Tugas Sang takdir adalah mencarikan cinta sejati untuk tiga pria penerus keluarga Gohan yang terkenal akan petualangan cinta mereka yang tiada habisnya,senang berganti wanita setiap saat dan sangat menghindari pernikahan.
Mereka tak lain adalah Sean,Steven dan Lucca.Perjalanan cinta Mereka bertiga akan diwarnai pertentangan,ambisi dan hasrat.Dalam hal ini sang takdir akan memastikan mereka semua berakhir dengan bahagia.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Emma sangat mencintai profesinya sebagai seorang chef tapi ia terpaksa berhenti dari pekerjaannya demi merawat ibunya yang terkena pneumonia.Sekarang setelah ibunya sudah sembuh,saatnya ia mencari pekerjaan baru.
Sean adalah pria angkuh yang sangat mencintai kebebasannya dan saat ini ia sangat membutuhkan seorang koki lebih dari apapun!
Karena alasan itu,Sang takdir akan mempertemukan mereka berdua.Walau awalnya menghadapi banyak kendala,Tapi akhirnya sang takdir berhasil membuat mereka berdua mengakui perasaan mereka dan menikah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ms huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART-8 (pepatah mengatakan,jangan pernah mengabaikan suara hatimu)
Emma berjalan terhuyung ke pintu dan membukanya.Seperti janjinya,Sean mengiriminya makan siang dan ada catatan kecil terselip dikotak makanan yang diantar kurir.Emma membaca pesan singkat tulisan tangan Sean dan memutar bola matanya.
Siap makan,minum obat dan langsung rebahan.INI PERINTAH ! ...
Dasar tukang perintah,dengus Emma sambil berjalan ke dapur.
Akhirnya Emma menyisihkan makan siangnya,sangat sulit untuk menelan lebih banyak karena mulutnya terasa pahit.
Lalu setengah berharap dapat menemukan obat demam di lemari obat yang sangat jarang ia buka maka tak heran jika akhirnya ia tak bisa menemukan apapun di sana selain obat sakit kepala yang ia beli kemarin.Itu berarti untuk saat ini ia harus puas hanya dengan obat sakit kepala dan teh manis panas.
Emma tertidur di sofa ketika bel pintu berbunyi. Ia terbangun dan berusaha duduk,lalu dengan limbung ia menyeret dirinya untuk melihat siapa lagi yang datang mengganggunya.
"Aku yakin kau belum menyentuh obat sedikitpun karena suhumu sama sekali tak menurun." Sembur Sean ketika memegang tangan Emma dan langsung menerobos masuk.
"Kau mulai terdengar seperti nenekku dan bukannya kau bilang malam baru datang,ini masih sore." Emma menutup pintu dibelakangnya dengan enggan.
Pria itu jadi punya kebiasaan menerobos masuk,Emma penasaran apa yang Sean sodorkan pada para satpam malang itu,semoga saja bukan racun.
"Aku membawakan makan malam untuk kita,nanti tinggal dipanasi di microwave.Aku juga ada beli obat demam tadi karena sepertinya tidak ada apapun yang bisa diminum dalam kotak obat sialanmu itu."Sekarang ia praktis terlihat seperti pria yang mengkhawatirkan kekasihnya.
Tentu saja itu anggapan yang sangat lucu mengingat Emma hanyalah seorang koki yang dibayar untuk bekerja padanya.Sudah sewajarnya Sean memberikan bantuan jika ingin wanita itu cepat sembuh hingga bisa sesegera mungkin kembali bekerja dan menurut Sean itu perlakuan yang sangat wajar.Ya,memang sangat wajar kan?
Sean berusaha mengabaikan fakta bahwa ia tak pernah repot-repot mengurusi setiap orang yang terikat kontrak kerja dengannya.Lalu apa semua ini Sean? Kau bahkan tak pernah sekalipun merepotkan diri untuk menerobos apartemen para kekasihmu sambil menenteng makanan untuk mereka! Ejek suara hatinya.
"Aku sudah minum obat sakit kepala tadi dan apa maksudmu dengan makan malam kita?" Emma bersidekap sambil memandang ke arah Sean.
Sambil melangkah pergi,pria itu bergumam tentang akan membuat sesuatu di dapur sambil mengusir Emma ke kamar untuk berganti pakaian yang lebih layak.
Emma beranjak ke kamar dan berdiri memandangi dirinya di depan cermin panjang seukuran badan yang balik menatapnya dengan mata sayu,bibir yang merah dan agak kering akibat suhu badannya yang naik.
Rambutnya sangat menggenaskan seperti sudah seminggu tak disisir,bajunya luar biasa kusut karena seharian Emma terus dan dengan enggan mengakui penampilannya memang sangat tidak enak dipandang.Emma menuju lemari untuk mengambil baju bersih dan menuju kamar mandi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Terima kasih karena sudah mau repot-repot datang kemari.walau itu tak perlu,Sean.Aku bisa mengurus diriku sendiri." Emma duduk di kursi dapur sambil menikmati segelas susu panas yang disediakan Sean sewaktu ia membasuh diri tadi.Sambil mengamati pria itu sibuk mondar-mandir.
Sean tidak membalas perkataan Emma,pria itu memasukan makan malam mereka di microwave dan bertanya kepada Emma dimana ia menyimpan piring dan sendok.
Apakah pria itu bersenandung? Emma diam-diam tersenyum memandangi Sean.Tanpa bisa dicegah,hatinya berbunga-bunga.
"Kalau boleh tau,apakah ada yang lucu ? atau kau sedang membayangkan sesuatu yang menyenangkan seperti ..." Alis Sean naik sambil tersenyum penuh arti.
"Sean,apa yang akan dikatakan kekasihmu ketika dia tau kau sedang sibuk mengurusi karyawanmu yang sakit?" Emma memotong perkataan Sean sebelum pria itu mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengarnya.
Hawa panas menyelimuti Emma karena berduaan saja bersama Sean di dapurnya yang mungil.Atau hawa panas itu berasal dari suhu tubuhnya yang tinggi...?
"Kekasih..?" Tatapan Sean bingung sejenak dan membuat gerakannya yang sedang menata sendok terhenti di udara.Sungguh pemandangan yang sangat janggal.Emma berusaha menahan senyumnya untuk menyelamatkan muka Sean.
Emma yakin seluruh staf di tempat kerja mereka akan ternganga melihat atasan mereka menyibukkan diri dengan menata sendok di meja sambil bersenandung.
Emma tak tahu apa yang sedang terjadi diantara mereka.Jika Emma mau bermurah hati sedikit untuk mengakui,ia akan mengatakan semua ini sebagai ketertarikan fisik semata antara pria dan wanita.
Emma tahu hanya sampai batas itu saja tak lebih,yang berarti menegaskan hubungan ini tak akan beranjak kemana pun. hubungan... ? Emma buru-buru menepis jauh-jauh pikiran itu dari benaknya.Dia atasanmu Emma...jangan pernah lupakan itu !
"Wanita cantik,langsing dan berambut panjang sliver highlight yang kau bawa makan ke restoran Italia waktu itu.Yang tangannya tak bisa diam menyentuhmu." Emma terlihat bodoh setelah mengucapkan semua itu tapi ia tak peduli karena seharusnya pria itu tak di sini,melakukan semua hal yang seharusnya tak dilakukannya sedangkan pria itu memiliki kekasih ditempat lain.Terasa tidak adil untuk dirinya.
Emma tak tahu kenapa ia harus merasa terancam.Hatinya gundah tak menentu.Tidak seharusnya ia mengalami semua ini.Emma berusaha mengatasi gemuruh hatinya.Biarkan saja Sean jika ingin bersenang-senang,pria itu sedang di atas angin dan memainkan perannya sebagai atasan yang murah hati tapi tentu hanya untuk hari ini saja.
"Dari mana kau tahu ia menyentuhku?" Kata Sean dengan sebelah alis terangkat mengejek.
"Itu yang dikatakan Millie,teman yang datang bersamaku waktu itu." Jawab Emma sambil menerima nasi hainan yang disodorkan Sean.Pria itu terlihat seperti sudah biasa melakukan ini semua dan hati Emma meleleh tanpa bisa ditolak . Dasar pengkhianat..Emma memarahi dirinya sendiri yang tak kebal terhadap pesona Sean.
"Baru sehari kau tak masuk,mereka semua kehilangan dirimu,Emma.Aku juga kehilangan teman untuk ribut.Olivia tentu tak bisa diharap untuk meladeni amarahku.Dia hanya akan berdiri saja dan menertawakanku,sungguh tak lucu." Kata Sean sambil melahap makan malamnya. sepenggal informasi yang sangat membantu,Sean.Kenapa tidak sekalian saja kau katakan pada wanita itu jika kau merindukan dirinya?
Tapi setidaknya itu berhasil membelokkan arah pembicaraan tentang para kekasihnya ke topik yang lebih aman,pikir Sean cerdik.
"Apakah itu menandakan aku orang yang seru?" Goda Emma sambil berusaha menyuapkan nasi hainan itu ke mulutnya,kali ini lumayan bisa ditelan.Entah penyebabnya karena kehadiran pria yang sekarang duduk di hadapannya ini atau karena kondisinya yang memang mulai membaik.
Setelah siap makan,Emma langsung meminum obat yang dibawa Sean dan membiarkan pria itu membereskan semuanya karena Sean ngotot tidak membiarkan wanita itu menyentuh apapun.Emma merasa dilayani seperti seorang ratu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sudah bersih seperti sediakala." Sean tersenyum puas memandangi hasil kerjanya lalu menghampiri Emma.
"Terima kasih Sean untuk..." Sean menempelkan telunjuk ke bibir Emma.
"Cukup sudah terima kasihnya.Semua yang kulakukan ini merupakan hal biasa yang akan dilakukan orang lain setiap hari.Aku hanya ingin kau cepat sembuh." Kata Sean seolah-olah merupakan hal biasa jika menemukan seorang atasan mengantarkan makan malam,membuatkan susu panas dan membersihkan dapur karyawannya.
Sean mengangkat dagu Emma agar wanita itu bisa melihat ke arahnya.Lalu ia mulai membelai bibir Emma.Kemudian melakukan tindakan yang lebih jauh dengan membopong Emma dan berjalan menuju kamar wanita itu.
Emma baru menyadari kalau mereka sudah berada di kamarnya ketika pria itu merebahkan dirinya dengan lembut ke ranjang.Emma mempunyai firasat jika ia pasti tak akan sanggup menolak apapun yang diinginkan Sean darinya.
Aroma manis Emma memenuhi otaknya,Sean terbius hingga tak mendengarkan suara dentuman keras. Emma begitu indah,wanita ini adalah milikku..akan menjadi milikku...sekarang...
"Kau sudah sangat siap,Emma...biarkan aku... " Gedoran kuat di pintu depan terdengar lebih nyaring sekarang.Membuat mereka terhempas kembali ke bumi.
"Siapa itu?" Sean ingin membunuh siapa pun orang yang saat ini ada dibalik pintu sialan itu!
" Oh ,astaga !Apa yang kita lakukan,Sean?!" Emma seperti baru tersadar dari mimpi erotisnya.
Ia seketika mendorong Sean dan segera berdiri dengan canggung sambil merapikan baju dan rambutnya dengan gerakan kikuk dan gedoran itu terdengar lagi bahkan terdengar seperti didobrak.
Emma segera menuju ke depan sambil berusaha menenangkan debaran jantungnya.Sean mengikutinya dari belakang.Emma berharap tempatnya berpijak saat ini bisa terbuka dan dia akan dengan senang hati melompat ke dalamnya.
"Ya, Tuhan !Aku amat mencemaskanmu,Emma! Aku tadi menunggumu dua jam dan kau tak kunjung datang,telepon juga tak aktif,lalu aku memutuskan menelepon ke kantormu dan diberitahu kalau kau sakit dan sekarang Membuat aku sangat panik karena kau tak mengangkat panggilan satpam,untung mereka sudah kenal baik denganku jadi membiarkan aku naik." Benny terlihat hampir meledak karena marah.
"Ya..ampun,ben..aku lupa,maaf karena aku sakit jadi seharian tak melihat telepon,mungkin habis baterai dan aku betul-betul lupa.Maafkan aku,Ben." Emma merasa sangat bersalah.
Bagaimana aku bisa lupa jika hari ini punya janji dengan Benny.Emma menarik tangan Benny dan pria itu masuk mengikutinya.
"Aku tak masalah menunggu asal aku tahu kau baik-baik saja." Kata Benny cemas sambil menyentuh jidat Emma.
"Apakah kau sudah ..? Hmm.. .siapa pria ini Emma?" Seakan baru menyadari ada orang lain di situ,Benny menatap tajam ke arah Sean yang bermuka bengis.Seakan-akan pria itu bisa menelan siapapun saat ini.
Emma merasa seperti pencuri yang tertangkap basah ...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
oh iya aku mampir
tetap semangat berkarya.
Salam dari
- Janji Palsu Tuan Muda -
semangat terus dalam berkarya..
ceritanya bagus...
semakin semangat berkarya Author