Sebuah cerita tentang makhluk mitologi yaitu werewolf dan vampire, menyamar dan berbaur dengan manusia untuk menemukan putri yang hilang. Salah satu dari mereka ternyata adalah mate sang putri.
Namun setelah putri yang hilang ditemukan terjadi peperangan besar yang membunuh banyak vampire.
kisah ini menceritakan tentang dua golongan vampire dan juga dua golongan werewolf yang saling memperebutkan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putriifrhm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Truth
"Leo, beritahu aku di mana James berada!" bentak Jane dengan wajah merah padam di ruang tamu rumahnya sambil berkacak pinggang.
Leo menghela nafas panjang, ia bingung harus menjawab apa, setelah Jane pulang dari rumah sakit, ia terus menanyakan keberadaan James.
"Leo, katakan!" bentak Jane.
"A-aku tak bisa memberitahumu sekarang," sahut Leo sambil menggaruk tengkuknya yang jelas sekali tak gatal.
Jane mendengus, "Atau jangan-jangan James telah ma-"
Dengan cepat Leo meletakkan jari telunjuknya di bibir tipis Jane, "Tidak, percayalah padaku, ia baik-baik saja,"
Gadis berambut pirang itu menepis tangan Leo dengan kasar, "Percaya? Bagaimana bisa aku percaya pada orang yang telah menyembunyikan kakakku berhari-hari dengan alasan yang tidak jelas, menyebalkan!"
"Argghh!" Leo mengacak rambutnya dengan frustasi, ia kehabisan kata-kata untuk menjawab Jane.
"Apa? Jawab saja! Aku akan terima segala kenyataannya."
"Oh, baiklah, aku sudah muak menyimpan rahasia ini," keluh Leo.
Jane menatap Leo dengan alis menukik tajam dan kedua tangan terlipat di dada.
"James diculik oleh werewolf golongan Abloor," jawab Leo dengan santai, ia mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu itu.
"Leluconmu tidak lucu," bantah Jane.
Leo memutar bola matanya dengan malas, "Terserah kau saja, aku tak memaksamu untuk percaya," pemuda berambut pirang itu tampak lelah membahas hal itu.
Gadis itu menurunkan tangannya dan menatap Leo yang tengah memejamkan mata, ia berusaha untuk memahami maksud dari perkataan Leo, "Ka-kau--jangan-jangan kau--" ucap Jane terbata-bata.
"Ya, aku werewolf, dan si wajah kaku itu vampire," sela Leo, ia menjawab dengan santainya, seperti tak akan ada masalah jika Jane mengetahui hal itu.
Hening.
Jane menatap Leo dengan tubuh gemetar, dan jantung berdegup kencang.
"Mengapa kau diam? Terkejut?" tanya Leo menatap Jane, kemudian meringis.
"Wajah kaku?"
"Alex,"
"Lalu apa hubunganku dengan kalian, mengapa James diculik, mengapa kalian--" tanya Jane.
"Kau dan James adalah anak dari bangsa vampire golongan Wetford, ya menurut makhluk yang menculik James, kalian akan membawa bahaya bagi bangsa mereka," terang Leo singkat.
Jane mengerutkan dahi.
Leo menghela nafas, "Nanti kau akan paham sendiri,"
.
.
.
.
.
Sementara itu di kerajaan Abloor.
Seorang pria berambut pirang dengan tubuh bertelanjang dada di gantung di tengah ruangan yang sepi, gelap, dan lembap. Tangannya di borgol dengan besi tebal dengan rantai yang menggantung dari atas.
Ia tampak terluka, namun tak terlihat lemah. Beberapa penjaga berjaga di ambang pintu.
James hanya dapat diam, karena jika ia bergerak sedikit saja, ia akan jatuh dan menghancurkan tubuhnya. Ia tergantung kurang lebih 10 meter dari lantai.
Sudah tiga hari James diikat dan dibiarkan menggantung di tengah-tengah ruangan kosong yang lembab dan suram. Borgol besi yang melingkar ditangannya meninggalkan memar.
Cambukan demi cambukan ia terima karena ia tak menjawab pertanyaan aneh dari orang-orang sana-tidak-mereka bukan orang, tetapi makhluk aneh, siluman, itulah yang ada dipikiran James.
Selain disiksa, ia juga hanya diberikan makanan mentah yang membuat James kehilangan selera makan, dalam tiga hari juga ia tak makan, hanya bergantung pada air putih yang datang bersamaan dengan makanan mentah itu.
Suara decitan pintu menggema di ruangan kosong itu, James menoleh ke sumber suara, ia menyeringai, seperti sudah tau apa yang akan mereka lakukan lagi.
"Pangeran James," ujar Steve sambil memancarkan evil smirk nya, "Apa kau masih hidup? Oh ya, tentu saja, keturunan vampire bukan manusia yang lemah. Kau tau, aku sangat suka melihat darah dan luka-luka di sekujur tubuhmu, terutama jeritan kesakitanmu. Ah..., itu terdengar seperti alunan musik. Tetapi jangan khawatir, setelah aku puas menyiksamu, aku akan segera membunuhmu, kecuali kau mau menjadi budakku,"
James menyeringai, "Cih, keparat, lebih baik aku mati daripada menjadi budakmu,"
"Bravo.. Bravo.. " Steve bertepuk tangan dengan wajah terkejut dan kagum, "Keberanianmu sungguh luar biasa, bagaimana jika kau ku ubah menjadi bangsa kami? Ini pasti akan sangat menarik,"
James berdecih.
"Oh baiklah, pikirkan kata-kata terakhir sebelum ku eksekusi kau esok," sambung raja dari golongan Abloor itu sambil tersenyum ramah, ia keluar dari ruangan itu diikuti dengan pengawal-pengawalnya.
James hanya bisa pasrah, ia hanya bisa terus berharap. Ia yakin, pasti akan ada yang menyelamatkannya.
.
.
.
.
.
.
.
"Kalian, alihkan perhatian mereka dengan membuat keributan, apapun itu dan jangan berhenti hingga aku kembali," ujar Alex dengan wajah datarnya selalu.
Para bawahannya mengangguk mantap.
Alex segera memberi aba-aba untuk memulai.
Para prajurit istana memasuki perbatasan dan membuat onar di sana, hingga memicu peperangan kecil antar vampire dan werewolf.
Sementara Alex melesat dengan cepat dan hati-hati menuju istana kerajaan, semua indranya di aktifkan. Ia dapat merasakan keberadaan tuannya, ia segera menambah kecepatannya. Melompat di atas pohon, atap rumah, ataupun di antara semak-semak ia terjang untuk merebut kembali James.
Ia bersembunyi di balik tembok saat sampai di penjara bawah tanah, ia mengamati gerak-gerik penjaga di pintu dan sekitarnya. Dengan cepat ia melesat dan menyayat leher para penjaga, tanpa suara dan sangat hati-hati. Ia tak akan tahu jika ada jebakan atau semacamnya di ruangan itu.
James menunduk, ia menatap kelakuan Alex, "Apakah kau yang akan mengeksekusiku? Bukankah itu dilakukan esok?" tanya James, suaranya menggema di ruangan.
"Ssshh, pangeran, jangan bersuara, aku akan menyelamatkanmu," Alex mencari cara untuk melepaskan James tanpa melukainya.
Setelah beberapa detik, ia segera melompat dan memegang rantai yang menggantung James, "Tuan James, jangan bergerak," dengan tenaga vampirenya, ia membukan borgol yang menahan tangan kanan James, "Pegang erat-erat tubuhku," kemudian ia kembali membuka yang lainnya hanya dengan satu tangan dan melompat ke bawah, "Tetap berpegangan,"
Secepat kilat Alex membawa James keluar istana, dan mengantarnya ke kerajaan. Ia merangkul James hingga menuju kamar sang raja, "Yang mulia, aku berhasil membawa pangeran James," ujarnya sambil mengetuk pintu.
Pintu dengan lapisan emas itu terbuka, menampakkan pria paruh baya yang masih gagah dengan setelan tuxedo, "Cepat bawa masuk!" perintahnya.
"Dia terluka,"
Arnold mengangguk, "Sudah ku putuskan, kau akan ku rubah menjadi vampire sekarang,"
"Hah?" gumam James dengan polos.
"Biar aku jelaskan yang mulia, James," Alex segara membopong James ke arah kamar yang sudah sengaja disediakan untuk James.
James berbaring, ia masih tak memahami situasi yang ia alami beberapa hari ini. Ini benar-benar diluar akal, ia hanya mengikuti segala alur dan perintah Alex bersama dengan yang lainnya.
Alex menggigit leher James.
James berteriak kencang, membuat seluruh istana bergetar. Ia tak pernah merasakan sakit yang benar-benar sakit selain ini. Rasa sakit itu menjalar dari leher ke seluruh tubuhnya, menciptakan sensasi dingin hingga ia tak mampu berteriak lagi.
perlahan tapi pasti, seluruh memar dan luka di tubuh James memudar, tubuh hangatnya berubah menjadi putih pucat.
Nafas James tak beraturan, lalu ia tak sadarkan diri.