Berisikan sebuah kisah tentang kehidupan seorang anak laki-laki pembuat onar yang memiliki paras seperti seorang gadis cantik bernama Rai.
Rai memiliki kelainan cacat hormon, dimana dia memiliki hormon wanita dalam jumlah banyak, yang menjadikannya tumbuh seperti ini.
Meskipun Rai dianggap paling cantik, tetapi dia adalah laki-laki normal yang memiliki watak seperti seorang berandalan. Kepribadian Rai yang gila dan bar-bar terbentuk oleh buli yang dia terima sejak kecil.
Disaat teman satu gengnya sudah sukses, Rai justru harus terjerat kasus hukum yang membawanya ke titik paling rendah dalam hidupnya, dimana dia harus mendekam di penjara karena telah menganiaya seseorang yang membulinya dengan sangat keterlaluan.
Rai ingin mengakhiri semuanya dengan operasi plastik, tetapi sebelum dia melakukannya, dia menyadari bahwa parasnya yang jelita ternyata sanggup mengubah kehidupan sahabatnya yang gay menjadi pria yang normal, dan memperbaiki hubungan keluarga Rai yang sebelumnya terpecah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Beatrix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Anak SD
Ayah menyekolahkan kami bertiga di sekolah swasta Kristen yang sama. Aku duduk di bangku kelas 2 SD, sedangkan kakakku Aya kelas 4, dan Miki kelas 6.
Sebenarnya aku ingin sekali ditempatkan di kelas yang sama dengan kakak supaya setidaknya aku bisa mengenal seseorang, tapi itu tidak mungkin.
Hari pertama bersekolah, aku tidak disuruh memperkenalkan diri, karena aku belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Gurukulah yang memperkenalkanku kepada teman-temanku.
"Anak-anak, perkenalkan ini teman baru kalian, namanya Rai Fujita, biasa dipanggil Rai" kata guruku sambil menulis namaku di papan tulis.
"Dia orang Jepang, disini baru 3 bulan, jadi belom bisa ngomong bahasa Indonesia lancar, nanti kita bantu sama-sama ya? supaya dia bisa ikut belajar" kata guruku.
Aku tidak memiliki teman sebangku karena jumlah siswanya dalam satu kelas sudah genap 20 orang, dan aku adalah murid ke 21.
Pada saat jam pelajaran, aku tidak mengerti satu pun yang dikatakan oleh guru karena keterbatasan bahasaku. Tapi ada satu anak bernama Andrew yang tertarik untuk berkenalan denganku.
Andrew sengaja pindah dari tempat duduknya yang semula bersama dengan Tomi ke sebelahku untuk menemaniku. Kami tidak banyak berbicara, dan hanya saling senyum karena keterbatasan kalimat yang kukuasai.
Pada jam istirahat, semua murid langsung mendatangi mejaku untuk berkenalan menggunakan beberapa kalimat mudah, yang sudah aku pelajari.
"namamu siapa tadi?" kata Robi
"Nama saya Rai, saya tinggal di jalan Kamboja" jawabku menggunakan kalimat hafalan untuk perkenalan.
Bagi mereka, warna kulitku tergolong sangat putih karena aku orang asing. Mereka yang penasaran tidak segan-segan untuk memegang dan mencolek tangan dan pipiku untuk memastikan aku tidak menggunakan bedak.
Dalam hatiku berkata "Memangnya kalian nggak tau, di kampungku banyak orang-orang kaya aku?"
Aku sangat takut, disamping aku tidak mengerti apa yang mereka katakan, perbuatan mereka membuatku tidak nyaman, namanya anak-anak. Tapi sebenarnya mereka adalah orang-orang baik.
Mereka mengajariku untuk mengucapkan beberapa kalimat mudah seperti pensil, buku, papan tulis, bendera, dan lain-lain.
Dalam seminggu, aku tidak memiliki catatan pelajaran sama sekali. Dikarenakan di Indonesia memakai huruf alphabet. Aku hanya mengenal huruf Hiragana, Katakana, dan Kanji.
Jadi kami bertiga bersekolah hampir tidak memiliki modal pengetahuan apapun. Aku harus mempelajari cara membaca dari awal
Ini ibu Budi
Ini Bapak budi
Ibu pergi ke pasar
Kami bertiga dilatih membaca dan menulis oleh guru privat kami, yaitu mba Dian. Dia benar-benar penolong kami menghadapi masa-masa sulit.
Jika dipikir-pikir, kenapa mba Dian tidak mengajari kami sebelum kami masuk sekolah? Karena tidak terpikirkan oleh dia.
....................
Pada saat kami mendapatkan tugas rumah, teman-temanku selalu datang bertamu untuk mengerjakannya bersamaku sembari mereka menjelaskan tentang pelajaran.
Apabila aku tidak mengerti juga, mereka yang menyerah padaku akhirnya menyuruhku untuk mencontek jawaban mereka. Lebih parahnya lagi, mencontek pun aku masih salah T_T
Hal ini juga terjadi pada kedua kakakku. Teman sekelas mereka juga sering datang berkunjung untuk membantu mereka mengerjakan tugas. Karena itulah, aku mengenal banyak teman-teman kakak.
Ayahku begitu senang, karena teman-teman kami menerima keluarga kami dengan sangat baik.
Tidak jarang, ayah memasak masakan Jepang dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada teman sekolah yang sedang berkunjung. Karena itulah, teman-teman kami sangat senang berada di rumah kami.
....................
Dalam pelajaran, semua nilaiku tidak ditentukan dari seberapa banyak jawaban yang benar, tapi dari keseriusanku dalam belajar. Menurutku itu adalah penilaian yang sangat adil.
Guru sekaligus wali kelasku yang bernama Ibu Fadiyah adalah orang terbaik yang pernah aku miliki selama aku duduk di bangku SD.
Beliau berusia sudah 45 tahun, berperawakan gemuk dan menggunakan hijab. Beliau adalah guru muslim satu-satunya di sekolah kami. Walaupun beliau adalah muslim, tapi kebaikan hatinya menjadi alasan kenapa beliau justru menjadi guru yang paling populer di sekolah kami.
Bagaimana tidak? Jika ada ulangan harian, teman sebangkuku yang bernama Andrew diminta untuk pindah bangku, dan Ibu Fadiyah yang duduk disampingku untuk membantuku mengerjakan ulangan, lagi-lagi karena keterbatasan bahasa.
....................
Ibu Fadiyah juga sering membawakanku jajanan khas Indonesia seperti lemper, onde-onde, pempek, lumpia, dan masih banyak lagi.
Ibu Fadiyah sengaja pergi ke pasar pagi-pagi sebelum mengajar untuk membelikanku makanan itu.
Aku membawa banyak makanan itu pulang ke rumah dengan sebuah dus mie instan, untuk diberikan juga kepada ayah dan kakakku untuk mereka cicipi.
Ada seorang temanku yang protes kepada Ibu Fadiyah, karena hanya aku yang terus-menerus dibagikan makanan.
"Kok Rai terus Bu, yang dikasih" protesnya
"Hussh, jangan bilang gitu... Kamu kan udah pernah makan, dia kan belum" kata Ibu Fadiyah membelaku
Ayahku yang senang menerima bingkisan itu, kemudian mengimpor camilan jepang dalam jumlah yang sangat banyak, untuk dibagi-bagikan kepada seluruh siswa sekolah dan para guru.
Benar-benar masa yang indah, karena kami dapat bertukar selera lidah.
....................
Semua nilaiku tergolong baik berkat bantuan Ibu Fadiyah, kecuali pelajaran Agama Kristen, beliau tidak bisa membatuku.
Khusus pelajaran agama, kami diajar oleh guru yang berbeda.
Aku juga tidak bisa mengerjakannya sendiri, bukan karena keterbatasan bahasa lagi, tapi karena aku juga masih beragama Shinto.
Shinto adalah aliran kepercayaan Jepang yang menghargai tentang kehidupan, berdoa di kuil, dan memiliki konsep ketuhanan yang jamak.
Akibatnya aku harus dituntun lagi untuk mengenal pelajaran agama yang baru itu. Benar-benar masa yang sulit, mengerjakan tugas agama yang bukan agamaku.
....................
Aku baru sangat lancar menggunakan bahasa Indonesia pada waktu aku menginjak kelas 4 SD, disitu para guruku sudah melepasku untuk belajar sendiri.
Kondisi fisikku yang mirip perempuan belum menjadi masalah besar disini, karena aku hanya dicap sebagai seorang anak laki-laki yang imut.
Masih begitu banyak anak laki-laki seusiaku yang belum memiliki suara yang besar, karena kami belum mengalami masa puber, jadi ini adalah hal normal.
....................
Aku sama dengan anak-anak lainnya yang suka membeli jajanan di depan sekolah, tapi sayangnya aku tidak diberi uang saku oleh ayah, supaya aku tidak jajan makanan yang tidak higienis. Sebagai gantinya aku diberikan bento, atau bekal makan.
Teman-temanku yang belum pernah melihat bento sangat penasaran dan ingin mencobanya
"Kamu bawa apa Rai?" tanya Andrew.
"Ini bento" jawabku
"Lucu ya bentuknya" kata Risa, dia adalah temanku yang lain.
Mereka selalu mengelilingiku selagi aku makan, dikarenakan bento yang ayah buat selalu berbentuk karakter lucu yang berbeda-beda setiap hari.
"Mau ?" tanyaku.
"Mau dong..." kata Risa
Aku menyuapi Risa dengan menggunakan sumpitku. Tetapi karena anak lain juga ingin mencobanya, mereka langsung mengambil dengan tangan mereka masing-masing.
Hal ini membuatku terkejut, karena ini adalah hal yang tidak sopan. Aku pura-pura tersenyum, padahal dalam hati aku berkata
"Kok dihabisin semua sih? trus aku makan apa? aku kan nggak dikasih uang saku" kataku dalam hati sedih.
Tetapi Risa mengajakku untuk ke kantin dan membelikanku sebuah lumpia. Menurutku makanan ini aneh, tapi sangat enak.
Risa yang melihatku makan lumpia dengan lahap kemudian membelikan aku satu lagi.
Aku sangat senang, dan ingin mencicipi semua makanan di sekolah yang selama ini aku tidak pernah cicipi, karena ayah melarangku.
Tapi aku tidak kehilangan akal. Untuk mengatasi ini, sepulang sekolah aku curhat kepada mba Dian
"Mba" panggilku
"Apa Rai..." jawab mba Dian.
"Tau makanan di sekolah yang panjang-panjang kaya lidi itu nggak? Namanya apa?" tanyaku
"Ooo... itu namanya mie lidi" jawabnya
"Enak nggak?" tanyaku
"Lumayan sih, kenapa? Kamu mau?" tanyanya balik
"Tapi kan, aku nggak dikasih uang sama papah" jawabku memelas.
"Berarti kamu nggak boleh beli, nanti sakit perut" jawabnya
"Tapi aku mauuu" paksaku
"Tapi janji dulu, jangan bilang papah, besok mba kasih uangnya" kata mba Dian.
"Aku janji, Makasih ya mba" kataku senang
Begitulah caraku hahaha... (^0^)/
Tidak sekali dua kali aku membawa pulang jajanan sekolah untuk dipamerkan kepada kedua kakakku.
"Kak, aku punya ini, mau nggak?" sambil aku tunjukkan baso pentol kepada kak Ayaka.
"Loh, itu kan yang dijual di depan sekolah? Kok kamu bisa beli?" tanya kakak
"Bisa dong, rahasia" jawabku, karena aku tidak mau nanti kakak juga meminta uang kepada mba Dian.
"Cobain dong Rai" pintanya
"Nih" kataku sambil memberikan sedikit pada kak Ayaka.
"hmm...Oishi nee..." kata kakak yang artinya "Enak yaa..."
"Besok aku bawain lagi ya kak? Mau yang mana? tinggal bilang" Padahal semuanya aku beli dari uang mba Dian.
....................
Aku pernah mengalami masa-masa dimana aku mempertanyakan jati diriku yang sebenarnya. Karena teman-teman dan guruku mengatakan bahwa aku berbeda warga negara dengan mereka.
Aku tidak mengerti apa artinya warga negara. Yang aku tahu adalah bermain bersama teman-teman.
Mereka ada yang mengatakan "Kamu kan bukan orang Indonesia Rai, tapi orang luar negeri" kata temanku.
Maksud kalian apa? Aku tidak mengerti. Setahuku ya kalian itu adalah teman-temanku. Aku saja tidak pernah membeda-bedakan kalian, kenapa kalian membeda-bedakan aku? Aku salah menangkap.
Padahal memang aku yang datang dari jauh.
Aku kira Jepang adalah nama sebuah daerah di Indonesia. Karena namanya mirip dengan Jepara.
Jepang \= Jepara
"Oh mungkin deket-deket Jepara kali yah" pikirku dalam hati. Aku mengira Jepang adalah salah satu suku yang ada di Indonesia.
Teman sekelasku juga ada yang berasal dari daerah Flores yang memiliki bahasa tersendiri.
Di Indonesia, perbedaan bahasa itu wajar, jadi aku pun tidak menaruh curiga karena aku juga memiliki bahasa sendiri, sama seperti orang dari suku lain.
Ternyata, oh ternyata... Jepang adalah suatu negara.
Setelah mengetahui itu, aku segera membuka peta dunia, dan mencari letak dimana Jepang berada, seperti mencari jati diri.
Guruku yang melihatku terkejut, dan menanyakan
"Memangnya kamu nggak dikasih tau ayahmu kalo kamu dari Jepang Rai?" tanya guruku.
"Ya dikasih tau Bu, tapi Jepang itu sebelah mananya Jakarta?" tanyaku polos.
Padahal Filipina masih ke utara, Taiwan juga masih ke utara lagi. Pertanyaan yang konyol.
Setelah mengetahui letak Jepang, aku sangat shock. Apa benar selama ini aku terdampar sejauh itu?
Ayahku juga mengatakan jika Ibu yang selama ini berhubungan dengan kami melalui telepon saat ini berada di Jepang.
Ayah bertanya padaku "Kamu mau ketemu Ibu di Jepang?" tanya ayah
"Aku mauuu" jawabku.
Kami semua sekeluarga berangkat ke Jepang pada saat liburan kenaikan kelas 5. Itu adalah pertemuanku dengan Ibu setelah 3 tahun tidak bertemu.
Di Jepang, aku tidak mengalami kendala dalam berbahasa. Bahasa yang mereka pakai adalah bahasa yang aku pakai sehari-hari di rumah. Bendera disini juga berbeda dengan benderaku di Indonesia pada waktu upacara. Disitu aku baru memahami arti negara.
Ibuku terkejut melihatku, bukan karena sudah lama tidak bertemu denganku, tapi karena melihat parasku yang semakin mirip dengannya seperti sewaktu jaman ibu muda dulu.
Ibuku adalah wanita yang paling cantik yang pernah aku temui di dunia ini.
Itulah awal orang tuaku mencurigai ada yang salah dengan tubuhku.
Aku dibawa ke salah satu rumah sakit di Jepang untuk diperiksa, dari situlah kami mengetahui penyebab kondisi aneh ini, yaitu kecacatan hormon.
Hal yang menjadi ketakutan orang tuaku adalah buli yang kemungkinan akan menimpaku kelak.
Secara pribadi, ayah sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini. Justru dengan miripnya parasku dengan ibu akan menjadi keuntungan tersendiri bagi ayah.
Jika di Indonesia ayah sedang merindukan ibu, ayah tiba-tiba memanggil dan memelukku. Ayah menganggap seolah-olah aku adalah reinkarnasi dari ibu. Tapi ibuku belum meninggal. Sungguh ayah yang aneh.
Terlebih saat aku memasuki bangku SMP. Wajahku dengan ibu sudah tidak bisa dibedakan, ini membuat orang semakin susah membedakan genderku. Dari sinilah awal mula terjadinya buli.
Dari anak yang innocent dan tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik, hingga menjadi seorang pembuat onar, semuanya dimulai dari sini.
Buli yang paling parah saat SMP adalah waktu aku diangkat beramai-ramai dan dimasukkan ke dalam tong sampah di luar jam sekolah.
Hal inilah yang membuatku serius menekuni bela diri, yaitu untuk membalas perbuatan teman-temanku kala itu.
Tapi aku menyadari jika bela diri tidaklah cukup untuk memenangkan sebuah 'peperangan'. Dibutuhkan juga relasi yang luas dan kemampuan bernegosiasi yang baik.
Relasiku dari adik kelas, kakak kelas, satpam, tukang kebun, tukang parkir, hingga preman setempat, aku mengenal mereka semua dengan baik, sehingga para pembuli itu akan berpikir ulang.
Itulah yang menjadi alasan, kenapa di bangku SMA, aku sering berteman dengan banyak berandal, dan sering melakukan perkelahian di luar sekolah. Semuanya hanya demi relasi.
Tapi aku menyadari ada yang salah dengan caraku. Hal ini kadang membuatku tidak berpikir panjang dalam melakukan sesuatu, karena segala sesuatunya diselesaikan dengan baku hantam.
Itulah kisah SD dan SMP dari seseorang yang aneh. Kembali ke jaman kuliah yuk Guys...
ente tau aja thor kalau ane wibu, jadi rada-rada Jepung ane demen
pesannya hanya sayang gitu doang? yakin nggak ada yang masih bikin kesel? wkwkwk