Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berdaya diejek dan ditindas orang lain karena menyembunyikan identitasnya?
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENEMANI PAPA KE PESTA
Semburat warna merah menggores keindahan cakrawala di dalam senjakala. Bulan mulai menyembul, sementara matahari perlahan meluncur menuruni bukit. Beberapa saat kemudian, suara adzan berkumandang.
Ruby menatap jam tangannya, sudah ternyata sudah jam enam petang. "Yorin, aku pulang dulu, ya.... "
"Hah, kenapa buru-buru? Ini kan masih sore.... "
Kebetulan hari itu memang restoran Hardi tutup lebih awal. Jadi, jam lima mereka sudah pulang. Karena Yorin sedang galau gara-gara kampus barunya, Ruby menemaninya sebentar menjadi teman bicara.
"Aku ada urusan. Maaf, tidak bisa menemanimu lebih lama."
"Thanks sudah mau mendengarkan ceritaku. Mau aku antar?"
"Tidak perlu.... Rumahku kan dekat."
"Baiklah. Hati-hati di jalan, ya.... "
Mereka saling melambaikan tangan dan berpisah. Ruby melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat papanya menginap dengan menaiki taksi. Malam ini ia akan menenani papanya ke acara pesta.
"Papa.... "
Ruby memeluk papanya ketika sampai di kamar hotel. Tadi yang menjemputnya di lobi adalah asisten papanya yang bernama Budiman.
Ruby memandangi papanya. Lelaki yang sudah tampak semakin tua itu mengelus lembut rambut putri satu-satunya itu dengan mata penuh binar kebahagiaan.
Terkadang Ruby berpikir, betapa keras perjuangan papa untuknya. Semenjak mamanya meninggal, papanya semakin menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Sudah hampir enam tahun mamanya meninggal, tapi papanya masih setia dalam kesendiriannya. Tak pernah sedikitpun paap menceritakan niatan untuk menikah lagi kepadanya. ’Apakah kamu bahagia?’ itulah yang sering dibahas sang papa ketika bertemu dengannya. Ia tak pernah menunjukkan betapa letihnya ia, atau betapa kesepiannya dia.
Sebenarnya Ruby kurang tega meninggalkan rumah. Ingin ia tetap tinggal, menemaninya, merawatnya, dan menyiapkan makanan untuknya. Tapi ia sungguh sudah bosan berada di sana. Apalagi papanya sering pergi ke luar kota atau ke luar negeri untuk mengurusi bisnis perusahaannya hingga berhari-hari tak pulang.
Pak Wijaya kembali mengelus rambut putri kesayangannya. Tangannya merasakan sesuatu yang berbeda. Rambut indah itu tak lagi sehalus dulu. Namun wajah dengan senyuman tulus itu tetap terlihat cantik meski rambutnya sedikit kusut.
"Kamu sudah Sholat Maghrib?" tanya papanya.
Ruby menggeleng.
"Kamu masih rajin sholat, kan....?"
Ruby tersenyum-senyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hehehe.... Aku usahakan untuk sholat terus, Pa."
"Ayolah, kamu sudah besar harus sadar kalau itu kewajiban. Jangan digampangkan untuk kamu tinggalkan, oke?"
"Iya, Pa."
"Untung tadi Papa juga membelikanmu mukena juga."
Pak Wijaya menyerahkan paperbag merk ternama kepada Ruby.
"Ini mukena, Pa?"
"Iya, mukena dan pakaian untuk pesta. Papa rasa kamu tidak punya baju untuk acara formal, kan?"
"Ada juga perlengkapan make up simpel, Papa beli yang direkomendasikan pelayan tokonya saja karena Papa tidak tahu apa yang biasa kamu pakai."
"Uuhhh.... Papa kok malah jadi kayak pacarku, sih.... " Ruby memeluk papanya sambil tertawa. Kelakuan papanya sunggu lucu sampai membelikan make up segala.
"Memangnya kamu sudah punya pacar?"
"Belum, Pa.... "
"Ya jangan pacaran."
"Lah, kenapa tidak boleh pacaran?" tanya Ruby dengan nada protes.
"Biar Papa yang carikan jodoh untukmu."
"Aduh, Pa.... Memangnya ini jaman apa masih jodoh-jodohan segala."
"Papa kan tidak mau kamu asal dapat laki-laki. Kalau dia tidak bertanggung jawab bagaimana?"
"Ya Ruby juga tidak terlalu bodoh untuk cari jodoh, Pa.... Pasti juga pilih-pilih yang terbaik."
"Halah! Kalau sudah cinta, kambing didandani saja kelihatan ganteng."
"Bo.... " Ruby memanyunkan mulutnya.
”Sudah-sudah.... Cepat ambil wudhu sana. Kita shalat maghrib berjamaah. Bareng Budiman juga.”
Ruby mengangguk sambil menunjukkan senyuman yang sedikit melebar. Rasanya sudah lama sekali ayahnya tidak mengatakan hal itu.
Shalat dilaksanakan dalam keadaan begitu tenang, suasana kamar hotel lengang. Selepas shalat, Ruby menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Ia buka paper bag yang diberikan ayahnya. Ada gaun berlengan pendek panjang selutut berwarna hitam. Gaun yang sederhana namun tetap mengesankan mewah.
Ruby menghela nafas. Tiba-tiba rasa senangnya hilang ketika teringat anak-anak yang tinggal di kolong jembatan. Kadang ia berpikir kenapa kehidupan begitu timpang. Ada yang sangat kaya dan ada yang sangat miskin.
Mereka yang setiap hari berpakaian seadanya, namun tetap menunjukkan keceriaan, ketika ia mengajak mereka belajar membaca dan menulis. Semangat mereka untuk menjadi pintar sangat besar, meski keadaan mereka sungguh tidak memungkinkan mereka mendapatkan pendidikan di sekolah yang sebenarnya. Mereka hanya belajar dari para relawan seperti dirinya. Ya, setiap akhir pekan ia ikut gerakan mahasiswa mengajar untuk anak-anak jalanan.
Anak-anak itu mungkin malam ini tidur dalam kedinginan dengan perut masih kelaparan. Sementara ia malam ini akan berpesta di tempat yang hangat, indah, mewah, dengan banyak hidangan lezat yang pasti akan menggugah selera. Sungguh tidak adil seandainya ia merasakan suatu kenyamanan, sementara di luar sana, ia tahu ada orang-orang yang mengalami kesengsaraan.
"Ruby, apa kamu sudah selesai?"
Terdengar suara ayahnya dari arah luar.
"Ah, iya, Pa! Aku segera keluar." serunya.
Ruby segera mempercepat memoleskan make up seminimal mungkin. Tidak ada waktu lagi untuk berdandan yang lebih glamor untuk menghadiri pesta. Lagipula, ia juga paling akan terpisah dari papanya.
"Sayang, nanti jangan menghilang tiba-tiba dan membuat Papa khawatir, ya.... " ucap Pak Wijaya saat mereka telah menaiki mobil yang disopiri oleh Budiman.
”Aku tidak janji, Pa.” balas Ruby dengan seulas senyum. "Aku ini sudah besar, Pa. Masa masih khawatir terus. Aku sudah bisa bertanggung jawab dengan keputusanku sendiri."
"Tetap saja papa khawatir. Kamu anak papa satu-satunya dan kamu seorang perempuan."
"Iya, Pa. Aku janji akan menjaga diri baik-baik. Lagian siapa juga yang akan menculikku yang sekarang seperti orang miskin. Hehehe.... "
"Papa harap main-mainmu cepat selesai dan kembali ke rumah."
Sejak dulu Ruby tak menyukai keramaian pesta. Tapi papanya selalu mengajaknya pergi ke acara itu. Setiap kali ada kesempatan, Ruby pasti akan kabur. Kemudian pesta menjadi sedikit terganggu, karena banyak orang berjas hitam, pakaian hitam dan kacamata hitam menyebar ke seluruh penjuru tempat untuk mencarinya. Mereka tidak akan menemukannya, kecuali telah melihatnya terbaring nyaman di tempat tidur menjelang tengah malam. Sejak kecil hingga sekarang ia selalu membuat orang cemas.
Hotel Samudera Mimpi. Itulah nama hotel yang malam ini tengah mengadakan pesta berkenaan dengan peresmian dan pembukaan hotel baru itu. Hotel mewah berlantai lima belas yang tampak indah dan elegan dengan cat warna biru yang secerah warna lautan. Mobil-mobil mewah berjajar rapi memenuhi tempat parkir. Setelah turun dari mobil, Ruby melihat taman hotel yang cukup rindang. Ia tersenyum, memikirkan tempat yang telah ia temukan untuk persembunyian.
Rasanya bukan Ruby kalau tidak menghilang di tengah acara pesta.
”Putri Cantikku.” tegur Pak Wijaya.
Ruby sedikit salah tingkah. Namun ia segera menguasai dirinya. Langsung ia menggandeng tangan papanya, melangkah masuk menuju tempat pesta.
”Kamu tidak sedang berpikir untuk menghilang seperti biasanya, kan?” tanya papanya.
Ruby tersenyum, ”Mungkin.” katanya. ”Seandainya aku menghilang, papa tidak perlu cemas mencariku. Aku sudah tahu jalan pulang.” lanjutnya.
”Kita lihat saja, apakah kali ini kamu bisa menghilang dari samping papa. Papa tidak akan lengah lagi.”
Ruby kembali tersenyum. Ia merasa kali ini sama saja dengan sebelum-sebelumnya. Ia pasti bisa keluar dari tempat ramai itu tanpa papanya menyadari. Selalu ada jalan.
calon mertua/Tongue/