Yuoru Tsushima adalah kepala kepolisian termuda pada masanya. Karena kepintaran dan ketegasan tindakannya, Yuoru bisa dipercaya oleh Kaisar untuk menduduki posisi tersebut.
Banyak yang meragukan Yuoru karena usianya yang masih muda dan tampak tidak serius dalam menghadapi masalah. Akan tetapi, ia bertemu dengan gadis desa bernama Ayuna Tanaka yang memiliki sikap polos dan sopan untuk menjadi asisten pribadinya.
Siapa sangka dibalik sikap dingin dan acuh Yuoru pada semua orang, ia akan menurut dengan apa yang dikatakan oleh Ayuna.
Tak habis sampai disitu, masalah terus bermunculan di dalam kepolisian. Yuoru sebagai kepala kepolisian harus bisa membuktikan bahwa ia bisa memegang posisi itu dengan penuh tanggung jawab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Xin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kyuka No Jikandesu Ka?
3 hari kemudian...
🌸🍁🌸
Setelah tiga hari mempersiapkan semuanya dan sekaligus membiarkan Ayuna untuk rehat sejenak karena sakit, akhirnya hari ini mereka akan berangkat menuju ke desa Mizu untuk menjalankan rencana yang sudah diatur.
Para relawan medis juga sudah tiba, mereka berada di dalam bis milik rumah sakit. Yuoru dan Eiji juga sudah ada di depan rumah, mereka menunggu Ayuna, Remi, dan Kenzi yang masih bersiap-siap di dalam.
" Oh, iya, Yuoru-Sama. Saya sudah bertanya pada pimpinan Kimura, dia mengatakan saat ini kepolisian kota Takai tidak menemukan tanda-tanda adanya pergerakan untuk kasus itu. " jelas Eiji.
" Baguslah. Mungkin dia memang menunggu kami di sana. "
Saat mereka berdua sedang berbincang, Ayuna dan Remi baru keluar sambil membawa tas mereka.
" Oniichan, kenapa Eiji-San tidak ikut dengan kita? " tanya Remi seraya berdiri di depan Yuoru.
" Kau tidak perlu tahu. Anak kecil diam saja. " jawab Yuoru ketus.
Remi menekuk kedua tangannya di pinggang. " Oniichan! "
Eiji berusaha mendinginkan suasana, karena hari masih sangat pagi.
" Remi-San, saya tidak ikut karena saya harus mengurus beberapa hal untuk Yuoru-Sama di kantor. "
" Tapi, kan masih ada Hayashi-Sama. Dia bisa mengurus hal di kantor kalian, bukan begitu? "
Eiji menggeleng.
" Kau berbicara sembarangan saja. Orang itu saat ini sengaja menghindar. Dia tidak ingin terlibat dalam masalah. Si pecundang itu. " jawab Yuoru dingin.
Melihat perdebatan terjadi di antara Yuoru dan Remi, Ayuna kembali menjadi penengah supaya suasana membaik.
" Sumimasen, Yuoru-Sama, Remi-San. Saya bukan ingin ikut campur, tapi Saito-Sama sudah menjelaskan bahwa dia memang tidak bisa ikut karena ada pekerjaan. Remi-San, tidak perlu khawatir, jika pekerjaannya sudah selesai mungkin Saito-Sama bisa menyusul ke desa Mizu. " ucap Ayuna.
Mendengar ucapan Ayuna, Remi jadi merasa yakin dengan hal itu. Dia percaya kalau Eiji akan menyusul mereka ke desa Mizu. Ya, hanya dia yang tidak mengetahui misi yang sedang mereka jalankan itu. Jadi, wajar saja Remi mengira mereka akan berlibur bersama-sama.
" Begitukah? Oke, aku tidak akan membahas masalah ini lagi. " ucap Remi percaya.
Ayuna mengangguk pelan.
" Masuk lah ke dalam bus lebih dulu. Kami masih ingin berbicara. " perintah Yuoru datar.
" Wakatta, wakatta. " jawab Remi dengan wajah santai sambil masuk ke dalam bus.
Setelah Remi meninggalkan mereka, percakapan kembali serius. Ya, mereka membahas sekali lagi tentang misi yang akan dilakukan sebelum berangkat. Akan tetapi, mereka harus menunggu Kenzi yang sejak tadi belum juga kelihatan.
" Apa yang dilakukan orang itu? " tanya Yuoru sambil melirik ke dalam rumah.
Eiji melihat jam tangannya. " Sudah jam 9, waktunya akan tiba. Begini saja, saya akan menjemputnya di dalam. "
Di saat Eiji sudah berniat menjemputnya, Kenzi berjalan menuju ke arah mereka sambil membawa tas ranselnya.
" Tidak perlu, Eiji-San. Maaf, sedikit terlambat karena ada barang yang hilang tiba-tiba, jadi harus dicari dulu. " jelas Kenzi sambil tersenyum.
" Ayuna. " panggil Yuoru.
Ayuna mengangguk. " Hai, Yuoru-Sama. Saya akan menjelaskan kembali bagaimana misi ini akan dilakukan. Mohon di dengarkan dengan baik. Saya tidak akan mengulanginya. "
" Seperti yang sudah saya katakan tadi pagi, bahwa kita akan menyamar sebagai sebuah keluarga yang menjadi relawan. Jadi, kita akan memerankan sandiwara itu. "
" Maksudnya, Yuoru, Remi, kamu, dan saya akan menjadi keluarga di sini? Lalu saya berperan sebagai siapa? " tanya Kenzi.
Ayuna mengangguk. " Hai, kita bertempat akan melakukan sandiwara. Yuoru-Sama dan saya akan berperan sebagai sepasang kekasih, Remi tetap menjadi adik Yuoru-Sama tetapi dia merupakan mahasiswi. Sementara itu, Anda berperan sebagai calon adik ipar Yuoru-Sama dan sebagai seorang dokter. " jelasnya.
Kenzi tercengang dengan rencana yang dikatakan oleh Ayuna. Dia sedikit shock saat dirinya akan berperan sebagai calon suami Remi. Sementara itu, Eiji terlihat kecewa. Entah apa yang membuatnya tidak terlihat seperti biasa.
Melihat wajah kaget Kenzi, Yuoru tidak menghiraukannya. Dia berjalan masuk ke dalam bus.
" Jika tidak ada pertanyaan lagi, saya anggap Anda siap mengikuti rencananya. " ucap Ayuna seraya menunduk. Ia segera menyusul Yuoru yang sudah masuk ke dalam bus.
Kenzi tidak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa mengikuti arahan dari Yuoru dan Ayuna saja sekarang. Terlihat jelas di wajahnya, dia sangat tertekan. Akan tetapi, tidak juga begitu. Perasaan di dalam hatinya seperti bergejolak, seolah ingin mengungkapkan sesuatu.
Eiji menepuk pelan pundak Kenzi. " Jaga Remi-San dengan baik. Aku tidak ada di sisi kalian, harus lebih hati-hati. Apalagi kalian masuk ke tempat yang dekat dengan musuh. " nasehatnya.
" Hai, aku tahu kok. Aku juga bukannya bodoh dalam bela diri dan aku dokter. Tidak perlu cemas begitu, " jawab Kenzi.
" Aku tidak bercanda padamu. Aku benar-benar menyesal tidak bisa ikut dengan kalian. Ini bagian dari misi, jadi lakukan yang terbaik untuk membantu. " Wajah Eiji terlihat serius.
Kenzi mengangguk. " Hai, Hai. Ya sudah, aku juga akan masuk ke bus. Jā, mata Eiji-kun. " Ia berjalan menuju ke dalam bus.
Eiji menunduk. " Hai, buji ni mokutekichi ni tadoritsukemasu yō ni. Yuoru, Ayuna-San, Remi. " batinnya.
Setelah semua orang sudah di dalam bus, supir menyetir bus itu untuk segera berangkat menuju ke desa Mizu. Perjalanan menuju ke desa Mizu membutuhkan waktu setidaknya 4 jam. Ditambah lagi mereka akan langsung ke tujuan dengan menggunakan bus, akan sedikit terlambat. Jika memakai kereta, mungkin hanya akan memakan waktu 2 jam untuk sampai ke desa itu. Namun, itu bukan sengaja untuk menggunakan bus selama perjalanan. Yuoru sudah memikirkan risiko, jika mereka dalam jumlah kelompok masuk di antara kerumunan masyarakat di kereta, itu akan menyulitkan. Kemungkinan besar mereka akan saling berpisah satu sama lain. Makanya, Yuoru menyuruh Ayuna dan Eiji untuk mengatur rumah sakit agar menggunakan bus langsung saja.
Ya, hal itu tidak masalah. Mereka akan santai sedikit di dalam bus. Di tambah jalur khusus yang disediakan untuk angkutan besar, sehingga lolos dari kemacetan lalu lintas di sana. Di tambah lagi, Yuoru sudah mengkonfirmasi ke petugas kepolisian yang bertugas di lapangan untuk mengatur lalu lintas dengan baik saat bus yang ditumpanginya lewat.
Di dalam bus, Yuoru dan Ayuna duduk bersebelahan. Sedangkan Remi dan Kenzi duduk berseberangan dengan mereka. Bus itu masih cukup lapang sebenarnya untuk 14 orang, karena bus itu memiliki 40 kursi. Akan tetapi, mereka bukan dengan sengaja duduk berdekatan seperti itu. Ya, tentu saja demi mengantisipasi adanya orang yang mengawasi mereka. Artinya sebelum sampai di desa Mizu, mereka sudah menjalankan penyamaran sebagai relawan dari rumah sakit tempat Kenzi bekerja.
Ayuna duduk di sebelah luar, saat ada yang berjalan ia tampak tidak nyaman. Yuoru yang duduk di dekat jendela langsung berdiri dan menawarkan Ayuna untuk bertukar tempat duduk dengannya. Dia juga risih melihat Ayuna seperti itu, apalagi mereka tidak tahu siapa yang sedang mengawasi mereka dan di mana mereka berada.
Jadi, demi kelancaran misi, Yuoru mengambil kesempatan untuk bersikap peduli pada Ayuna supaya mereka tidak curiga.
Yuoru berdiri dari tempat duduknya. " Berdirilah! Pindah kemari, biar aku yang di luar. " tawarnya dengan wajah datar.
Ayuna tertegun, dia bingung dengan sikap Yuoru yang tiba-tiba peduli padanya. Seketika dia lupa akan misi yang tengah dijalankan.
Melihat Ayuna yang diam saja, Yuoru membungkuk lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Ayuna. " Darekaga mita. Wasurenaide! " bisiknya.
Suara rendahnya berdengung di telinga hingga masuk ke dalam hati Ayuna. Setelah mengatakan kalimat itu, Yuoru tidak buru-buru berdiri. Ia malah menatap wajah Ayuna yang berjarak sangat dekat, sekitar 2 cm saja di depannya.
Tentu saja semua orang yang ada di sana punya reaksi cepat. Mereka sangat antusias melihat kedekatan Yuoru dan Ayuna. Bagaimana tidak? Orang-orang dari rumah sakit hanya tahu bahwa Yuoru dan Ayuna memang sepasang suami-istri, jadi tidak bisa menyalahkan mereka yang bersikap seperti itu.
Remi pun ikut-ikutan menggoda kakaknya yang dingin itu. " Sudeni, sudeni. Sore o minaide, tonikaku kiemasen. "
" Aku setuju! " sambung Kenzi sambil mengangkat tangan.
Karena ucapan Remi, Yuoru dan Ayuna bergegas berpindah tempat duduk dan kembali melihat ke arah lain. Remi dan Kenzi saling bertepuk tangan, mereka sangat puas bisa menggoda Yuoru dan Ayuna karena sikap dua orang itu memang selalu canggung.
Perjalanan masih panjang, mereka berhenti di sebuah tempat makan yang tidak jauh dari jalan besar. Hari sudah siang, tentu mereka harus beristirahat untuk memulihkan tenaga dan menenangkan pikiran.
Di saat semua orang sudah duduk dan menunggu makanan mereka datang, Ayuna berniat membantu mengambil makanan untuk Yuoru dan yang lainnya. Namun, siapa yang menyangka kalau Yuoru yang berdiri lebih dulu untuk melakukan hal itu.
Tidak ada yang benar-benar mengetahui pikiran Yuoru sebenarnya (termasuk saya). Dia benar-benar orang yang tidak bisa diatur.
Ayuna melihat sekelilingnya. Ia melihat 2 pelayan yang mengantarkan makanan terburu-buru, padahal tidak ada yang menyuruh mereka untuk menyiapkan makanan dengan cepat.
" Aku tidak boleh diam saja. Mereka butuh bantuan. Lagi pula, aku memang harus selalu bekerja. " batin Ayuna.
Habis berpikir, ia berdiri. Di saat bersamaan, Yuoru langsung menarik Ayuna duduk dengan mengenggam tangannya. Dia sudah mengetahui niat yang dipikirkan oleh Ayuna sejak tadi, hanya dengan melihat gerak gerik pandangan Ayuna.
" Suwaru. Soko ni ika sete. " Yuoru beranjak dari kursinya, berjalan menuju ke tempat pengambilan makanan.
Ayuna tidak bisa berkata-kata, karena Yuoru sudah bertindak.
Remi dan Kenzi juga memerankan peran mereka dengan baik, mereka tampak sangat serasi layaknya pasangan pada umumnya. Ya, walau Remi hanya mengetahui kalau mereka memang akan menjadi relawan dan harus berperan sebagai mahasiswi, serta menjadi pasangan Kenzi.
Ayuna melihat Yuoru yang tengah berjalan ke meja mereka dengan membawa makanan mereka. " Kenapa dia jadi seperti ini? Apa yang salah? " batin Ayuna bimbang.
" Oniichan, sangat perhatian sekali ya akhir-akhir ini pada kami. " Goda Remi sambil tersenyum sinis.
Kenzi pun ikut tertawa. " Haha, iya. Aku juga baru menyadarinya saat ini. "
Yuoru tidak menghiraukan apa yang dikatakan Remi dan Kenzi padanya. Dia hanya diam sambil meletakkan makanan di atas meja, lalu kembali ke kasir untuk mengambil beberapa makanan dan peralatan makan yang tersisa.
" Biar saya saja, Yuoru-Sama. Saya..." Ayuna tampak sangat tidak nyaman dengan sikap Yuoru.
Laki-laki berpangkat Komisaris Jenderal itu benar-benar tidak menghiraukan sekitarnya. Dia bertindak sesuai kehendaknya sendiri, tidak ada yang bisa menghentikan itu.
" Hufhh, biarkan saja, Oneesan. Oniichan tidak akan mendengarkan kita. Dia benar-benar menghilangkan pandangannya dari orang lain. " ucap Remi sambil menghela napas.
" Aku setuju. Tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali dirinya sendiri. Bahkan diriku pun tidak di dengarnya. " tanggap Kenzi.
Kalian lihat mereka tampak seperti keluarga yang harmonis, ya.
Hai, dokter Sasaki juga terlihat bahagia dengan gadis yang di sampingnya itu.
Jujur, aku sudah memerhatikan mereka sejak berangkat.
Wah, benarkah? Lalu bagaimana menurutmu tentang mereka?
Bagaimana? bagaimana? beritahu aku!
Ssttt, aku akan kasih tahu. Ini rahasia kita, oke!?
Hai, tenang saja kami jaga rahasia kok.
Menurut pandanganku, dokter Sasaki dan gadis itu merupakan pasangan yang lucu. Mereka sama-sama banyak bicara dan memerhatikan satu sama lain.
Lalu, menurutmu bagaimana dengan pasangan yang lain?
Oh, Komisshonā-Sama dan Tanaka-San? Mereka juga menarik. Sama-sama canggung, sama-sama ingin melakukan suatu, dan juga terlihat saling menghindar.
Pasangan yang aneh.
Tapi aku dengar dari dokter Sasaki, kalau pasangan itu sudah menikah.
Hah? sudah menikah? Aku benar-benar tidak melihat mereka seperti itu.
Aku juga. Lihatlah, mereka tidak memakai cincin pernikahan, berarti mereka belum menikah.
Sstt, jangan mengatakan omong kosong. Dokter Sasaki sudah lama mengenal mereka, kita hanya orang luar, tidak pantas mempertanyakan hal itu.
Benar. Aku juga akan diam saja sekarang.
Kembali lah makan, kita akan segera berangkat!
Akhirnya Yuoru kembali dan duduk untuk menyantap makanan bersama. Ayuna menatapnya dengan penuh kegelisahan.
Remi dan Kenzi saling memberi perhatian, mereka terlihat seperti pasangan sesungguhnya. Bahkan orang yang melihat juga merasakannya. Berbeda dengan Yuoru dan Ayuna yang sama-sama memiliki kepribadian dingin.
" Itadakimasu! " teriak Remi dan Kenzi serentak lalu mulai menyantap makanan.
Para relawan kembali memperhatikan mereka. Mata mereka menuju ke Yuoru, Ayuna, Remi, dan Kenzi yang berada di satu meja bersebelahan dengan mereka.
Yuoru menutup mata sejenak lalu mengambil sumpitnya. Sementara Ayuna masih menatapnya dengan rasa bersalah. Yuoru benar-benar tidak menghiraukannya.
" Jangan menatapku begitu. Makananmu akan dingin, kita juga harus segera berangkat sebentar lagi. Jangan menunda waktu! " tegur Yuoru pelan sambil menguyah makanannya.
Ayuna menunduk. " Hai, saya akan mulai makan segera. Tapi..."
Yuoru menghentakkan sumpit yang dipakainya ke meja. Bunyi nya sangat keras, sehingga semua orang langsung terdiam dan melihat hanya ke arah Yuoru.
Dia kesal karena Ayuna tidak membiarkannya makan dengan tenang. Padahal sikap yang ditunjukkannya adalah bagian dari misi, tapi Ayuna melupakan hal itu.
" Oniichan, kenapa bersikap begitu? Buat kaget saja. Lihat, semua orang melihatmu. " tegur Remi dengan wajah kesal.
Ayuna langsung menundukkan kepalanya karena takut Yuoru memarahinya.
" Terlalu berisik. " ucap Yuoru singkat seraya berjalan keluar dari sana.
Kenapa itu? apakah baru saja marah pada istrinya?
Ya, bagaimana tidak marah, dia terus berbicara saat sedang makan. Kalau aku, pasti juga kesal.
Iya sih, tapi kasihan perempuan itu.
Mereka pasangan yang aneh. Tidak terlihat akur, pasti mereka menikah karena perjodohan.
Sstt, jangan ngasal! Mungkin saja itu karena suasana di sini yang tidak cocok dengan Komisshonā-Sama.
Bisa jadi sih.
" Oneesan tidak apa-apa, kan? " tanya Remi dengan wajah khawatir.
Ayuna hanya diam seraya menunduk.
" Ah, si perokok itu benar-benar sudah hilang kendali. Tidak bisakah dia bersikap lebih baik? " kesal Kenzi.
" Ie, saya yang salah. Saya mengganggu waktu Yuoru-Sama sedang makan. Seharusnya saya tidak menganggunya. " ucap Ayuna masih menunduk.
Ayuna berusaha menahan air mata yang sudah menggantung di bawah matanya. Dia tidak ingin Remi dan Kenzi melihat emosi yang dirasakannya saat itu.
Melihat sikap Ayuna yang terlihat sedih, Kenzi pun berniat menyusul Yuoru untuk menegurnya. Akan tetapi, Ayuna langsung berdiri dan pergi untuk meminta maaf pada Yuoru.
" Aku akan menyusulnya dan membawanya kemari, dia harus meminta maaf. " ucap Kenzi seraya berdiri.
Ayuna bergegas berdiri. " Tidak, Sasaki-Sama. Saya yang harus pergi. Saya akan segera kembali! " Dia membungkuk sambil menyembunyikan wajahnya.
" Oneesan! " teriak Remi memanggilnya, tetapi Ayuna tidak berhenti.
" Ada apa dengan mereka? Bukankah tadi pagi baik-baik saja? " tanya Kenzi kembali duduk.
Remi menggeleng. " Tidak tahu. Oniichan selalu begitu. Aku juga tidak mengerti. "
Setelah keluar dari dalam rumah makan, Yuoru langsung merokok. Beberapa menit kemudian, Ayuna menyusulnya dan melihatnya sedang menghisap rokok.
" Yuoru-Sama! " panggil Ayuna sambil berlari kecil ke arahnya.
Yuoru dengar bahwa Ayuna memanggilnya, tetapi dia sengaja tidak menoleh ke belakang. Dia benar-benar kesal dengan sikap Ayuna yang melupakan misi yang direncanakan oleh dirinya sendiri.
" Yuoru-Sama. Gomen'nasai! Tolong dengarkan saya. "
Ayuna berdiri di depan Yuoru, Yuoru langsung membuang rokoknya dan menatap tajam pada Ayuna.
" Ada apa lagi? "
" Saya benar-benar menyesal atas sikap saya tadi. Maafkan saya, Yuoru-Sama. Saya benar-benar menyesalinya. " Ayuna membungkuk berkali-kali.
Yuoru menggelengkan kepalanya seraya mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Lalu menunjukkannya pada Ayuna.
Ayuna langsung kembali berdiri sambil menatap benda itu. Benda di dalam kotak kecil yang terlihat sangat tidak asing.
" Aku keluar dari dalam sana bukan karena marah padamu. Tempat itu benar-benar terlalu berisik, mereka terus membicarakan kita. " jelas Yuoru dengan wajah datarnya.
" Jangan salah paham. Benda ini sangat penting untuk misi ini, kan? Bagaimana kau bisa melupakannya? "
Ya, benda yang dimaksud itu adalah sepasang cincin pernikahan yang harusnya dipakai sebelum berangkat. Tetapi karena Ayuna lupa dengan semua rencananya, jadi Yuoru bersikap seolah dia terganggu dengan Ayuna, supaya mereka bisa menyelesaikan masalah ini hanya berdua.
Mata Ayuna sudah berkaca-kaca.
Yuoru mengambil tangan kanan Ayuna, dia memakaikan cincin itu di jari manis Ayuna. Lalu memasang cincin lainnya di jari manisnya.
" Kau benar-benar melupakannya. " ucap Yuoru.
Ayuna tidak bisa berkata-kata. Dia menatap cincin yang sudah berada di jari manisnya itu dengan sangat teliti.
" Jangan menghilangkannya! Ini sangat berguna untuk misi. Dan jangan lupa dengan misi, kau sendiri yang mengusulkannya pada kami. " tegur Yuoru dengan sikap dinginnya.
Setelah memberikan cincin itu ke Ayuna dan memastikan kembali misi mereka, Yuoru berjalan menuju ke arah bus.
Angin tiba-tiba berhembus ke arah mereka. Ya, sudah dekat dengan desa, angin jadi terasa lebih kencang dari di kota.
" Yuoru-Sama! " panggil Ayuna.
Kali ini Yuoru berhenti dan berbalik untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Ayuna, tidak seperti tadi.
" Ada apa? "
" Arigatōgozaimashita. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk misi ini. Saya tidak akan membuat kesalahan lagi. " jawab Ayuna.
" Oh. " Yuoru lanjut berjalan ke arah bus setelah mendengar perkataan Ayuna.
Sekarang Ayuna terlihat jauh lebih lega, Yuoru tidak pernah marah padanya.
Setelah 1 jam beristirahat, bus kembali berangkat untuk menuju ke desa Mizu. Mereka harus tiba di sore hari, kalau sudah malam akan susah. Karena jalan menuju ke desa sangat gelap, belum ada penerangan yang ada di jalan.
BERSAMBUNG.....