Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Testpack
Bab 7 Istri Polos Tuan Garra
Pulang dari kampus, langkah Elisa gontai.
Kata-kata Susan tadi siang terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Pasti Susan salah... dia hanya asal bicara!" desis Elisa sambil menggeleng keras. Ia ingin membuang jauh-jauh pikiran itu.
Tidak mungkin. Mana mungkin hanya satu malam bisa langsung jadi anak. Mana mungkin Tuhan sekejam itu padanya. Ibunya baru saja berpulang, ia baru saja mencoba merangkak dan berdiri lagi.
Jauh di relung hatinya yang paling dalam, Elisa berdoa. Berharap. Memohon. Jangan sampai. Jangan sekarang. Jangan dengan cara seperti ini.
Tapi semakin ia menyangkal, semakin tubuhnya memberontak. Seminggu ini ia gampang mual. Bau parfum teman kuliahnya yang biasanya wangi, tadi pagi terasa memuakkan. Pusingnya datang tiba-tiba. Dan yang paling menakutkan...
Elisa membuka kalender di ponselnya dengan tangan bergetar.
Tanggal 23. Seharusnya tamu bulanan itu datang tanggal 15. Terlambat beberapa hari. Darahnya seketika berdesir dingin.
Keesokan harinya, setelah kelas terakhir selesai, Elisa tidak langsung pulang ke kos.
Ia mampir ke sebuah apotek yang agak jauh dari kampusnya, apotek yang tidak akan ada yang mengenalnya. Ia memakai masker, menundukkan kepala dalam-dalam.
"Mbak... ada... testpack?" suaranya nyaris tak terdengar.
Penjaga apotek yang ramah itu memberikannya sebuah kotak kecil berwarna pink tanpa banyak tanya. Justru itu yang membuat Elisa semakin malu. Seolah dosa itu tertulis jelas di dahinya.
Sampai di kos, ia bahkan belum sempat mengganti baju kuliahnya, belum sempat melepas sepatunya dengan benar. Tas ia lempar ke tikar. Kotak kecil itu ia genggam erat sampai basah oleh keringat tangannya.
Dengan jantung berdegup kencang, ia masuk ke kamar mandi kos yang sempit. Ia membaca instruksi di bungkusnya berulang kali. Mudah, tinggal dicelupkan selama 10 detik, tunggu 5 menit.
Mudah. Kata yang begitu kejam. Tidak ada yang mudah dari ini. Tangannya bergetar hebat saat ia memasukkan alat putih kecil itu ke dalam wadah plastik berisi sampel.
"Semoga Susan salah... semoga tubuhku tidak apa-apa... Tuhan, tolong aku..."
Elisa memejamkan mata rapat-rapat begitu menarik benda itu. Ia tidak berani melihat. Ia takut. Sangat takut. Ia menempelkan punggungnya ke dinding kamar mandi yang dingin, mengatur napas.
Satu detik. Dua detik. Lima detik.
Pelan-pelan, dengan sisa keberanian terakhir yang ia punya, ia membuka matanya. Dunia Elisa runtuh detik itu juga.
Dua.
Ada dua garis merah yang jelas. Tegas. Kejam. Garis itu seolah mengejeknya. Tangan Elisa lemas. Alat itu jatuh ke lantai.
Jantungnya berdetak tidak karuan, kakinya kaku, badannya lemas seketika. Ia melorot jatuh terduduk di lantai kamar mandi yang dingin.
"Enggak... enggak mungkin..." gumamnya, suaranya tercekat.
Air matanya yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Ia membekap mulutnya sendiri agar penghuni kos yang lain tidak mendengar isak tangisnya.
"Bu... bagaimana ini, Bu?" isaknya pecah.
Di dalam perutnya yang masih rata itu, kini ada sebuah nyawa. Nyawa yang tercipta dari satu malam penuh dosa dan air mata. Nyawa yang ayahnya adalah seorang pria yang bahkan tidak ia cintai. Pria yang suka menyewa wanita malam. Pria yang menganggapnya kotor.
Sore di hari yang sama, hujan baru saja reda. Langit masih kelabu. Elisa memutuskan pergi ke satu-satunya tempat di mana ia bisa pulang. Makam ibunya.
Ia duduk bersimpuh di depan gundukan tanah yang masih basah itu. Nisan sederhana dari kayu, bukan marmer mewah, hanya bertuliskan nama yang ia cintai seumur hidupnya, UTAMI.
Di tempat lain, orang mungkin takut dengan kuburan. Tapi bagi Elisa, ini adalah rumah.
"Bu... Ibu..." panggilnya lirih.
Tidak banyak kata yang bisa keluar. Padahal ada ribuan kalimat yang ingin ia muntahkan. Tentang rasa takut, rasa bersalah, rasa hancur, rasa kangen yang tidak ada habisnya. Tapi semua itu hanya berubah menjadi isakan yang menyayat hati.
Tubuhnya bergetar hebat menahan tangis. Bahunya naik turun.
"Bu, bagaimana ini, Bu... Ibu..."
Gadis itu menangis lama, sangat lama. Ia tidak peduli ada beberapa peziarah lain yang melihatnya dengan tatapan iba. Ia hanya butuh ibunya. Baru kemarin ia berjanji akan bangkit. Akan fokus kuliah, akan membanggakan ibu di surga, akan melupakan malam nista di hotel itu.
Tapi sekarang? Ia hamil. Ia mengandung anak dari Tuan Anggara. Laki-laki yang suka main perempuan. Laki-laki yang pasti akan jijik jika tahu.
Apa yang harus ia lakukan? Menggugurkannya? Tuhan tidak akan memaafkannya. Ibunya pasti akan sangat kecewa. Tapi jika ia pertahankan, bagaimana dengan kuliahnya? Bagaimana dengan hidupnya? Bagaimana ia harus memberi tahu pria itu?
"Bu... Lisa mungkin sangat mengecewakan Ibu... jika Ibu masih hidup... Ibu pasti malu punya anak seperti aku... iya kan, Bu?" ucapnya dengan suara serak, parau karena terlalu lama menangis.
Wajahnya sudah sembab. Matanya bengkak. Ia terdiam, menatap nisan itu, seolah berharap nisan itu akan menjawab.
Tiba-tiba, langit yang tadi kelabu berubah semakin mendung. Angin bertiup kencang. Gerimis mulai turun lagi, satu dua tetes membasahi kepalanya.
Elisa masih tidak bergerak. Ia membiarkan gerimis itu membasahi pipinya yang basah oleh air mata.
"Bu, Lisa pulang dulu ya. Ibu... maafkan Lisa ya... maafkan Lisa yang sudah mengecewakan Ibu... maaf..."
Ia berdiri dengan susah payah. Kakinya kesemutan karena terlalu lama bersimpuh. Ia mengusap wajahnya yang basah, tidak bisa membedakan mana air mata dan mana air hujan.
Ia mengusap nisan ibunya dengan penuh cinta, sebelum akhirnya berbalik. Kelopak matanya tertutup, bulir bening terakhir menetes bersama dengan gerimis yang semakin deras. Dadanya sesak, tapi ada sedikit kelegaan. Setidaknya, ia sudah cerita pada ibunya. Lebih tepatnya, cerita pada gundukan tanah tak bernyawa yang tidak akan pernah menghakiminya.
Sampai di kos, hujan sudah reda. Elisa langsung merebahkan tubuhnya di atas tikar tipis. Ia tidak peduli bajunya sedikit basah.
Ia menatap plafon kosnya yang bocor di satu sudut, tangannya perlahan, dengan sangat hati-hati, ia letakkan di atas perutnya yang masih rata.
Di sana ada kehidupan.
"Tuhan... harus aku apakan janin dalam perutku ini? Harus aku apakan hidupku ini?"
Dan untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, Elisa merasa benar-benar sendirian di dunia ini.
Bersambung.
🫢 Ditunggu komentarnya.
si bibi ni lucu🤭🤭🤭
ntar gara ngamuk lagi🤣🤣🤣