, lalu menyusupkan jemarinya di antara sela-sela jari suaminya. Clarissa menggenggam erat telapak tangan Rendy yang memar dengan cengkeraman yang luar biasa kuat—cengkeraman seorang wanita yang merasa dunianya sedang diruntuhkan secara paksa.

Setiap kali Rosma atau Hendra melontarkan kalimat pedas, cengkeraman jemari Clarissa semakin mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Gesekan halus antara kulit jemari mereka di bawah meja menyalurkan gelombang panas dan getaran napas mereka yang memburu cepat. Napas Clarissa terdengar patah-patah, dadanya naik turun teratur menahan keputusasaan yang membakar, sementara Rendy mengusap punggung tangan istrinya menggunakan ibu jarinya, mencoba menyalurkan sisa-sisa kehangatan dan ketenangan yang ia miliki di tengah pengepungan tersebut.

BRAK!

Rosma menghempaskan selembar kertas putih tebal di atas meja kaca, tepat di hadapan Rendy. Di samping kertas itu, sebuah pulpen berujung perak dilemparkan hingga bergulir menabrak tepi meja.

"Ini surat persetujuan cerai dan pelepasan hak," kata Rosma dingin tanpa ada setitik pun rasa iba di matanya. "Tanda tangani sekarang."

"Aku tidak mau menandatanganinya, Bu," sahut Rendy tenang, suaranya mantap tanpa keraguan. "Saya tidak pernah mencuri, dan saya tidak akan pernah menceraikan Clarissa."

"Kamu pikir kamu punya pilihan?!" potong Hendra menyela dengan suara berat berpura-pura tegas. Hendra mencondongkan tubuhnya ke depan, memajukan wajahnya ke arah Rendy. "Dengar ya, Rendy. Pembebasanmu dari kantor polisi tadi pagi itu cuma sementara karena kekurangan berkas formal. Temanku di kepolisian resort daerah bisa dengan mudah membuka kembali kasus ini esok pagi. Jam tangan Rolex milik Dion harganya lima puluh juta rupiah. Itu masuk kategori kejahatan berat dengan ancaman pidana di atas lima tahun penjara!"

"Aku tidak pernah mengambil barang itu," ulangi Rendy, tatapannya menghunus mata Hendra hingga pria berkacamata itu memalingkan muka sejenak.

"Siapa yang peduli kamu mengambilnya atau tidak?!" jerit Rosma tanpa tedeng aling-aling. Ktopeng kesopanannya sudah runtuh sepenuhnya. "Barang itu ditemukan di bawah kasurmu! Polisi punya saksi, punya barang bukti! Kalau kamu tidak mau tanda tangan surat cerai ini malam ini juga, besok subuh Hendra akan memastikan kamu dimasukkan ke sel tahanan dan membusuk di sana selama lima tahun!"

Kata 'penjara lima tahun' menghantam dada Clarissa bak gada besi.

Cengkeraman jemarinya pada tangan Rendy di bawah meja mendadak tersentak keras. Tubuh Clarissa gemetaran hebat. Jalur napasnya serasa tersumbat oleh hawa dingin yang mencekik. Lima tahun di penjara dengan tuduhan kriminal akan menghancurkan hidup Rendy sepenuhnya. Keluarga besarnya yang kaya dan terpandang pasti tidak akan sudi membantu seorang pria yang reputasinya hancur—pikir Clarissa, yang sama sekali belum mengetahui identitas asli Rendy sebagai pimpinan tertinggi Pradipta Group.

"Pilih, Rendy," desak Dion dengan nada mengejek yang membuat darah mendidih. "Pergi dari rumah ini sebagai duda miskin yang bebas, atau pergi ke penjara pakai baju tahanan oranye? Jangan buat Clarissa ikut terseret jadi istri seorang narapidana!"

"Sa..." bisik Rendy pelan, menoleh ke arah istrinya. Di bawah meja, Rendy meremas balik jemari Clarissa, mencoba menatap manik mata wanita yang sangat dicintainya itu demi mencari setitik dorongan untuk tetap bertahan bersama. "Tatap Mas, Sa. Apakah kamu mau Mas menandatangani ini?"

Clarissa menundukkan kepala sangat dalam. Air matanya menetes satu per satu, jatuh membasahi pangkuan kain rumahannya. Napasnya memburu kian liar di tengah keputusasaan yang mencekik dada. Bayangan suaminya meringkuk di balik jeruji besi dingin, dianiaya oleh para tahanan lain, dan kehilangan masa depannya terus membayangi kepalanya. Rasa cinta dan ketakutan yang mendalam membentur logika Clarissa hingga hancur berkeping-keping.

"Clarissa! Jawab!" bentak Rosma keras. "Kamu mau hidup dengan mantan narapidana pencuri, atau kamu mau menyelamatkan nama baik keluargamu?!"

Clarissa tetap membisu. Tangannya yang semula mencengkeram erat jemari Rendy di bawah meja... perlahan-lahan mulai melemas.

Satu per satu jemari lentik Clarissa terlepas dari genggaman Rendy. Dinginnya udara malam langsung menyelinap mengantikan kehangatan sentuhan mereka yang baru saja pudar. Clarissa menarik tangannya kembali ke pangkuannya sendiri, memeluk dirinya sendiri sambil terus menunduk rapat, membiarkan rambut hitam panjangnya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.

Ia tidak mengucap sepatah kata pun. Ia tidak membela Rendy. Ia tidak melarang. Ia hanya diam seribu bahasa dalam kepatuhan yang pasrah pada kehendak ibunya.

Melihat respons istrinya, ada sesuatu yang retak di dalam dada Rendy. Rasa nyeri akibat makian dan fitnah selama tiga tahun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa hampa saat melihat Clarissa memilih untuk bergeming dalam diam.

Rendy menghembuskan napas panjang. Aura ketegangan yang menyelimuti tubuhnya mendadak surut, berganti dengan ketenangan yang amat membekukan—ketenangan seorang penguasa yang telah membuat keputusan mutlak.

Rendy mengulurkan tangan kanannya yang memar ke atas meja, melepaskan cengkeraman hampa di bawah sana, lalu meraih pulpen berujung perak tersebut.

"Bagus! Begitu dari tadi!" seru Rosma dengan mata berbinar puas.

Rendy menempelkan mata pena ke atas garis hitam kertas surat perceraian itu. Jemarinya bergerak cepat, menggoreskan tanda tangan resminya dengan tarikan garis yang tegas dan elegan.

Sret. Sret.

Nama 'Rendy' tercetak sah di atas kertas tak bernyawa itu.

Baru saja titik terakhir dari tanda tangannya tuntas tergores, tangan Rosma sudah menyambar cepat dari sudut meja. Dengan gerakan kasar dan tanpa menyisakan sedikit pun rasa hormat, Rosma menarik pena dan lembaran kertas itu dari hadapan Rendy.

Clarissa hanya menunduk diam tak bergerak, melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ibunya menarik pena itu dari jemari Rendy tanpa mengangkat wajahnya untuk menolong atau menahan sang suami.

Rosma memeriksa lembaran kertas itu di bawah lampu, lalu tersenyum sangat lebar. "Akhirnya! Keluarga kami resmi bersih dari sampah tidak berguna!"

Rendy berdiri dari kursinya. Ia menatap Rosma, Dion, dan Hendra satu per satu dengan sorot mata yang begitu dingin hingga ruangan itu terasa seperti diliputi es. Terakhir, pandangannya jatuh pada Clarissa yang masih tertunduk kaku di sampingnya.

"Penyamaranku sudah selesai," gumam Rendy sangat pelan, suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

Rendy membalikkan badan, melangkah menuju pintu depan tanpa membawa satu pun tas atau pakaian. Di luar rumah, suara deru angin malam bertiup kencang bersamaan dengan tetesan air hujan pertama yang mulai membasahi bumi.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!