Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Tamat
Popularitas:25k
Nilai: 5
Nama Author: Rahma Hayati

Malam itu sinar bulan menerangi langit walau bercampur sedikit kabut. Angin berembus membawa kantuk pada Ruri yang sedang menunggu seseorang di dalam mobil. Hanya selisih beberapa detik saat dia memejam mata sebelum dentuman keras memecah keheningan malam. Saat matanya menengok keluar jendela mobil, asap hitam sudah mengepul di udara. Suara jeritan pengunjung kafe menuntun matanya melihat seorang laki-laki tergeletak bersimbah darah.

Tragedi itu terjadi begitu cepat, Ruri bahkan belum sempat berkedip dan menghela napas lagi. Seseorang yang dia tunggu berakhir dalam koma.

Kasus penyelidikan dihentikan. Ruri tidak terima, berbekal egois dan ambisi dia terus melangkah mencari asal mula kejadian. Bersama Alita dan Kagami yang menggenggam tangannya agar tidak hanyut terbawa emosi, mereka bertemu Mirai. Gadis pendiam itu menyimpan sebuah rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian tidak terduga

Ruri berpisah dengan Mirai di gerbang sekolah. Gadis berambut pendek itu duluan dijemput oleh sang sopir, kemudian tak berselang lama setelah itu sopir pribadi Ruri pun datang.

Di sepanjang perjalanan pulang, hati Ruri menggebu-gebu tidak sabar untuk segera merebahkan diri ke kasur. Badan gadis itu remuk redam dan bau oleh keringat. Jaket yang membalut tubuhnya mulai terasa lengket.

Tak memakan banyak waktu, jalanan cukup renggang siang itu, mobil sedan hitam yang membawanya akhirnya sampai ke kediaman Ruri. Rumah mewah berlantai dua yang dominan dicat putih. Kendaraan tersebut berhenti tepat di depan teras. Tanpa menunggu sampai mesinnya mati, gadis bersurai panjang itu langsung menerobos masuk.

"Aduh! Anak mama, kok, bau banget. Itu jaket siapa pula yang dipakai?"

Kedatangan Ruri langsung disambut pertanyaan bertubi dari sang mama yang kini tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.

Ruri berhenti sejenak. Menatap malas sang mama yang kini memperhatikan penampilannya lebih saksama.

"Tadi Ruri piket bersihin lab, badan Ruri bau karena keringat," jawabnya sambil mengendus-endus lengannya. Berpura-pura. "Dan jaket ini Ruri pinjam dari Kagami, buat nutupi kerah seragam Ruri yang robek," tuturnya, memperlihatkan robekan seragamnya. Syanala—mama Ruri—melotot.

"Nyangkut di ranting pohon. Tadi Ruri ngambil mangga di sekolah." Dia berkilah sebelum ditanyai lagi.

Syanala menepuk jidat, tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya. "Nanti sore mama belikan seragam baru. Lain kali hati-hati, kamu enggak terluka, kan?"

Ruri menggeleng. Berlalu menuju kamarnya. Sesampainya di sana gadis itu langsung melempar sepatu dan kaos kaki yang dia gunakan sembarangan arah. Tas yang menyangkut di bahunya turut dia lempar ke kasur. Lalu, yang terakhir adalah jaket pinjaman dari Kagami. Mendarat ke lantai, ditinggal begitu saja oleh Ruri yang sudah rebahan di kasur.

"Akhirnya!"

Ruri senang yang dia temui pertama kali adalah ibunya. Membuat semua alasan dan laporan palsu yang dia katakan bisa berjalan mulus tanpa disosor banyak pertanyaan lain. Andai saja jika ayahnya yang muncul—Roland—mungkin Ruri tak bisa selega ini.

***

Alita dan Kagami masih mematung di hadapan Pak Gunawan–bos sekaligus pemilik kafe tempat mereka bekerja.

"Kalian baru datang?!"

Tanya pria itu lagi, emosi di nada bicaranya lebih pekat dari sebelumnya.

"Iya, Pak," jawab Kagami tertunduk.

Pak Gunawan memperbaiki letak kacamatanya, memperhatikan dua karyawannya itu lebih saksama. "Minggir, saya mau lewat!" tegasnya.

Alita dan Kagami membuka jalan untuk bos mereka. Masih dengan perasaan waswas.

"Setelah pulang. Kalian bersihkan WC sebagai hukuman," titahnya tanpa menoleh, langsung melangkah tergesa-gesa.

Alita melirik Pak Gunawan yang perlahan menjauh. Kemudian tertawa, "Ha! ha! ha! Kayaknya hari ini adalah hari hukuman. Mulai dari sekolah sampai tempat kerja dapat hukuman mulu," ujarnya dengan nada enteng.

 

"Kalau di tempat kerja aku enggak heran lagi. Pak Gunawan selalu menyuruh kita membersihkan WC sebagai hukuman, katanya. Entah kesalahan apa yang kita lakukan. Bolos kerja enggak. Terlambat juga enggak, memang dasarnya si tua bangka itu yang suka cari masalah."

Alita menjentik dahi laki-laki yang sedang bersungut itu. Kagami meringis.

"Jaga bicaramu, Kagami. Kamu terdengar seperti Ruri. Nanti kena pecat baru tahu rasa," katanya, berlenggang pergi menuju ruang ganti. Dia harus segera memakai seragam kerja.

***

Semakin malam, kafe shop fresh semakin ramai didatangi pengunjung. Terutama kaum muda-mudi yang menjadikan tempat tersebut sebagai tongkrongan sekaligus sport foto yang menarik.

Kagami saat ini sibuk membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan, setelahnya membawa piring beserta gelas kotor ke dapur. Sedangkan Alita yang bertugas menjadi kasir, begitu fokus dengan pekerjaannya hingga lupa jika telapak tangannya sedang terbalut perban dan tak menyangka jika dia akan bertemu masalah baru.

Di luar kafe, di antara pejalan kaki yang berada di trotoar, terlihat seorang remaja mengenakan jas abu-abu berdiri sambil bermain ponsel. Matanya sekali-kali melirik kafe bernuansa klasik di depannya. Tampak gelisah, sebelum dirinya kembali fokus pada ponsel di tangan.

"Gagas!"

Sebuah suara memanggilnya. Laki-laki berjas itu menoleh mendapati sosok teman yang sudah sedari tadi dia tunggu akhirnya muncul.

"Lama banget lo. Gue capek berdiri di sini!" protes remaja bernama Gagas itu.

"Sabar. Gue ke jebak macet tadi," bela laki-laki yang baru saja datang.

Gagas merapikan rambut potongan comma hair miliknya, sebelum melangkah menyusul temannya yang sudah duluan masuk ke dalam kafe.

Aura karismatik milik pemuda berjas abu-abu itu berhasil mencuri sorot pandang beberapa wanita yang berada di dalam kafe. Garis wajahnya tegas, alisnya tebal serta hidung mancung membuatnya tampak dewasa layaknya pria yang sedang mengejar karier. Padahal aslinya Gagas masih berstatus pelajar SMA kelas dua.

Kagami sedang sibuk mondar-mandir membersihkan meja, perhatiannya terkalihkan ketika pemuda itu datang. Namun, bukan karena remaja berjas itu, justru sosok tak asing yang berjalan di sebelahnyalah yang membuat Kagami terdiam sejenak.

 

'Tirta?' Kagami bergumam, firasatnya tidak enak.

Ketika pandangan Tirta dan Kagami tidak sengaja bertemu, pemuda berkaus merah itu langsung menuju ke arah meja yang masih belum selesai Kagami bersihkan. Menempatinya bersama Gagas.

"Tolong, Pelayan, daftar menunya," kata Gagas dengan bangga.

Kagami mengulurkan apa yang mereka minta. Sementara Gagas memilih menu, sorot mata Kagami tak berkedip menatap Tirta yang acuh, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.

Setelah Kagami pergi membawa catatan pesanan mereka, Gagas protes soal meja yang dipilih Tirta.

"Kenapa duduk di sini, gue mau pindah ke sana." Dia menunjuk meja nomor satu yang berada di barisan depan. Kebetulan meja yang paling dekat dengan kasir itu sedang kosong dan langsung ditempati oleh Gagas. Tirta mengikuti saja macam anak ayam mengekori induk.

Gagas memilih meja itu bukan tanpa alasan. Dia sebenarnya ingin mengakrabkan diri dengan Alita. Gadis berparas cantik yang telah lama mencuri hatinya itulah yang menjadi alasan Gagas dan Tirta nongkrong di kafe itu untuk pertama kalinya. Walau penampilan Gagas tak terlihat seperti remaja yang ingin hangout.

Melihat Alita sibuk dengan mesin kasirnya, Gagas mengambil kesempatan itu untuk memotret gadis tersebut diam-diam. Sedangkan Tirta sibuk sendiri. Tak peduli.

"Cantik banget," gumam Gagas melihat hasil jepretannya.

Saat Gagas tenggelam dalam pesona Alita dari foto yang dia ambil, Kagami datang membawa pesanan mereka. Pemuda itu meletak makanan dan minuman dengan hati-hati. Sampai di menu terakhir yang dia tata, tak sengaja ekor matanya menangkap sosok Alita di ponsel Gagas. Hal tersebut membuatnya geram dan refleks menegur.

"Tolong jangan memotret seseorang tanpa izin," tegur Kagami sesopan mungkin.

Jari Gagas terhenti menggeser layar ponsel. Matanya melotot pada Kagami. Pelayan kafe yang barusan menegurnya itu langsung dia siram dengan kapucino latte pesanannya.

Tidak cukup sampai di situ, Gagas menambah keributan dengan melempar gelas kosong di pegangannya ke lantai. Suara pecahan kaca mengagetkan pengunjung. Tindakan Gagas menjadi pusat perhatian.

1
larasatiayu
ttp smangat berkarya yah
larasatiayu
aku udah lanjut bc
larasatiayu
its perfect karya kamu aku suka lho ama alurnya
larasatiayu
smangat terus berkarya yah
larasatiayu
smangattt aku suka lho ikutin alurnya menarik dan seru jg bkn penasaran
larasatiayu
keren crtanya
larasatiayu
mkn kesini feelnya makin dpt
larasatiayu
ttp smangatttt
larasatiayu
oh jadi pelakunya gaga
larasatiayu
smangat terus jg yah nulisnya
larasatiayu
smangatttttt
larasatiayu
tirta ngamuk gedung sekolah pun roboh krn kursi di lempar
larasatiayu
smangat mkn penasaran sampai dsini
larasatiayu
openignya menarik wis gebrak smangat jg yah
Ig : rahmahayati.rh: Terima kasih, Kak
total 1 replies
Muhammad Ali
Mantap, Kak..../Good//Good/
Seastarme
Mampir jugaa 🙌
cinnamon
baru baca nih kak Amah><
王贝瑞: Mampir juga kak ke Biru si ketos bad boy, love My Stepbrother and empty class mystery 😄
total 2 replies
Doubi
Fighting, ya thor
Ig : rahmahayati.rh: Wah, terima kasih, Kak(>y<)
total 1 replies
Daina :)
Bagus banget nih novel, author terus berkarya ya!
Ig : rahmahayati.rh: ashiap, Kak. Terima kasih sudah mampir, ya, Kak(>y<)
total 1 replies
Kruzery
Ada yang masih kangen sama aku, yaitu chapter selanjutnya. Update lah thor!
larasatiayu: sabar yah ruri
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!