Indonesia
NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 : Keputsan Menutup Hati Selamanya

Pagi hari di kawasan permukiman padat penduduk yang asri di Jakarta Selatan selalu membawa kesibukan tersendiri yang dinamis. Suara deru motor yang berlalu-lalang di jalan sempit, aroma harum bubur ayam abang penjual keliling, dan sinar matahari hangat yang menembus kaca jendela kamar memperlihatkan pemandangan kehidupan modern yang sangat kontras dengan bayangan masa lalu Clara Pratama. Di dalam kamar sederhananya yang bernuansa pastel, Clara duduk termenung di depan meja rias kecil berbingkai kayu. Ia menatap pantulan dirinya sendiri melalui cermin dengan tatapan yang menyiratkan ketegasan mutlak.

Wajahnya tampak bersih, segar, dan memancarkan pesona gadis berusia dua puluhan awal yang cerdas. Namun, di balik manik mata cokelat jernih itu, tersimpan ribuan lapis pengalaman batin dari dua kehidupan sebelumnya—kehidupan pertama sebagai rakyat jelata Roma yang berakhir di bawah bayang-bayang pedang Senat, dan kehidupan kedua sebagai putri gangster Batavia yang meregang nyawa di tengah hujan badai pelabuhan Sunda Kelapa. Dua siklus kehidupan itu telah mengajarkan Clara satu pelajaran paling berharga sekaligus paling menyakitkan: jatuh cinta kepada pria dari kalangan atas atau dunia penuh konflik selalu berujung pada kehancuran dan air mata darah.

Clara menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan untuk meredakan debar di dadanya. Jari-jemarinya yang lentik merapikan selembar ijazah sarjana strata satu jurusan Administrasi Bisnis yang baru saja ia raih beberapa minggu lalu dari sebuah universitas swasta ternama di Jakarta. Di samping ijazah itu, tergeletak beberapa surat lamaran pekerjaan yang telah ia masukkan ke dalam amplop cokelat besar, siap untuk dikirimkan secara daring maupun langsung ke berbagai perusahaan multinasional di kawasan segitiga emas Sudirman.

"Cukup sudah," gumam Clara pelan pada dirinya sendiri, berbicara dengan nada tegas yang ditujukan langsung pada lubuk hatinya yang paling dalam. "Aku sudah lelah menjadi korban dari takdir tragis yang terus berulang. Di kehidupan ketiga ini, aku tidak akan lagi membiarkan diriku terjerat dalam omong kosong tentang cinta sejati, belahan jiwa, atau pangeran berhati dingin. Cinta hanya membawa kutukan, pengorbanan sia-sia, dan kematian yang menyayat hati. Mulai hari ini, Clara Pratama hanya akan hidup untuk dirinya sendiri, membahagiakan Ayah dan Ibu, serta membangun karier yang mandiri tanpa pernah melibatkan urusan percintaan."

Keputusan itu telah bulat diambil oleh Clara setelah malam-malam panjang penuh perenungan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa membawa beban memori masa lalu adalah sebuah anugerah sekaligus kutukan. Jika ia terus menerus meratapi sosok Pangeran Marcus di Roma atau Julian van Houten di Batavia, maka ia tidak akan pernah bisa melangkah maju ke masa depan. Oleh karena itu, dinding tebal pertahanan emosional ia bangun rapat-rapat di sekeliling hatinya. Ia bertekad untuk menjadi wanita modern yang rasional, dingin terhadap rayuan romantis, dan menutup pintu rapat-rapat bagi siapa pun pria yang mencoba mendekati hidupnya dengan niat asmara.

Ketukan pintu kamar menghentikan monolog batin Clara. Pintu berderit pelan, memunculkan sosok Ibu Rini yang membawa sepiring pisang goreng hangat dan secangkir teh manis. Ibu tersenyum ramah melihat putrinya sudah rapi mengenakan pakaian formal berupa blus putih bersih dan celana bahan hitam elegan.

"Wah, anak gadis Ibu pagi ini sudah seperti direktur perusahaan besar saja. Cantik dan rapi sekali," puji Ibu Rini sambil meletakkan piring dan cangkir di atas meja belajar Clara. "Mau ke mana, Nak? Pagi-pagi sudah siap begitu."

Clara tersenyum manis, membalikkan badannya untuk menyambut sang ibu dengan pelukan hangat. "Aku mau pergi ke kawasan Sudirman, Bu. Hari ini ada beberapa jadwal panggilan wawancara kerja dari perusahaan multinasional. Doakan aku ya, Bu, semoga kali ini aku bisa langsung diterima dan mulai meringankan beban keuangan Ayah di rumah."

Ibu Rini mengelus lembut lengan putrinya dengan tatapan penuh kebanggaan dan kasih sayang yang tulus. "Tentu saja Ibu dan Ayah akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Clara. Tapi ingat, jangan terlalu memforsir diri. Kalau lelah, istirahat. Kesehatanmu tetap yang paling utama di atas segalanya."

"Iya, Ibu. Clara mengerti," jawab Clara meyakinkan ibunya.

Beberapa saat kemudian, setelah berpamitan kepada Bapak Pratama yang sedang bersiap berangkat ke perpustakaan kota, Clara melangkah keluar rumah menuju jalan raya utama untuk menaiki transportasi umum menuju pusat kota Jakarta. Sepanjang perjalanan di dalam bus TransJakarta yang cukup padat oleh para pekerja kantoran, Clara menatap pemandangan gedung-gedung pencakar langit bertingkat tinggi yang menjulang megah menembus langit ibu kota. Di balik kaca jendela kendaraan yang berembun tipis, ia meneguhkan kembali sumpahnya: menutup hati selamanya, fokus bekerja, dan hidup sebagai wanita biasa yang independen.

Namun, Clara sama sekali tidak mengetahui bahwa di salah satu menara kaca paling megah di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), seorang pria dengan kekuasaan mutlak, tatapan mata sedingin es, dan bayangan memori masa lalu yang serupa sedang menanti kedatangan takdir yang akan meruntuhkan seluruh benteng pertahanan yang baru saja ia bangun dengan susah payah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!