Menikah bukanlah prioritas bagi seorang Arbenio Hardinata (38tahun), CEO dari Luxius group yang ambisius dan terkenal arrogan. Namun, suatu kecelakaan mobil tragis yang merenggut nyawa Aksa—sahabatnya— membuat Arben harus mengambil satu janji, yaitu menikahi putri semata wayang Aksa yang baru berusia 18tahun. Ironinya wajah gadis itu sangat mirip dengan ibunya, Defanka. Sosok cinta pertama Arben yang susah payah berusaha dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soonme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7.
Vanya masuk ke dalam setelah berpisah dengan Regen di depan rumah. Gadis itu melangkah sambil bersenandung dan tersenyum senang, menunjukkan bahwa suasana hatinya sedang bagus hari ini.
Kaki Vanya tiba-tiba terhenti di depan suatu ruangan, mata menatap kearah sosok pria yang tengah duduk membelakanginya sembari membaca koran dengan tenang.
"Daddy!!?" Gadis itu masuk dan langsung memeluk leher bagian belakang pria itu.
"Putriku sudah pulang rupanya, bagaimana harimu?" tanya Dante. Sejak resmi menjadi CEO Galaxy group, pria itu terus di sibukkan oleh perjalanan bisnis keluar kota untuk menemui para investor penting serta mengunjungi beberapa anak perusahaan yang baru di kembangkan, sehingga baru hari ini dia menjejakkan kaki di kediaman utama Lerandy.
Vanya lantas berjalan memutar dan duduk di sebelah sang ayah sembari menyenderkan kepala di bahu pria tersebut.
"Daddy, pergi lama sekali. Padahal ada banyak hal yang ingin ku ceritakan," ucap Vanya dengan nada suara yang di buat-buat menyerupai anak kecil.
"Benarkah? Apa itu? Ngomong-ngomong, bagaimana dengan pemuda itu? Em- siapa itu namanya, aku lupa," tanya Dante sembari mengelus pucuk rambut putrinya.
"Maksud Daddy, Regen." Gadis itu mengangkat kepala, tatapan matanya berbinar kala menyebut nama pemuda yang akan segera menjadi tunangannya itu, "Aku sangat menyukainya, dia sangat tampan dan juga senyumnya manis sekali. Tapi ..."
"Tapi kenapa?" Dante bertanya karena menyadari raut wajah putrinya berubah murung.
"Aku sedikit kecewa karena mendapatkannya karena bantuan Daddy, tapi tidak apa-apa. Sekarang dia sudah menjadi milikku," celoteh Vanya, dia menyibak rambut pirangnya ke belakang sambil tersenyum lebar.
Tak lama kemudian, Bella mulai menjejakkan kaki di rumah. Samar-samar, dia mendengar celotehan Vanya dari ruang keluarga dan langsung membuatnya menarik napas dalam. Sebisa mungkin dia memutuskan untuk tak bertemu gadis itu, mengingat hari ini energinya telah habis untuk menangis di taman. Bella memutuskan berjalan pelan dan tak mengacuhkan gadis itu. Namun, tiba-tiba langkah kaki Bella malah terhenti di sebuah ruangan dimana sepupunya itu berada.
Gadis itu mendapati sosok Dante yang tengah bercengkerama dengan Vanya, anak gadisnya. Hal itu membuat Bella mengingat kembali momen-momen kebersamaanya dengan sang ayah di tempat yang sama. Dalam hati, Bella merasa iri, sangat iri. Rasanya dia ingin langsung berlari ke makam sang ayah dan mengadu di sana.
Dante tiba-tiba menoleh ke belakang saat menyadari Bella yang berdiri mematung dari siluet yang terpantul dari layar televisi.
"Kau sudah pulang rupanya, Bel. Kemarilah!" panggil Dante sembari melambaikan tangan kearah gadis itu, mengisyaratkan agar keponakannya tersebut mendekat. Wajah pria itu memang tampak baik dengan senyum yang selalu muncul. Itulah mengapa Bella merasa bisa mempercayainya walaupun pada akhirnya menyesal.
Mendengar itu, Bella langsung tersadar dari lamunannya. Gadis itu pun menurut dan perlahan mendekat kearah sofa dimana dua orang itu berada. Bella lalu berdiri di samping sofa, dia tak mau duduk karena enggan berlama-lama bersama mereka.
"Ada apa, Paman?" tanya Bella, raut wajah gadis itu datar tanpa ekspresi sambil melirik kearah Vanya yang tersenyum meledeknya.
"Kenapa kau berdiri saja, duduklah. Bagaimana kabarmu?"
Mendengar itu, Bella tersenyum getir. Gadis tersebut menghela napas perlahan untuk sekedar meredam rasa jengkelnya pada sosok pria yang kini bertanya kabar padanya tanpa rasa malu.
"Apa yang ingin paman dengar dariku? Apa paman kira aku baik-baik saja setelah kehilangan semuanya? Dan lagi anakmu ini tiba-tiba merebut pacar orang! Ada apa sebenarnya dengan keluarga kalian?" Bella berteriak dengan mata melotot sembari menunjuk-nunjuk wajah kedua orang di depannya.
Tidak, tentu saja itu tidak terjadi. Kejadian itu hanya terjadi di dalam pikiran Bella semata. Sebodoh-bodohnya dia, Bella tentu masih sadar diri akan posisinya sekarang. Apalagi dengan kondisi seperti ini, setidaknya dia harus bertahan agar tidak terusir dari rumahnya sendiri.
"Hari ini aku lelah paman, jadi jika tak ada hal penting yang ingin di bicarakan, aku akan masuk ke kamarku," sahut Bella sambil memaksakan senyum.
"Oh, tentu saja kau lelah. Kau kan hari ini menangis seharian," ledek Vanya setelah menyadari bagian bawah mata Bella yang terlihat bengkak.
Bella menatap sinis kearah sepupunya tersebut. Ingin rasanya Bella menjambak rambut pirang gadis menyebalkan itu lalu menyumpal mulutnya agar tak bicara berlebihan.
"Hm, baiklah kalau begitu. Istirahatlah, mungkin besok atau lusa kita bisa bicara lagi," ujar Dante ramah.
Bella yang mendengar itu hendak berbalik badan. Namun, suatu hal tiba-tiba menarik perhatiannya. Mata gadis itu tertuju pada sebuah lemari sudut kecil yang berada di samping televisi.
"Dimana foto keluargaku?" tanya Bella, pupil matanya bergetar kala dia melihat foto keluarga Dante yang kini berdiri di sana.
"Aku menaruhnya di gudang, untuk apa memajang foto orang yang sudah mati!" seru Lavi yang baru masuk ke ruangan sambil membawa secangkir kopi untuk suaminya.
Bella terhenyak karena ucapan yang keluar dari mulut Lavi. Tangan gadis itu tampak gemetar dengan rahang yang mengatup keras. Matanya masih menatap tajam kearah wanita yang kini mulai menghampiri sofa dan duduk disana.
Tanpa bisa berkata apapun, dengan tangan yang mengepal erat Bella lantas berlari ke luar ruangan.
Jahat! Bagaimana bisa wanita itu membuang foto keluarga Bella tanpa bertanya lebih dulu? Meski tak peduli, tak bisakah dia berpura-pura simpati? Bella mengutuk perlakuan tantenya itu dalam hati.
Gadis itu kini telah sampai di sebuah ruangan di belakang rumah, tepatnya di samping halaman. Tangan Bella lantas membuka pintu ruangan yang luas tersebut. Bola matanya langsung mengedar, mencoba menemukan benda yang sedang dicarinya diantara ungukan barang.
Tak lama, gadis itu akhirnya menemukan foto yang di carinya tergeletak di dalam kardus. Bella pun lantas mengambil benda itu, mengelap beberapa sisinya yang berdebu lalu membawanya dalam dekapan lantas pergi ke luar.
Segala amarah berkecamuk dalam hati Bella, ingin menangis pun tak bisa, air matanya sudah mengering untuk hari ini. Gadis itu berjalan dari arah belakang dan melewati ruangan itu lagi. Tiba-tiba seringai kecil muncul di sudut bibirnya. Sambil mendekap foto keluarganya, Bella kembali masuk ke dalam ruang keluarga yang membuat tiga orang disana menatap heran.
Dengan santai, gadis itu melangkah menuju lemari sudut kecil di samping televisi. Tangan Bella terulur lalu menampik bingkai foto milik keluarga Dante itu dengan keras hingga benda itu jatuh dan pecah berhamburan, membuat bola mata Lavi yang melihat itu seakan hendak meloncat dari tempatnya.
"Dasar gadis sialan! Kemari kau!" sergah Lavi sembari melotot dan hendak bangkit. Namun, Dante segera menahannya.
"Sudahlah, biarkan saja." Dante mencoba meredam kemarahan sang istri.
"Kenapa Daddy membelanya?" Vanya menatap kesal kearah sang ayah.
"Ya, kenapa kau membelanya? Kau tahu berapa harga bingkai ini? Ini sangat mahal dan ekslusif!" Lavi meratapi bingkai foto keluarganya yang telah hancur berkeping-keping.
"Bukan begitu ..." Dante mencoba menjelaskan. Namun, ucapannya terhenti karena melihat tatapan tak senang dari dua orang di hadapannya.
"Kalau begitu, kita usir saja dia," usul Vanya dengan nada ketus yang langsung di sahut anggukan setuju dari sang ibu.