"lebih baik menjadi teman daripada tidak sama sekali,"
"ketika mereka memutuskan untuk berteman, maka tidak ada kata putus didalam nya"
"terkadang kita lebih terbuka dengan teman daripada kekasih"
"bahkan cinta dimulai dari pertemanan,"
begitulah menurut Oliva, gadis yang tidak pendiam, tidak juga periang. sebenarnya ia sedikit tidak menyukai hubungan. ia tidak mau memiliki akhir seperti kakaknya.
lalu bagaimana Oliva akan memasukkan kamus cinta dalam hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini fariha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keputusan
Di UKS, Oliva terbangun karena suara keributan yang terdengar dari luar UKS. Ia merasa dirinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Setelah ia berterima kasih dan berpamitan dengan Lina, ia segera berjalan disepanjang koridor menuju kelas nya.
Hanya keributan biasa, gumam Oliva dalam hati.
Di kelas, ia segera berjalan ke kursi nya. Ada sedikit rasa trauma tentang pagi tadi. Tetapi ia melihat mejanya telah bersih. Bahkan di dalam tasnya juga terdapat beberapa makanan dan barang. Ia menutup tasnya setelah mengeluarkan sebuah buku. Ia melihat Hendri duduk di kursi nya.
"Eh, Hen, kemarin ada jam tangan dari fans Lo. Kebesaran sama gue. Kenapa nggak Lo ambil aja?" Hendri menggeleng. Lelaki itu kini mengamati tangan Oliva yang terus bergerak membuat suatu gambar.
"Kasih tetangga Lo aja," guru ekonomi telah memasuki kelas mereka. Seorang lelaki paruh baya dengan rambut yang sedikit beruban, tetapi memiliki wajah yang cukup kencang untuk lelaki seusia bapak tersebut.
"Tumben nggak cabut," ujar Oliva dengan nada mengejek. Hendri menggeleng, "malas ketemu kumis putih," Oliva menarik napas panjang. Otak nya terus berpikir siapa orang yang dimaksud Hendri. Lelaki itu suka sekali memberi julukan kepada orang.
"Guru BK?" Hendri bergumam. Tangannya mengeluarkan sesuatu dari saku celana abu-abu nya. Hendri mengeluarkan ponselnya. Terlalu nekat. Sebuah spidol kini mendarat di dahi Hendri. Dengan tenang ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, kemudian ia menunduk untuk mengambil spidol yang tadi dilempar untuk nya.
"Hendri! Hitung persentase laba dari angka penjualan yang bapak tulis di papan tulis," mata Hendri menatap papan tulis. Seakan sedang mengira. Kakinya menyenggol sepatu Oliva. Oliva menyodorkan bukunya pelan. Dengan tenang, Hendri menarik buku Oliva dan kini ia berpura-pura sedang berhitung. Setelah ia melihat jawaban milik Oliva, ia berjalan menuju papan tulis dan mengerjakan soal yang di berikan padanya.
"Benar nggak?" Tanya pak Yanto. Seluruh murid dengan kompak menjawab, " benar, pak," Hendri melemparkan senyuman bangga nya keseluruh kelas. Beberapa teman sejoli nya hanya memberikan tatapan, "terserah lo, Hen," setelah dipersilahkan untuk duduk, Hendri berjalan kembali menuju mejanya.
" Sombong amat. Jawaban gue juga," ucap Oliva tidak terima.
"Bodo amat, haha," Oliva mendarat satu pijakan di kaki Hendri. Lelaki itu meringis. Tetapi tidak menggubris.
Sepulang sekolah, semua siswa berhamburan keluar kelas. Hendri bersama kawan-kawan nya berlari menuju lapangan futsal. Oliva belum atau lebih tepat nya tidak ada keinginan untuk mengikuti ekskul. Ia masih ingin bersenang-senang dengan jam pulang sekolahnya.
Saat dirinya ingin berjalan keluar gerbang, ia tidak sengaja bertemu dengan Hendri. Tiba-tiba saja ia sedikit kesal melihat Hendri. Akal nya tiba-tiba berpikir, bahwa Hendri lah penyebab masalah di sekolahnya akhir-akhir ini.
"Pulang sama siapa?" Tanya nya sambil berjalan menghalangi Oliva. Oliva mau tidak mau harus berhenti.
"Papa," jawab Oliva bohong. Ia ingin pulang sendiri hari ini. Hendri melihat nya dengan tatapan curiga. Tetapi Hendri tidak berani bertanya lebih lanjut karena melihat ekspresi Oliva yang seperti nya tidak ingin berbicara.
"Oh, baiklah. Hati-hati," Hendri berlari kembali ke kelompoknya. Sedangkan Oliva sudah pasti segera berjalan, mencari angkot untuk pulang kerumah. Papa dan mamanya sedang sibuk. Bahkan selalu sibuk.
Esok hari nya, ia kembali mendapati keadaan kelas yang super ramai. Hari ini Oliva datang sedikit terlambat dari biasanya. Karena papa memiliki urusan dengan rekannya sebentar. Oliva melihat semuanya baik-baik saja. Tetapi semua tidak tersenyum kepadanya. Semua juga tidak menyapanya. Yah, untuk apa ia terlalu mengharapkan hal-hal seperti itu? Ia melihat Jesica mendatangi nya dan duduk di kursi sebelah nya. Atau lebih tepatnya kursi Hendri. Jesica menyapa nya. Ia membalas.
"Gue duduk disini, nggak apa, kan?" Tanya nya ramah. Oliva mengangguk. Malah bagus. Ia sedang tidak ingin bertemu Hendri. Tepat pukul setengah delapan, guru pelajaran bahasa Inggris datang. Hendri digantikan oleh Jesica. Ia tidak menanyakan dimana Hendri, akan tetapi matanya tanpa sengaja melihat Hendri yang sedang duduk di sebelah Mira. Lelaki itu juga sedang melihat ke arahnya. Oliva memalingkan wajahnya.
Jam istirahat tiba. Oliva segera keluar kelas menuju kelas Archi. Kemarin lusa, ia meminta Archi untuk mengerjakan soal matematika nomor 2 dan 5. Tetapi lelaki itu menawarkan diri untuk mengerjakan semua. Bosan, katanya.
"Nah buku Lo," Archi menyerahkan buku milik Oliva. Oliva mengucapkan terimakasih dan mengambil bukunya. Suasana kelas IPA tidak seramai kelas dirinya.
"Nggak ngerepotin, kan?" Archi tersenyum dan menggeleng.
"Gue malah suka," kini giliran Oliva yang menggeleng-gelengkan kepala. "Aneh,"
"Darimana?" Suara itu membuat nya terhenti. Matanya melihat sepasang sepatu dan juga kaki yang berdiri didepan nya. Olive mengangkat kepalanya dan terkejut ketika melihat sosok Hendri didepannya. Oliva menggeleng. Hendri menatap buku yang berada digenggaman Oliva. Hendri bertanya sekali lagi.
"Kelas dua IPA," akhirnya Oliva mengeluarkan suaranya.
"Ngapain jauh-jauh nanya ke Archi. Itu gue juga bisa, kok," Oliva tersenyum paksa. Lalu Oliva menggeleng.
"Kenapa, Lo kira gue bodoh, ya?" Oliva menggeleng lagi. "Terus?"
"Bukan urusan Lo," jawab Oliva kembali berjalan meninggalkan Hendri. Dengan cepat Hendri menangkap pergelangan tangan Oliva dan membalikkan tubuhnya. Hampir saja Oliva terjatuh kebelakang kalau ia tidak menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Kenapa? Nggak suka gue sama Mira?" Oliva hampir tertawa. Apa yang dipikirkan teman nya ini? Oliva memutar bola matanya malas.
"Malah senang, " Oliva menarik pergelangan tangan nya kemudian berbalik arah dan kembali berjalan. Lelaki itu masih terdiam di tempatnya. Hendri mengutuk dirinya sendiri. Betapa bodoh dirinya yang mengharapkan ketidaksukaan dari Oliva.
maaf nih baru mampir lagi🤧🤧🤧
lanjut Thor semangat
maaf ngga sering mampir😁